Nahyanna

Nahyanna
BAB 38


__ADS_3

LIKE dan KOMEN pleasešŸ¤—


Anna melempar ponselnya pelan, lalu tidur terlentang menatap langit-langit kamarnya.


Sudah dari pagi Anna hanya scroll-scroll ponselnya. Melihat-lihat video-video lucu hingga cowok-cowok tampan di Instingram. Untungnya, ponsel yang diberi Nahyan ini memiliki kuota unlimited yang masih aktif hingga 26 hari ke depan.


Anna merasa bosan juga lapar.


Dari kemarin sore dia belum makan apapun. Bahkan, bakso yang dibelikan Nahyan kemarin sudah berakhir di tong sampah berkat pamannya itu.


Anna mengambil kembali ponsel yang keberadaannya tak jauh darinya, lalu mengetik sesuatu di ponselnya.


Anna : Nahyan gue laper... nafkahin gue dong!


Anna menggelengkan kepalanya, memikirkan dua kali untuk mengirimi Nahyan pesan seperti itu. Tengsin dong, tadi bilangnya jangan menghubunhinya dulu kalau mau membantu. Eh, gak taunya malah Anna yang menghubunginya duluan kan aneh.


Anna menghapus pesan itu dan keluar dari room chat Nahyan. Tapi, perutnya sudah keroncongan. Maka dari itu, Anna kembali ke room chat Nahyan.


Anna : Woy, Bandar! Beliin gue makanan.


Anna mengerutkan dahinya.


"Kok kesannya gue merintah? Kan gue yang babu!" Anna merutuki dirinya sendiri. Alhasil, pesan itu kembali dihapusnya.


Anna menggigit ujung ibu jarinya saat akan mengetik kembali.


"Gue minta beliin makanan kok kesannya kayak manfaatin Nahyan ya?" Anna menggumam dan berfikir memakai hati nuraninya.


"Bah. Tapi, selama ini kan gue emang keseringan dikasih makan sama si Bule Sawah."


Anna mendecak sebal, lalu menekan tombol back pada ponselnya agar keluar dari aplikasi chatting.


"Gue laper!" kata Anna lalu membuka kembali room chat Nahyan, "tapi tengsin dong!"


Anna menendang-nendang udara karena merasa frustrasi. Kalau saja dia tidak ingat ini adalah ponsel mahal, sudah Anna banting hingga tak berbentuk.


Tiba-tiba saja, Anna merasakan getaran dari ponselnya.


****Bule Sawah is calling****...



"ANJIM! DITELPON DONG!" Anna memekik heboh sambil mengangkat tinggi-tinggi ponselnya.


"Angkat gak ya?" Anna menggigit ibu jarinya.


"Angkat, nggak, angkat, nggak, angkat, nggak. ANGKAT AJALAH!"


Anna menggeser tombol hijau. Namun, sebelum itu dia berdeham dan memeriksa intonasi suaranya.


"Ehm, ehm. Aaaa... oke bagus."


"Apaan?" jawab Anna yang sudah bersiap-siap dengan apa yang akan Nahyan katakan nanti.


Kalau cowok itu menawarkan makanan, Anna akan berbasa-basi dengan menolaknya dulu, lalu Anna akan menerima makanan itu diakhirnya.


Kalau Nahyan marah-marah karena tadi pagi Anna memutuskan sambungan telepon secara sepihak, Anna tinggal mematikan lagi saja sambungan teleponnya.


Anna tersenyum bangga.


Gue memang cerdas!


Tapi, nyatanya cowok itu hanya diam saja diseberang sana tanpa mengatakan apa-apa.


Anna menjauhkan ponsel dari telinga untuk melihat apakah panggilan telepon itu masih menyambung atau tidak.


"Masih nyambung." Anna kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. Namun, sudah 10 menit lebih diantara mereka tak ada yang mengatakan sepatah kata pun.


"Apaan sih!" Anna yang kesal mematikan sambungan telepon. Namun sayangnya, sedetik setelah panggilan teleponĀ terputus, Nahyan kembali meneleponnya.


Anna menggeser tombol hijau.


"Halo?"


"...."


Anna mendecak sebal saat Nahyan tak mengatakan apapun selama beberapa detik. Saat Anna akan mematikan sambungan telepon, Nahyan mengeluarkan bersuara.


"Jangan."


Anna menaikkan sebelah alisnya.


