Nahyanna

Nahyanna
BAB 51


__ADS_3


👆👆👆


Buat yang kepo Ruang inap President Suite nya Anna itu gimana ❤ kemaren aku lupa nyisipin gambarannya ngehehehehehe....


...♤♤...


...Budayakan memberi LIKE dan meninggalkan KOMENTAR 😐...


...♤...


"Widiiih! Anjay! Anjay! Anjay!" Suga heboh begitu mengetahui Anna dan Nahyan sudah official alias sudah resmi. "Pokoknya, pajak jadiannya beliin gue SMA Y!"


"Bapak kau! Itu sekolah punya keluarga gue!" maki Fabian sambil menggeplak kepala cowok sengklek itu.


"Bodo! Jadi kan gue enak mau drop out murid-murid nakal macam lo."


"Ngaca, vangsat!"


Nahyan memutar bola matanya malas.


"Gak usah banyak bacot!" kata Nahyan. "Mending nanti malem aja kita party di apartemen gue sama anak-anak yang lain. Sekalian, ngerayain kemenangan tim basket kita."


"Gue maunya sekolahnya Fabian!" kata Suga yang keras kepala.


"Lo ngajak gelud?!"


"STOP! STOP! STOP!" Anna menengahi kedua cowok yang berisiknya minta ampun. "Lo berdua kalau mau ribut jangan di sini tapi di hutan! Pusing kepala gue dengerin bacotan lo berdua!"


Akhirnya kedua sejoli itu menghentikan keributan yang mereka buat. Hanya kali ini saja mereka mengalah, toh di sini ada singanya.


"Ceritanya gimana lo bisa naek pangkat?" tanya Suga sambil menaik-turunkan alisnya.


Anna berdecak. "Kepo banget lo kayak Dora!"


"Gak lo, gak Nahyan, suka bener judes sama gue."


"EMANG PANTES!!" jawab Anna dan Nahyan bersamaan.


"Btw, yang lain mana? Kok cuma lo berdua yang dateng? Gue mau poto-poto nih! Buat nambah-nambah koleksi gue," tanya Anna sambil menaik-turunkan alisnya.


Fabian dan Suga hanya tersenyum paksa, lalu memberi kode pada Anna kalau gadis itu sudah membangunkan singa tidur.


"Oh! Jadi itu niat lo? Bagus!" kata Nahyan dengan wajah datar, lalu dia duduk menyendiri di sofa di dekat TV.


Anna hanya melirik Nahyan sekilas. Dia tidak peduli, toh kalau Nahyan ngambek urusannya bisa nanti-nanti, tapi kapan lagi dia bisa di kerubungi cowok-cowok macho and handsome? Jadi, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Jadi gimana?" tanya Anna yang tak menyerah.


"Itu--"


"ASSALAMUALAIKUM!" ujar seseorang yang diikuti banyak cowok tampan berseragam basket, beberapa di antaranya sedang membawa piala.


Anjaaay... dari deket ganteng-ganteng banget! batin Anna yang menjerit senang.


"Gak usah norak! Kayak gak pernah liat cowok aja!" sewot Nahyan yang cemberut.


Anna tidak mempedulikan suara-suara syaiton yang mendadak jadi sering sewot padanya.


"Na, ini buah tangan dari anak-anak eskul basket." Dava mewakili anak-anak basket bicara, lalu mendadak kamar inapnya penuh dengan makanan dan buah-buahan.


Anna menahan senyumnya.


"Bi-bisa foto bareng gak? Buat masukin toonstory gue. Pliiss!" mohon Anna sambil melihat Dava dan anak-anak yang lainnya secara bergantian. Dia ingin panjat sosial dulu, siapa tau saat dia memposting fotonya dengan anak-anak basket yang rata-rata adalah anak famous, dia bisa jadi ikutan famous. Lumayan kan, toonstagram-nya jadi banyak pengikut. Siapa tau ada yang mau endorse, kan Anna bisa dapat banyak uang tambahan.


"Yah? Boleh yaa? Boleh lah...." Anna menunjukkan puppy eyes.


Dava melirik ke arah Nahyan yang merupakan kapten tim basket sekaligus pacar dari Anna. Lalu, dengan takut-takut dia menjawab.


"Bisa...." cicit Dava.


"Yeay!!"

