Nahyanna

Nahyanna
BAB 18


__ADS_3

Happy reading, Guys!


Kegiatan belajar mengajar telah berakhir satu jam yang lalu. Selepas menemani Deana piket, Anna berjalan keluar kelas dengan langkah gontai bersama dengan Deana.


Demi apapun, hari ini Nahyan begitu menyebalkan. Bukan berarti hari-hari sebelumnya Nahyan tidak menyebalkan. Hanya saja hari ini dia lebih, lebih, dan lebih menyebalkan dari biasanya.


Nahyan juga tadi sangat tidak berperasaan menyuruhnya membawa sendiri empat buah buku yang masing-masing tebalnya sekitar 5 cm.


Flashback On


"Bawa semua buku-buku ini!" perintah Nahyan dengan suara yang dingin.


Anna menaikkan sebelah alisnya dengan mulut yang menganga.


"Are you kidding? Gue bawa buku segitu tebelnya?" tanya Anna yang tidak percaya.


"Gak usah banyak bacot, lakuin aja apa yang gue suruh!" Nahyan melirik Anna dengan tajam.


Gadis itu terdiam.


Benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Menurutnya, kata-kata Nahyan barusan itu sangat kasar.


Anna mengulum bibirnya selagi menahan rasa sesak di dadanya.


"Kemana?" tanya Anna akhirnya sambil mengangkat buku-buku itu dengan mata yang berair. Namun, dia berusaha menahan.


Nahyan hanya menatap Anna.


Karena sudah terbiasa dengan sikap Nahyan, dia hampir tau semua arti tatapan yang diberikan cowok itu padanya.


"Harus gue bawa kemana buku-buku ini?" tanya Anna sambil tersenyum paksa.


"Lantai empat," jawab Nahyan.


"Yan, lo gila? Kita di lantai satu.


"Gak usah protes!" kata Nahyan sambil berjalan di depan Anna.


"Tunggu apa lagi, Anna? Ikutin gue!"


Dengan berat hati, Anna membawa semua buku itu dan langsung mengekori Nahyan dari belakang.


Saat menaiki tangga yang menuju ke lantai tiga, Anna mulai goyah dan hampir saja kehilangan keseimbangan. Sedangkan Nahyan tetap berjalan menaiki tangga tanpa menolehkan kepalanya pada Anna.


Anna membenarkan letak buku-buku yang dibawanya.


Anna merasa tangannya mati rasa karena lemas, bahkan kakinya tidak kuat untuk menaiki tangga lagi


Brak!


Anna terjatuh.


Beruntung, Anna jatuhnya ke depan dan bukannya ke belakang. Kalau sampai ke belakang, Anna tidak tau apa yang akan terjadi padanya.


Buku-buku yang Anna bawa berserak.


Nahyan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Bisa hati-hati gak, sih?! Lo tau gak, buku itu lebih mahal dari yang lo kira!" bentak Nahyan pada Anna yang sekarang sedang meringis kesakitan.


Anna mendongak untuk menatap Nahyan.


"Gue jatuh, dan lo lebih mentingin buku sialan lo itu?" tanya Anna yang merasa tidak percaya.


"Ya pastilah, kalau bukunya rusak lo mau tanggung jawab? Iya? Bayar nasi goreng aja lo gak mampu!"


Anna berdiri sambil mengepalkan tangannya. Lalu dia menatap Nahyan dengan wajah yang memasang tampang kesal.



"Lo brengs*k banget yah jadi orang?" kata Anna yang sudah naik pitam. "Gak usah pake ngehina gue kenapa?"


"Terus kenapa?! Masalah?" jawab Nahyan dengan tampang kesal.


"Tentu aja masalah!" ucap Anna dengan nada suara yang melengking tinggi.


"Gue tau dan sangat mengerti lo anak orang kaya. Mobil bisa ganti-ganti, rumah gedenya bahkan ngalahin istana negara, dan kolor lo yang paling murah aja harga satu juta."


