Nahyanna

Nahyanna
BAB 13


__ADS_3

Anna terlihat sedang memakan sebuah ice cream menggunakan sendok khusus yang sudah disediakan---dengan sebuah plastik transparan yang pegangannya dimasukkan ke tangannya, seolah itu adalah gelang.


Anna yang sedang asyik memakan ice cream, tiba-tiba saja merasa risih karena orang-orang yang lewat selalu melihat ke arahnya lalu tertawa. Gadis itu menekuk wajahnya.


"Dih, gak pernah liat cewek cantik apa ya?" gerutu Anna sambil mengibaskan rambutnya dengan tangan yang memegang sendok.


Masih dengan Anna yang sedang asik memakan ice cream, sepasang kekasih yang berjalan berlawanan arah dengannya menatap gadis itu sambil tertawa cekikikan.


"Liat deh, Yang! Jalannya ngangkang gitu," bisik perempuan yang sedang memeluk lengan pasangannya.


"Mungkin semalem abis skidipapap digidaw aweu aweu, Yang," jawab sang pasangan dengan nada bercanda, yang langsung mendapatkan pukulan pelan dari sang perempuan.


"Ck! Ngawur!"


Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu berpikir keras dengan percakapan sepasang kekasih itu, yang kebetulan masih terdengar olehnya.


"Apa tadi? Skidipap awu awu? Apaan itu?" gumam Anna yang tidak mengerti.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari otak imut miliknya, Anna memilih melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Jalan pulang ke rumahnya masih lama. Jadi, dia harus menghemat waktu.


Tuk!


"Aw!" pekik Anna saat dia merasakan kepala cantiknya menabrak sebuah benda keras tapi bukan tembok.


"Mata lo taro mana, sih?!" bentak sebuah suara rendah yang familiar. Tentu saja itu adalah Nahyan. Siapa lagi cowok bar-bar yang suka marah-marah karena sesuatu yang gak jelas? Sejauh ini yang Anna ketahui ya, cuma Nahyan. Cuma Nahyan!


Anna menekuk bibirnya.


"Mata gue di sini," jawab Anna sambil menunjuk matanya. "Rabun atau gimana sih?" balas Anna yang tidak mau kalah.


Manik amber itu menatap tajam Anna yang sedang memasukkan sesendok ice cream ke mulutnya.


"Apa liat-liat? Mau?" tanya Anna sambil menyodorkan sesendok ice cream ke arah Nahyan. Namun, segera ditariknya kembali sendok itu.


"Beli!" lanjut Anna dengan tampang menyebalkan, seolah minta ditampol.


Nahyan hanya menyentil kuat dahi Anna.


"Aw! Lo gila ya?!" teriak Anna dengan mata yang berair. Anna berani bersumpah, sentilan Nahyan begitu menyakitkan.


Gadis itu menekan-nekan bagian dahinya yang baru saja menjadi korban sentilan maut dari tangan bar-bar milik Nahyan. Anna melirik sinis ke arah cowok itu dengan wajah memerah karena menahan tangis.


Selagi Anna sibuk menekan-nekan dahinya, mata Nahyan salah terfokus ke arah sebuah plastik transparan di tangan Anna.


Bagi Nahyan yang seorang cowok, wajar saja mengetahui obat apa yang dibeli orlh gadis itu. Secara, dia memang sering terluka. Apalagi kalau dia habis berkelahi. Jadi, dia hafal obat apa saja untuk mengobati luka.


"Untuk apa?" tanya Nahyan sekedar berbasa-basi. Padahal dia tau obat apa itu.


Anna mengerutkan dahinya. "Apaan?" gumam Anna yang masih sibuk menekan dahinya. Serius, Anna tidak berbohong. Nyerinya sama sekali belum hilang.


"Untuk apa?" ulang Nahyan.


"Hah?" tanya Anna yang cengo.


"Untuk apa, Anna?!" geram Nahyan.


Anna berdecak sebal.


"Ngomong yang jelas! Jangan setengah-setengah! Lo kira gue mind reader bisa paham sama yang lo omongin?" kata Anna. Gadis itu sangat paham kalau cowok itu malas ngomong. Makanya singkat-singkat.


"Lo goblog apa gimana, sih?! Oh iya, gue lupa. Lo itu kan otak udang!" maki Nahyan yang juga merasa kesal, lalu melangkah pergi ke arah yang berlawanan dengan Anna.


Saat melewati Anna, cowok itu sengaja menabrakkan tubuhnya pada pundak Anna. Gadis itu meringis kesakitan, sebab yang ditabrak Nahyan pas sekali di luka lebamnya.


