
Anna meneguk minum dari botol air mineral. "Glek, glek, glek!"
Saat ini kelas 12 A-4 sedang dalam pelajaran olahraga. Materi hari ini adalah sepak bola. Anna kewalahan saat bermain bola dengan teman-teman sekelasnya yang perempuan, bisa-bisanya bermain sepak bola tapi bolanya dipeluk dan dibawa hingga gawang. Benar-bemar permainan yang hancur. Maka dari itu, Anna memutuskan untuk berhenti bermain dan duduk tepat di belakang gawang tempat dimana cowok-cowok bermain bola. Sebenarnya itu berbahaya, tapi itu adalah satu-satunya tempat yang teduh di sana.
"Na," panggil Deana.
"Oi! Ngapa?" sahut Anna.
Deana menatap Anna dengan tatapan menerawang.
Alis Anna naik. Ada apa dengan tatapan gadis ini? Apakah Anna melakukan kesalahan padanya? Seingatnya tidak.
"Ada apaan sih?" Anna terkekeh.
"Ada masalah apa lo sama Nahyan?" tekan Deana yang langsung pada point utama.
Mata Anna mengerjap. Dia sempat terdiam, namun segera dia menyembunyikannya dengan cengiran khasnya. Dia tidak mau bercerita, jadi lebih baik tutup mulut saja.
"Huh? Gak ada, kok!" jawabnya kalem. Dia tersenyum tipis, tanda kalau dia baik-baik saja.
Bella yang sedari tadi hanya menyimak kini buka suara. "Gak usah senyum-senyum gak jelas. Creepy tau gak?" juteknya. Alhasil, Bella mendapat pelototan dari Deana. Namun sayangnya gadis itu tidak peduli sedikitpun dan malah melanjutkan, "Putuskan lo?"
Melihat gelagat Anna yang aneh, Bella tersenyum miring. "Udah gue duga sih lo berdua gak bakal tahan lama."
Tanpa sadar, Anna memegang leher bagian belakangnya. Dengan bibir yang bergetar, Anna tersenyum canggung. Sebegitu kelihatannya kah? Padahal, dia sudah berusaha bersikap sebiasa mungkin dan seceria mungkin. Tapi, mata Bella benar-benar tajam.
"Kalau gak bisa berkata-kata baik, mending tutup mulut sampah lo itu!" geram Deana yang mengundang tatapan penuh tanya dari gadis-gadis lain yang juga sedang berteduh.
Bella menyeringai lebar. "Apa peduli lo?" lontarnya.
Mengetahui tempatnya berada sedang menjadi perhatian, Anna mengusap kasar wajahnya.
Dua manusia ini benar-benar berisik. "Woi! Udah lagi! Pusing kepala gue liat lo berdua. Gak bisa akur sebentar?" keluhnya.
Bella memutar bola mata, sedangkan Deana patuh dan diam.
Terjebak dalam situasi yang canggung, Anna memilih berdiri dari duduknya. Lalu, menatap kedua teman dekatnya itu.
"Ayo kantin!" ajak Anna sambil menarik tangan Bella dan Deana bersamaan.
"Mager." Anna menatap Bella. Wajah gadis itu terlihat pucat. Anna tebak gadis itu pasti belum sarapan.
"Ayolah! Gue tau lo belom sarapan," bujuknya sambil menarik-narik tangan Bella.
"Udah sih kalau dia gak mau gak usah dipaksa," celetuk Deana yang sudah berdiri.
"Bertiga lebih baik," Anna melepas pegangan tangannya dari Deana, lalu menarik paksa Bella dengan kedua tangannya. "ayolah! Cepetan! Mumpung Pak Haris lagi lengah!"
"Haish!" Bella dengan terpaksa berdiri dan mengikuti kemauan Anna. Dia pasrah saat Anna menyeretnya. Sekarang dia sudah biasa dengan tingkah laku Anna. Tapi, hari ini gadis itu tidak begitu absurd tingkahnya. Entah mengapa, Bella merasa Anna lebih pendiam hari ini. Yah, meski masih tetap pecicilan dan suka seenaknya.
"WOI AWAS!" teriak anak cowok dari dalam lapangan.
Anna, Deana, dan Bella menatap ke arah lapangan. Saat itu permainan sepak bola sedang mengadakan pinalti. Naas, bola yang ditendang malah salah sasaran. Bukanya ke arah gawang, malah ke arah ketiga gadis yang sedang berjalan.
Bruk!
__ADS_1
Bola mengenai tepat di wajah Anna hingga gadis itu jatuh terpelanting ke belakang.
Deana memekik karena merasa terkejut.
"Kyaaa! Anna!"
Mengetahui tendangannya salah sasaran, Zidan sang pelaku segera menghampiri Anna diikuti teman-temannya yang lain.
Anna mengelap bagian atas bibirnya saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir keluar dari dalam hidungnya tanpa henti.
Ini sakit. Benar-benar sakit. Anna sampai-sampai mengeluarkan air matanya. Oh, ayolah. Siapapun akan bereaksi seperti ini saat berada diposisinya.
"Na, maaf ya?" sesal Zidan sambil memegang kedua tangan Anna.
Anna melepaskan tangannya, "Iya gue maafin," jawab Anna yang berusaha mengelap darahnya agar tidak meleber hingga ke baju olahraganya. Namun sayang, usahanya sia-sia saat darah menetes ke bajunya.
Ah, pasti susah hilang nodanya, pikir Anna.
"Lo gila ya?! Gak bisa main apa gimana sih?! Kok bisa-bisanya nendang bola ke sini?! Liat nih Anna jadi mimisan!" berang Deana sambil mendorong Zidan hingga jatuh terduduk ke belakang.
