Nahyanna

Nahyanna
BAB 69


__ADS_3

Anna berjalan pulang menuju rumahnya sambil memainkan ponselnya. Dia sedang mencari-cari tempat yang ada lowongan kerja. Anna pernah bilang bukan kalau dia membutuhkan pekerjaan karena uang tabungan yang kian hari kian menipis?


"Lagi-lagi gak nerima pelajar," gumamnya sambil kembali menscroll untuk mencari lowongan kerja yang lain.


Tin!


Anna yang terkejut melihat ke samping. Ternyata itu adalah Galen yang sedang menaiki motor. Cowok itu menyunggingkan senyum manisnya.


"Hei, Na," sapanya setelah kenghentikan motornya tepat di samping Anna.


"Hei," balas Anna yang tersenyum juga.


"Fokus amat Mbak sama HPnya. Kalau tiba-tiba dijambret orang gimana coba? Gue juga yang susah gak bisa hubungin lo," canda Galen.


Anna tertawa canggung. Seharusnya, Galen memang tidak bisa menghubungi Anna sekarang, toh, nomor cowok itu di ponselnya sudah Nahyan blokir.


"Iya, nih. Gue lagi nyari kerjaan. Susah banget dari tadi gak ketemu yang sesuai dengan kriteria gue," jawabnya.


"Emang nyari yang kayak mana?" tanya Galen.


"Ya apapun, asal baik dan tempetnya juga baiklah. Cuma sekalinya dapet, tempet yang buka lowongan kerja tuh gak nerima pelajar. Pusing gue liat duit tabungan gue nipis," gerutu Anna yang sekarang kembali sibuk menscroll lagi ponselnya.


"Lo kalau tau ada yang buka lowongan kasih tau gue ya. Tapi pastinya yang mau nerima pelajar macem gue."


Galen terlihat berpikir sejenak, lalu diingatnya ucapan owner ICaffe beberapa hari lalu.


'Temen kamu yang satunya mana? Pengunjung di sini pada nanyain dia. Suaranya bagus katanya.'


"Sebenernya ada sih," gumamnya yang membuat Anna berbinar.


"Beneran?!" tanya Anna yang antusias.


"Lo mau nyanyi di ICaffe? Owner di sana sempet nanyain lo," tanya Galen. Dia cukup berharap juga Anna mau menyanyi, dengan begitu dia bisa sering-sering bertemu Anna.


"Tenang aja, seminggu cuma tiga kali. Nanti juga ganti-gantian sama Via. Kalau lo gak bisa pulang malem, nanti jam 10 lo udah boleh pulang."


Anna berpikir sejenak. Dia bimbang. Anna takut kalau Nahyan tau dia manggung dengan Galen cowok itu akan kembali ngambek. Cukup merepotkan kalau sudah begitu. Namun, pikirannya tentang uang tabungan yang semakin menipis menendang semua kebimbangannya itu.


Urusan Nahyan bisalah gue akalin, batinnya.


"Gimana? Bayarannya juga lumayan. Nanti lo ambil aja semua bagian bayaran band kami," tawarnya.


Anna mengerutkan dahinya. "Gak lah! Itu kan bayaran lo orang. Kenapa gue yang ambil?"


Galen mengusap tengkuknya.


"Gimana ya Na, sebenernya kami manggung dari caffe ke caffe lain itu bukan karena mau uangnya. Kami cuma mau seneng-seneng dan tampil di depan orang lain," Galen tersenyum kecil. "Lagian, uang yang kami dapet juga biasanya dikasih ke orang lain secara random."


"Itu sanking kebanyakan duit apa gimana?" ujar Anna sambil tertawa kecil.


"Itu alasan utamanya sih," jawabnya yang ragu-ragu sambil menggaruk pipi.


Anna terdiam. Iya juga, mereka semua kan dari kalangan orang-orang kaya. Jadi wajar kalau menganggap uang bayaran manggung seperti itu kecil bagi mereka.

__ADS_1


"Lo mau gue anter pulang?" tanya Galen yang mengalihkan pembicaraan.


"Boleh," Anna segera menaiki motor Galen. "Gue duduk nyamping gak apa kan? Pake rok soalnya."


"Iya, gak apa."


...***...


"Ayo anak-anak segera turun ke bawah! Dukung teman-temannya yang sedang lomba! Ayoo!" ucap seornag guru yang berkekeliling sambil memegang pembesar suara (toak).


"Ayo turun, Bell!!" ajak Anna sambil menarik lengan Bella.


"Gak!"


"Tapi gue gak terima penolakan. Gue tuannya di sini," kata Anna sambil menyeret Bella secara paksa.


Saat sudah berada di luar kelas, Anna dan Bella langsung disuguhi pemandangan cowok-cowok tampan memakai seragam olahraga. Terlebih lagi otot-otot tangan dan kaki mereka yang mendadak terekspos secara jelas.


Deg!


Anjiir, karena terlalu bersemangat jantung gue jadi deg-degan!


Tiba-tiba saja Anna merasakan padangannya menggelap. Seseorang dari arah belakang menutup matanya. Anna refleks menoleh ke belakang, dan dia mendapati sosok tampan itu. Cowok tertampan di SMA Y dan merupakan pentolan sekolah, yang tak lain adalah pacarnya sendiri.