"Gue ngerti, Nahyan. Tapi bukan berarti lo ...." Anna menunjuk Nahyan. "Tuan muda Nahyan yang terhormat, bisa ngehina gue sesuka hati lo!"


Setelah mengatakan itu, Anna menuruni tangga tanpa memedulikan unpatan-umpatan yang keluar dari bibir Nahyan.


"Woy, bukunya bawa dulu!" teriak Nahyan.


Anna berhenti menuruni tangga saat berada di pertengahan tangga, lalu menatap ke arah Nahyan.


Anna melirik sebuah buku yang berada di bawah kakinya.


"Bawa sendiri sana!" kata Anna setelah menendang buku yang lumayan tebal hingga berada di tangga lantai dua terbawah.


"Fvck, Anna! Itu buku punya nyokap gue!" teriak Nahyan.


Flashback off


Anna berjalan dengan tertatih-tatih. Sebenarnya, saat menendang buku setebal 5 cm itu Anna menggunakan kakinya yang sepertinya terkilir saat terjatuh tadi. Saat menuruni tanggapun, Anna menahan sakit pada kakinya tapi dia tahan.


"De, sumpah demi apapun gue sakit hati banget sama Nahyan," curhat Anna pada Deana yang sedang berjalan sambil membaca novel.


Entah bagaimana, walau mata gadis itu tertuju pada tulisan di novelnya, Deana dengan mudah menghindari benda-benda yang dapat membuatnya terjatuh.


Deana menutup novelnya setelah menaruh pembatas buku di halaman yang dia baca.


Deana tertawa kecil. "Apa lagi? Lo berdua itu lucu tau gak?" jawab Deana.


Anna berdecak sebal.


"Kampr*t. Gue ini serius De," kata Anna yang tidak mood bercanda.


"Iya-iya. Yaudah, gue duluan. Udah dijemput sama supir," kata Deana saat sudah sampai di parkiran sekolah.


Anna menganggukkan kepalanya lemah.


"Dah!" ucap Anna pada Deana yang mau memasuki mobil.


"Byee!" ujar Deana sebelum menutup pintu mobil.


Anna mengusap wajah dengan gusar, lalu pergi menuju keluar gerbang sekolah.


Anna berjalan menuju rumahnya dengan berat hati, dan kaki yang terasa sakit.


Hari mulai semakin gelap. Anna sesekali duduk di pinggir trotoar untuk mengistirahatkan kakinya, yang sekarang mulai membengkak.


"Udah sore mendung pula," gumam Anna yang merasa cemas.

__ADS_1


Saat dirinya merasakan setetes air jatuh di pipinya, Anna mengarahkan telapak tangannya ke langit.


"Neduh dimana nih?" batin Anna mencari-cari tempat untuk berteduh sambil memeluk tas-nya.


Anna berlari pincang saat rintik-rintik hujan dengan cepat mulai membasahi jalanan.


Anna berteduh di sebuah Cafe. Banyak orang-orang yang juga sedang berteduh di sana.


Anna memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan. Baju seragamnya basah karena hujan, tidak sampai menetes-netes memang. Tapi tetap saja, seragamnya basah.


"Wah .... Kasian banget cewek itu," ucap seorang perempuan berambut panjang sepinggang sambil menunjuk ke arah Anna yang baru saja memasuki sebuah café.


"Hihihi... basah kuyup gitu," tambah temannya.


"Ckckck, kasiannya. Hahaha ...."


Anna mengeratkan pelukannya terhadap tasnya, saat siswi dari sekolah sebelah mengasihaninya atau lebih tepatnya menjadikannya bahan tertawaan.


"Kalo ngomongin orang itu, suaranya dikecilin dikit kenapa? Kayak gak tau cara gibahin orang aja," gerutu Anna pelan.


"Dingin," gumam Anna dengan tubuh yang menggigil.


Anna mencari-cari ponsel miliknya di tasnya.


"Untung aja tas gue pakein pelindung," gumam Anna sambil menyalakan ponselnya.


