
"Na!"
"Anna!" gemas Deana menarik lengan Anna ke pinggir. "Lo ngapain sih berdiri di tengah jalan kayak gitu?!" omelnya.
"Tuh, pada sinisin lo."
Anna mengedarkan tatapannya ke sekitarnya. Dan benar saja, hampir semua orang yang dilihatnya melayangkan tatapan sinis padanya.
Anna menggaruk kepalanya. "Pengen melow dikit gitu."
Deana memutar bola matanya. "Yang mau lo melow-in itu apa? Gak ada kan?" ujar Deana sambil memainkan ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi.
Anna hanya mengangkat bahu.
"Lo sama Nahyan gimana? Gue gak pernah liat lagi dia nyamperin lo," tanya Deana.
Anna memicingkan matanya, lalu menoleh pada Bella yang sedari tadi hanya berdiam diri.
"Bell, Deana nanya tuh! Jawab coba," lempar Anna.
Bella menaikkan sebelah alisnya. "Apaan?" tanyanya tanpa bersuara.
"Itu loh... Nahyan gimana sama gue?" ujarnya sambil menyenggol lengan Bella pelan.
Gadis itu sedikit meringis.
"Udah putus kan?" gumam Bella yang masih terdengar.
"Tuh, dijawab sama Bella." Anna terlihat acuh tak acuh.
Deana mengerutkan dahinya. "Sumpah demi? Bohong dosa lho!" Deana tak percaya.
Anna menggelengkan kepalanya. "Kemana aja sih lu? Satu sekolah juga udah tau gue putus."
Deana terdiam sejenak. Gadis itu merasa canggung. Bagaimana bisa dia tidak tau? Dia merasa kesal sendiri. Mengapa Anna tidak pernah bercerita padanya? Bukankah mereka sahabat?
Deana mengepalkan tangannya, setelah itu dia tersenyum sambil menyisir rambut dengan jari-jemari.
"Gue paham. Pantes aja gue denger gosip kalau Nahyan punya cewek baru," decaknya. Gadis itu berjalan duluan.
Anna bungkam.
Baguslah.
"Nunggu apa lagi? Ayo ke kantin Keburu bel masuk bunyi!"
Anna menghela napas dan tanpa mengatakan apa pun dia menyusul Deana di depan. Bella menyadari raut wajah masam Anna. Namun, dia memilih diam.
Yah, gak ada hubungannya juga sama gue, batin Bella sambil berjalan santai.
...***...
"Duduk di mana nih?" bisik Deana yang kebingungan karena tak melihat tempat duduk Yang kosong.
"Masa iya sih makannya sambil berdiri?" gerutu Deana lagi. Kaki gadis itu mulai merasa pegal.
Anna melirik Deana sekilas, lalu mengedarkan tatapannya ke deretan tempat duduk, berusaha mencari tempat yang kosong.
Mengapa kantin begitu padat hari ini? Biasanya tidak seperti ini.
Deana menangkap sesosok cowok yang sedang mengangkat tangannya di udara.
"Ah! Ayang! " pekik Deana dengan senyuman lebar, lalu tanpa basa-basi menarik tangan Anna menuju tempat kekasihnya berada.
Anna pasrah saat diseret Deana, dia juga tidak lupa menarik tangan Bella agar tidak tertinggal.
"Ayang... aku sama temen-temenku boleh gabung?" tanya Deana.
Anna berdiri di belakang Deana dengan canggung, sedangkan Bella memasang tampang tak peduli.
Bella melirik Anna yang tengah meremas tangan lalu melirik ke arah Nahyan yang diam-diam mencuri pandang.
__ADS_1
Sudut bibir Bella sedikit terangkat.
Dasar duo absurd.
Merasa diperhatikan, Bella menengok ke arah dari mana dia merasa diperhatikan. Suga. Bella tiba-tiba saja menjadi kesal. Dia bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu.
Anna mencekal tangan Bella. "Mau ke mana? Di sini aja. Lo udah gue pesenin makan soalnya!" kata Anna setengah berteriak.
Anna membungkam mulutnya. Karena gugup, secara tidak sadar meninggikan suaranya.
"Gabung aja, Yang. Cuma bertiga juga di sini," jawab Fabian dengan suara lembut dan tatapan yang penuh cinta.
Deana tanpa basa-basi langsung mengambil tempat di samping Fabian.
"Ayo, duduk!" kata Deana.
Anna merutuki Deana diam-diam. Gadis itu benar-benar tidak bisa mengerti situasi. Anna kan baru saja putus dengan Nahyan. Yah, memang seharusnya dia bersikap biasa saja. Tapi, tetap saja seharusnya Deana bisa mengerti perasaan Anna.