Zidan pasrah. Toh, di sini dia memang salah. Jadi, dia menerima perlakuan Deana yang menurutnya wajar.
Bella mengeluarkan tisu dari dalam saku celananya. Sebenarnya, Bella tidak tau itu tisu bekas apa, hanya saja yang terpikirkan olrhnya saat ini adalah menghapus darah Anna yang meleber kemana-mana.
"Ayo, Na. Gue anter ke UKS...." ucap Zidan. Wajah cowok itu terlihat memelas. Benar-benar lucu hingga membuat Anna ingin tertawa. Namun dia tahan karena suasananya yang tegang.
"Udah, gak usah," tolak Anna sambil berusaha berdiri.
Zidan segera membantu Anna. Cowok ini memang tengil, tapi dia cukup bertanggung jawab untuk seukuran cowok remaja yang bandel.
"Ini kenapa?" tanya seseorang yang langsung membelah kerumunan.
Galen melotot melihat baju Anna ada noda darah, dan wajah Anna yang berantakan karena pengelepan darah yang tidak maksimal. Cowok itu langsung saja mendekati Anna.
"Ayo, ke UKS!" tegas Galen yang langsung menggendong Anna ala bridal style.
"Kyaaa!" pekik Anna yang terkejut dan mengalungkan tangannya ke leher cowok itu.
"Ehh! Gue ikut!" kata Deana yang langsung dicegah oleh Bella.
"Biarin aja mereka berdua. Mending lo beliin Anna makan," ujar Bella yang lalu pergi meninggalkan lapangan. Kerumunan langsung bubar saat sang objek sudah dibawa pergi.
"Terus lo ngapain?" tanya Deana yang menyusul Bella.
"Gue? Nyantai di kelas," jawab Bella yang lamgsung mendapatkan tatapan sinis.
...***...
"Lo terampil banget," celetuk Anna pada Galen yang tengah berkonsentrasi merawat luka di bibir Anna.
"Biasa aja," jawab Galen yang konsentrasinya tidak pecah dan tetap fokus pada luka di bibir Anna. "Selesai."
"Lo dulunya anak PMR kah?" tanya Anna.
Galen mengangguk mantap. "Iya," jawabnya seadanya.
__ADS_1
"Hidungnya masih sakit?" tanya Galen.
Anna mengangguk pelan. "Sedikit," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Galen ikut tersenyum karena raut wajah Anna yang terlihat sangat menggemaskan. Senyum Anna itu manis, juga menular. Galen terkadang ingin membawa gadis itu pulang dan mengurung Anna dalam kamarnya sanking lucunya.
"Sementara jangan kena bentur ya hidungnya. Takutnya nanti darahnya keluar lagi."
Anna mengangguk paham.
"Na, lo masih mau nyanyi di ICaffe?" tanya Galen dengan nada suara biasa, namun entah mengapa dapat membuat hati Anna bergetar. Masalahnya, suara rendahnya dan serak-serak basah itu sangat terdengar lembut. Gadis mana sih yang gak baper kalau berada di posisi Anna?
"Soalnya setelah lo nerima tawaran gue waktu itu, lo gak ngehubungin gue lagi. Maaf, kalau gue kedengerannya ngebet banget."
Mata Anna menggerjap. Dia benar-benar lupa dengan itu karena perjodohanya dengan Dhyo. Sebenarnya, dia sudha tidam membutuhkan pekerjaan lagi. Toh, sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga Rabusy. Tapi, kalau dia menolak tawaran Galen sekarang, betapa tidak tau dirinya dia. Padahal, Galen sudah berniat membantunya.
Anna menganggukkan kepalanya. "Iya masih. Tapi sementara aja," jawab Anna.
Galen tersenyum manis. "Nanti malem gue jemput ya?" tanya Galen. Cowok itu terlihat sangat antusias.
Anna tersenyum manis. "Iya, tapi jangan di depan rumah."
"Terus dimana?"
"Nanti kalau lo udah di deket gang rumah gue, lo kabarin gue aja."
Galen menggangguk mengerti. "Oke siap."
Ukh!
Ekspresi wajah Galen benar-benar tampan.
Lalu, Anna dan Galen berbincang-bincang seru tanpa menyadari kalau sedari awal ada kehadiran orang lain di dalam UKS.
"Ini waktu Aileen ngisi acara di Universitas K," ujar Galen yang menunjukkan foto-foto di galeri ponselnya.
"Widih... hebat ya. Eh, di sini lo ganteng banget!" ujar Anna sambil menunjuk ke arah ponsel Galen.
Galen langsun terlihat salah tingkah.
"Lo pun cantik, Na."
SRAK!!
Tiba-tiba saja tirai yang menutupi bilik Anna dengan bilik sebelah tersingkap. Dan muncullah sosok Nahyan dengan wajah yang memerah.
Anna terkejut, tapi dia langsung menetralkan ekspresi wajahnya. "Ini lo yang main bass? Emang bisa?" tanya Anna yang tak menghiraukan Nahyan yang menampakkan kehadirannya.
"Iya. Bisa. Sebelum drum gue main bass," jawab Galen.
Nahyan melirik Anna dan Galen secara bergantian. Niat hati bolos ke UKS untuk menenangkan pikirannya yang tak karuan karena Anna bersikap seolah-olah tidak pernah mengenalnya. Tapi, dia malah menjadi semakin panas karena secara tidak sengaja mendengar percakapan gadis yang membuat pikirannya tak karuan dengan cowok lain.
"Brengs*k," desahnya sambil pergi dari UKS.
°°°
__ADS_1
Bersambung.