
🌟Enthusiasm chapter 15🌟
Tinggalkan LIKE KOMEN. Aku takut sama HANTU soalnya :(
Happy reading, Guys!
Saat ini Deana duduk sendiri di kantin. Gadis itu terlihat tidak fokus menyantap makanan di depannya. Gadis itu khawatir dengan Anna yang tidak ada kabar sejak kemarin. Bahkan ponsel Anna saja ketinggalan di sekolah.
Deana menghela napas berat. Lalu dia merasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Dea, ayo ikut!" ajak Fabian dengan wajah kalem.
Deana menatap cowok tampan yang berdiri di sampingnya itu.
"Kemana?" tanya Deana sambil mendongak untuk menatap wajah Fabian. Cowok itu benar-benar tidak kalah tinggi dari Nahyan.
Kalau Deana pikir, tumben-tumbenan antek Nahyan menghampirinya seperti ini. Apalagi tujuannya untuk mengajak Deana ke suatu tempat.
"Patut dicurigai." batin Deana sambil menyipitkan matanya menatap Fabian.
"Ikut aja dulu." ucap Fabian.
"Oke, deh." jawab Deana lalu berjalan di depan Fabian.
Sekitar sepuluh menit berjalan, Deana menjadi ragu karena dari tadi Fabian hanya diam saja.
"Lo ngajak gue ke mana sih? Ini udah di parkiran." tanya Deana yang bingung.
Fabian berjalan melewati Deana. Cowok itu membukakan sebuah pintu mobil di bagian depan utuk Deana.
"Masuk!" Deana masuk ke dalam mobil sesuai instruksi Fabian. Meski bingung mau kemana.
"Deana~" panggil seseorang dari kursi belakang.
"Suga ikut juga?" tanya Deana pada Fabian yang baru saja memasuki mobil dan memasang seat belt.
"Iya." jawab Fabian sambil menghidupkan mobil.
"Terus, kita mau kemana?"
"Lo khawatir kan sama Anna?" tanya Fabian sambil menatap Deana.
Deana mengangguk.
" Kita jemput dia."
"Tapi tas gue sama Anna di kelas."
"Udah gue ambilin." sela Suga sambil menepuk-nepuk tas sekolah di sampingnya.
Sekarang, Deana bisa duduk dengan tenang.
•••
Anna terlihat sedang bersantai di sofa dengan setoples camilan di dalam pelukannya. Gadis itu menatap langit-langit apartemen dengan sesekali memasukkan keripik pisang rasa cokelat ke mulutnya.
"Nahyan!" panggil Anna yang tanpa kengalihkan tatapannya pada langit-langit.
"Hm," sahut Nahyan yang sedang asik bermain playstation 5.
"Lo bolos sendiri? Kemana Fabian dan Suga?" tanya Anna yang tingkat rasa bosannya hingga pangkat kuadrat.
"Lo sendiri?" tanya Nahyan yang lalu mem-pause playstationnya dan menghadap ke Anna yang sedang tiduran.
"Kenapa telepon dari gue gak lo angkat?" tanya Nahyan yang terdengar seperti menginterogasi.
Karena merasa canggung, Anna merubah posisinya menjadi duduk. Gadis itu berusaha menjawab dengan santai.
"HP gue ketinggalan di kelas," jawab Anna seadanya dan setenang mungkin.
"Kenapa?"
__ADS_1
Anna melirik Nahyan yang menatapnya lurus-lurus tanpa berkedip, seolah kalau Nahyan berkedip Anna akan menghilang saat itu juga.
"Gue... ekskul sampe sore, tas gue tinggal di kelas. Waktu mau balik eh kelas udah dikunci. Gue juga baru sadar kalau HP gue di dalem tas." jelas Anna dengan sudut mata yang berkedut, tentu saja dia berbohong.
"Oh, gitu...." respon Nahyan sambil menganggukkan kepalanya, seolah ini adalah penjelasan yang sukar dimengerti.
