
🌟Enthusiasm chapter 14🌟
Tinggalkan LIKE KOMEN. Aku takut sama HANTU soalnya :(
Happy reading, Guys!
Anna merapikan pakaiannya saat keluar dari kamar mandi elite di apartemennya Nahyan.
"Selesai juga kasih salepnya," gumamnya setelah merapikan pakaiannya.
Anna berjalan mengelilingi dalam apartemen milik Nahyan dengan rasa kagum. Nahyan tidak begitu memiliki banyak barang pribadi. Namun, penataan barangnya sungguh mengesankan. Sederhana namun terlihat sangat mewah.
Anna melihat-lihat bingkai-bingkai foto yang menghiasi dinding. Hanya foto abstrak dengan garis-garis rumit.
Mata Anna terfokus pada sebuah dinding dimana banyak foto pribadi bersama keluarga yang menempel. Anna tersenyum melihat keindahan design yang kreatif. Sebuah pohon dengan bingkai-bingkai foto. Melihat karakter Nahyan yang seperti itu, tidak mungkin kalau cowok itu yang berinisiatif seperti ini.
Anna merasakan perasaan bahagia saat melihat sebuah foto keluarga yang tampak sangat menyenangkan meski 3 dari 4 orang yang berada dalam foto berwajah datar. Hingga tanpa sadar dia sangat dekat dengan dinding itu.
"Punya kakak ternyata," gumam Anna.
Kalau dilihat-lihat, Nahyan lebih ekspresif dibanding kakaknya. Itu terbukti dari foto-foto di dinding.
Anna menyentuh sosok wanita yang tersenyum lebar di foto. Meski hanya foto, sangat terasa kehangatannya.
Anna memperhatikan foto itu dengan seksama. Dia merasa pernah bertemu dengan wanita itu. Tapi dia tidak dapat mengingat dimana dia bertemu dengan wanita itu.
Anna mengambil beberapa langkah ke belakang untuk melihat keseluruhan foto. Kali ini pusat perhatiannya berada pada foto-foto Nahyan.
Anna rasa, Nahyan itu sebenarnya adalah orang yang baik. Hanya saja terkadang dia tidak bisa mengekspresikannya dan malah membuat orang-orang disekitarnya merasa ketakutan, atau jengkel.
Dari yang di foto, Anna tau Nahyan sangat dekat dengan ibunya.
"Beruntungnya," batin Anna menatap lurus ke depan sosok wanita si pemilik senyum hangat.
"Itu Mama yang design," ucap suara bariton dari arah belakang Anna.
Gadis itu terkejut saat dia mendapatkan wajah cowok itu tepat di sampingnya.
"Ish! Ngagetin aja, sih!" ucap Anna sambil memukul pelan lengan Nahyan.
Cowok itu tersenyum mengejek.
Tuh, kan. Nahyan itu menyebalkan!
"Nih, pampers." Nahyan memberikan beberapa plastik pada Anna.
Rahang gadis itu jatuh begitu dia melihat pampers dengan jumlah banyak.
"Lo mau jualan apa gimana?" tanya Anna sambil mengambil semua plastik dari tangan Nahyan.
Cowok itu hanya mengangkat bahunya.
"Kamar mandinya sebelah sana," ujar Nahyan sambil menunjuk sebuah pintu nerwarna cokelat dengan jari telunjuknya.
Anna memajukan bibirnya. "Iya loh, gue tau!" jawab Anna yang merasa sebal.
Nahyan mengerutkan dahinya.
"Tau dari mana?" pikir Nahyan yang merasa heran. Namun, Nahyan mengingat sesuatu yang lebih penting dari sekadar 'dari mana tau letak kamar mandi'.
Nahyan mencekal lengan Anna.
"Lo belom jawab gue." kata Nahyan dengan tatapan tajam.
"Hah, apa?" tanya Anna yang merasa bingung.
__ADS_1
Nahyan menarik lengan Anna agar gadis itu lebih dekat ke arahnya. "Salep itu untuk apa?" tanya Nahyan sambil menarik baju Anna ke atas.
Anna sangat panik, dan langsung menahan tangan Nahyan. "Kenapa?" tanya Anna dengan suara yang gemetar, sementara otaknya terasa blank alias kosong.
Nahyan kembali menggerakkan tangannya, agar baju yang Anna pakai tersingkap ke atas.
