Nahyanna

Nahyanna
BAB 92


__ADS_3

Setelah memakai helm, Anna menaiki motor gede dengan bantuan Nahyan.


Cowok itu menyeringai. "Pendek," ejek Nahyan.


Muka Anna masam. "Demi apapun kalau lo make motor beginian lagi gue ogah ya dibonceng lo. Nyusahin tau gak?" dumelnya.


"Terus make apa? Mobil?"


Anna mengerutkan dahinya. "Dih apaan? Sok Sultan amat lo. Masih sekolah juga sok-sok bawa mobil. Gak usah aneh-aneh!"


"Ya terus apa?" Nahyan mulai kesal.


"Motor beat aja!"


*Nahyan menghela napas. "Susah-susah nyari motor limited edition*, tapi yang lo suka malah beat?" hembus Nahyan sambil menghidupkan mesin motor.


"Oh iya, satu lagi. Request warna pink ya," timpal Anna yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari Nahyan.


Anna mengusap wajah Nahyan. "Gak boleh gitu liatinnya!"


Nahyan hanya mengangkat bahu, lalu tanpa aba-aba menarik gas hingga Anna hampir saja terpelanting kalau saja tangannya tidak gesit memeluk pinggang cowok itu.


Anna memukul keras punggung Nahyan. "Kebiasaan! Lo kalau mau modus itu kira-kira, dong! Hampir aja kepala gue benjol!"


"Udah diem. Lo berisik," datar Nahyan.


Nahyan melirik wajah Anna yang terlihat bete. "Makanya pegangan."


"Yaudah! Nih Nih! Nih!" Anna memegang pinggang Nahyan dengan gemas.


"Lo ini pegangan atau ngeraba-raba gue?" sindir Nahyan.


"Dua-duanya! Anggep aja kita impas. Lagian lo pasti udah ngerencanain ini kan? Mau modus sama gue. Buktinya helm yang gue pake dapet dari mana? Gak mungkin kan lo baru beli. Pasti lo udah nyiapin ini sebelumnya. Ngaku!"


Nahyan memutar bola mata sebal. "Jangan terlalu percaya diri. Nyatanya gue emang baru beli itu helm."


Anna mengulum senyum, lalu menusuk-nusuk pelan pipi cowok itu. "Cie yang langsung beliin gue helm cie.... Sultan kita ini perhatian banget ya ternyata," gemas Anna yang menggoda Nahyan.


Nahyan menghempaskan tangan Anna. "Berisik!"


Anna tersenyum lebar sambil menatap Nahyan. Cowok itu terlihat salah tingkah ditatap begitu oleh Anna.


"Gak usah senyum! Muka lo jelek!"


Anna manyun. "Jelek gini juga lo suka," omelnya yang mendadak menjadi badmood.


Nahyan menjalankan motornya. Dia tidak membantah atau pun mengiyakan perkataan Anna. Begini saja dia sudah sangat bahagia.


...***...


Nahyan membuka pintu apartemennya. Sesaat setelah memasuki apartemen, lampu secara otomatis menyala.


Cowok itu langsung merebahkan tubuhnya di sofa empuk. Dia membuka aplikasi game pada ponselnya.


"Hm bagus! Gue tadi minta pulang tapi lo bawa ke apartemen. Giliran di sini gue malah dicuekin? Gak iklas gue lo seneng-seneng sendiri!" kata Anna dengan raut wajah tidak suka sambil mengambil ponsel Nahyan dari tangan cowok itu.


"Makanya ngegame," celetuk Nahyan seperti tidak ada penyesalan.


"Gue gak ngegame aja nilai gue anjlok semua. Apalagi kalau ngegame!"


"Makanya belajar!"


"Gue udah belajar, tapi emang dasarnya aja otak gue lola."


"Makanya rajin!"


Anna melayangkan tatapan sinis ke Nahyan. "Sekali lagi lo ngomong makanya, makanya, makanya gue sumpel mulut lo pake cabe. Terusinlah!"


Nahyan membenarkan posisi duduknya. Dia menghadap Anna lalu memangku kepalanya dengan tangan. Menatap gadis itu intens.


"Lo ngapain sih?" tanya Anna yang mulai tidak merasa nyaman ditatap seperti itu.


Spot jantung nih gue!


Bukannya berhenti menatap, Nahyan malah tersenyum penuh misteri. Dan itu menambah kesan cool Nahyan sebanyak ... akh! Anna tidak tau lagi harus bagaimana lagi mendeskripsikan betapa gantengnya Nahyan sekarang.


"Gak usah gitulah. Kita cuma berdua nih di sini!" kata Anna merasa takut. Takut khilaf lebih tepatnya.


Nahyan menggelengkan kepala. "Gue laper. Cepet masakin!" perintah Nahyan.


"Dih nyuruh. Males amat, " tolak Anna.


"Cepet!" Anna tidak menggubris dan malah memainkan ponsel Nahyan.


"Gue kangen ...."

__ADS_1


Anna menoleh. "Hah?"


Nahyan beranjak berdiri. "Selesai gue mandi, pokoknya lo harus lagi masak. Atau lo nginep di sini," ancam Nahyan.


Anna berdecak sebal. "Males loh!" kata Anna setengah berteriak. Namun Nahyan tidak peduli.


Gadis itu berdecak sebal. Sikap menyebalkan Nahyan memang sudah mendarah-daging. Benar-benar membuat Anna ingin memukuk kepala cowok itu dengan tongkat bisbol.


"Tau ah!"


Gue masakin mie aja dia nanti.


Anna membuka aplikasi chat Nahyan.


