
...LIKE DULU OY! ðŸ˜...
...ABIS ITU KOMENNNNN...
Happy reading!
🌟Enthusiasm chapter 32🌟
"Jadi nongkrong gak di Warung Emak gak?" tanya Fabian sambil membenarkan letak kacamata yang dipakainya.
Nahyan mengerutkan dahinya."Sejak kapan lo pake kacamata?" tanya Nahyan.
"Sejak tadi. Hasil nyokek punya Jono kelas sebelah." Bukan Fabian yang menjawab, melainkan Suga.
Fabian menyeringai. "Kepala gue pusing makenya," ucap Fabian sambil melepas kacamatanya.
"Huek .... jadi mual gini gua anjim. Jono ini serusak apa sih matanya?" Fabian menutup mulutnya sendiri saat merasakan mual.
Suga memasang tampang terkejut. "Jangan-jangan lo ...." Cowok itu menggantungkan kalimatnya sambil menatap Fabian.
"Apa?" tanya Fabian dengan raut wajah serius.
"Kena flu burung," sambung Suga yang langsung mendapat jitakan dari Nahyan.
"Oon-nya sampe DNA. Flu burung ndasmu.... Nih, burung gue di bawah. Selalu gue bawa kemana-mana," cibir Fabian lalu beralih menatap Nahyan. "Jadi?"
"Duluan. Gue ngerasa kayak ada yang kurang, tapi gak tau apa." Nahyan mengingat-ingat.
"Yaudah. Ayo Lay!" ucap Suga sambil berjalan mendahului Fabian.
"Siapa Lay?"
"Lo lah. Siapa lagi di sini yang alay?"
Fabian menendang tulang kering Suga hingga cowok itu meringis kesakitan.
"Amjinc, asyu, gak ada akhlak lo Ba*bi!" maki Suga sambil memegangi kakinya yang ditendang.
Nahyan memutar bola matanya melihat tingkah laku kedua temannya yang sekarang berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.
"Yan---!"
"Yan---!"
Nahyan mengerutkan dahinya saat samar-samar seperti mendengar suara yang memanggilnya. Cowok itu mengangkat bahunya, memilih tidak peduli dan melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.
"Nahyan!!" Tepat setelah mendengar itu Nahyan menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya dan langsung disambut oleh sesuatu makhluk hidup yang menubruk dada bidangnya.
"Akh!"
Nahyan menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke belakang. Gadis di pelukannya ini benar-benar bar-bar dan pecicilan.
Anna yang nyaman dipelukan Nahyan, mendongakkan kepalanya untuk menatap Nahyan yang juga menatapnya.
"Lo conge ya? Gue panggilin dari tadi juga," gerutu Anna.
Nahyan berdecak. "Ternyata lo, gue pikir badak yang nyundul gue." Nahyan mengejek Anna dengan seringaiannya yang mempesona.
Anna memukul dada bidang Nahyan agak kuat. "Ouh...." Nahyan berpura-pura kesakitan.
__ADS_1
Anna memutar bola matanya. "Sampe kapan kita mau dengan posisi gini?" tanya Anna yang membuat Nahyan langsung melepaskan pelukannya.
"Lo kenapa pucet?" tanya Nahyan sambil memperhatikan wajah Anna yang sekarang jelas pucat.
Anna menatap Nahyan dengan binar. "Gue butuh segumpal nasi untuk mengisi kekosongan perut ini. Kantin udah tutup. Gue gak kuat," jawab Anna mendramatisir dengan bergaya seolah akan tumbang diakhir kalimatnya.
Nahyan menopang kedua bahu Anna agar gadis itu tidak terjatuh. Cowok itu menghela napasnya saat melihat wajah pucat Anna yang penuh harap. Nahyan tidak sebodoh itu untuk mengerti apa maksud gadis bobrok seperti Anna.
"Dasar bolot!" Nahyan menarik tangan Anna menuju mobil mewahnya yang terparkir cantik di bawag pohon rindang yang kebetulan berada di parkiran.
Nahyan mendorong pelan punggung Anna agar masuk ke dalam mobilnya. Lalu berjalan memutari mobil untuk menuju kursi pengemudi.
"Kita mau kemana?" tanya Anna yang sok tidak tau.
"Makan," jawab Nahyan sambil memasangkan sabuk pengaman pada Anna.
Anna tersenyum miring. "Ini lo yang ngajak lho, ya. Jadi, janji lo yang kalah main billiard itu belum terpenuhi ya," kata Anna sambil mengerlikan matanya genit.
"Hah... Iya bawel."
...•••...
Apartemen Nahyan
Anna mengekori Nahyan yang menteng makanan yang baru saja mereka beli menuju mini bar. Dengan telaten, Nahyan mengambil semua piring, mangkuk, dan segala hal yang diperlukan untuk memindahkan semua makanan.
"Ambil nasi, Na." Nahyan berkata sambil memindahkan kepiting saus pedas manis ke dalam mangkuk yang ukurannya lumayan besar.
Anna menatap semua makanan di atas meja minibar dengan tidak sabar. Bahkan, dia hampir saja mengeluarkan air liurnya.
