
Pagi-pagi sekali Anna bangun dan segera berbenah dan menyiapkan semua peralatan sekolahnya, mulai dari buku, pena, pensil, peruncing, penghapus, hingga correction tap.
Sudah dua hari sejak Anna bertemu Nahyan di apartemen. Sejak saat itu pula mereka berdua menjalani kehidupannya masing-masing. Sedih sebenarnya, tapi Anna sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menangis dengan mudah.
Pukul 06.35 Anna berangkat menuju sekolah, tentunya dengan berjalan kaki. Anna berjalan santai, lalu saat dirinya sampai di sebuah gang yang hanya cukup menampung satu mobil, langkahnya terhenti.
Anna tersenyum tipis. Ini adalah tempat dimana dirinya dan Nahyan pertama kali bertemu. Meski tidak diawali dengan pertemuan yang baik hal itu cukup membekas dihatinya.
Lalu, dibawanyalah kakinya berjalan maju. Dia harus segera ke sekolah kalau tidak mau terlambat. Walau bangun pagi-pagi, Anna terlalu banyak memakan waktu saat mandi, dan memakai seragam sekolah.
Sesampainya di sekolah, sudah lumayan banyak siswa-siswi yang berdatangan. Entah itu menggunakan mobil, atau pun motor. Saat melewati post satpam, Anna menyempatkan dirinya untuk menegur para satpam yang sedang berjaga.
"Pagi, Bapak-Bapak!" sapa Anna sambil tersenyum ramah.
"Euy, Neng!" ucap Satpam yang tadinya sedang melihat ke arah layar monitor yang terhubung dengan CCTV.
"Tumben udah sampai sekolah? Biasanya dateng mepet-mepet gerbang mau ditutup?" tanya Seorang Satpam yang lain. Satpam yang waktu itu mengantarkannya ke rumah saat dikurung di dalam gudang.
Anna tersenyum geli, "Lagi kepingin aja, Pak. Saya duluan ya ehehhe...."
"Silakan, Neng!"
Anna melanjutkan perjalanannya, saat itu juga dia memicingkan matanya karena menangkap sosok Deana di depan. Dengan setengah berlari, disusullah Deana.
"Oi! Sendirian bae. Ngopi apa ngopi?" cengir Annna setelah merangkul leher Deana.
"Gila lu! Kaget gue!" ujar Deana sambil menjitak kepala Anna. "Tumben lo jam segini udah dateng?" tanyanya.
Anna berdecak sebal. "Gak lu, gak Satpam. Nanyaaa... mulu kalau gue dateng pagi. Bukannya bagus ya kalau gue dateng pagi," gerutunya.
"Pasti ada apa-apanya lu kan?"
"Kagak elah!" Anna memutar bola matanya.
Deana menatap Anna dengan tatapan penuh selidik. "Oh, gue tau. Lo pasti mau nyalin tugas kan? Iya kan? Yah, wajar sih hari ini tugas kita ada 4. Udah gitu disuruh ngerangkum semua," cecar Deana yang menebak-nebak sendiri.
Anna mengerutkan dahinya. "Sumpah demi apa?!" pekiknya dengan kedua biji bola matanya yang hampir copot.
__ADS_1
Deana menatap wajah Anna.
"Lo gak tau? Berarti lo emang niat dateng pagi dong? Baguslah kalau lo tobat." Deana tersenyum tipis.
Anna tertawa canggung. Dari pada niat, Anna bangun awal karena tidurnya tidak nyenyak. Berangkat pagi juga tidak termasuk dalam rencananya. Hanya saja, kalau diam di kamar tanpa melakukan apa-apa pastinya dia akan bosan atau malah stress karena memikirkan masalah yang sedang terjadi.
Deana melirik Anna sembunyi-sembunyi.
"Gue... putus sama Ian," lirih Deana yang membuat Anna langsung memicingkan matanya kepadanya.
Seperti tau apa yang dipikirkan Anna, Deana segera menambahkan, "Bukan seperti yang lo pikirkan kok!" jelasnya sambil menggelengkan kepala.
Anna menaikkan kedua alis, lalu menetralkan ekspresi wajahnya. "Terus?"
"Gue pikir ucapan lo bener. Gak sepantasnya gue deket sama Fabian disaat gue masih jadian sama Ian. Makanya gue mutusin untuk mengakhiri kedekatan gue sama Fabian," Deana terdiam sebentar.