Anna menggigit bibir bawahnya, menahan ringisannya agar tidak terdengar.


"Dia gila apa, ya?" gerutu Anna merasa sebal sambil melempar cup ice cream ke tanah.


Anna menyengir dan langsung memungut kembali cup ice cream yang baru saja dia lempar sebarangan ketika seorang tukang sapu memelototkan mata padanya.


"Maaf, Bu. Hehehehe...." Anna tertawa canggung lalu melipir kabur dari tempat itu. Tentu saja dengan berjalan sambil mengangkang, membuat orang-orang yang lewat seperti termagnet untuk menengok dua kali hanya karena cara jalan Anna yang terlihat aneh.


"Pffft!!" Suara tawa yang tertahan terdengar dari belakang Anna. Namun sedetin kemudian tawa itu pecah.


Sontak gadis itu membalik tubuhnya untuk melihat siapa orang yang berani menertawainya dirinya. Anna melebarkan matanya saat melihat siapa yang tertawa.

__ADS_1


Tingkat kemarahan dan kesebalam Anna menurun drastis begitu melihat Nahyan tertawa geli. Selama ini, mana pernah Anna melihat cowok itu berekspresi selain ekspresi menyebalkan, galak, dan menyeramkan. Sekalinya ingin melihat cowok itu tersenyum, malah dapat jackpot dengan melihat tawa cowok itu. Halalin Anna, Bang!


Cowok itu mengakhiri tawanya dengan mengelap air mata di sudut matanya. Setelah itu, ekspresi cowok itu kembali seperti biasa.


"Lo kenapa? Abis sunat?" ujar Nahyan dengan kalem, tapi sangat terdengar menyebalkan di telinga Anna.


Anna menatap Nahyan dengan aura permusuhan yang tajam.


"Ternyata, selain bar-bar lo itu kepoan ya?" jawab Anna sambil tertawa sinis lewat hidung, lalu melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Nahyan.


Nahyan mengerutkan keningnya.


Kok jadi gini?


Cowok itu tidak terima dengan sikap Anna. Jadilah dia menarik pundak Anna hingga gadis itu menghadapnya.


"Aw!" pekik Anna yang merasa kesakitan karena cengkraman Nahyan yang kuat di pundaknya.


"Lo gila, ya? Sakit, tau gak?!" teriak Anna sambil menepis kasar tangan Nahyan.


"Lo jahat banget, sih!" lirih Anna lalu menghapus air mata yang meluncur begitu saja ke pipi mulusnya tanpa bisa ditahan olehnya.


Nahyan kebingungan. Sebab, dia sangat yakin cengkeraman tangannya tidak sekuat itu sehingga bisa menyebabkan gadis itu merasa sakit, kecuali ada luka di pundak gadis itu.


Anna melirik sinis Nahyan yang sedang kebingungan.


Omong-omong, Anna ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kebingungan Nahyan yang tergolong langka itu. Tentu saja itu kalau Anna tidak sedang terfokus pada rasa sakit dipundaknya.


Aneh tidak sih, saat Anna mendapatkan luka-luka ini, gadis itu tidak mengeluarkan airmata walaupun hanya setetes? Tapi sekarang? Hanya karena luka lebamnya tidak sengaja tertekan oleh Nahyan, sudah bisa membuatnya menangis hingga cairan kental dihidungnya hampir lolos keluar.


Anna mengingat-ingat sesuatu yang terlupakan oleh. Setelah mengingatnya, Anna menelan saliva-nya.


Mantap.


"Ini tanggal gue pms," batin Anna. Tepat setelah dia membatin, Anna merasakan sesuatu yang mengalir di bawahnya.


Anna refleks berjongkok, lalu menangis kejar hingga orang-orang menatapi mereka berdua.


Nahyan kelimpungan saat orang-orang mulai berbisik sambil menatap tajam ke arahnya.


Nahyan yang mendengar itu memelototkan matanya pada Perempuan yang memakinya itu.


"Na, jangan nangis. Lo tambah jelek," ujar Nahyan membuat tangisan gadis itu makin menjadi.


Nahyan mengacak-acak rambutnya, frustrasi. Lalu, tanpa basa-basi ditariknya tangan Anna dengan satu kali sentakan hingga gadis itu berdiri.


Tanpa aba-aba, Nahyan menggendong Anna dipundaknya. Semacam orang yang sedang membawa karung beras.


Anna memberontak dan menjerit meminta dilepaskan. Namun Nahyan malah seperti melempar Anna ke atas untuk membenarkan posisi gadis itu di pundaknya.


