
🌟Enthusiasm chapter 9🌟
BUDAYAKAN Like, Komen, rate 5 sesudah membaca ❤
Happy reading, Guys!
Nahyan sedang asik main game online di ponselnya bersama teman-temannya. Guru yang mengajar di pagi hari tidak datang.
SMA Y adalah sekolah swasta elite. Hanya orang-orang kaya yang bisa bersekolah di sini ataupun anak beasiswa yang sudah pasti otaknya sangat encer. Intinya, hanya orang-orang tertentu saja karena biaya sekolah ini memang tidaklah murah.
"Kampr-et! Mati dong gue. Padahal bentar lagi chicken dinner!" ucap seorang cowok di samping Nahyan.
Nahyan tersenyum penuh saat dia memenangkan permainan. "Yeah, chicken dinner!" ujar Nahyan dengan suara baritonnya yang khas.
Nahyan berdiri dari posisinya yang duduk di lantai. Cowok disebelah Nahyan bertanya.
"Mau kemana, Boss?"
Nahyan mengangkat bahunya. Dia sudah merasa bosan dari tadi hanya memainkan ponsel. Nahyan berjalan menuju tas sekolahnya, lalu membuka tas itu. Cowok itu mengeraskan rahangnya saat benda yang dia cari tidak ada di dalam tasnya.
"Sialan," desis Nahyan lalu beralih pada teman-temannya yang sedang mengumpul di bagian belakang kelas.
"Siapa yang ngambil taperwer gue?!" tanyanya dengan nada suara yang tinggi.
"Gue lihat tadi dimainin Suga sama Fabian," celetuk seorang cowok masih fokus dengan game di ponselnya.
Nahyan menendang meja terdekatnya, lalu berjalan keluar kelas untu mencari dua orang paling yang menyebalkan dihidupnya.
"Ketemu, mati lo semua," batin Nahyan dengan langkah kaki yang terlihat seperti pencabut nyawa.
...***...
Tidur Anna terganggu saat menangkap suara tawa seorang anak perempuan. Tawa itu terdengar sangat bahagia. Anna tersenyum lemah dengan mata yang masih tertutup. Lalu suara tawa lain dari seorang wanita dewasa. Anna menyimak semua percakapan dua orang itu.
"Hahahaha... Mama udah gelitikinya!" pekik seorang anak kecil masih dengan tawa gembiranya.
"Yaudah, sekarang tidur ya?" tanya wanita tersebut dengan suaranya yang lemah lembut. Tersirat kasih sayang yang besar di dalam suaranya.
"Gak mau, tunggu Papa ya? Supaya kita tidur bertiga. Boleh ya, Ma?" rayu anak perempuan itu dengan suara yang manja.
Anna semakin terlarut dalam percakapan bahagia kedua orang itu. Dia merindukan sosok ibu yang memberikan kasih sayang kepada anaknya. Berharap kerinduannya akan sosok ibu terobati. Sebab, Anna sendiri mempunyai ingatan yang samar tentang masa kecilnya. Dia bahkan tidak bisa mengingat wajah ibunda tercinta. Di rumahnya sama sekali tidak ada foto ibu-nya.
Anna yang penasaran wujud kedua orang itu ingin membuka matanya, namun seolah ada lem perekat yang sangat kuat dimatanya sehingga tidak bisa terbuka. Sampai pada akhirnya suara itu perlahan menjauh dan menghilang.
"Kamu sendirian," ucap seseorang dengan suara yang tidak Anna kenali, memenuhi kepalanya, dan hanya menyisakan kegelapan dan kesunyian.
...***...
Suga menyikut Fabian yang berada di sampingnya.
"Gimana nih? Nahyan marah pasti," tanya Suga sambil membolak-balikkan botol taperwer di tangannya.
"Ora urus. Pokoknya itu salah lo," jawab Fabian membuat Suga mendelik tajam.
"Kan lo yang ngelempar," jawab Suga yang memprotes, karena tidak sepenuhnya salah dirinya taperwer Nahyan menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Kan lo yang ngeselin," balas Fabian dengan tenang. Lalu cowok itu bersedekap dengan bersandar di kursi yang dia duduki, sedangkan Suga memilih mengalah.
"Anna gimana?" tanya Fabian sambil melirik Suga yang sedang membuka aplikasi chat di ponselnya.
"Ora urus. Pokoknya itu salah lo," jawab Suga yang menirukan Fabian.
Fabian berdecak sebal.
Suga menepuk-tepuk lengan Fabian dengan mata yang terfokus pada layar ponselnya. "Fab, mati kita!" ujar Suga yang panik.
"Ngapa?" tanya Fabian dengan malas.
"Si Nahyan ngamuk ini. Minta taperwer-nya di balikin. Gimana nih?" jawab Suga yang panik.
"Ora urus. Pokoknya itu salah lo," kata Fabian sambil tersenyum miring.
"Bodo. Gue aduin lo ngelempar taperwernya," balas Suga yang merasa kesal sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Membuat Fabian memelototkan matanya.
"Mampuus, Nahyan otw ke sini!"
Suga dan Fabian saling bertatapan, lalu mengumpat di ranjang sebelah. Suga menutup tirai dengan full. Berharap Nahyan tidak menemukan mereka.
"TAPERWER GUE BALIKIN, BANGSHAT!" teriak Nahyan sambil menendang pintu UKS yang tertutup rapat hingga engsel pintu itu terlepas.
"Woy Suga! Fabian! Mana lorang?!" teriak Nahyan.
