
Bahagia.
Selama hidupnya, Anna tidak pernah benar-benar begitu paham arti dari kebahagiaan. Apakah bahagia itu ketika mempunyai segala sesuatu yang diinginkan? atau apakah bahagia itu ketika seseorang menderita karena ulah kita?
Anna tidak pernah benar-benar mengerti itu karena dia hidup ditengah-tengah keluarga yang penuh kepalsuan, sampai dia bertemu seorang cowok galak dihari pertama masuk ke sekolah barunya. Meski terkadang dibuat tertekan, dan down, cowok itulah yang membuat Anna merasakan berbagai macam perasaan.
Sebelumnya, Anna tidak pernah marah ketika dia merasa kesal, atau menangis ketika sedih. Yang dia lakukan hanyalah tersenyum, tersenyum, dan tersenyum, tanpa menyuarakan hatinya pada orang lain. Tapi, sekarang sedikit-sedikit tapi pasti Anna bebas mengekspresikan apa yang dia rasa. Walaupun, Anna masih belum sepenuhnya mengerti arti bahagia, setidaknya Anna senang dan merasa nyaman dengan hidupnya yang sekarang.
"Woi!" Suga muncul dari arah samping sambil menepuk pundak seorang gadis yang sedari tadi hanya mengintip lewat jendela ruang rawat inap.
"Mau nyuri lo ya?" Suga memicingkan matanya.
"Ndasmu! Gue cuma mau meriksa ada emak Nahyan apa enggak. Gue takut kayak tadi pagi," jawab Anna sambil menatap lawan bicaranya.
Tadi pagi-pagi sekali, tiba-tiba ibunda dari sahabatnya, Nahyan, tiba-tiba saja mengabari sudah berada di lobi ruang rawat inap Nahyan. Alhasil, Anna yang masih bersiap-siap untuk pergi sekolah di toilet ruang inap harus betah terjebak di sana selama hampir 15 menit. Setelah sang Nyonya Rabusy meninggalkan ruang inap untuk menemui suster karena selang infus Nahyan terdapat darah yang keluar, barulah Anna berani keluar.
Suga menyeringai lebar. Kalau diingat-ingat lucu juga, apalagi saat Anna yang gupek menyembunyikan dirinya di toilet, dan usaha Fabian yang menyembunyikan barang-barang milik Anna. Sedangkan dirinya hanya menonton sambil memakan camilan.
"Nanti malem emaknya ke sini. Udah sana masuk!" ujar Suga sambil mendorong punggung Anna.
"ISH! SANTAI DONG!" Raut wajah Anna terlihat kesal. Dirinya hampir saja jatuh menggrusuk karena dorongan Suga yang tiba-tiba dan sedikit bertenaga.
"Yaudah, sana! Lo temenin Nahyan. Kasian sendirian dia."
Anna mengerutkan dahinya, "Lho? Emangnya lo mau kemana?"
"Gue mau cari makan."
"Fabian?"
"Beberapa menit yang lalu pergi keluar."
"Kemana?"
"Jemput Deana. Katanya supir cewek itu mendadak gak bisa jemput karena anaknya lahiran."
Anna menaikkan sebelah alisnya, "Sejak kapan mereka deket?" tanya Anna yang seperti merasa terkhianati.
Dia kan udah punya pacar? Kenapa masih deket sama Fabian, sih? batin Anna.
"Gak tau. Mungkin sejak DBL?" Suga menjawab asal. Dia tidak mau mengurusi orang lain, toh, percintaannya sendiri saja belum benar, mau mengingat kapan dimulainya hubungan orang lain? Mana sempat. Suga terlalu sibuk mencari seorang gadis yang tiba-tiba pindah sekolah saat di bangku Sekolah Dasarnya dulu. Gadis bertubuh gempal yang sering diganggunya dulu.
"Yaudah, lu pokoknya temenin Nahyan. Gak usah malu-malu ya. Lu berdua itu baru ciuman. Belum yang lain-lain," kata Suga dengan santai.