Anna sangat terkejut saat ponsel miliknya muncul sederet notifikasi yang over sekali banyaknya. Ada sebuah WA dari Ami, 97 WA dan Line yang semuanya dari Nahyan.


Pertama Anna membuka SMS dari Ami.


From : Anak Lampir


Subyek : tidak ada


Woy, Chili. Jagain rumah! Gue, Papa, sama Mama mau ketemu klien. Kunci ambil di satpam.


Anna yang membaca SMS dari Ami, hanya memasang tampang datar, lalu membuka chat dari Bule Sawah yang merupakan nama kontak Nahyan di ponselnya.



Lo dimana?


Balik sama siapa?


Lo dimana?


WOY SEMP*K! BALES!


Kalo gak bales, mati lo.


WOY!!!



Itulah chat terakhir dari si Nahyan si cowok brengs*k. Anna malas mengscroll bagian atas chat Nahyan, karena sudah pasti isinya adalah kata-kata umpatan semua.


Anna mengetik sesuatu di ponselnya hendak membalas chat dari Nahyan.


Bisa-bisa dia ngamuk keesokan harinya hanya karena Anna tidak membalas chatnya. Benar-benar mirip bajing*n gila.



^^^(O_O')^^^


?


?



Anna melihat layar ponselnya itu. "Cuma tanda tanya doang?! Sok cool banget, sih!" gerutu Anna yang merasa kesal.


Anna memutuskan hanya membaca chat dari cowok itu.



Bangs*t, cuma diread!


^^^Bs g omngn u dikntrl^^^


G


Lo dimana?


^^^Bkn ursn u^^^


GUE TANYA LO DI MANA!!


^^^Cpslck jbl y ms?^^^


LO DI MNA ANNA ABIMANYU?!


^^^Kepo!^^^



Tiba-tiba saja ponsel Anna bergetar.


Bule Sawah is calling...


Anna menggeser tombol reject. Namun, detik berikutnya Nahyan menelepon lagi dan Anna merejectnya lagi, begitu juga seterusnya sampai akhirnya Anna memutuskan untuk menerima telepon itu.


"Apaan?!" kata Anna ketus.


"Lo dimana?" tanya Nahyab dengan nada tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Gak ada urusannya sama lo!" bentak Anna sebal.


"Gue saranin lo jawab, Anna Abimanyu," ucap Nahyan penuh penekanan dikata-katanya itu, membuat Anna menelan saliva-nya.


"Café Unique yang deket sekolah," jawab Anna dengan cepat.


"Ngapain lo di sana?! Kok berisik?"


"Ya-iyalah berisik, hujan gini!" jawab Anna.


"Tunggu di sana! Jangan kemana-mana!" kata Nahyan sambil memutuskan sambungan telepon.


Anna mendengus kesal.


"Emangnya gue mau kemana? Hujannya aja deres banget," cibir Anna kesal setengah mati.


Untuk meredakan amarahnya, Anna memilih mendengarkan lagu dari ponselnya sambil memakai earphone.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, masuklah seorang cowok dengan postur tubuh yang tinggi dengan gaya-nya yang kece tentunya juga wajahnya yang ganteng.


Semua mata tertuju pada cowok yang sekarang sedang berjalan menuju seorang gadis mungil dengan seragam basah kuyup.


"Kyaaa! Ganteng banget!" ujar salah satu anak yang tadi menertawai Anna. "Udah punya pacar belom ya?"


"Gebet aja, El! Dia Nahyan dari SMA Y kan?"


"Iya, bener. Tapi dia orangnya susah di deketin, mukanya datar melulu dan cuek banget. Jadi gak berani gue."


"Kenapa lo?" tanya cowok itu sambik melihat Anna dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Anna berdecak malas.


"Kehujanan," jawab Anna singkat.


"Kok bisa?" tanya Nahyan menatap wajah Anna.


"Menurut lo?" jawab anna yang merasa kesal.


Nahyan menaikkan sebelah alisnya.


"Apa?"


Anna menghela napas.