Ada chat dari Suga yang belum di balas Nahyan. Dengan santai, Anna membuka chat tersebut.



Lo di mana cok!


jadi nongki gak lo?



Anjim!


Kenapa lo ngirim foto Anna?


Gue tau lu bucin dia


^^^Nahyan lagi mandi^^^


Eh?


^^^Eh?^^^


Eh?


^^^Eh?^^^


Gue akui Nahyan ganteng


Tapi jangan molosin Nahyan, Na


Inget dosa lo udah banyak


^^^Apa sih Bambang!^^^


^^^Gak jelas lo!^^^


Lho?


Gue bener kan


^^^Y^^^



Anna tidak membaca pesan yang baru saja Suga kirim. Karena cowok itu, Anna jadi berpikir macam-macam. Benar-benar menyebalkan.


Anna melihat Ada sebuah spam chat dari sebuah nomor yang tidak dikenal. Anna melihat profil nomor itu.


"Cantik banget..., " gumam Anna.


Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya Nahyan memilih Anna yang notabene-nya tidak ada apa-apanya dibandingkan gadis ini.


+62 8***-****-*** : Nahyan!


+62 8***-****-*** : Akhirnya lo baca juga pesan gue!!


+62 8***-****-*** : Gue seneng banget!!


+62 8***-****-*** : Btw, ini gue Enisha


+62 8***-****-*** : Kenapa gak ikut nongkrong?


+62 8***-****-*** : Gue lagi sama Suga dan Fabian nih!


+62 8***-****-*** : Ayo nyusul!


+62 8***-****-*** : Nahyan?


Anna melempar ponsel Nahyan ke sampingnya. Tangannya gemetar. Dia tidak sengaja membuka isi chat gadis itu. Benar-benar tidak sengaja. Padahal niatnya tadi benar-benar hanya melihat foto profil gadis itu.


Bagaimana jika Nahyan memarahinya? Anna benar-benar takut.

__ADS_1


Anna beranjak dari sofa lalu menuju ke dapur mini milik Nahyan. "Gue harus usaha kan biar dimaafin?" gumamnya sambil membuka kulkas.


Anna melihat isi kulkas sekaligus memikirkan akan memasak apa dia.


"Semoga Nahyan suka dan maafin gue," harapnya.


...***...


Nahyan keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap. Dia turun menuju lantai satu dan hidungnya langsung menangkap aroma yang benar-benar membuatnya lapar.


"Masak apa?" tanya Nahyan sambil menarik kursi mini bar yang berhadapan langsung dengan dapur.


Anna terkejut. "Astaghfirullah. Kaget gue!" ucap Anna smabil memegangi dadanya. Anna kembali melanjutkan aktifitas memasak.


"Cuma kwetiaw. Kalau masak yang berat-berat durasinya lama," jawab Anna.


Nahyan mengangguk. Apapun yang Anna masak selalu enak. Jadi, dia tidak keberatan.


"Jangan pedes," ujar Nahyan. "Terakhir kali lo buatin gue bekal hampir buat gue masuk rumah sakit."


"Iya, bawel."


Hening.


Hanya suara Anna sedang memasak yang terdengar. Setelah jadi, Anna segera memplating kwetiaw secantik dan serapi mungkin.


Anna menyajikan piring berisi kwetiaw untuk Nahyan dan dirinya tak lupa mengisikan air putih di gelas yang dia siapkan.


Diam-diam Nahyan tersenyum. Jika seperti ini jadinya, dia merasa Anna adalah istri yang sedang memasak dan menyiapkan makanan untuknya.


Anna menarik kursi di depan Nahyan.


"Ayo dimakan."


Nahyan menggulung kwetiaw dengan garpu, lalu menyantapnya. Enak. Sangat enak. Nahyan sangat suka.


"Nahyan," panggil Anna dengan ragu-ragu.


"Hm?"


"Tadi... gak sengaja gue ngebuka chat lo sama cewek yang namanya Enisha," aku Anna yang merasa takut.


"Tapi sumpah gue bener-bener gak sengaja! Percaya sama gue!"


Nahyan berhenti mengunyah sejenak. "Iya," jawab Nahyan singkat.


"Lo gak marah kan sama gue?"


"Ngapain?" Nahyan menaikkan sebelah alisnya.


"Itu... gue kan udah langgar privasi lo."


Nahyan menaruh garpu di piring lalu menatap Anna dalam-dalam. "Inget Anna, gue gak akan pernah marah sama lo hanya karena hal kecil kayak itu."


"Iya..."


"Juga, gue biarin lo megang HP gue artinya gue gak masalah lo mau kepo atau otak-atik isi HP gue. Jadi, gak usah masang tampang takut gitu."


Anna mengangguk mengerti. "Oke."


"Yaudah, abisin makanannya. Setelah itu gue anter lo balik."


Anna mengangguk patuh.


"Senyum Anna. Lo gak cocok masang muka melas gitu."


"Iya ini senyum nih... udah kan?" Anna tersenyum lebar.


Nahyan tersenyum tipis lalu menyentil dahi gadis itu. Dia benar-benar merasa Anna sangat menggemaskan.


"Ukh!" Anna memegangi dahinya.


"Ish! Gila lo mah! Nyentilnya gak pake perasaan lagi!" kesal Anna sambil memukul bahu Nahyan.


Nahyan tersenyum puas. "Makanya jangan manis-manis," gumam Nahyan.


"Hah? Ngomong apa?" tanya Anna.


Nahyan menggeleng.


"Berhenti berisik! Fokus makan aja!"


Anna manyun dan menggerutu, "Nyebelin!"


°°°

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2