Wajah Anna memerah seperti tomat. Padahal, dirinya sudah berusaha melupakan hal itu untuk bertemu dan merawat Nahyan, tapi cowok tengil di depannya ini malah mengingatkannya.
"Maksud lo apa yang lain-lain?" tanya Anna sambil menekuk bibirnya.
"Udah sana! Gak berangkat-berangkat gue nanti!" usirnya yang mengibaskan tangannya di udara.
Anna berdecak sebal, lalu memegang gagang pintu. Sebelum memasuki ruang rawat Nahyan, Anna menetralkan jantungnya yang berdebar kencang. Sedangkan Suga yang memperhatikan dari samping gemas sendiri.
"Masuk aja!" katanya sambil membukakan pintu dan mendorong gadis itu masuk. Kemudian, ditutupnya pintu rapat-rapat.
"Oke sip," gumam Suga sambil memasukkan kedua tangannya disaku celananya dan bersiul seraya berjalan melangkah.
Anna menggaruk tengkuknya saat matanya bertemu dengan mata Nahyan.
Deg! deg! deg!
Ini kenapa jantung gue deg-degan sih?
"Hai...." sapa Anna dengan senyum yang kaku.
Nahyan menunduk sambil mengusap wajahnya.
"Gue--"
"Gue--"
Tatapan Anna dan Nahyan kembali bertemu.
__ADS_1
"Lo...."
"Duluan!"
Keheningan menghampiri mereka berdua.
"Bisa lo mendekat?" tanya Nahyan yang memberanikan diri memulai percakapan.
Seperti yang diminta, Anna mendekat.
"Lagi."
Anna mendekat satu langkah lagi.
Nahyan mengehela napas, "Lo yang ke sini atau gue yang ke sana?"
Anna menggigit bibir bawahnya, lalu berjalan mendekat ke ranjang Nahan sambil menunduk. Tentunya, kedua pipinya memerah seperti kepiting rebus.
"Yang semalem gue minta maaf." Dia melirik gadis di sampingnya untuk melihat reaksi.
"Gue... um...." Anna menunduk dengan sesekali mencuri-curi pandang pada Nahyan.
Nahyan menatap Anna intens. Kalau boleh jujur, dia tidak menyesal sudah mencium Anna. Hanya saja dia menyesal kalau-kalau hubungannya dengan Anna merenggang karena ciuman itu.
"Gue tau gue salah! Jadi maafin gue!" katanya lagi.
"Lo minta maaf atau lagi malak sih?" gumam Anna yang terdengar samar ditelinga Nahyan.
Nahyan menghela napas, lalu menarik lengan Anna agar mendekat. "Gue bakal tanggung jawab."
"Huh?" Anna menatap Nahyan penuh tanya.
"Gue bakal nikahin lo!" ucapnya dengan tegas, "kalau perlu malam ini gue temuin keluarga lo."
"Huh?" Anna menaikkan sebelah alisnya.
Dia bilang apa tadi?
"Kenapa?" tanya Anna.
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa lo mau nikahin gue? Dan lagi, nanti malem lo mau nemuin keluarga gue? Nikah itu bukan permainan. Lo... lo sadar gak sih apa yang lo omongin?" Anna gelagapan.
"Gue sadar Anna."
"Tap-tapi... kita... kita masih sekolah."
"Gue gak mau anak gue lahir tanpa figur seorang bapak, Anna."
(O.O)
Hah?
Gimana-gimana?
Siapa yang anak siapa?
Anna mengkorek telinganya kalau-kalau ada kotoran yang menumpuk dan menyebabkan pendengarannya terganggu.
"Gue tau apa yang gue lakuin itu benar-benar salah. Maaf, gue udah khilaf. Gue tau lo sedih. Gue mungkin ngerusak impian juga masa depan lo." Nahyan memegang kedua tangan Anna, lalu menatap mata Anna dengan tatapan tegas. "Jadi, gue bakal tanggung jawab. Dan gue mutusin gue bakal nikahin lo. Lebih cepat lebih baik."