"Tapi, gue malah nemuin fakta kalau sebenernya Ian itu adalah Fabian. Bukan nemuin sih... toh, Fabian sendiri yang ngaku."
Anna mengerjapkan mata. "Lho? Terus gimana?" tanya Anna yang tidak mengerti dengan hubungan absurd antara tiga nama yaitu, Deana, Ian dan Fabian.
"Seharusnya gue seneng kan ya kalau Ian adalah Fabian. Tapi anehnya gue malah kecewa. Lebih tepatnya kayak ngerasa terkhianati. Lo bayangin, gue nungguin kabar dari Ian tapi cowok virtual itu di dunia nyatanya deketin cewek lain. Meski cewek itu adalah gue."
Deana mengangguk lemah. "Eum... sebenernya gue pengen deket sama Fabian lagi. Tapi gue masih kecewa," katanya.
Anna mengelus punggung Deana. "Mending sementara lo healing dulu itu hati. Oh iya, tapi lo perlu denger penjelasan Fabian nanti. Dia berhak buat jelasin."
Deana mengganggukkan kepalanya.
"Iya."
Dari kejauhan erlihat sosok Nahyan sepaket dengan Suga dan Fabian tengah berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Anna Deana.
"Cowok lo ngeliatin ke sini terus tuh!" Deana menyikut lengan Anna pelan saat Nahyan hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
Anna menunduk ketika matanya dan mata Nahyan bertemu. Jantungnya mulai berulah dengan berdetak tidak karuan. Ingin sembunyi? Pastinya! Tapi kalau dipikir-pikir lagi untuk apa sembunyi? Tidak akan ada gunanya.
"Cie... ngeliatinnya dalem banget gitu," Deana cekikikan pelan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Gue panggil, ya?" tanya Deana.
"Gak usah! Mending kita ke kelas! Gue mau ngerjain tugas yang numpuk." Anna menarik lengan Deana untuk terus berjalan.
"Eehhh?"
Saat berpapasan dengan Nahyan, Anna memperlambat langkahnya untuk lirik cowok itu dengan tatapan datar dan terkesan tidak peduli. Terakhir, Anna hanya berjalan melewati Nahyan tanpa berniat menyapa.
Anna tau Nahyan ingin mengatakan sesuatu padanya. Tapi dia memilih tidak peduli. Nahyan juga tadi diam saja saat Anna melewatinya. Artinya, hal yang ingin disampaikan tidak terlalu penting dan mungkin memang tidam penting.
"Jangan nangis. Please jangan nangis," batinnya yang menguatkan dirinya sendiri. Namun, entah mengapa air matanya yang nakal tiba-tiba saja menetes. Secepat kilat Anna langsung menghapus air mata yang menetes.
Hati gue kuat. Gue udah janji gak bakal nangis lagi.
Deana menatap bagian balakang tubuh gadis yang sedang menarik tangannya itu dengan tatapan heran. Ada apa sebenarnya dengan dua sejoli itu?
"Itu Anna gak lo samperin?" tanya Fabian yang heran karena Nahyan hanya berdiri diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
Suga memicingkan matanya curiga. "Lo berdua gak putus kan?" tanya Suga yang langsung tepat sasaran.
Nahyan melirik kedua temannya sekilas.
"Iya," jawab Nahyan singkat.
Fabian dab Suga mengerjapkan matanya. "Iya nya lo itu untuk pertanyaan yang mana?! Untuk pertanyaan lo yang gak nyamperin Anna, atau lo yang putus sama Anna?" lontar Suga heboh.
"Udah diem!" Fabian sambil membekap mulut Suga yang akan kembali bersuara. Suga memang tidak bisa membaca suasana. Dari yang terlihat, siapapun seharusnya bisa melihat kalau Anna dan Nahyan sudah putus.
Nahyan memuta bola matanya malas. Lalu, meneruskan kembali jalannya untuk menuju ke parkiran mobil.
"Kalau gak salah, barusan dia nyuekin gue kan?" gumam Nahyan sedih.
°°°
Bersambung.
Makasih semuanya... yang udah doain aku sembuh. Alhamdulillah sakitku mendingan ^.^ maaf ya gak balas komentar kalian satu-satu. Tapi pastinya aku selalu Bacain komentar kalian satu-satu ^^
__ADS_1