
Flashback On
Nahyan memperhatikan Suga dan ponselnya secara bergantian. Gadis itu sepertinya mempunyai hobi menghilang tiba-tiba. Tidak bisa membiarkannya tenang sedikit saja.
Sebenarnya, Nahyan yang selalu meminta kabar 24/7 pada Anna mempunyai alasannya tersendiri. Awal-awal mengenal Anna, Nahyan sudah meminta seseorang untu menyelidiki latar belakangnya. Namun, yang Nahyan dapatkan hanyalah laporan tentang keluarga Anna yang biasa saja. Sanking biasanya menimbulkan kecurigaan dalam pikiran Nahyan.
Setelah lebih menggali-gali informasi lagi, dia mendapatkan fakta yang mencengang. Lebih tepatnya, ketika Anna yang dirawat di rumah sakit. Tentang dirinya yang mengalami kecelakaan, gadis itu berbohong. Nyatanya, dia telah mengalami kekerasan.
"Dapet!" ujar Suga yang langsung membuat Nahyan mendekati Suga.
Suga memperlihatkan laptopnya yang menunjukkan sebuah titik tempat lokasi Anna berada.
"Gue dapet lokasinya. Tapi kayak ada yang aneh," gumam Suga.
Titik itu bergerak ke tempat yang sangat familiar.
Suga memperbesar titik itu dan berkata, "Ini...."
"Rumah gue," sela Nahyan dengan tatapan yang menerawang ke depan.
"Nah iya itu!"
Fabian yang penasaran mendekati Suga dan melihat isi laptop cowok itu. "Ngapain Anna ke rumah lo, Yan? Lo nya kan di sini?" tanya Fabian yang merasa heran.
Benar. Mengapa Anna ke rumahnya? Bukan apartemen, tapi rumahnya. Tempat kediaman keluarga Rabusy. Ada hal penting apa hingga mengharuskan Anna dispen dari sekolah?
Perjodohan.
Tiba-tiba saja kata itu terlintas di pikirannya. Ya, pasti itu! Dia tidak boleh membiarkan hal yang ada di pikirannya itu terjadi. Tidak boleh ada yan merebut Anna darinya. Tidak boleh.
"Gue pergi!" ujar Nahyan yang langsung mengambil kunci motornya yang kebetulan berada di samping laptop Suga.
Dengan tergesa-gesa cowok itu keluar dari apartemennya.
"Kenapa tuh anak?" tanya Suga pada Fabian
"Entahlah. Yok main smackdown."
"Yok. Yang kalah harus jauhin orang yang disuka."
Fabian mengerutkan dahinya. "Emangnya lu punya?"
"Enggak."
"Lah? Terus?"
"Gue yakin gue yang menang."
Fabian memutar bola matanya jengah. "Yang menang ngasih tantangan ke yang kalah."
Di sisi lain, Nahyan tengah membawa motornya dengan gila-gilaan. Menyalip sana-sini dengan laju motor yang tinggi. Beberapa kali dia hampir saja di tabrak oleh pengendara lain. Namun, hal itu benar-benar tidak membuat Nahyan kapok. Dia malah menambah kecepatan motornya.
Sesampainya di depan rumah mewahnya, Nahyan langsung turun dari motor dan mendorong motornya sembarangan. Padahal, itu adalah salah satu koleksi motor kesayangannya.
Nahyan stengah berlari dan mengetuk pintu rumahnya dengan gusar. Sesaat setelah pintunya terbuka, Nahyan langsung menerobos masuk.
"Mana?" tanya Nahyan pada pelayan yang membukakan pintu.
"Maksudnya, Tuan Muda?" tanya pelayan perempuan itu.
"Tamu. Tamu yang ke sini di mana?" tanyanya yang tidak sabaran.
__ADS_1
"Ah, Nyonya dan Tuan Besar sedang makan siang bersama keluarga Abimanyu," jawab pelayan itu.
Oh shit!
Mengapa semuanya menjadi seperti ini?
Nahyan dengan cepat menuju ruang makan. Dia benar-benar tidak terima kalau Anna menjadi milik orang lain. Meski orang lain itu adalah kakaknya sendiri. Sungguh, dia tidak ikhlas lahir batin.
Saat hampir sampai di ruang makan, samar-samar Nahyan dapat mendengar perbincangan yang dilakukan Ibunya dan orng lain yang suaranya tidak dia kenal.
"Anna kan temenan sama Nahyan," ujar seorang perempuan yang suaranya Nahyan kenali sebagai Mamanya.
