Nahyanna

Nahyanna
BAB 41


__ADS_3

DI LIKE dulu elah...🙂


🌟Enthusiasm chapter 41🌟


Alih-alih kembali ke kelasnya, Anna malah berjalan menuju kantin. Memikirkan dengan siapa cowok menyebalkan bernama Nahyan tadi, benar-benar membuat hati Anna menjadi panas dan ... membuat perutnya lapar.


Trrt!! Trrt!!


Anna merogoh saku roknya ketika merasakan getaran disekitar pahanya. Sebuah benda pipi yang harganya tidak akan cukup hanya dengan 5 tahun uang jajan Anna.


'Bule Sawah is calling...'


Begitu tau Nahyan yang meneleponnya, Anna mendecak sebal. "Gak cukup apa sama cewek yang tadi? Kalau gitu, maruk amat." Anna memaki sambil menggeser tombol merah. Lalu, ditekannya tombol on/off selama beberapa detik hingga menampilkan beberapa pilihan.


Daya mati.


Anna menyentuh tulisan seperti di atas. Gadis itu menatap layar ponsel hingga ponsel yang berada di genggamannya benar-benar menghitam dan mati.


"Na!"


Anna mendongakkan kepalanya setelah menaruh ponselnya kembali ke tempat semula.


Anna memasang senyum termanisnya saat mengetahui siapa yang memanggilnya.


"Iya? Ada apa?" jawabnya. Secara tidak sadar, setiap berbicara dengan cowok di depannya, Anna berbicara dengan suara yang manja.


"DBL lo nonton gak? Sekolah kita tanding pembuka."


Wajah Anna kehilangan senyumnya saat diingatkan kembali tentang DBL.


Kenapa Anna langsung badmood?


Karena DBL sama dengan pertandingan, pertandingan basket sama dengan Nahyan! Anna sedang marah pada Nahyan. Jadi, jangan ungkit hal-hal yang berbau dengan Nahyan Rabusy!


Tunggu.


Mengapa Anna harus marah? Bukankah tidak ada hal yang perlu Anna pikirkan jika Nahyan bersama gadis lain?


Eih... what? Kenapa jadi Nahyan?


Anna menggelengkan kepalanya. "Otak gue konslet apa gimana, sih?" gumam Anna pelan.


"Na?" Galen menundukkan kepalanya untuk melihat raut wajah Anna.


"Ah!" Anna yang terkejut karena wajah mereka sangat dekat, melangkah mundur dengan raut wajah yang merona.


Anjim, gak tau apa ya dia itu ganteng?


Seperti sadar akan sesuatu hal, Galen membuka suaranya. "Gue cuma mau mastiin lo baik-baik aja."


Anna menganggukkan kepalanya.


"Gimana? Lo mau ikut nonton? Nanti gue jemput." Galen menujukkan senyumnya. Kalau dilihat-lihat, ternyata Galen mempunyai lesung pipi meski tak terlalu kentara. "bareng sama anak OSIS tahun ini dan tahun lalu."


Anna menunjukkan senyum paksanya.


"Eumh... gak deh. Gue mau rebahan pas weekend."


Galen mengangguk mengerti.


Agak kecewa sebenarnya karena tak bisa bertemu Anna di hari Sabtu. Padahal rencananya, setelah menonton pertandingan sekolahnya Galen ingin mengajak gadis itu nonton bioskop. Tapi yasudahlah. Galen tidak ingin memaksa.


"Lo mau kemana?"


"Gue mau ke kantin, nih. Laper."


Galen membentuk bibirnya menjadi bulat.


"Mau ikut?"


Tepat ketika Anna menawarkan agar ikut, Galen memasang senyum semringah. Jelas sekali dari mata cowok itu yang berbinar kalau Galen sangat antusias.


"Boleh...." jawabnya agak sedikit malu.


Kedua insan manusia itu melanjutkan perjalanannya menuju kantin sekolah yang jaraknya masih agak sedikit jauh. Sedangkan seseorang yang sedari tadi memperhatikan dari jauh, hanya dapat mengepalkan tangannya, dan ergi memutar balik dari tujuannya semula.