Anna menggamit kedua tangan Nahyan dengan jantung yang berdebar-debar. Cowok itu menatap Anna lekat-lekat, seolah penasaran apa yang akan dilakukan Anna selanjutnya.
Anna mengisyaratkan agar Nahyan menundukkan kepalanya.
Sekarang, wajah Anna dan Nahyan sejajar. Gerak-gerik Anna tidak luput dari perhatian Nahyan.
Anna tersenyum lembut, lalu mengelus-elus kepala Nahyan. "Nanti ya, Anak bawel." ujar Anna dengan suara yang lembut.
Nahyan tertegun dan tanpa sadar menelan saliva.
"Kalau lo mau liat gue sekarang gak boleh. Kita belum belum sah, oke?" tanya Anna yang masih saja betah mengelus kepala Nahyan.
Kalau dipikir-pikir Nahyan itu imut juga, pikir Anna dengan hati yang entah mengapa menjadi riang.
Dengan ragu-ragu, Nahyan menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Anna heran sebenarnya, tidak seperti biasanya Nahyan hanya diam mengangguk tanpa protes. Namun Anna tidak mau ambil pusing. Dia harus langsung ke kamar mandi, sebelum Nahyan yang menyebalkan kumat kembali.
Nahyan melirik pintu kamar mandi yang baru saja tertutup rapat. Lalu dengan tergesa-gesa Nahyan berjalan ke arah mini bar apartemennya.
"Apaan anj*ng, kenapa gue deg-degan?" gumam Nahyan sambil memegang dadanya, tepat di bagian jantungnya.
Nahyan membuka kulkas dan segera mengambil kaleng soda dingin dari sana, lalu menarik kursi di mini barnya. Ketika Nahyan tengah membuka kaleng soda, Anna keluar dari kamar mandi.
Nahyan melirik Anna yang mungkin sedang mencari keberadaannya. Ketika gadis itu mendapati sosoknya, Anna mendatangi Nahyan dan duduk di samping cowok itu. Tapi Nahyan malah bangkit dan meninggalkan Anna.
Gadis itu terperangah kaget. "Nahyan kenapa?" pikirnya.
Nahyan mengambil plastik putih kecil yang saat masuk ke apartemen, sempat dia taruh di sofa ruang depan, lalu menghampiri Anna yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Nahyan duduk di tempatnya semula.
"Minum!" ucap Nahyan sambil menyodorkan botol Keranti pada Anna.
Anna mengerutkan dahinya, lalu menggelengkan kepalanya. Perutnya memang sakit, tapi tidak perlu sampai minum Keranti. Lagipula, rasanya tidak enak.
Nahyan menghela napas berat, lalu membuka tutup botol Keranti. "Minum!" ulang Nahyan sambil mendekatkan mulut botol pada bibir Anna. Namun gadis itu menjauhkan tubuhnya.
"Enggak, Nahyan!" tolak Anna tegas.
Nahyan mengapit leher Anna di ketiaknya, lalu memaksa gadis itu agar meminumnya. Tapi gadis itu memberontak.
"Demi apapun, lo enak-enakan minum soda tapi lo ngasih gue minum Keranti!" protes Anna lalu mengatupkan rapat-rapat bibirnya.
Nahyan mengapit rahang gadis itu agar bibirnya terbuka. Gadis itu mendongakkan kepalanya sehingga Nahyan kesulitan.
Bukan Anna namanya kalau tidak banyak akal.
"Minum doang, Anna. Apa susahnya sih?" paksa Nahyan masih keukeuh agar Anna menuruti keinginannya.
Splash!!
Air dalam botol Keranti tumpah setengah ke pakaian Anna, membuat Nahyan melonggarkan apitan leher Anna di ketiaknya.
"Ish! Gue bilang juga apa! Gue gak mau, Nahyan!" bentak Anna sambil membersihkan bajunya dari sisah tumpahan Keranti. Meski sebenarnya itu percuma saja.
"Liat nih baju gue lengket!" kata Anna menatap Nahyan dengan sinis. "Gak usah lagi deh maksa-maksa gue. Sok khawatir, peduli mah kagak!" gerutu Anna yang sebal kuadrat.
Nahyan memegangi kepalanya. Lagian, dia terlalu gerogi hingga menumpahkan Kir*nti. Dengan perasaan berkecamuk, Nahyan melepaskan baju seragamnya dan melemparkan baju itu tepat ke wajah Anna.