Nahyan membuka pintu mobilnya, lalu memasukkan Anna ke dalamnya.


"Diem!" perintah Nahyan saat Anna membuka mulutnya ingin memprotes.


...***...


Nahyan membawa masuk Anna ke dalam apartement elite miliknya. Cowok itu menghempaskan tubuhnya di sofa lalu melempar kunci mobilnya ke atas meja. Sedangkan Anna hanya berdiri sambil memegangi perutnya.


"Lo kenapa?" tanya Nahyan.


Anna mendongak menatap Nahyan.


"Yan, gue...." Anna tidak melanjutkan bicaranya.


"Apaan?" tanya Nahyan dengan galak.


"Perut gue sakit," cicit Anna pelan.


"Laper?"


Anna menggelengkan kepalanya, namun sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Mana yang bener?!" Nahyan melotot.


"Maksud gue, gue emang laper tapi perut gue sakit bukan karena itu!" jawab Anna takut-takut karena Nahyan sedang dalam mode galak.

__ADS_1


"Terus?" Nahyan menaikkan sebelah alisnya.


Anna ingin menjawab, namun diurungkannya. Gadis itu malu jika harus mengatakan secara gamblang kalau dia membutuhkan pempers. :v


"Jawab, Anna!" kata Nahyan dengan nada rendah penuh penekanan.


"Gue istimewa," jawab Anna dengan cepat hanya dengan sekali tarikan napas.


Nahyan mengerutkan dahinya, namun hanya butuh beberapa detik saja untuk mengerti ucapan Anna. Cowok datar itu langsung mengambil kunci mobil yang berada di atas meja.


"Diem di sini!" ucap Nahyan. "Kalau bosen, itu TV-nya," sambungnya sambil menunjuk televisi dengan layar yang sangat lebar.


Anna menganggukkan kepalanya.


"Gue pergi!" pamit Nahyan.


...***...


Sesampainya Nahyan di minimarket terdekat, Nahyan langsung mengambil beberapa barang dengan cepat. Namun ada seorang pegawai minimarket yang bertanya padanya.


"Buat apa Mas beli tisu banyak-banyak?" tanya pegawai perempuan itu sambil tersenyum malu-malu karena melihat wajah tampan Nahyan dari dekat.


Nahyan menaikkan sebelah alisnya.


"Tisu?" tanyanya.


Pegawai perempuan itu mengangguk mantap. Jawaban perempuan itu membuat Nahyan berdecak sebal.


"Bisa tunjukin pempers untuk perempuan dimana?" tanya Nahyan menahan malu.


"Hah? Pempers?"


"Yang buat cewek itu!" kata Nahyan tidak sabaran.


Pegawai perempuan itu mengangguk mengerti. Lalu menunjukkan pampers yang dimaksud oleh Nahyan.


"Oke, makasih!" ujar Nahyan setelah mengambil sekeranjang penuh pampers. Tidak lupa, Nahyan juga mengambil Keranti dan beberapa vitamin untuk Anna.


"Mas! Nomor teleponnya!" ucap pegawai perempuan itu namun tidak didengarkan oleh Nahyan.


Sesampainya di kasir, Nahyan menjadi salah tingkah karena banyak orang yang menatapnya heran. Apalagi cewek-cewek yang sedang tertawa geli melihat Nahyan.


"Mas, gak salah beli beginian?" tanya Mbak kasir yang heran sambil me-scanner barcode barang-barang yang dibeli Nahyan.


"Bukan urusan, Anda!" jawab Nahyan dengan tajam. Namun wajah cowok itu merah merona karena menahan malu.


"Sensi banget si, Mas! Saya kan hanya bercanda," ucap Mbak kasir.


Nahyan diam tidak menanggapi.


"Totalnya 97.600 rupiah."


Nahyan mengeluarkan dompetnya.


"Untuk pacarnya ya, Mas?" tanya Mbak kasir yang keponya kebangetan.


Setelah memberikan uang seratus ribuan, Nahyan langsung mengambil plastik-plastik belanjaannya. Dan langsung pergi tanpa mengambil struk pembelian.


"Bangshat, malu banget!" ujar Nahyan sambil memasuki mobilnya dan menaruh belanjaan di sampingnya.


"Gak-gak lagi gue ke sana buat beli beginian," gumam Nahyan sambil melajukan mobil menuju apartemennya.


°°°


Bersambung...


NEXT? ❤🌟👍💬


Like, Comment, rate 5 nya dulu😢


Biar aku semangat update-nya ❤


Salam hangat,


Jeucy.bell

__ADS_1


31 Agustus 2020


__ADS_2