__ADS_1


"Shit!" maki Nahyan yang kekesalannya mencapai puncak. Tapi dia menahannya karena gadisnya habis kena musibah.


Nahyan menghela napas berat. Hanya kali ini dia mengalah. Selanjutnya, tidak akan dirinya biarkan Anna lepas begitu saja.


"Dee! Fotoin gue dong!" pinta Anna pada Deana yang sedari tadi hanya diam sambil mendengarkan musik di sampingnya.


"Oh?" Deana melirik ke arah Nahyan yang menatapnya seolah berkata 'berani lakuin, lo mati!'.


Deana tersenyum licik.


"Siniin HP lo!" jawab Deana sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nahyan.


Nahyan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga bulu-buku tangannya memutih. Dia cemburu. Benar-benar cemburu hingga timbul rasa ingin menerjang cowol-cowok yang sekarang tengah secara bergantian berfoto ria dengan pacarnya.


"Coba anak-anak basket kumpul! Fabian sama Suga juga cepet nimbrung! Biarin Anna ditengah sambil pegang piala yang paling gede."


Deana menoleh ke arah Nahyan yang sedang merajuk. "Lo gak mau ikutan?" tanya Deana.


Nahyan sambil menghela napas tidak ikhlas lalu mendekat ke arah ranjang Anna. "Minggir lo!" ucap Nahyan pada Oka yang tepat berada di samping Anna.


"Jaga jarak satu meter dari cewek gue!" perintah Nahyan pada Alfaro yang berada di dekat Anna dari sisi yang lain.


Anna tersenyum paksa sambil mencubit pinggang Nahyan. "Gak usah rese deh!" bisik Anna.


"Ukh!"


Nahyan langsung bungkam.


"Ayo merapat!" Dalam hitungan ketiga, Deana memencet tombol tengah "Oke! Ganti gaya! Gaya bebas! Itu cowok yang cemberut doang tolong mukanya dikondisikan. Senyum sedikit!"


Nahyan tersenyum paksa.


"Oke sip!" Deana melihat-lihat hasil tangkapan gambarnya dibagian akhir-akhir.


"Yang baru jadian gak ada niatan buat foto bareng?" tanya Deana pada Nahyan yang akan pegi menuju tempatnya semul, masih dnegan melihat-lihat foto yang ia jepret.


Nahyan menaikkan sebelah alisnya.


"Udah cepet foto berdua!"


Nahyan langsung menjawab, "Gak ada yang bilang gue gak mau," balas Nahyan sambil melihat ke arah kamera.


Deana berdecak sebal saat melihat foto hasil jepretannya. "Lo berdua ini bukan foto nikah! Kenapa kaku bener sih? Yang sedikit lebih alami kenapa? Gak usah datar-datar mukanya."


"Coba sih! Duh lah!" kata Deana yang frustrasi sendiri dengan pasangan kekasih satu ini. "Nahyan coba rangkul pundak Anna. Oke, sip gitu. Mukanya senyum ya!"


"Satu, dua ..., tiga!"


"Nahyan ngapain sih?! Kenapa gak liat ke kamera!"


"Ayo sekali lagi!" kata Deana yang paleng sendiri. Ingin rasanya ia bom dua manusia di depannya ini. Terutama Nahyan.


Anna menekuk kedua kakinya dan memangku wajah dengan tangannya, lalu tersenyum lebar. Sedangkan Nahyan tetap dengan merangkul Anna.


"Gak usah cemburu, hati gue cuma punya lo kok!" bisik Anna ditengah-tengah.


Nahyan sedikit menunduk untuk menatap wajah Anna yang sedang tersenyum menghadap kamera, lalu tanpa sadar dia juga ikut tersenyum.


Deana memberikan jempolnnya sebagai tanda bahwa gaya mereka sudah perfect dan terlihat alami.


Ckrek!


...***...


"Yakin, Na?" tanya Deana.


"Iya, yakin." Anna menggeser layar ponselnya. "De! Lo fotoinnya gak bener banget! Ini mata gue mejem, yang in gue beler, yang ini gue belum siap."


"Ye... itu emang dasarnya aja muka lo beler!" sempeot Deana sambil memutar bola matanya. "Weh, serius dulu. Masa lo di rumah sakit sendirian?"