"Eh, anjim! Ngapa lempar seragam lo ke gue?! Bau ketek tau gak?!" kata Anna sambil melempar baju Nahyan kelantai.
Sebenarnya daripada bau apek, baju Nahyan malah dominan wangi bayi. Lebih tepatnya minyak telon dan bedak bayi. Tapi karena Anna sangat kesal, biarlah dia berkata seperti itu.
__ADS_1
Nahyan menggaruk kepalanya, merasa bodoh dengan tingkah lakunya.
"Kok gue beg*?" batin Nahyan merutuki kebodohannya.
Nahyan memegang tangan mungil milik Anna, lalu menyeret gadis itu menuju kamar miliknya.
"Pelan-pelan, Nahyan!" kata Anna yang merasa kesulitan untuk menyamai langkah lebar milik Nahyan. Wajar bukan, tinggi Anna hanya se-ketiak cowok itu.
"Pilih!" ujar Nahyan saat dia membuka walk-in closet yang berada di dalam kamarnya.
Anna tersenyum lebar. "Bener ya?" tanya Anna meyakinkan.
Nahyan mengangguk singkat.
Langsung saja Anna berlarian kesana-kemari hanya untuk memilih baju Nahyan yang dia suka. Tentunya, Anna memilih merk yang paling mahal. Tapi, semuanya benar-benar baju mahal. Bahkan kolor Nahyan yang termurah saja seharga satu juta! Dasar orang kaya!
Setelah memilih baju yang disuka, Anna menggelendot ke Nahyan. Dan memasang senyum termanisnya.
"Buat gue boleh?" tanya Anna dengan kepala yang dimiringkan, agar terlihat imut. Karena menurut Nahyan, Anna itu mirip kucing ketika sedang menginginkan sesuatu. Dan cowok itu menyukai kucing.
Nahyan dengan santai menganggukkan kepalanya.
"Ambil aja." jawab Nahyan sambil meninggalkan Anna yang sedang menciumi baju mahal milik Nahyan yang kini sudah berpindah kepemilikan.
Setelah kepergian Nahyan, Anna langsung memakai kaos barunya itu. Anna berputar-putar sambil melihat dirina di cermin. Sebenarnya baju Nahyan sangat kebesaran di tubuhnya, bahkan dia terlihat seperti tidak memakai celana. Tapi Anna tetap senang, dia merasa seperti seorang gadis yang berada di novel-novel ataupun film-film yang pernah dia lihat.
"Nahyan!" panggil Anna yang memperlihatkan baju yang dia pakai di hadapan Nahyan yang sedang meneguk kaleng soda di mini bar.
"Uhuk, uhuk!" Nahyan tersedak tepat ketika dia melihat ke arah bawah Anna.
"Lo gila apa gak pake celana?!" bentak Nahyan dengan mata yang melotot.
Ana menjadi ciut, lalu menjawab. "Pake, kok. Cuma tenggelem aja." jawab Anna sambil mengangkat kaos yang dipakainya hingga celananya terlihat.
Nahyan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lagian, lo aja telanjang dada gitu." tunjuk Anna menggunakan dagunya sambil memainkan jari-jarinya. Mirip anak kecil yang sedang merajuk.
Seperti tersadar, Nahyan mengusap tengkuknya lalu dengan elegan memungut baju seragamnya yang tadi di lempar Anna ke lantai.
Cowok itu berjalan santai ke arah Anna, lalu melempar bajunya kembali ke wajah Anna dan berjalan melewatinya.
"Nahyan!!!" teriak Anna yang merasa sebal dengan seragam Nahyan yang sudah berada di pelukannya.
Cowok itu hanya tersenyum miring, lalu pergi menghilang ke bilik kamar.
"Dasar cowok bar-bar." gerutu Anna sambil melempar seragam Nahyan ke atas meja mini bar.
°°°
Tbc
NEXT? ❤🌟👍💬
Like up to 30, Comment, rate 5 nya dulu 💋❤
Shhhht! Gak usah sider❤
SUKA dengan novelnya?
Yuk trakteer Byba Cendol 👉 https://trakteer.id/Juecy.bell/tip
Biar semangat upnyaa 😚
Salam hangat,
__ADS_1
Juecy.bell
02 September 2020