"Pantes telepon gue gak diangat. Lagi sama Galen ternyata," gumamnya dengan hati yanh bercampur aduk.

__ADS_1


...***...


Anna bersyukur. Setibanya mereka berdua di kantin, masih ada lapak yang buka. Padahal, biasanya kalau sudah pulang sekolah begini, semuanya sudah pada tutup.


"Lo mau apa, Na?"


"Mie ayam bakso sama es teh."


Galen menganggukkan kepalanya. "Bu Dar! Mie ayam baksonya 2 sama es tehnya 2, ya!" teriak Galen dari tempat duduk.


"Siap!" jawab Bu Dar sambil memberikan jempolnya.


Galen menyilangkan kedua tangannya di atas meja, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Anna.


"Apa sih liat-liat?" ujar Anna yanng merona.


Sudah pada hafal pasti. Anna kan lemah terhadap cowok tampan.


"Lo cantik tau, Na."


Anna hampir saja dibuat memekik kegirangan hanya begitu mendengar pujian seperti itu. Yah, mau gimana lagi? Jarang-jarang Anna dipuji sebagai gadis cantik. Terlebih lagi, yang memujinya ini adalah Galen. Cowok yang berada di urutan kedua paling diinginkan cewek-cewek SMA Y sebagai pacar.


Kampret. Malah senyum orangnya. Kan nambah baper gue, lirih Anna dalam hati.


Ditengah-tengah dirinya memantapkan hatinya agar tidak jatuh terlalu dalam oleh pesona Galen, sudut mata Anna menangkap beberapa orang yang menatap ke arah mejanya dari sudut kantin.


"Itu kan rombongannya anak 12 A-7." Anna mengerutkan keningnya begitu tak mendapati sosok Nahyan diantara meja yang berada disudut kantin. Hanya ada Suga, Fabian, dan anak-anak yang biasa menongkrong dengan mereka.


Anna menundukkan kepalanya sambil menutupi wajahnya ketika Suga dan Fabian berjalan menuju meja tempatnya dan Galen berada.


Gawat! Gue kecyduk!


"Kenapa, Na? Gue terlalu ceplas-ceplos ya?" tanya Galen yang merasa tak enak. Jujur saja, tadi dia sontak menjawab begitu karena sedang merasa sangat senang. Soal Anna yang cantik, itu benar adanya.


"Ah, nggak."


Anna panik begitu Fabian dan Suga semakin mendekat. Mereka bagaikan malaikat yang tugasnya bertanya di alam kubur.


Wait, wait, wait.


Untuk apa Anna merasa tegang. Lagi pula, tercyduk apa? Anna di sini tidak bersalah. Toh,  Anna ini independen. Single. Apa yang harus Anna takutkan? Seharusnya tidak ada!


Anna menelan salivanya.


"Nga-ngapain lo berdua ke sini?" tanya Anna berusaha bersikap biasa saja.


"Ini pesanannya..." kata Bu Dar sambil menaruh semua pesanan Galen dan Anna.


"Widiih... enak, nih!" ujar Suga sambil menarik mangkuk yang berada di depan Galen. Kalau mengambil mangkuk Anna, bisa panjang urusannya jika gadis itu mengadu pada Nahyan.


Fabian terkekeh geli, lalu mengambil es teh milik Galen dan meneguknya hingga setengah.


"Lo berdua apaan?!" Galen menggeram menahan rasa amarah.


Fabian dan Suga menyeringai. "Jangan pelit. Nanti kuburannya sempit," jawab mereka berdua bersamaan.


Galen mendengus sebal.


👉👈 Anna saling menyatukan kedua telunjuknya. Dia merasa tidak enak pada Galen karena sikap Fabian dna Suga yang menyebalkan.


"Ini ambil aja punya gue," kata Anna sambil mendorong miliknya pada Galen. Namun, sebuah tanagn menghentikannya.


"Gak usah sok baik. Lo kan calon-calon orang yang kuburannya sempit," kata Suga yang langsung dihadiahi geplakan dibahunya.


Pletak!


"Diem anjim!" maki Anna yang merasa sebal.


Fabian tersedak dibuatnya. "Phfft..." Fabian menahan tawanya.


"Beg*o," kata Fabian tanpa suara.


