
🌟Enthusiasm chapter 28🌟
Happy reading!
Entah mengapa, setelah berkeliling rumah Nahyan ... sebenarnya, lebih cocok disebut sebagai istana dari pada rumah ... Anna merasakan sebuah garis pembatas antara dirinya dan Nahyan.
Sebuah hubungan yang baik memang tidak bisa diukur melalui seberapa banyak harta yang kau miliki. Namun, terkadang seberapa banyak harta yang kau punya adalah perbandingan yang membuatmu kecil. Dan itulah yang Anna alami sekarang.
"Apa gue pantes ya deket sama Nahyan dan dua teman lainnya," gumam Anna sambil menyentuh buku-buku di sampingnya sepanjang dia berjalan.
Lantai dua rumah Nahyan cukup unik. Bagian kiri koridor terdapat rak buku yang memanjang. Buku-buku yang tertatapun bermacam-macam. Dari novel remaja hingga ensiklopedia.
"Jadi inget buku Nahyan yang gue lempar dulu." Anna tersenyum geli mengingat itu.
"Ha?" Anna menoleh ke arah sampingnya dan mendapati Nahyan yang sedang menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Apa?" balas Anna.
"Barusan lo ngomong apa?" ulang Nahyan.
Anna menggelengkan kepala.
"Nggak ngomong apa-apa, kok. Cuma kagum aja banyak buku di sini." Anna menjawab dengan senyum yang canggung.
"By the way, bioskop pribadi yang tadi kita liat digunain untuk apa?" Anna yang mengalihkan pembicaraan.
Nahyan mengerutkan dahinya.
Apakah Anna ini benar-benar bodoh?
"Namanya aja bioskop, pastinya buat nonton lah!" jawab Nahyan. "Gak pernah nonton bioskop apa gimana, sih?"
Anna mengelus tengkuknya. "Iya juga," gumam Anna.
Saat gadis itu menatap Nahyan yang berada di depannya, secara tidak langsung tatapan Anna tertuju pada sebuah pintu yang berada di belakang Nahyan.
Gadis itu memiringkan kepalanya untuk melihat pintu berwarna cokelat mengkilat itu dengan jelas.
Tak ingin merasa penasaran, Anna segera berjalan melewati Nahyan.
Nahyan membalikkan badannya untuk melihat apa yang ingin dilakukan gadis itu.
"Tunggu!" Nahyan kelabakan saat Anna memegang handle pintu berniat untuk membukanya.
"Ini pasti ruang billiard lo kan? Gue mau coba main ... dong." Anna terpengarah dengan pemandangan yang tengah di lihatnya. Secara tak sadar, tangannya terlepas dari handle pintu.
Nahyan menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari-jarinya.
Terlambat.
Anna sudah melihatnya.
Nahyan menggigit ibu jarinya saat Anna hanya berdiri diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sebenarnya hal inilah yang Nahyan khawatirkan. Anna bisa saja salah paham terhadapnya.
Nahyan mendekati Anna lalu memegang kedua pundak gadis itu. Wajah gadis itu menggelap seolah menahan amarah.
"Gue bisa jelasin!" Anna mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Nahyan. Cukup menyiksa sebenarnya. Perbedaan tinggi mereka sangat mencolok.
Anna menepis tangan Nahyan.
"Ternyata lo sama aja ya kayak preman. Lo minum-minuman? Iya?!" ucap Anna yang marah besar.
Ruangan ini isinya adalah rak-rak berisi minum-minuman beralkohol seperti bir, wine, vodka, whiskey, Ciu dan masih banyak minuman berakohol yang tidak Anna ketahui namanya.
"Gak gitu! Dengerin penjelasan gue dulu. Gue itu ...."
"Lo pasti bohong!" Anna menyela omongan Nahyan dengan nada suara yang gemetar.
Entah mengapa, Anna merasa sangat kecewa dengan ini.
Menyadari suaranya yang gemetar, Anna melangkah pergi meninggalkan Nahyan.
Bagaimanapun, Anna tidak memiliki hak untuk melarang Nahyan melakukan apapun yang disukainya, bukan?
"Sial. Kenapa gue ngerasa kecewa gini?" pikir Anna yang menggertakkan giginya.
Dengan langkah lebar, Nahyan mengejar sosok Anna yang berjalan dengan terburu-buru.
Nahyan tidak terima. Mereka baru saja berbaikan, dan Nahyan tidak ingin bertengkar dengan Anna lagi. Tidak ingin kembali merasakan sikap Anna yang begitu ketus. Hati Nahyan jelas tidak menerima itu.