"Iya. Lo kalau mau pulang ya pulang aja," jawab Anna tanpa melihat Deana. "Di sini juga banyak cemilan."


"Ish! Gak tega gue!"

__ADS_1


"Balik aja. Itu orang tua lo kan tadi udah nyariin lo."


Deana menghela napas berat. "Heran gue. Ini lagi Nahyan, bukannya nemenin lo kek. Malah party," dumelnya.


"Biarin. Namanya juga cowok," ujar Anna yang terkesan cuek.


Anna menghela napas saat merasakan tatapan Deana yang membuatnya tak nyaman. Gadis itu terlalu khawatir, padahal dirinya baik-baik saja. Hanya ada beberapa luka di kepala, tangan, dan kakinya.


"Yaudah, deh gue balik." Deana masih menatap Anna tidak rela. "Oh iya, tadi Galen nanyain lo marah sama dia atau gimana. Soalnya lo ceklis satu plus gak ada poto profil. Dia ngira lo blokir dia."


Anna bingung. "Hah? Gue gak blokir dia. Gak marah juga. Gue kan emang ganti nomor karena ganti HP."


"Ya ngomong ke Galen-nya aja nanti. Gue udah kasih nomor lo yang baru ke dia."


"Ih? Ngapain anjir!" Anna melotot kaget. "Ketahuan Nahyan masalahnya jadi panjang ntar. Tau aja dia itu gimana. Gue foto-foto sama anak basket aja tadi mukanya kayak mau nerkam gue."


"Derita lo. Yaudah gue balik dulu. Kalau ada apa-apa langsung telepon gue aja."


Anna mengangguk. "Pasti."


"Oke, Babay zeyenk akooh! Muaach!" Deana melemparkan ciuman pada Anna sebelum dia pergi.


Anna tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Anna hanya memandangi punggung Deana yang menjauh, lalu hilang dibalik pintu.


Anna mengambil napas panjang lalu mengedarkan tatapannya ke seluruh ruang rawat inapnya.


"Jadi, ngapain kita?" gumam Anna.


Sepi juga di ruangan sebesar ini sendirian.


Anna beranjak turun dari ranjang, lalu diambilnya infus agar memudahkan dirinya untuk bergerak.


"Awh," ringis Anna pelan.


Di bagian paha, dan betisnya terasa nyeri. Setelah usaha yang panjang dan cukup melelahkan, akhirnya gadis itu dapat memindahkan semua buah dan camilan ke atas meja. Lalu, dinyalakanlah TV seraya menggigit sebuah apel.


Anna membesarkan volume TV hingga suaranya memenuhi ruang inap. Pastinya karena dia merasa kesepian di ruangan sebesar ini. Dia lebih suka berada di ruang kelas 3 yang ramai orang dari pada di ruang president suite. Untuk apa punya ruangan besar? Toh, akhirnya tetap sendirian juga.


Sebenarnya Anna merasa sedih. Harusnya dia punya keluarga yang menemaninya disaat-saat seperti ini. Tapi yah, walau berbeda dengan kenyataan mau bagaimana lagi? Sedih pun juga tidak akan ada arti. Orang tuanya tidak akan hidup kembali, dan satu-satunya kelurganya yang dia tau tetap tidak peduli.


"Mari kita makan sepuasnya," gumam Anna sambil melihat camilan yang bejibun jumlahnya.


Perut kenyang, hati Anna pun senang ❤


Jarang-jarang lho dia bisa seperti ini.


"Uhuk! Uhuk!" Anna tiba-tiba tersedak. Dia mencari minum seraya menepuk-nepuk dadanya.


Anjim!


Dari banyaknya buah tangan yang dibawa, kenapa gak ada satupun yang bawain gue air minum!! teriak Anna dalam hati.


°°°


Bersambung...


😈 KOMEN (yang banyak!!)


🌷 LIKE


Masih aku pantau kalean yang ghosting ^.^ ❤


Datang, lalu pergi.


Udah gitu gak ninggalin apa-apa lagi :<


...Nih Foto Nahyan dan An****na...



p.s : Anggep aja itu Anna lagi pake baju pasien + di infus. Nahyannya pake baju basket....


__ADS_1


p.s : kalo yang ini tambahannya anggep Nahyannya berdiri yew. ngehehehe ✌


__ADS_2