
🌟Enthusiasm chapter 12🌟
Tinggalkan LIKE KOMEN. Aku takut sama HANTU soalnya :(
Happy reading, Guys!
Anna berpose saat melihat tubuhnya sendiri di cermin. Gadis itu tertawa geli saat melihat karya seni yang dibuat oleh gadis-gadis yang tenaganya mirip badak.
"Aduh, duh, duh!" ringis Anna yang merasa kesakitan meski dia hanya tertawa kecil.
"Sakit!" gumamnya sambil memegang perutnya.
Anna menghela napas berat dengan sekali lagi menatap tubuhnya di cermin. Tubuhnya tidak ada yang mengeluarkan darah, namun banyak memar di sekitar perut, dada punggung, dan pinggang.
Gadis itu memakai baju kaos yang terletak di atas tempat tidur. Tulang ekor Anna terasa sangat sakit. Apalagi ketika dia berjalan maupun saat posisi duduk. Untungnya, tulang ekor Anna tidaklah patah. Kalau tidak, mungkin saja Anna bisa lumpuh.
"Besok harus beli salep." Anna membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan perlahan agar tidak menimbulkan rasa sakit pada bagian-bagian tubuhnya yang memar.
Anna menyentuh luka di sudut bibirnya.
"Pasti nanti jadi sariawan," gumam Anna yang merasa kesal.
Dibandingkan rasa kesal ataupun rasa geli karena kondisinya sekarang, seharusnya Anna merasa sedih dan tertekan karena dia baru saja dibully. Anna juga tidak mengerti mengapa dia masih saja bisa bersantai, bahkan ketika lawannya sudah kelewatan dengan bermain fisik.
Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ngapain ya? Gue bosen kagak ada HP," kata Anna sambil menendang-nendang udara.
"Owh, owh, duh... sakit!" kata Anna merasa kesakitan.
"Kalau gini, gimana cara gue tidur?" batin Anna menangis meratapi nasib jam tidurnya malam ini.
...***...
Nahyan terlihat sedang duduk di dekat post satpam bersama teman-teman segeng-nya yang sedang asik berbincang-bincang membahas cewek-cewek yang baru saja lewat ataupun membahas otomotif. Berbeda dengan yang lain, Nahyan hanya diam sambil menatapi arah gerbang sekolah dengan wajah yang kelewat datar.
"Nungguin siapa, sih?" tanya Suga sambil menyandarkan punggungnya di pundak Nahyan sambil memainkan sebuah game di ponselnya.
Nahyan yang merasa risih melirik Suga tajam. Namun percuma saja. Toh, cowok itu sedang asyik bermain game di ponselnya. Meski merasa sebal, Nahyan hanya diam tidak berkutik malah melanjutkan kegiatan yang mendadak sering dilakukannya, yaitu menatap gerbang sekolah.
"Babu gue kemana, sih?!" ujar Nahyan dengan nada suara yang kelewat sebal. Bahkan wajah cowok itu menekuk khas orang yang sedang kesal.
Teman-temannya menertawakan Nahyan. Jarang-jarang cowok itu menunjukkan ekspresi kesal bercampur rasa tidak sabar itu.
"Ngapa lo pada?!" bentak Nahyan yang langsung membuat suasana hening. Namun gelak tawa kembali terdengar.
"Bangshat!" umpat Nahyan sambil meninggalkan post satpam.
Meski sudah lumayan jauh dari tempatnya menunggu babu-nya, Nahyan masih bisa mendengar tawa dari teman-temannya.
__ADS_1
"Sial! Anak itu kemana sih?! Udah lupa apa tiap pagi bawain tas gue," batin Nahyan dengan perasaan yang bercampur antara kesal, marah, dan sedikit khawatir. Sedikit saja lho.
Brak!
Nahyan menendang pintu kelas 12 A-4 hingga menimbulkan suara yang cukup membuat penghuni kelas terkejut. Hampir semua orang di dalam kelas menatap sosok yang telah menendang pintu secara kasar.
"Apa lo liat-liat?!" bentak Nahyan yang melampiaskan kekesalannya.
Sontak semua orang melanjutkan aktifitas mereka seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
Nahyan berjalan mendekati Deana yang tengah sibuk membaca novel.
Nahyan menendang meja Deana pelan, bertujuan agar gadis itu sadar akan keberadaannya. Namun Deana sama sekali tidak mempedulikannya. Sudah pernah dibilang bukan, kalau Deana sudah asik dengan novelnya hampir tidak bisa diganggu gugat?
Nahyan yang merasa tidak sabar, menendang meja Deana lebih kuat dari sebelumnya. Dan sepertinya itu berhasil karena Deana mendongakkan kepalanya menatap sosok genter yang tinggi menjulang di depannya.
"Anna mana?" tanya Nahyan dengan suara beratnya yang terdengar dingin.
Deana mengerutkan dahinya. "Bukannya sama lo?" tanya Deana balik.