"Dari sekian banyaknya kata lo cuma bilang jangan? Gak usah bercanda! Gue ini laper, dan setelah lo buat gue kesel gue jafi tambah laper! Tanggung jawab anjim!" Tentu saja Anna mengatakan itu dalam hatinya. Kalau secara langsung, sorry Anna tidak level. Huh.


"...." Anna hanya diam.

__ADS_1


"Jangan dimatiin lagi."


Anna senyam-senyum tidak jelas saat mendengar suara serak-serak basah yang menggoda itu.


Anjim, dada gue rasanya mau meledak.


"...."


Anna hanya diam.


"Na, bilang sesuatu."


"...."


"Na...."


Anna tertawa tanpa suara. Setelah itu, Anna berdeham pelan sambil menjauhkan ponsel darinya. Lalu segera menjawab, "Sesuatu."


"Udah...." ucapan Anna terhenti saat terdengar bunyi 'tut'.


Anna melihat layar ponselnya yang sudah keluar dar jendela teleponnya dengan Nahyan.


"Yah, dimatiin dong! Kampr*et Nahyan ini!" gerutu Anna dengan wajah yang cemberut.


...***...


"Gue pergi." Nahyan mengambil jaket hoodie-nya lalu bergegas pergi dari apartemen miliknya yang sekarang menjadi tempat tongkrongan.


"Bah, napa tuh kawan lo?" kata Fabian pada teman di samping.


"Gak tau. Dari pagi emang udah aneh. Bawaannya ngamuk terus, padahal cuma ditanya mau mabar apa kagak," jawab Epen sambil mencomot pizza yang sudah dingin.


"Oh, itu sih karena ditinggal pawangnya. Makanya sensian gitu," jawab Budi si cowok rambut cepak.


Ketiga orang itu saling melirik lalu tertawa terbahak-bahak.


"Gue gak nyangka, si bocil itu bisa buat Nahyan sebucin itu," ujar Epen yang hampir tersedak karena makan sambil berbicara.


"Emang ajaib si Anna," timpal Fabian.


"Gue mah udah dari awal tau kalau Nahyan tertarik sama Anna. Lo kan tau, sesensi apa dia kalau cewek nyentuh dia. Bahkan, tatapan mata aja gak sudi sampe dikira homo.Ā  Nah, semenjak ada Anna jangankan tatapan mata, si Kulkas berjalan itu bisa dibuat betah megang tangan itu cewek. Lo semua aja yang gak merhatiin," Budi terlihat bangga.


"Ngapain gue merhatiin Nahyan? Gue masih suka cewek, anjiir!" celetuk Epen.


"Dasar homo! Jauh-jauh sana!"


"Fvck!"


.......


.......


.......


Anna dari tadi hanya menatap langit-langit kamarnya dengan kedua kaki yang menempel di dinding.


Sanking gabutnya, Anna tidak tau harus melakukan apa-apa dan sedang dalam fase mager utuk menjalankan segala aktifitas. Bahkan, dari pagi Anna belum mandi. Terlebih lagi, tubuh Anna semuanya terasa nyeri.


Ditengah-tengah kegiatannya, ponsel Anna berdering. Menandakan seseorang meneleponnya.


Hanya ada satu orang yang akan mengubunginya


Anna saat ini. Karena, hanya orang itu yang tau nomor barunya, dan benar saja yang meneleponnya adalah Nahyan.


Anna menggeser tombol hijau, lalU menghidupkan loudspeaker. Gadis itu krmbali pada posisinya semula.


"Keluar!" perintah Nahyan lalu mematikan sambungan teleponnya.


Anna mengerutkan dahinya.


"Dari tadi orang itu ada masalah apa sih?!" gerutu Anna yang merasa kesal. Dia tak mengindahkan perintah Nahyan. Saat ini Anna terlalu malas untuk menjalankan aktifitas. Jalan ke bawah contohnya.


Ting!


Anna mengambil ponselnya dan mendapat notifikasi chat dari Nahyan.


Bule Sawah : šŸŽ¤ Pesan suara (0.2)


Anna menyentuh tulisan putar.


"Sekarang, Anna!" Mendengar nada suara Nahyan yang memerintah, dengan rasa tak rela dia bangkit dari tidurnya.


Anna meringis kesakitan karena pergerakannya yang tiba-tiba. Bagaimana pun juga, Anna ini adalah makhluk Tuhan yang paling imut yang habis kena damprat. Jadi, wajar Anna kesakitan.


Anna mengambil sweater panjang big size berwarna abu-abu betuliskan LA dan celana panjang berwarna hitam. Lalu, segera memakainya di kamar mandi.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Anna keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang dia ambil tadi.