Anna terkejut dengan jawaban Nahyan. Tidak biasanya cowok itu akan langsung percaya seperti ini. Tapi, Anna merasa bersyukur cowok itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Lo pikir gue, beg*?" ujar Nahyan membuat Anna menatap wajahnya. "Sejak kapan kelas 12 diperbolehin punya ekskul?"
Anna menutup rapat-rapat bibirnya. Dia tidak tau harus menjawab apa dan harus bersikap bagaimana. Kebohongannya terlihat sangat jelas.
"Jawab gue, Anna!" kata Nahyan dengan santai namun gadis itu tau, terdapat perintah yang tidak terbantahkan di kalimat cowok itu.
Melihat Anna yang tidak merespon ucapannya, Nahyan menarik lengan gadis itu hingga wajah mereka berdua hampir bertemu.
Anna meringis pelan. "Jawab, siapa yang berani macem-macem sama lo?" tanya Nahyan datar dengan suara yang terdengar sangat dingin.
Anna gemetar ketakutan. Dia tidak pernah melihat sosok Nahyan yang seperti ini sebelumnya. Meski raut galak cowok itu menakutkan, tapi wajah datarnya berkali-kali lipat lebih menakutkan.
"Gak ada!" bantah Anna yang berusaha menjauh dari cowok itu. Dengan jarak sedekat ini, jantung Anna bisa-bisa berhenti berdetak atau paling parah hasrat untuk mencium bibir kissable itu membuncah.
Anna memejamkan matanya saat manik amber itu menatap lekat-lekat ke arahnya. Gadis itu berani bersumpah, jantungnya benar-benar berdetak kencang. Anna sampai khawatir kalau Nahyan bisa mendengar detak jantungnya.
"Oke, jawab pertanyaan gue yang ini." ucap Nahyan menahan rasa aneh di dadanya.
"Salep itu untuk apa Anna?" tanya Nahyan yang mengalah dengan suara lembut. Sebenarnya Nahyan tau Anna sedang berbohong. Hanya saja, kalau dia bertanya dengan emosi, Nahyan yakin gadis itu akan tetap keras kepala dan tidak akan menjawab pertanyaannya.
Anna hanya diam, dan itu membuat Nahyan sangat frustasi.
"Udah ketiga kalinya gue nanya lo, Na. Tapi kenapa lo selalu ngalihin, Anna?" ucap Nahyan dengan tatapan mata yang memelas.
"Lo kenapa, Na?" lirih Nahyan seolah merasa tersakiti.
Anna menundukkan kepalanya. "Janji ya lo gak bakal marah?" kata Anna akhirnya. Dia benar-benar luluh dengan sikap Nahyan yang sekarang. Apalagi dia berkata lembut pada Anna, dan menunjukkan wajah memelasnya.
Nahyan menganggukkan kepalanya. "Gue janji gak bakal marah sama lo." janji Nahyan.
"Kemarin gue di suruh ke taman belakang," cerita Anna lalu menatap Nahyan yang balas menatapnya lekat. "Ya gue ke sana. Terus tiba-tiba semua gelap. Gue dikurung di gudang belakang. Tapi untungnya ada satpam. Gue dianterin pulang abis itu."
Nahyan menghela napas.
"Kalau dia gak mau kasih tau, gue bisa cari tau sendiri," batin Nahyan.
"Segitu aja, sih."
"Muka lo pucet." Nahyan sambil memegangi pipi Anna. Nahyan merasa ada yang aneh dengan suhu tubuh Anna.
"Ya, elo sih gak peka. Gue laper bukannya kasih gue makan, malah main PS." kata Anna sambil menekuk bibirnya.
Cowok itu menyeringai. "Kan lo yang babu, jadi lo harusnya masak," jawab Nahyan.
Nahyan kalo ngomong memang suka bener. 😒
"Tadi lo sendiri yang bilang gue pucet, dan sekarang lo nyuruh gue masak? Dimana hati nurani lo?" balas Anna dengan muka memelas yang mirip kucing.
Nahyan mendelik sebal. Menurut Nahyan, Anna itu kalau dikasih hati malah minta jantung. Lihat saja sekarang, siapa yang boss siapa yang babu.