Nahyan menarik lengan Anna. "Gue bisa jelasin, Anna!" tegas Nahyan.
__ADS_1
Anna memukul-mukul dada bidang Nahyan agar cowok itu melepaskannya.
"Apa yang perlu lo jelasin?! Semuanya udah jelas tau gak?!" jawab Anna sambil meronta.
Merasa sebal karena Anna yang tidak bisa diam, Nahyan menangkup kedua pipi Anna dengan kedua tangannya.
"Lihat gue Anna!"
Seperti yang diminta, Anna melihat Nahyan. Menatap cowok itu dengan mata yang berkaca-kaca layaknya orang yang akan menangis.
"Itu hobi gue, Na." Nahyan buru-buru menambahkan saat melihat bibir Anna yang mengatup seolah ingin memprotes. "Gue punya hobi ngumpulin botol bekas minuman beralkohol. Tapi demi Tuhan, gue gak pernah minum-minum, Na!"
"Halah. Lo pasti bohong, kan! Iya kan?!"
"Pertama, lo pasti beli semua minuman itu kan? Dan gak mungkinlah lo gak minum dari semua alkohol yang lo beli. Terakhir, gak mungkin lo mau mungut-mungut di tong sampah hanya karena hobi lo ngumpulin botol-botol laknat kayak gitu!"
Nahyan menatap gadis di depannya dengan datar. Benar saja dugaannya. Gadis ini sudah salah paham.
Anna membalas menatap Nahyan penuh dengan permusuhan.
"Gue emang beli semua botol di ruangan itu. Tapi isinya gue buang semua. Gak pernah ada satupun pikiran untuk minumnya. "
"Halah, bohong! Maling mana mau ngaku sih?!"
Nahyan menyetil dahi Anna.
"Aw! Kok lo jahat sih?!" Anna memukul lengan Nahyan dengan seluruh tenaganya.
Nahyan tak menghiraukan itu. "Percaya sama gue, Na. Gue bahkan gak pernah ngerokok
apalagi minum-minuman. Setetespun gak pernah."
Anna memicingkan matanya.
Kalau untuk minum-minuman, okelah Anna percaya Nahyan tidak pernah melakukan itu. Tapi kalau merokok? Anna agak ragu dengan itu. Di jaman sekarang, mana ada sih cowok yang gak pernah ngerokok? Kalaupun ada, itu sangat jarang.
"Lo bisa tanya Mama gue kalau gak percaya," imbuh Nahyan.
Anna menatap wajah Nahyan untuk mencari kebohongan di sana. Namun, Anna tidak menemukannya.
Anna menghela napas.
"Kenapa sih hobi orang kaya itu aneh-aneh?" gerutu Anna.
"Semua orang bahagia dengan caranya masing-masing. Yang menurut lo aneh, bukan berarti aneh menurut gue."
"Gue gak suka sama orang yang minum-minuman. Jadi, gue minta maaf nuduh-nuduh yang gak jelas. Tapi gue seneng lo gak minum begituan. Sekali lagi, maaf ya?"
Nahyan tersenyum tipis.
"Iya bawel," jawab Nahyan sambil mengacak-acak rambut Anna.
Nahyan dan Anna saling tertawa. Tanpa di sadari, terdapat rona merah di pipi masing-masing dari kedua orang itu. Namun, mereka tidak menyadari ada sesuatu yang sedari tadi mengintai mereka.
"Lo mau nyoba main billiard apa buat feed Toonstagram?" tanya Nahyan sambil memiringkan kepalanya.
Imut sekali.
Bayangkan saja, wajah tampan seorang pria dengan poker face-nya menelengkan kepalanya. Oh my God! Benar-benar imut. Anna mah mana tahan.
"Gue mau main dong! Udah lama gue gak main," jawab Anna dengan senyum lebar.
Dulu dia sering bermain billiard bersama teman-teman perempuannya di sekolah yang lama. Hanya saja, sekarang Anna sudah tidak pernah bergabung bersama mereka lagi.
"Bisa?" kata Nahyab dengan nada suara yang mengejek.
Anna cemberut. "Bisalah! Apa perlu gue buktiin? Ayo aja sih. Tapi siap-siap ...." Anna menelan salivanya dan membungkam mulutnya.
Nahyan heran dengan perubahan sikap Anna yang begitu tiba-tiba. Dari yang semangat berapi-api, menjadi seekor kelinci yang ketakutan akan dimangsa.
"Nahyan... selain manusia sama kucing, ada makhluk apa lagi di rumah lo?" lirih Anna dengan mata yang berkaca-kaca. Sepertinya, gadis itu akan menangis.