"Akh. Lo gerot amat sih, Na." Suga mengusap-usap bahunya yang terasa panas plus nyeri.


"Lo berdua pergi aja deh!" usir Anna yang merasa dongkolnya minta ampun. Untungnya, dua sejoli itu langsung berdiri dari tempat mereka duduk.


"Iye, iye. Gak betah gak gue di sini," sindir Suga sambil melirik Galen yang bermuka masam. Lalu, bergegas pergi.

__ADS_1


Fabian menepuk pundak Anna dan berbisik, "DBL lo wajib dateng. Lo tau kan si Nahyan bisa ngamuk kalau hal yang berkaitan sama lo gak sesuai yang dia keinginannya?"


Anna mengepalkan tangannya yang berada di atas meja. Lalu menatap tajam ke arah Fabian yang sekarnag memasang senyum seolah cowok itu tak pernah mengatakan apapun.


Kalau itu, Anna sudah sangat tau.


"Gue duluan," ujar Fabian sambil mengelus puncak kepala Anna.


Anna memalingkan wajahnya.


Sebelum benar-benar melewati meja Anna dan Galen, Fabian sempat-sempatnya menepuk pundak Galen. Sedangkan si empu hanya diam tak bergeming.


Anna menghela napas lega begitu kedua orang rese itu sudah kembali ke asalnya.


"Maaf, ya? Mereka emang nyebelin banget. Terlebih lagi Suga. Emang cowok satu itu gak ada duanya kalau soal buat orang kesel," maki Anna sambil menuangkan saos, cabai dan sedikit kecap ke atas mie ayamnya. Dan terakhir, mengaduknya hingga rata.


Galen memaksakan senyumnya.


"Jauh sebelum lo di sini, gue udah tau kalau Suga nyebelin," batin Galen.


Anna memutar-mutar garpu agar mienya melilit, lalu setelah itu Anna menyodorkan garpu itu ke depan Galen.


"Huh?" Galen menaikkan kedua alisnya.


Asal kan kalian tau,  wajah Galen saat terkejut itu sangat lucu. Anna saja gemas ingin menggigit wajah cowok itu sanking lucunya.


Anna tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. "Buka mulutnya," ucap Anna.


Dengan ragu-ragu Galen membuka mulutnya. Anna pun menyuapi Galen.


"Kok rasanya jadi enak banget ya?" pikir Galen.


Setelah itu, keduanya saling tersenyum. Galen menarik mangkuk mie ayam yang sejak awal memang miliknya. Lalu, mereka berdua makan dengan dilengkapi obrolan-obrolan yang mengasyikkan.


.......


.......


Ckrek!


Suga memotret Anna yang sedang menyuapi Galen. Setelah itu, Suga melihat hasil fotonya.


Suga tersenyum miring. Fabian yang penasaran mengintip layar ponsel Suga.


"Lo mau ngapain dengan foto itu?"


Suga melirik Nahyan sekejap tanpa berniat menjawab. Lalu, cowok itu kembali fokus ke arah ponselnya. "Sip, terkirim ke Nahyan."


Fabian menyipitkan matanya.


"Gak usah manas-manasin orang. Lusa kita tanding. Susah kalau anak itu gak fokus."


"Lo dan gue paling tau kalau Nahyan bukan orang kayak gitu. Dia profesional."


Fabian dan Suga saling melirik dan saling melayangkan wajah datar. Lalu, mereka menyeringai lebar.


"Gue nantiin tanggal mainnya," ujar Fabian yang tersenyum licik.


"Gue harus beli popcorn, nih!" kata Suga yang tak kalah licik.


Mereka berdua saling merangkul, dan tertawa senang.


"HOHOHOHO!"


Suga menepuk-nepuk pundak Fabian. "Tapi kok Nahyan ceklis satu ya?"


"Apaan? Kagak."


"Nih." Suga memperlihatkan layar ponselnya.


"Bhak! Itu tandanya lo di blokir," jawab Fabian setelah melihat kontak Nahyan tak memiliki foto profil di ponsel Suga.


Suga menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gak jadi beli popcorn dong gue?"


°°°


...Tbc...

__ADS_1


......Komen pleasee👉👈......


__ADS_2