Langkah Nahyan terhenti. Dia mempunyai perasaan yang tidak enak tentang ini.
"I...ya.... Memangnya ada apa, Tante?" jawab Anna terdengar ragu-ragu.
Nahyan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bukan hanya teman, dia dan Nahyan sudah menjadi sepasnag kekasih! Bahkan, mereka sudah pernah ciuman.
"Begini, Tante beberapa waktu lalu dapat kabar kalau Nahyan punya pacar di sekolah. Kabar itu benar atau tidak? Kalau memang benar, Anna tau siapa pacar Nahyan tidak?" tanya Miranda dengan senyum manisnya.
"Anna..." ucapan Anna terhenti.
Nahyan menunggu-nunggu apa yang akan dikatakan Anna. Namun, gadis itu terdengar gelagapan. Apakah kali ini Anna tidak mau mengakui hubungan mereka? Rahang Nahyan mengeras saat memikirkan itu. Dia tidak terima kalau Anna menjawab tidak tau. Tidak akan dia biarkan saja kalau itu sampai terjadi.
"Anna... eumh... Anna gak ta--"
"Anna!" Sela Nahyan setengah berteriak. Sudah dia bilang bukan, dia tidak akan membiarkannya begitu saja?
Saat mendengar suaranya, Anna berdiri dan menghadapkan tubuhnya ke belakang.
Nahyan berjalan mendekati meja makan yang di kelilingi orang-orang. Cowok itu sempat menatap tajam Anna. Sebenarnya, Nahyan merasa khawatir saat melihat wajah Anna yang terlihat pucat. Namun, Nahyan tidak ingin menjadi lemah. Akhirnya, dia beralih menatap sang Ibunda yang terlihat bingung.
"Itu Anna," kata Nahyan.
Nahyan menatap semua orang yang berada di runag makan secara bergantian. Dan tatapan terakhirnya, jatuh kepada Anna. Kekasihnya yang sedang menatapnya seolah memohon padanya untuk diam.
Tentu saja Nahyan tidak mempedulikan itu. Nahyan tidak mau menutupi hal-hal yang memang sudah sepatutnya keluarganya ketahui. Dan lagi, tidak mungkin kan dia membiarkan Anna bertunangan dengan kakaknya sendiri? Terlebih lagi, Anna adalah kekasihnya.
"Pacar Nahyan ... adalah Anna."
Nahyan sekilas melihat Anna yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ingin rasanya Nahyan menggendong Anna dan mengobati bibir Anna yang terluka, namun ada hal yang lebih penting dari itu sekarang. Soal luka, bisa dia obati nanti.
Trang!
Garpu dari wanita yang Nahyan tebak keluarga dari Anna terjatuh. Wanita itu menutup mulutnya karena terkejut.
Tapi biarlah.
Nahyan tidak peduli.
"Nahyan ulangi, pacar Nahyan adalah Anna. Anna Abimanyu."
Flashback Off
Miranda mengusap wajah gusar. "Nahyan!" teriaknya sambil memukul meja.
Tatapan Nahyan sedikit bergetar kita melihat ibunya yang marah. Tapi, Nahyan sudah membulatkan tekadnya. Dia tidak akan mundur, walau ... walau harus menghadapi kemarahan Ibunya sekalipun.
Miranda berjalan menuju Nahyan dan segera menyeret anak bungsunha itu ke tempat yang tertutup.
"Apa-apaan kamu? Apakah begini cara Mama mendidik kamu?" tanya Miranda yang marah besar pada Nahyan.
__ADS_1
Nahyan menatap Ibunya dengan berani, meski hati kecilnya khawatir kalau-kalau dia tidak dimaafkan karena hal ini.
"Nahyan cuma mau mempertahankan apa yang Nahyan punya, Ma!"
"Kamu ini ya! Mama biarkan saja lama-lama malah kurang ajar seperti ini. Mama tidak suka ya, Nahyan! Apa karena kamu bergaul dengan dua temanmu itu?"
"Nahyan seperti ini karena Mama!" bentak Nahyan tanpa sadar. "Jangan libatin teman Nahyan."
Miranda terlihat shock. Selama ini, mana pernah Nahyan berani meninggikan suara padanya. Dulu, menatapnya langsung saat berbicara saja Nahyan tidak berani. Apa yang menyebabkan Nahyan begitu berubah? Kurangnya kasih sayangkah? Tapi Miranda sudah memastikan perhatiannya pada Nahyan tidak kurang.