"Gue pulang jalan kaki," jawab Anna, lalu memalingkan wajahnya untuk menghindari kontak mata langsung dengan Nahyan.


Nahyan terdiam mendengar jawaban Anna.


Cowok itu duduk di sebuah kursi dan memanggil seorang pelayan.


"Moccacinonya satu, cokelat panas satu." pesan Nahyan pada pelayan.


"Gak duduk?" tanya Nahyan setelah pelayan pergi.


Anna menatap Nahyan sekilas, lalu memilih tetap berdiri dan menatap hujan.


"Dasar cewek! Gengsinya selangit," ejek Nahyan sambil menarik Anna untuk duduk di sampingnya.


"Apaan sih?!" bentak Anna kesal.


Nahyan hanya menatap Anna tajam, membuat Anna bungkam. Tatapan itu begitu menakutkan bagi Anna. Jadi, dia hanya memilih diam dan duduk manis di sampingnya.


Akhirnya seorang pelayan perempuan membawakan pesanan Nahyan. Pelayan itu menatap Nahyan seperti orang yang tidak makan selama setahun.


"Bisa anda pergi?" tanya Nahyan saat pelayan itu tidak kunjung-kunjung pergi.


"Oh ... maaf!" jawab perempuan itu tersipu malu sambil beranjak pergi dari sana.


Nahyan meminum mocacinonya.


"Gak di minum?"


"Gak!" jawab Anna enggan meminum cokelat panas kesukaannya yang terlihat sangat menggiurkan itu. Namun, ia menolak keinginannya tersebut karena gengsinya yang selangit.


Gue mau banget, gue mau cokelat panasnya. Gue pasti udah gila nolaknya!


"Minum!" paksa Nahyan sambil menyodorkan cokelat panas itu.


Anna menepis pelan tangan Nahyan.


"Gak mau!" Anna bersikeras dengan pendiriannya maksudnya gengsinya.


"Minum!!"


"GUE BILANG, GAK MAU!" bentak Anna namun tidak menciutkan keinginan Nahyan.


"Gue bilang minum," kata Nahyan dengan suara yang terdengar dingin.


"GAK MAU---"


PLASH!!


Cokelat panas tersebut mengenai tangan dan baju Anna.


"Uh ...," ringis Anna kepanasan, lalu menatap Nahyan kesal.


"Fu*k Nahyan! " bentak Anna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tujuan lo ke sini itu apa?"


"Gak cukup tadi lo ngehina gue, hah?!" tanya Anna pada Nahyan yang hanya duduk santai.


Reaksi Nahyan benar-benar membuat Anna tambah sakit hati.


"Kalau lo punya masalah jangan lampiasin ke gue dong!" kata Anna sambil terisak.


"Gini-gini gue juga punya hati!" lirih Anna sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


Sangat terlihat dari wajahnya, kalau gadis itu sangat sedih.



Anna mengarahkan penglihatannya pada orang-orang disekitarnya. Tampaknya, dia menjadi tontonan.


Karen merasa malu, Anna melangkah menuju keluar dari cafe. Dia tidak perduli dengan hujan yang turun begitu deras.


Nahyan mencekal lengan Anna sebelum gadis itu benar-benar menerobos hujan.


"Hujan, Anna!" ujar Nahyan dengan tatapan mata yang datar.


Anna menepis kasar tangan Nahyan. "Gak ada urusannya sama lo," sarkas Anna lalu berlari menerobos hujan.


Nahyan yang merasa kesal, hanya bisa kembali ke dalam cafe dan menaruh dua lembar uang seratus ribuan di atas meja, dan langsung berlari menyusul Anna.


Namun sayangnya, gadis itu telah menghilang. Dan Nahyan tidak bisa menemukan gadis itu di manapun dia mencari.


°°°


Tbc


JANGAN LUPA YA WOY ❤❤❤


DI LIKE 👍 DAN KOMEN 🗨


JANGAN CUMA BACA AJA 😢😭


Salam hangat,


Juecy.bell


12 September 2020

__ADS_1


__ADS_2