"Duduk aja," Nahyan berkata tanpa menatap Anna.
Ragu-ragu Anna duduk di samping Nahyan, disusul Bella yang duduk di sampingnya.
Terlihat wajah memelas Suga ketika Bella memilih duduk di samping Anna dan bukannya di sampingnya.
Duh, tremor gue duduk di samping Mantan!
Tanpa sadar, Anna mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Duduknya pun terlihat gelisah.
"Jangan percaya," Nahyan membuka percakapan.
"Hah?" Anna terkejut sambil menoleh ke arah Nahyan. Matanya bertabrakan dengan mata amber tersebut.
Deg!
Jantungnya berdegup kencang layaknya sedang menggelar konser dangdutan.
Merasa tidak kuat kemudian dia memalingkan wajahnya. Benar kata orang-orang setelah putus mantan menjadi lebih tampan.
"Hah?"
"Cuma lo," ulang Nahyan.
"Hah?" Anna tambah cengo.
Dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Jangan salahkan otak Anna yang lola dalam menafsirkan kata-kata cowok itu, namun salahkan Nahyan yang kalau berbicara setengah-setengah.
Nahyan menggelengkan kepalanya. Dia takjub dengan kebloonan Anna. Benar-benar tidak ada obat. Tapi anehnya, dia cinta.
"Ngerasa aneh gak?" tanya Nahyan yang terkesan mengalihkan topik.
"Apanya?" jawab Anna dengan suara yang sedikit bergetar.
Kenapa ngalihin topik sih? Gue masih penasaran tadi yang lo maksud itu apaan! batin Anna frustrasi.
"Dulu ada notif dari seseorang yang getaran HPnya sampai ke hati. Tapi sekarang udah gak ada lagi?" Nahyan menoleh ke arah Anna. Lebih tepatnya menatap mata gadis itu.
"Hah?"
Nahyan menyeringai.
"Ngaku lo blokir nomor gue kan," ujar Nahyan to the point. Dia melirik tangan Anna.
"Kasian tangan lo."
"Hah?"
"Diremes mulu."
"Hah?"
Wajah Nahyan berubah menjadi sangat datar. "Dari sekian banyaknya kata, yang lo tau cuman hah?" ketusnya.
__ADS_1
"Hah?"
"Dasar B390!"
Dahi Anna mengerut. "B390? Artinya apa? Sama kayak 520 kah?" tanya Anna.
"Makanan lo mana? Belom jadi juga?" Nahyan mengalihkan pembicaraan.
"Gak tau. Eh, itu dateng pesenannya." Anna melambaikan tangan ke arah emak kantin yang sedang membawa nampan berisi pesanan makanannya.
"Pinjem HP lo," pinta Nahyan.
Anna menuruti. Gadis itu memberikan ponselnya.
"Ngapain?" tanya Anna sambil mengintip Nahyan yang seperti mengotak-atik isi ponselnya.
"Ngesave nomor. Nomor baru," cuek Nahyan.
"Nomor siapa?"
Nahyan diam tidak menjawab. Dia melihat isi aplikasi chat Anna. Cowok itu merasa panas. Belum lama putus dariny, bagaimana mungkin banyak cowok yang sudah mendekati Anna?
Nahyan mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya dengan hati dongkol.
"Gak usah sok kecantikan," kata Nahyan sebelum beranjak dari tempat duduk dan pergi begitu saja.
Tepat setelah itu, makanan yang dia bersama dua temannya pesan datang.
"Hah? Dia kenapa lagi?" lirih Anna yang seperti ingin menangis.
Ting!
Anna membuka ponselnya begitu sebuah notif chat berbunyi.
Nahyan : Pulang bareng gue
Anna mengulum senyum. Dia segera membalas.
Anna : Gue sama Abang lo
Anna kecewa begitu pesannya dibaca Nahyan namun tidak dibalasnya. Salahkan Anna yang malah mengungkit Dhyo.
Ting!
Ponselnya kembali berbunyi. Dengan sigap dia membalas.
Nahyan : Usir aja
Anna tertawa kecil. Tidak jadi kecewa.
Anna : Matamu
Anna : Ceritanya kita baikan?
Anna menggit ujung kuku ibu jarinya seraya menunggu balasan dari Nahyan.
Terlihat status bar Nahyan yang sedang mengetik. Sudah hampir dua menit status bar cowok itu mengetik, tapi tidak ada pesan baru yang Anna terima.
Apakah jawaban dari pertanyaannya memang sepanjang itu?
Nahyan : Sejak kapan kita musuhan?
Anna salting sendiri dengan pesan yang dua terima. Malunya itu lho.
Anna : Y
Anna : Gue makan dulu
Nahyan : Hm
°°°
__ADS_1
Bersambung.