( ' - ' )
"Ini... maksudnya gimana sih? Gue yang congekan atau gimana sih?" tanya Anna yang panik. Dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Nahyan saat ini. Otaknya benar-benar dibuat blank.
"Maaf, udah hamilin lo."
"PFFFFT!"
Nahyan dan Anna menoleh ke arah sumber suara. Langsung saja wajah Anna memerah melihat tiga sosok manusia yang dia kenal. Ternyata, sedari tadi mereka bertiga mendengarkan percakapan Nahyan dan Anna.
__ADS_1
"HAHHAHAHHAHA!" Fabian yang berada diambang pintu tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul dinding.
"ANYING KOCAK!" ujar Suga sambil memegangi perutnya.
"Pffft!" Deana menahan tawanya.
Nahyan mengerutkan dahinya. "Ngapain lo semua di sini? Pergi!" usirnya.
Ketiga orang itu berjalan mendekat. "Maaf, ya Na. Nahyan itu emang jenius, tapi dia goblock urusan beginian," kata Suga sambil menepuk pundak Anna.
"AHHAHAHHAHA! ANYING! MASIH LUCU!" Suga tertawa terbahak-bahak ketika mengingat momen dimana Nahyan dengan polosnya mengatakan telah menghamili Anna.
Anna menatap Nahyan. "Maksud lo apaan sih? Gue gak hamil! Kapan kita ... ukh!" Anna merinding membayangkan hal-hal yang tak seharusnya dia bayangkan.
Nahyan menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya semalem kita ciuman? Makanya, lo bisa hamil kan?"
"Yee si bodoh! Ciuman gak bakal buat cewek hamil!" sela Suga.
"Kalau mau hamil harus beginian dulu!" Suga membuat lingkaran dengan jari-jari tangan kirinya, lalu memasukkan jari telunjuk kanannya ke lingkaran itu.
Plak!
Fabian memukul kepala Suga.
"Anying! Sakit! Baangke lu!" ringisnya sambil memegangi kepala bagian belakangnya.
"Gak usah ngajarin yang gak bener, *Sat!" maki Fabian.
p.s : Sat singkatan dari vangsat :v
Deana mendekati Anna. "Anjim lu, ciuman gak cerita-cerita sama gue!" bisik Deana.
"Sapa suruh lu ngambek?" balasnya sambil berbisik juga.
Deana berdecak sebal, lalu menatap Fabian dan Suga yang tengah mengejek Nahyan.
"Hamil gak hamil gue tetep nikahin dia!" teriak Nahyan yang merasa kesal.
"Ye Bambank! Lu sekolah dulu yang bener!" kata Suga.
"Gak perlu sekolah juga gue udah pinter."
"Emang Anna mau? Nikah sama lo?" timpal Fabian sambil tersenyum miring.
"Anna pasti mau! Iya kan?" tanya Nahyan yang melayangkan tatapan tajam pada Anna.
Semua tatapan makhluk yang bernapas di ruang rawat Nahyan mengarah ke Anna yang terdiam membeku.
"Gak ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Jadi gak perlu nikah-nikahan," jawab Anna sambil tersenyum canggung.
Fabian tersenyum lebar. "Selamat! Untuk pertama kalinya anda ditolak," kata Fabian sambil mengelus pungggung Nahyan.
"Mohon bersabar ini ujian," kata Suga.
Nahyan menatap bete ke arah Anna, sedangkan yang ditatap malah membuang muka dan pura-pura tidak peka.
"Lo katanya mau cari makan. Kenapa balik lagi?" Anna mengalihkan pembicaraan.
"Gue ketemu nih pasangan bucin di lobi. Terus gue liat nereka udah beli makan juga. Jadi yaudah numpang aja. Ngapain gitu kan beli lagi?" jawab Suga.
"Gak usah geer! Gue gak beliin lo!" kata Fabian.
"Dih! Medit!"
"Kalau mau beli sendiri! Modal!"
"Anjim sekali...," ringis Suga.
°°°
Bersambung...
__ADS_1