Nahyan melirik sekilas ke arah Anna, laly tersenyum samar. Gadisnya memang begitu rakus kalau soal makanan.
Gadisnya?
Apa yang Nahyan pikirkan? Cowok itu menggelengkan kepalanya, seolah suatu hal yang sedang dipikirkannya adalah hal yang salah.
Nahyan memejamkan matanya. Ya, dia tidak bisa bersikap seperti ini terus.
"Makan," ujar Nahyan sambil membuang semua bungkus plastik ke dalam kotak sampah terdekat.
Dengan senang hati, Anna memakan lahap semua jenis seafood yang Nahyan belikan. Dari ikan, udang, lobster, hingga kepiting. Anna memakannya dengan lahap tanpa peduli dengan image cewek yang anggun serta feminin.
Perset*an dengan itu semua, pikirnya.
Nahyan memperhatikan cara makan Anna yang berantakan. Tangan cowok itu merasa gatal ketika melihat mulut Anna yang belepotan. Di tariknya beberapa tisu dari kotak tisu yabg tersedia di mini bar, lalu mengelap bibir Anna dengan telaten. Sedangkan Anna, seperti tak terganggu acara makannya.
"Gak pake nasi?" tanya Nahyan dengan menaikkan sebelah alisnya setelah menyadari sesuatu yang kurang.
Anna menggelengkan kepalanya.
Hanya itu. Tidak ada jawaban yang lain. Anna memang tidak bisa diganggu gugat kalau soal makanan. Nahyan sampai heran, sanking banyaknya dia makan hingga orang terkadang tak kebagian, tubuhnya tetap kecil dan ... tepos.
Nahyan tertawa samar.
Gadis ini memang tepos, juga pecicilan. Menurut Nahyan juga, Anna itu kurus. Nahyan terkadang bertanya, bagaimana mungkin gadis sekecil ini mempunyai banyak tenaga untuk bertingkah bobrok.
"Uhuk ... Uhuk ..." Anna terbatuk karena secara tak sengaja saat menelan dia malah bernapas, membuatnya tersedak.
Nahyan dengan sigap menuangkan air putih untuk Anna.
__ADS_1
Sebenarnya, siapa yang majikan dan siapa yang babu di sini?
Nahyan mengeraskan rahangnya.
Nahyan sadar. Sangat sadar bahwa Anna sudah mengisi sebuah
tempat yang kosong selama ini di hatinya. Tapi terkadang, Nahyan ragu dengan perasaannya. Apalagi, Nahyan begitu labil dan tidak berpengalaman soal perasaan.
Setelah meminum air dan merasa batuknya mereda, Anna melanjutkan acara makannya.
Nahyan mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah tiram untuk dimakan, namun mata Anna langsung berkilat walau dia sedang sibuk makan.
Anna menelan makanan di dalam mulutnya lalu berkata, "Kalau mau, yang ikan aja."
Nahyan tersenyum miring.
Cowok itu beranjak berdiri, dan berjalan mendekati Anna. Nahyan mengelus kepala Anna. "Makan aja semuanya. Kalau kurang pesen aja di gopud," ucap Nahyan sambil menyerahkan ponselnya pada Anna.
Anna mengangguk mengerti.
"Nanti gue maenin ya PAPJI lo?" tanya Anna sebelum meminum air yang tinggal setengah di sampingnya.
"No! Nub lo maennya," jawab Nahyan.
Anna mengerucutkan bibirnya.
"Pelit ih. Orang pelit kuburannya sempit!"
Nahyan mengerutkan dahinya.
"Dapet dari mana kata-kata itu?"
"Gak tau dari siapanya. Cuma pas gue bocah yang busikan, sukanya maen di empang orang, banyak temen gue yang ngomong gitu."
Nahyan mendengus tak percaya. "Kalau gue pelit, gue minta ganti rugi untuk semua kerugian gue yang gak kehitung jumlahnya sama lo, Na."
"Dih, emang gue ngerugiin lo? Ge-er!"
"Pertama, lo banyak makannya. Dan lo pikir, siapa yang bayar?"
Anna tidak menyangkal karena memang itu benar. "Lalu yang kedua?" tanya Anna sambil memiringkan kepalanya.
Nahyan terlihat berpikir. "Nanti gue pikirin," jawab Nahyan, setelah itu dia meninggalkan Anna yang sedang memakinya.
"Apaan? Katanya banyak sampe gak kehitung," cibir Anna yang masih bisa didengar Nahyan.
Nahyan menaiki tangga untuk menuju kamar di atas. Tubuhnya terasa gerah hingga rasanya ingin mandi.
"Lo udah curi hati gue, Na. Itu yang kedua," batin Nahyan saat memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamarnya sambil melepaskan seragam sekolahnya.
...°°°...
...Bersambung...
SUKA dengan novelnya?
Yuk trakteer Byba Cendo 👉 https://trakteer.id/Juecy.bell/tip
......âš LIKE, KOMEN, dan RATE 5!! WAJIB HUKUMNYAâš ......
__ADS_1