" Oke fine, gue yang masak," kata Nahyan sambil berdiri dan berjalan menuju mini bar nya.
Anna mengikuti Nahyan dari belakang, bedanya Anna duduk di kursi dan Nahyan ke bagian dapurnya.
Nahyan memakai apron berwarna hitam. Membuat ketampanan cowok itu bertambah berkali-kali lipat.
"Anjim, kenapa gue yang masak?" dumel Nahyan dalam hati.
Sebelumnya, Nahyan tidak pernah berurusan dengan dapur. Bahkan memegang sutil saja dia tidak pernah. Dan ini dia malah mau memasak. Nahyan tidak tau akan jadi seperti apa masakannya.
"Mana ngerti gue beginian," batin Nahyan.
•••
__ADS_1
Nahyan menaruh wajan di atas kompor tanam, lalu berusaha menyalakan api dari kompor. Nahyan terlihat kesulitan walau hanya menyalakan api.
"Aih, kompor bangs*t!" gerutu Nahyan yang merasa kesal karena kompor yang tidak juga menyala.
Nahyan menatap ke arah Anna yang sejak tadi memperhatikannya. Gadis itu tersenyum dengan wajah pucatnya.
Nahyan menghela napas berat. "Babu gue sakit dan badannya anget," gumam Nahyan yang kembali menyalakan kompor.
"Nahyan," panggil Anna dengan suara yang lemah. Gadis itu menidurkan kepalanya di atas meja.
Nahyan menengok ke arah Anna yang sedang memasang tampang yang menurut Nahyan sangat imut.
Raut wajah Nahyan membuat Anna tertawa pelan. "Yakin bisa masak? Kalau gak bisa gue aja yang masak," ucap Anna dengan lemah.
Nahyan menatap wajah Anna sebentar, lalu membelakangi Anna.
"Gak usah, gue bisa. Lo liatin aja." jawab Nahyan.
Anna tersenyum lembut. "Tuh, kan. Nahyan itu baik," gumam Anna yang masih betah menidurkan kepalanya di atas meja.
"Nahyan," panggil Anna.
"Hm?"
"Butuh waktu berapa lama buat nyalain kompor?" ejek Anna dengan suara serak.
Terdengar suara Nahyan yang berdecak. "Berisik! Gue bilang lo liatin aja, gak usah komentar!"
Lagi-lagi Anna tertawa pelan. "Lo nyalain kompor duluan, yang mau lo masak itu apa coba?" tanya Anna yang merasa geli.
Nahyan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Iya juga," batin Nahyan.
"Diem aja! Gue tau apa yang harus gue lakuin," jawab Nahyan dengan wajah yang memerah, bahkan telinganya juga ikut-ikutan memerah.
Tawa Anna pecah. Namun tawa itu tidak senyaring seperti biasanya.
"Sebenernya kita bisa Gofuud tau," ujar Anna diselingi oleh tawa.
"Iya juga. Kenapa gue mendadak beg* gini, sih?!" gumam Nahyan yang merutuki kebodohannya sendiri. Cowok itu merasa malu hingga wajahnya memerah. Bahkan telinganya sampai ikut-ikutan memerah.
Nahyan melepas apron yang dipakainya lalu melemparnya ke lantai.
"Bilang dari tadi," ucap Nahyan sambil berjalan cepat meninggalkan Anna di mini bar.
Anna masih tertawa geli. "Gak tau kenapa gue bisa seseneng ini," kata Anna sambil menyusul Nahyan.
"Pasti di rumah lo selalu dimasakin kan?" tanya Anna sambil mencondongkan tubuhnya ke Nahyan.
Cowok itu hanya diam saja.
"Enak ya yang selalu dimasakin...," goda Anna sambil tertawa pelan.
"Berisik!"
°°°
Tbc
NEXT?👍💬🌟❤
Like up to 30, komen, rate 5, dan favorite dulu ☺
Jangan sider doang yah🙂
By the way, untuk kalian yang ga tau mini bar itu gimana ini aku kasih gambarannya.
Kira-kira sih gituu.
Salam hangat,
__ADS_1
Juecy.bell
04 September 2020