"Ukh!" Anna meringis kesakitan saat dia bangun karena suara Nahyan yang besar. Gadis itu melirik Nahyan dengan sinis, sedangkan cowok itu balas menatap dengan sengit.
"Apa lo?!" teriak Nahyan dengan tatapan tajam. Jika saja Anna dalam keadaan normal, sudah pasti gadis itu langsung gemetar ketakutan. Tapi, dia baru saja bangun. Terlebih lagi dia masih memikirkan suara anak perempuan dan seorang wanita yang tadi didengarnya.
"Itu mimpi atau bukan, sih?" batin Anna dengan mata yang menerawang ke depan.
"Lo denger sesuatu gak?" tanya Anna dengan suara lemah sambil menoleh ke Nahyan.
Nahyan menaikkan sebelah alisnya, merasa bingung. Masalahnya, dia baru saja tiba di sini.
"Apa?" tanya Nahyan yang menatap Anna seolah orang teraneh di dunia.
Anna berdecak lemah. "Tadi ada suara anak perempuan sama-"
Nahyan menggeleng samar. "Otak lo kayaknya harus dibenerin, deh. Ini tempat Sekolah Menengah Atas, bukannya Tadika Mesra," potong Nahyan dengan nada mengejek.
"Lo pikir Upil Ipil pake Tadika Mesra segala," gerutu Anna pelan sambil melirik sinis Nahyan. Anna diam tidak menyahut dan malah melamun.
"Terus, tadi itu suara siapa?" batin Anna.
BRUK!!
"Bolot! Ngapain dorong-dorong sih?" bentak Fabian yang terjatuh ke lantai. Sedangkan Suga tertawa terbahak-bahak hingga di sudut mata cowok itu mengeluarkan air mata.
Nahyan menyingkap tirai hingga terlihat dengan jelas sosok Suga dan Fabian. Dua cowok itu terdiam, dan saling melirik.
"Taperwer gue mana?!" tanya Nahyan yang terlihat kesal.
Suga dan Fabian panas dingin.
__ADS_1
"Elah, masih inget aja," pikir Suga sambil menelan saliva-nya.
Anna yang mengerti, langsung menjawab. "Taperwer lo abis nyium jidat gue," ujar Anna dengan santai.
Nahyan mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti ucapan Anna. Suga melirik Fabian, begitu juga sebaliknya. Seolah mereka berdua sedang melakukan telepati. Terakhir, mereka berdua menganggukkan kepala dengan pelan.
"Tangkap!" kata Suga sambil melambungkan botol taperwer milik Nahyan ke udara. Sementara Nahyan yang sibuk menangkap, kedua cowok itu memanfaatkan ini untuk kabur dari amarah Nahyan.
Nahyan membulatkan matanya saat melihat goresan-goresan di taperwer miliknya. Cowok itu mengumpat dengan mengeluarkan semua nama di kebun binatang.
"@$#&^$@%÷¥₩£!" maki Nahyan dengan kata-kata yang kasar, mengeluarkan semua isi kebun binatang.
"Elah, khawatir amat si taperwer doang. Liat nih jidat gue berdarah gegara kena lempar taperwer lo," ucap Anna sambil menunjukkan luka di dahinya yang sudah diobati.
"Bacot lo! Ini taperwer punya emak gua gimana?! Lecet sana-sini, mana gompel pula. Jidat lo batu apa gimana sih?" jawab Nahyan dengan nada suara yang meninggi, yang ujung-ujungnya memaki Anna.
Anna yang tidak terima kepalanya dikata batu---ingin menyahut. Namun kata-katanya terpotong oleh kalimat selanjutnya dari Nahyan.
"Lagian, jidat lo itu masih bisa dibenerin. Lo gak tau aja luka lo itu gak seberapa sama yang pernah gue dapet," lanjut Nahyan dengan nada suara yang datar.
"Dibenerin lo bilang? Hello... lo pikir gue benda apa? Gue kasih tau sama lo, jangan samain orang dengan standar lo. Orang itu beda-beda tau gak?!"
"Pena kali. Standart," jawab Nahyan.
Anna mengepalkan kedua tangannya di udara, seolah ingin memukul kepala jenius milik Nahyan. Tapi Anna tau itu tidak akan pernah terjadi. Karena Nahyan itu cowok bajingan bar-bar yang tidak sadar kalau berkelahi cowok itu hampir saja membunuh orang!
Anna menggertakkan giginya.
Sabar Anna! Sabar! Otak Nahyan itu memang jenius di pelajaran, tapi dia nol besar di attitude.
"Iya, kayak otak lo kan standar?" jawab Anna dengan senyuman lembut yang dibuat-buat.
"Itu mah lo. Eh, gue baru inget kalau otak lo kan sebelas dua belas sama keledai. Iya gak?" jawab Nahyan membuat mata Anna berkedut-kedut menahan kesal.
"Mending lo pergi dari sini deh!" usir Anna dengan kekesalan yang mencapai puncak.
"Siapa juga yang mau di sini? Geer!" jawab Nahyan lalu berjalan santai keluar dari UKS.
Anna melempar bantal ke arah dinding. Cowok ngeselin itu memang sangat pintar dalam menjawab. Apalagi dengan jawaban yang isinya memaki. Anna tidak pernah menang berdebat dengan Nahyan.
"Mending gue tidur, hiks..."
°°°
Bersambung...
NEXT? ❤🌟👍💬
Like, Comment, rate 5 nya ya 😢
Biar aku semangat update-nya ❤
Salam hangat,
Juecy.bell
__ADS_1
22 Agustus 2020