Nahyanna

Nahyanna
BAB 5


__ADS_3

Galen mengantarkan Anna menuju perpustakaan gedung B. Saat sampai di tempat tujuan, Galen menghentikan langkahnya. Anna pun mengikuti.


"Itu perpustakaannya," ucap Galen sambil menunjuk perpustakaan.


Anna tersenyum tipis lalu menjawab, "Makasih, ya!"


Galen mengangguk. "Yaudah, gue duluan. Mau nyerahin fotokopian ke Bu Resa."


Anna menganggukkan kepalanya.


"Sekali lagi makasih."


Galen tersenyum tipis.


"Bye!" ucap cowok itu sebelum melangkah pergi.


Anna berjalan menuju perpustakaan. Sebelum masuk ke sana, Anna mengetuk pintunya terlebih dahulu.


"Permisi," kata Anna sambil menyembulkan kepalanya.


"Saya Anna Abimanyu, Bu. Yang tadi dipanggil," ucap Anna dengan sopan.


"Oh iya, ini buku cetak kamu. Yang gak ada buku lintas minat sosiologi, dan ekonomi. Nanti kamu beli di luar saja, ya."


Anna mengangguk mengerti.


"Ini daftar buku yang harus dibayar," kata Ibu Penjaga. "bayarnya bersamaan dengan SPP."


Lagi-lagi Anna mengangguk. "Iya, Bu. Terima kasih. Saya permisi kalau begitu."


...***...


Anna menenteng semua buku cetak yang berjumlah 14 dengan sesekali berhenti karena buku yang terlalu berat dan kelewat tebal.


"Hua... berat banget. Malah gak ada yang bisa dimintain tolong," gerutu Anna sambil duduk jongkok.


Anna menatapi setumpuk buku itu lalu menghela napas berat.


"Kenapa gue tadi gak minta temenin Deana, coba? Kayak gini kan nyiksa diri," Anna menggerutu dengan wajah cemberut, "malah dari sini ke kelas jauhnya minta ampun. Nasib, nasib, punya sekolah gede."


Anna berdiri dan kembali mengangkat buku-buku itu, namun sebuah batu besar yang tak terlihat oleh pandangannya, membuat Anna jatuh tersungkur. Karena ikatan tali yang kurang kuat, buku-buku itu tercecer.


Anna menahan diri untuk mengumpat.


"Anj... ck!" Anna berdecak sebal lalu mengumpulkan kembali buku-buku itu. Lalu dari arah samping datanglah seseorang yang membantunya memungut buku-buku itu.


"Galen," gumam Anna.


Galen menumpuk buku di tangannya ke buku yang Anna tumpuk, lalu membantu gadis itu mengikat buku-buku itu. Kali ini, buku-buku itu diikat dengan kuat.


"Makasih, yah." Saat Anna ingin mengangkat buku-buku itu, Galen sudah mengangkatnya duluan.


"Eh, ngapain?"


"Gue bantuin," jawab Galen lalu berjalan mendahului Anna.


"Duhlah, gak usah repot-repot. Ini berat," tolak Anna.


"Karena ini berat makanya gue yang bantuin."


Anna menghela napas.


"Yaudah, kalau gitu."


Lalu terjadilah keheningan diantara mereka berdua. Anna melirik cowok tampan yang membawa buku-buku cetaknya yang berada tepat di samping.


Tidak tahan dengan suasana yang canggung nan hening, Anna mulai membuka percakapan.


"Boleh tanya?" tanya Anna sambil menatap lurus ke depan.


Saat melewati lapangan basket, Anna terpaku pada sosok yang bertubuh tinggi dan tegap yang sedang memasukkan bola ke ring. Setelah itu cowok itu tersenyum lebar.


Anna tertegun.

__ADS_1


Apakah ini benar-benar orang yang sama dengan Cowok bar-bar yang ditemuinya tadi? Jika melihat perbandingannya, orang-orang akan menyangka dia adalah orang yang berbeda. Benar-benar jauh dari image cowok sadis.


"Apa?" tanya Galen dengan kalem.


"Cewek yang bermasalah dengan Nahyan berakhir gimana?" tanya Anna.


Galen terdiam bahkan langkah kakinya pun berhenti.


Anna yang bingung hanya mengikuti berhenti sambil memperhatikan wajah tampan cowok itu. Kalau diperhatikan, manik mata Galen berwarna hitam pekat. Warna mata yang jarang sebenarnya.


Galen tersenyum hangat saat menatap wajah Anna.


"Gak usah lo pikirin," jawab Galen dengan penuh misteri.


Anna menekuk bibirnya.


"Gak mungkin--"


"Tenang aja. Gue pastiin lo gak akan kenapa-napa," ujar Galen dengan mata yang menatap lurus ke depan.


Mungkin itu yang terlihat, namun Galen seperti menatap hal yang jauh di sana. Tempat yang tidak diketahui oleh Anna. Wajar saja jika Anna tidak mengetahui apapun. Toh, dia bersekolah di sini belum genap sehari, pikir gadis itu.


Anna tidak ingin ambil pusing dengan sikap Galen. Bukan urusannya juga. Dia memilih melanjutkan langkah kakinya, diikuti oleh Galen.


...***...


Anna memasuki sebuah rumah yang terlihat sangat sepi jika dilihat dari luar. Seperti tampak luarnya, dalamnya pun juga sepi.


Dulu, saat kedua orang tua Anna masih hidup, rumah ini tidak begini. Suasananya selalu hangat ketika dia sampai di rumah. Meski kebanyakan hanya ada dirinya dan Sang Ibunda tercinta.