Nahyan cemberut, "Jaga mata!"


Anna tersenyum lebar. Entah mengapa ketampanan cowok ini bertambah berkali-kali lipat hingga membuatnya gemas sendiri. Dipeluknya eratlah cowok itu.


"Lo ganteng banget deh!" katanya sambil menduselkan wajahnya ke dada bidang milik Nahyan. Sedangkan Nahyan memalingkan wajahnya dengan wajah yang sedikit merona.


"Itu yang mesra-mesraan ayo segera turun ke bawah! Jangan menghambat jalan!" ucap guru yang sedari tadi keliling menggunakan toak.


Anna melepaskan pelukannya, "Anjim! Malu gue," gumamnya lalu melayangkan tatapannya ke arah belakang Nahyan.


Suga memberikan senyum lebar sambil memberikan lambaian tangan pada Anna, namun gadis itu malah mangalihkan tatapannya pada Fabian. Dia menatap Fabian dengan tatapan permusuhan. Namun akhirnya, Anna mengalihkan tatapannya dari manusia yang membuatnya sakit mata, selain Suga tentunya.


"Ayo ke bawah!" ajak Nahyan sambil merangkul Anna dan menyeret gadisnya itu.


Hal ini jelas saja mengundang perhatian siswa-siswi yang berlalu-lalang dan yang baru saja keluar dari kelas mereka.


"Bella! Bella ketinggalan!" ujar Anna yang akan menyusul Bella di belakang. Namun ditahan oleh Nahyan.


"Ngapain? Biar Suga aja yang nyusul. Iya kan?" tanya Nahyan yang sedikit menoleh ke belakang untuk menatap Suga.


"Lho? Kok gue?" tanya Suga.


"Tuh kan, Suga yang mau nyusul," kata Nahyan sambil menatap Suga dengan penuh peringatan.


"Anjiim. Baru aja kemaren-maren dia minta maaf sama gue. Sekarang udah buat kesel lagi," gerutu Suga sambil berjalan ogah-ogah menuju tempat dimana Bella tertinggal.


Suga melihat sekitar, namun tidka melihat sosok Bella. Dimasukinyalah kelas 12 A-4, dan benar saja Bella berada di dalam sana, tepatnya sedang duduk di pojokan sambil menulis.


"Oi! Ayo turun!" ajak Suga dari ambang pintu kelas.

__ADS_1


Bella mengangkat wajahnya sebentar, namun tak dia pedulikan saat tau suara itu berasal dari Suga. Cowok playboy bin tengil itu hanya dengan keberadaannya saja sudah bisa membuat orang lain kesal.


Suga yang tidak mendapatkan respon yang memuaskan, langsung berjalan mendekati Bella. Kemudian, dia duduk di kursi depan Bella dengan menghadap ke arah gadis itu.


"Oi! Denger gak?" tanyanya yang mencondongkan wajahnya mendekati Bella yang menunduk karena sedang menulis.


Bella yang sedang fokus menulis tidak sadar ada Suga di depannya.


"Huh?" Bella terkejut saatt mendapati wajahmya dan wajah Suga berada dalam jarak yang sangat dekat.


Bella segera mengambil tindakan sembrono seperti mundur hingga kursinya terjengkang ke belakang.


Suga yang menyaksikan itu langsung menarik tangan Bella agar tidak ikut terjatuh ke belakang bersamaan dengan kursinya.


Bella berteriak, "Aaah!"


BRAK!!


Setelah kursi menghantam lantai, suasana kelas 12 A-4 menjadi sangat hening. Mungkin karena semua orang sudah turun ke bawah, ditambah lagi di kelas 12 A-4 ini hanya ada Suga dan Bella.


"Hati-hati dong! Kalau ja--"


Ucapan Suga terhenti seiring pikiran-pikiran asing memasuki pikirannya. Suga menatap Bella lekat-lekat.


'Benci!'


'Gue benci!'


'Ngapain cowok playboy ini di sini sih?!'


'Gue bener-bener benci dia!'


Bella yang tersadar dengan posisi tangannya dipegang Suga, langsung menghempaskan tangan cowok itu darinya. Dia memegangi tangannya yang habis Suga pegang. Hal ini benar-benar membuatnya dia merasa jijik.


Bella menatap Suga dengan ekspresi wajah masam, lalu ditinggalkannyalah Suga yang diam mematung.


"Bell!" Panggil Suga.


Langkah Bella terhenti. Dia menoleh ke belakang, lebih tepatnya ke arah Suga yang membelakanginya.


"Lo benci sama gue?"


Suga sambil membalikkan tubuhnya untuk menatap Bella. Sedangkan Bella mengepalkan tangannya kuat-kuat. Entah mengapa dia merasa kecolongan.


°°°


Bersambung...


YUK kasih aku VOTE or GIFT YUK!


BISA YUK BISA


AKU MAKSA :v

__ADS_1


Masih kupantau yang gak meninggalkan jejak seperti LIKE dan KOMEN :3



__ADS_2