"Gue dari tadi nungguin dia di depan, kata Nahyan dengan nada suara tidak santai, "tapi, babu gue itu gak timbul-timbul tau gak lo?!"
Deana memicingkan matanya. "Tasnya ada di sini. Cuma gue gak gak liat dari awal gue dateng. Gue pikir dia sama lo."
"Terus--"
"Gue dateng ke kelas waktu Pak Tikno baru aja buka kunci kelas kita. Cuma gue liat tasnya udah di sini," ujar Fadel.
"Terus dia kemana?" tanya Nahyan yang mulai tidak sabar dan merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Nahyan sangat benci rasa ini. Gadis aneh yang tak lain adalah Anna, tidak menganggkat teleponnya sekalipun sejak kemarin sore.
"Gak tau," jawab Fadel dengan polos.
"Lo bilang lo tau. Gimana sih?" bentak Nahyan yang merasa kesal sambil menendang meja Deana sekali lagi, lalu pergi entah kemana.
Deana menatap kepergian Nahyan dengan sinis, lalu melanjutkan kegiatan membaca novelnya.
"Nyariin lo nya ditunda dulu ya, Anna. Novel gue tinggal 4 lembar lagi, ko**k!" batin Deana sambil ngebut membaca novelnya.
Nahyan terlihat sangat frustrasi tidak melihat sosok Anna yang membuatnya merasakan perasaan aneh sejak kemarin hanya karena dia tidak mendengar suara jelek milik Anna. Sedangkan yang dipikirkan sedang asik tidur terlentang dengan air liurnya yang kemana-mana.
Mulut gadis itu menganga dengan air liurnya yang perlahan mengalir melewsti pipinya. Anna yang merasakan sesuatu seperti berjalan dipipinya, reflek mengusap pipinya.
"Uhuk-uhuk!" Anna terbatuk karena tersedak air liurnya sendiri hingga terbangun. Setelah batuknya mereda, Anna mengelap sisa air liur di sudut bibinya dan di pipinya.
Gadis itu menatap tangannya yang habis digunakan untuk mengelap air liur. Anna tersenyum miring, lalu mendekatkan tangannya ke hidungnya.
"Anjiir, bau iler!" Anna sambil tertawa sendiri setelah mencium tangannya.
Anna menurunkan kakinya dari tempat tidur, lalu memakai sandal ruangan. Anna berjalan menuju kamar mandi dengan mengangkang. Karena tulang ekornya yang terasa sakit, malah lebih parah dari yang semalam. Namun, sebelum benar-benar ke kamar mandi gadis itu berpose terlebih dahulu di cermin besar di kamarnya.
__ADS_1
Anna menaik-turunkan alisnya pada dirinya yang berada di dalam cermin.
"Iya, gue tau gue cakep. Makasih. Udah, ah! Jangan liatin gue mulu!" kata Anna berbicara sendiri.
"Gak usah betingkah, ya! Mandi sana! Lo bau iler!" ujar Anna yang masih berbicara dengan cermin seolah-olah itu adalah orang yang berbeda.
"Iya-iya, gue mandi. Jangan kangen, ya. Muach...." kata Anna sambil melemparkan ciuman pada cermin.
Bobrok memang Anna ini.
Setelah Anna membersihkan tubuhnya, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama dan sebuah handuk yang melilit rambut di kepalanya.
Anna memilih baju casual yang nya
man untuk dipakai sambil bernyanyi lalu mengganti pakaiannya. Sesudah selesai mengganti bajunya, Anna menidurkan kembali menidurkan tubuhnya di tempat tidur.
"Ini jam berapa sih?" tanya Anna yang merasa bosan karena tidak melakukan apapun. Gadi itu membalikkan tubuhnya untuk melihat jam digital di atas kepala tempat tidur yang merekat kuat pada dinding.
(*ps: kurang lebih seperti itu jam digitalnya.)
Anna berdecak kagum. "Wo! Gue bangunnya kesiangan ternyata," gumam Anna.
"Apa gue kelamaan waktu mandi ya? Gue kan kesusahan banget tadi," sambung Anna sambil tertawa cekikikan.
Anna terdiam mengingat luka lebamnya yang semakin membiru. Gadis itu menghela napasnya. Anna sempat berfikir untuk ke dokter, mungkin untuk melakukan CT scan. Tapi Anna berpikir itu terlalu berlebihan.
"Mending ke apotek beli salep, deh!" gumam Anna sambil bangkit dari posisi tidurnya.
"Haish! Gara-gara tulang ekor gue sakit gue jadi gak bisa sepedahan. Terpaksa jalan kaki gue, padahal apotek lumayan jauh," gerutu Anna sambil menuruni tangga perlahan dengan cara jalan yang mengangkang.
"Nyiksa banget."
°°°
Tbc
NEXT? ❤🌟👍💬
Like, Comment, rate 5 nya ya 😢
Biar aku semangat update-nya ❤
Salam hangat,
Juecy.bell
29 Agustus 2020
__ADS_1