Ayahnya adalah CEO sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang fashion. Dia sosok kepala keluarga yang tergolong sibuk. Namun, selalu meluangkan waktu untuk anak dan istrinya.


Anna tersenyum dengan tatapan mata yang kosong.


Jika saja, keluarganya hanya keluarga sederhana pasti orangtuanya masih di sini bersamanya.


"Anna," panggil seseorang dengan nada yang terdengar menjengkelkan di telinganya.


"Eh? Ini siapa, Wi?" tanya seorang wanita paruh baya berambut pendek sebahu. Wanita itu sangat cantik, sorot matanya juga terlihat hangat.


"Oh, dia anakku yang kedua," jawab Dewi sambil merangkul Anna.


Anna diam seribu bahasa. Melihat respond Anna tidak seperti yang diharapkan, Dewi mencengkram kuat bahu Anna.


Anna tidak mengerti dengan tantenya ini. Mengapa harus berpura-pura menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia, jika semua ini hanya membuatnya muak? Dan juga, mengapa dirinya mau-mau saja mengikuti drama keluarga bahagia ini? Anna sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


"Saya Anna, Tante," ucapku sambil tersenyum paksa.


Wanita itu balas tersenyum.


"Kamu cantik sekali," ucap wanita itu sambil memegang pipi Anna.


Lembut dan hangat.


Itulah yang Anna rasakan saat tangan itu menyentuh pipinya. Benar-benar seperti kasih sayang seorang ibu pada anaknya.


Anna yang terlihat salah tingkah menjawab, "Makasih, Tante."


Wanita itu mengangguk.


"Ini untuk kamu," ucapnya setelah mengambil sesuatu dari dalam tas mewahnya.


"Simpan baik-baik, ya. Siapa tau, kita akan bertemu lagi."


Dengan hubungan yang berbeda tentunya, lanjut wanita itu di dalam hati.


Anna menerima sebuah kotak kecil yang diberikan dengan canggung.


"Sekali lagi terima kasih, Tante," ucap Anna yang merasa tidak nyaman berada di posisi ini.


Untuk terakhir kalinya, wanita itu mengelus pipi Anna. Tindakan itu tidak luput dari perhatian Dewi.


Tentu saja Dewi merasa kesal, putrinya tadi tidak disambut sangat baik seperti ini. Bahkan, wanita itu terkesan acuh tak acuh.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit pulang ya, Wi."


Dewi mengangguk sambil tersenyum. Dewi mengantar kepulangan wanita itu.


Anna yang menontonnya hanya membatin.


Sudah terlalu sering Anna melihat senyum palsu milik Dewi, dan dia sudah terbiasa dengan itu. Tentu saja karena dia tinggal bersama keluarga Dewi.


Setelah mobil wanita itu benar-benar menjauh, Dewi langsung menatap Anna dengan tajam.


"Apa yang kamu terima?" tanyanya dengan sewot.


Anna mengerutkan dahinya.


"Bukan urusan, Tante," jawab Anna dengan cepat lalu menuju kamarnya yang berada di lantai 2.


"Dasar anak kurang ajar," desis Dewi merasa terhina dengan sikap Anna.


...***...


Anna mengunci pintu kamarnya.


Gadis itu melemparkan tasnya ke tempat tidurnya lalu menaruh paper bag berisi seragam barunya di lemari.


Tak lupa, Anna juga menaruh sebuah kotak yang diberikan wanita tadi di dalam lemari tanpa ada niatan untuk membukanya. Terakhir, Anna menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Anna menaruh kedua tangannya di dahinya.


"Kapan gue keluar dari sini?" lirih Anna sambil memejamkan matanya. Dan air mata mengalir dari kedua ujung matanya.


Anna menghembuskan napas kuat-kuat, lalu bangkit dengan posisi duduk menyilang.


Gadis itu mengeluarkan buku-buku cetaknya dari dalam tas. Dia hanya membawa sebagian buku cetak pulang ke rumah, dan sebagian lagi dia tinggal di sekolah. Termasuk buku cetak yang ada di jadwal pelajarannya besok.


Saat sedang asyik merapikan buku di rak buku mini di samping tempat tidurnya, Anna menemukan sepucuk surat yan terjatuh dari dalam buku.


Anna memungut surat itu.


"Punya siapa, nih?" gumamnya sambil membolak-balik kan surat itu, guna mencari tau penulisnya.


Sepertinya, orang yang menulis surat ini hanya memakai amplop yang ada. Pasalnya, amplop yang digunakan adalah amplop yang biasa digunakan untuk 'mengamplop' saat resepsi pernikahan.


Anna tersenyum tipis, lalu membuka amplop tersebut.


Walaupun mungkin saja surat itu bukan untuknya--melihat dirinya yang anak pindahan--Anna tetap membuka bahkan sampai merobek amplop tersebut. Anna membuka isi surat tersebut.


Terpampang sederet tulisan yang rapi dengan menggunakan tinta berwarna hitam. Terlihat dari tulisannya ini adalah tulisan perempuan.


Anna membaca tulisan tersebut.


for someone,


Only you can change your life. No one can do it for you.


Anna menatap kosong isi surat itu.


Anna mulai bertanya-tanya, siapakah seseorang yang membuat surat seperti ini?


Anna menggigit bibir bawahnya lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Istirahat. Kamu terlalu lelah," ucap Anna pada dirinya sendiri.


°°°


Tbc


NEXT?❤🌟👍💬


Like, Comment, rate 5 nya ya 😢


Biar aku semangat update-nya ❤


Salam hangat,

__ADS_1


Juecy.bell


16 Agustus 2020


__ADS_2