Nahyan mendesah gelisah. Dia tau dia sudah keterlaluan dengan Ibunya. Apalagi, terlihat sekali dari ekspresi Ibunya yang terluka karena bentakannya barusan.
Nahyan menggapai kedua tangan Miranda.
"Ma, Nahyan sayang sama Anna. Kenapa harus Abang yang dijodohin sama Anna? Kenapa bukan Nahyan?" lirih Nahyan. Sorot matanya terlihat sangat kecewa.
Miranda tidak mau menatap Nahyan.
"Nahyan sayang banget sama Mama. Selama ini Nahyan selalu berusaha nurutin semua kemauan Mama. Nahyan terima semua keputusan Mama. Bahkan sebelumnya, Nahyan ikutin aturan Mama untuk gak deket sama perempuan manapun selain keluarga."
"Tapi Ma, Nahyan ini manusia. Nahyan bukan boneka. Nahyan juga punya hati. Hampir gak ada yang bisa menahan rasa suka atau cinta dalam diri manusia. Anna milik Nahyan. Nahyan yang berusaha dapetin Anna. Tapi kenapa harus Abang, Ma? Kenapa Abang yang dijodohin sama Anna? Nahyan yang cinta Anna, kenapa bukan Nahyan?" ujar Nahyan dengan suara yang parau dan mata yang berkaca-kaca.
Miranda melepaskan tangan Nahyan.
"Tidak bisa. Mama tidak percaya kamu."
Mata Nahyan membelalak. Ditatapnyalah Ibunya itu dengan tatapan terluka.
"Kamu masih labil. Mama tidak mau menanggung dosa karena menikahkan Anna pada anak yang Mama sendiri tidak percaya," sambung Miranda yang lagi-lagi mengulang kalimat yang bermakna 'tidak mempercayai Nahyan'.
"Bagian mana dari Nahyan yang gak bisa Mama percaya?" tanya Nahyan sambil mengusap air matanya, dan mencoba tetap kuat meski hatinya tengah patah.
"Berbeda dengan Dhyo, pikiran kamu masih ke kanak-kanakan. Emosi pun terkadang tidak terkendali. Kamu juga belum bekerja, belum berpenghasilan. Mama tidak ingin kamu masih menjadi beban orang tua ketika sudah menikah nanti. Dan lagi, kamu sudah tidak dapat Mama percaya. Sudah sering kali kamu melanggar peraturan yang Mama buat."
"Sekarang pertanyaanya, untuk apa Mama menyerahkan kepercayaan orang tua Anna pada anak yang Mama sendiri tidak percaya?"
"Kalau soal penghasilan, Nahyan juga punya penghasilan sendiri Ma!!"
Miranda terdiam sebentar. Dia baru saja teringat, kalau Nahyan sendiri mempunyai restoran mewah, dan bengkel otomotif yang dalam satu bulannya dapat meraup keuntungan ratusan juta rupiah. Tapi, meski begitu Miranda tetap pada keputusan awalnya.
Miranda menggelengkan kepalanya, "Mama tau kamu punya penghasilan dari resto dan bengkel otomotif. Mama akui masalah penghasilan kamu sudah memenuhi syarat. Tapi kamu ini masih SMA. Pikiran serta sifat kamu itu yang belum bisa mama akui. Mama tegaskan lagi, sifat kamu belum dewasa. Pikiranmu juga belum Luas. Sedangkan pernikahan itu bukan permainan anak-anak."
"Terimalah keputusan Mama ini. Ini yang terbaik."
"Tapi Anna punya Nahyan Ma, Anna juga masih SMA. Nahyan yang dapatin Anna. Tolonglah, Ma. Nahyan minta tolong, jangan ambil Anna dari Nahyan. Jangan ambil apa yang Nahyan miliki," tangis Nahyan.
"Anna adalah perempuan, jadi tidak masalah. Dhyo bisa mengayomi Anna saat sudah menikah nanti," jelas Miranda.
"Tapi, Ma...."
"Sudah! Tidak ada tawar-menawar lagi. Keputusan Mama sudah bulat. Kamu harus terima ini. Jadi, mulai sekarang belajarlah untuk melepaskan," setelah mengatakan itu semua Miranda meninggalkan Nahyan yang diam terpaku.
Apakah semuanya sudah berakhir? Nahyan tidak tau. Yang pasti, dia sangat-sangat kecewa saat ini. Kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa dipercaya oleh Ibunya sendiri.
°°°
Bersambung.
Yok VOTE atau GIFT karyaku yok
Yang baca doang gak KOMEN masih kupantau :v
__ADS_1