Anna berjalan menunu cermin yang besarnya seukuran tubuhnya. "Anjim! Muka siapa ini?!" teriak Anna yang baru sadar wajahnya terlihat kusam.


"Haish...." Anna mengeluh dan kembali memasuki kamar mandi untuk mencuci muka. Dia berkaca setelah mengelap wajahnya dengan handuk khusus di cermin dekat wastafel.


"Duh, luka di bibir gue belum sembuh lagi," gumam Anna sambil meninggalkan kamar mandi.


Anna memakaikan bedak bayi ke wajahnya, lalu mengoleskan pelembab bibir berwarna pink ke bibir mungilnya. Anna memeriksa kembali wajahnya dicermin.


"Lebih mending dari yang tadi."


Anna mengambil sandal berbulu yang senada dengan sweaternya.



*PS: anggep aja sepatunya itu sendal berbulu warna abu-abu.


Anna keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap. Takut kalau pamannya masih berada di rumah. Yah, walaupun pamannya itu jarang pulang ke rumah dan sekalinya pulang itu tak sampai satu hari, tetap saja Anna perlu berhati-hati. Kalau tidak, dia kena damprat lagi nanti.


Anna membuka gerbang rumahnya, lalu berjalan menuju Nahyan yang sedang bersandae pada mobil dengan tangan yang bersedekap di depan dada.


"Lama!" kata Nahyan.


Anna diam tak menanggapi dan menjaga jarak 2 meter dari Nahyan. Khawatir kalau luka di selaput bibirnya akan terlihat. Apalagi, tadi saat Anna berkaca sempat melihat lebam dibagian pelipisnya.


"Kenapa telepon dari gue gak lo angkat?"


Anna mengerutkan dahinya. Bukannya sudah Anna angkat? Hanya saja cowok itu yang akhirnya mematikannya.


"Hah?"


Nahyan yang kesal berjalan mendekati Anna, namun gadis itu berjalan mundur sebanyak Nahyan mendekatinya. Sadar akan hal itu, Nahyan berhenti mendekat.


"Gue khawatir sama lo. Gue teleponin lo sampe berkali-kali meski gue tau nomor lo gak aktif," ucap Nahyan.


Anna sekarang paham kemana arah pembicaraan ini.


Yee... elu kan manusia absurd. Nelponin kayak rentenir nagihin utang aja.


"Terus, maksud lo apa bilang 'I'm fine, i need the time for my self'? Coba jelasin ke gue," tanya Nahyan yang menatap lurus ke wajah Anna tanpa berkedip.


Anna hanya diam dan memalingkan wajahnya.


Nahyan mengerutkan dahinya saat menemuka sesuatu yang janggal di pelipis Anna. Refleks cowok itu mendekati Anna


"Pelipis lo--" Nahyan menaikkan sebelah alisnya saat Anna melangkah mundur dengan kepala yang menunduk, seolah berusaha menyembunyikan sesuatu.


Nahyan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Tanda cowok itu sedang menahan keinginannya untuk melakukan sesuatu.


"Bibir lo kenapa robek gitu? Terus, gimana ceritanya pelipis lo bisa biru?" tanya Nahyan.


Anna makin menundukkan kepalanya, meringis tanpa suara. "Kok tetep ketahuan sih? Kalau gini mending gue pake masker tadi," batin Anna.


Anna mengangkat wajahnya, dan memberanikan menatap mata Nahyan secara langsung.


"Bi-bisa gak kita ngobrol di dalem mobil aja?" tanyanya. Anna agak khawatir kalau ada tetangga yang melihat dan bergosip yang tidak-tidak tentangnya.


Nahyan menganggukkan kepalanya, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Anna.


Anna memasuki mobil Nahyan. Selagi di dalam mobil, Anna memperhatikan Nahyan yang memutari mobil menuju kursi pengemudi.


Tanpa berkata apa-apa, Nahyan menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan rumah Anna.


Nahyan melirik Anna yang diam saja.


"Kita ke apotek dulu," kata Nahyan.


Anna menoleh ke arah Nahyan. "Untuk apa?"


"Obatin luka lo tentunya."


°°°


Bersambung...


...⚠HAL-HAL YANG WAJIB DILAKUKAN⚠...


...āœ” LIKE...


...āœ” KOMEN...


...Masih gak mau lakuin Itu??...


...FIX HANTU!!...

__ADS_1


__ADS_2