"Kenapa?" Nahyan memperhatikan tingkah Anna yang menurutnya aneh. Tidak biasanya gadis ini tidak bertingkah.
Anna mengulum bibirnya, lalu melirik ke arah bawah. Lebih tepatnya, ke arah sesuatu yang yang melilit kakinya, yang sedang berusaha menaiki tubuh Anna.
"AAAAAAH!" Anna berteriak heboh karena ketakutan. Sontak gadis itu melompat ke arah Nahyan dan memeluk erat leher cowok itu.
"Ulaar!! Itu Ulaar!! Tolongiiin!"
Anna mengeratkan pelukannya sambil menggerak-gerakkan kakinya agar ular itu melepas lilitannya.
"Leher gue kecek!" Nahyan berusaha melepaskan tangan Anna, namun yang ada Nahyan malah semakin tercekik.
__ADS_1
"Gue gak mau mati! Jangan sampe ada berita di koran 'seorang gadis SMA mati ditelan ular' kan gak elit!!"
"Lo tenang dulu," ucap Nahyan sambil mengelus-elus punggung Anna.
"GIMANA BISA TENANG?! GUE MAU MATI INI!!" jawab Anna.
"Tenang, Na. Mau gue tolongin gak?"
"Ya mau lah!"
"Turun dulu."
"Takut."
"Apa yang lo takutin Anna. Ulernya itu lilit kaki lo! Kasian tau gak!"
"Lo kasian sama ulernya dari pada gue?!"pekik Anna sambil menatap wajah Nahyan yang hanya berjarak beberapa senti meter saja darinya.
"Ulernya kesiksa itu! Cepet turun!"
Anna dengan berat hati, Anna melepaskan pelukannya dan turun dari tubuh cowok itu.
Nahyan berlutut di depan Anna lalu berusaha melepaskan lilitan ular di kaki Anna.
"Awas dimakan!"
"Tenang aja, ini ball phyton. Jinak." Nahyan menjawab tanpa melihat ke lawan bicaranya.
"Tapi kan tetep aja harus waspada. Kayak gue nih, tiba-tiba dililit. Gak lo kasih makan apa gimana?"
Nahyan diam tak menjawab.
"Selesai."
Anna bernapas lega.
Nahyan membiarkan ular ditangannya menggerayangi tubuhnya.
"Lo yang pelihara?"
"Mama," jawab Nahyan sambil memegangi makhluk melata ditangannya. Dengan santainya, Nahyan mengalungkan ular itu di lehernya.
*Ps: gambar tidak mewakili visual tokoh.
"Nahyan! Bahaya! Lo dililit nanti!" kata Anna yang panik. Ingin menyingkirkan ular itu, namun ia takut setengah mati.
"Gak usah khawatir, Na. Udah gue bilang kan, kalo uler ini jinak kan."
"Tapi kan...." Anna mengerucutkan bibirnya. "By the way, itu gak dikandangin apa? Gue khawatir sama orang yang punya penyakit jantung bakal langsung koid, karena ketemu sama uler yang bebas berkeliaran kayak gini."
Nahyan memutar bola matanya. "Kandanginlah! Tapi paling orang rumah lupa nutup kandangnya. Makanya si Bleki bisa kabur gini."
Anna menganga. "Blacky?" tanyanya.
"Uler ini," jawab Nahyan.
"Black darimananya, woyyy!"
"Berisik! Suka-suka Mama gue."
Anna mencibir Nahyan dalam diam.
"Mending, lo ikut gue balikin si Bleki ke kandangnya."
"Emangnya gue punya pilihan selain ngikutin elo?"
"Gak ada." jawab Nahyan dengan wajah datar. Lalu meninggalkan Anna yang sekarang sedang mengumpat kesal dengan cowok bar-bar bin ngeselin seperti Nahyan.
"Anjim!"
°°°
Bersambung...
INGET!! BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN!! RATE 5 KALAU BELOM!⚠⚠❤❤
HOLAAA!! Ada yang Nungguin Gak? Aku PTS nya agak ngeselin gais. Jujur, seharusnya chap ini aku up kemarin. Tapi karena lagi gak mood aku up hari ini.
sumpah aku kesel PTS daring ini. Tau ga sii aku telat ngirim forms nyaa.... padahal jelas-jelas waktunya tinggal 10 menit lagi. aku ngomong ke group kelas malah kena semprot sama gurunya... malah kawan2 yang punya kasus sama kayak aku jadiin aku bantalan lagi. gak ada yg mau bela. anjim. aduh... maafkan kekasaranku gais.... 😭😭😭
BTW, aku ultah hari ini 😎
__ADS_1
Juecy.bell
11.Okt.2020