Nahyanna

Nahyanna
BAB 11


__ADS_3

Anna mengerjap-ngerjapkan matanya dalam bentuk beradaptasi dengan cahaya di sekitarnya. Saat Anna ingin meregangkan tubuhnya, dirasa gerakkannya tertahan oleh sesuatu.


Anna melihat tubuhnya yang terikat oleh tali di sebuah kursi. Gadis itu memberontak agar terlepas dari ikatan yang sepertinya ikatan mati.


"Kapan dia bangun?! Lo kasih obat tidurnya semana sih?" tanya seorang perempuan dengan suara yang tinggi.


"Gue cuma kasih dosis dikit. Seharusnya sih sebentar lagi dia bangun," jawab perempuan lainnya.


"Dari tiga puluh menit yang lalu juga lo ngomong gitu!" ucap perempuan itu dengan tidak sabaran.


"Kali ini gue bener," ujar perempuan lainnya meyakinkan.


Anna mendengar seseorang berdecak kasar.


"Oke kalau gitu," Perempuan itu melunak, "gue udah gak sabar mau nyiksa itu anak. Berani-beraninya dia godain Galen!" desisnya dengan dendam yang mendalam.


Mata Anna membelalakkan matanya.


"Nyiksa gue? OMG, gue harus kabur! Harus!" batin Anna sambil berusaha melepaskan ikatan.


"Akkh!" teriak Anna tertahan lakban di mulutnya. Kursi yang Anna duduki ternyata ada sebuah paku yang menancap, dan paku itu menggores lengan Anna hingga darahnya mengalir keluar.


Anna yang panik terus memberontak hingga membuat tubuhnya terjatuh bersama dengan kursi yang didudukinya.


BRAK!


Anna memejamkan matanya, menyayangkan tindakannya yang ceroboh sambil menggigit bibir bawahnya. Bahkan, jantungnya sekarang sedang berdebar tidak karuan layaknya konser punk.


Cklek!


Pintu terbuka.


"Gawat! Sekarang mereka tau gue udah bangun." Anna membatin lalu memberontak untuk melepaskan ikatan tali. "Sial, gue diborgol ternyata."


"Wah, wah, wah ... udah bangun ternyata," ucap gadis dengan rambut ombre sambil menghidupkan lampu.


Anna memicingkan matanya karena cahaya yang muncul tiba-tiba.


"Lepasin gue!" teriak Anna hampir menjerit.


Gadis ombre itu berjalan mendekati Anna engan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Dia tersenyum, tapi jelas senyum itu tidak bermaksud baik. Gadis ombre mengapit rahang Anna kasar dengan tangannya.


"Lepasin kata lo? Gak semudah itu!" ucap Gadis ombre penuh dengan penekanan.


"Chia, Mimi, beri dia pelajaran!" perintah Gadis ombre dengan suara rendah namun penuh penuh penekanan.


Kedua gadis yang diperintah pun menjalankan tugasnya dengan sigap. Memukul, menendang tubuh Anna dengan tidak berperikemanusiaan.


"Berhenti! Brengseek!" teriak Anna saat mereka tidak berhenti-hentinya memukul dan menendangi perut dan punggungnya.


"Tutup mulut lo, Jalaang!" bentak Chia sambil menampar kuat-kuat pipi Anna hingga sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah. Bahkan, kesadaran Anna hampir hilang karena sakit di sekujur tubuhnya.


"Fvck, Chia! Gue udah bilang jangan pukul wajah!" teriak Gadis ombre sambil menarik rambut gadis bernama Chia.


"Sa-sakit!" kata Chia berusaha melepaskan tangan yang menarik rambutnya. "Maaf, Al."


"Lo mau kita ketahuan, hah?" ujar Gadis ombre sambil melepaskan kasar rambut Chia. Ternyata gadis ini bernama Aliya.


"Maaf...," lirih Chia.


"Oke." Aliya mengangguk singkat, lalu mendekati Anna yang sudah dalam kondisi mengenaskan. Anna melirik lemah Aliya yang sedang tersenyum.

__ADS_1


"Salahin elo yang godain Galen," bisik Aliya lalu tertawa seperti orang gila. "Jal*ng, kalau lo deket-deket Galen lagi jangan harap lo tenang."


Anna menelan saliva-nya karena merasa tenggorokannya kering.


"Lanjutin kegiatan lo. Inget, jangan sampe pukul wajahnya," ujar Gadis ombre alias Aliya lalu berjalan keluar.


"Kalau pekerjaan lo udah selesai lepasin borgolnya," kata Aliya sebelum benar-benar keluar dari tempat yang sepertinya adalah gudang peralatan olahraga, lalu melemparkan kunci borgol ke udara.


Dengan sigap, Mimi menangkap kunci itu.


"Iya," jawab Chia dan Mimi bersamaan.


...***...


"Hah... selesai juga," ucap Chia sambil meregangkan tubuhnya dan berjalan keluar gudang peralatan olahraga bersama Mimi.


"Lihat! Kuku gue patah!" ujar Mimi yang kesal sambil memperlihatkan kukunya yang patah pada Chia yang di sampingnya.


"Padahal kan gue kemaren baru aja manicure pedicure," lanju Mimi sambil memperhatikan kembali kuku cantik-nya yang patah.


Di sisi lain...


"Uhuk, uhuk!" Anna terbatuk karena tersedak saliva-nya sendiri sambil berusaha bangun dari posisinya yang terkapar di lantai.


Gadis itu terlihat memegangi perutnya yang terasa sangat ngilu. Bukan perut saja sebenarnya tapi seluruh tubuhnya terasa sakit. Dan gadis bernama Mimi itu memukul pipi Anna dengan ganas pas di tempat Chia memukulnya tadi. Bahkan, kuku gadis itu sedikit menggores pipi mulus milik Anna.


Dengan tertatih, Anna melangkahkan kakinya menuju keluar gudang peralatan olahraga ini. Untungnya, dia tidak dikunci di dalam gudang.


"Ah, sumpah! Badek banget mereka berdua," lirih Anna sambil berpegang pada kusen pintu.


"Lagian, si Mimi itu gak tau instruksi apa ya? Jangan pukul muka gue, tapi malah mukul muka gue," gerutu Anna merasa keki.


Anna melihat sekitarnya yang sudah mulai gelap. Gadis itu menggigit bibir bawahnya hingga berdarah sanking geramnya.


seperti mengingat sesuatu, Anna menepuk dahinya dengan lemah. "Ponsel gue di tas. Sekarang kelas gue pasti udah di kunci," lirih Anna dengan mata yang berkaca-kaca.


Masalahnya, meski dia masih sempat-sempahnya mengumpati gadis-gadis yang menyiksanya, tetap saja efek dari tendangan serta pukulan mereka itu adalah hal yang nyata. Anna khawatir lukahya akan meninggalkan bekas. Aset Anna untuk seksrang ini ya hanya tubuhnya. Jadi harus dijaga baik-baik, dong.


Anna mendesah berat. Dia putus asa. Dari gudang peralatan menuju gerbang sekolah dealam keadaan tubuh normal butuh waktu yang agak lama. Apalagi yang Anna sedang sakit seperti ini. Butuh berapa lama? Se-abad? Keburu tuwir.


"Nduk!" panggil suara pria paruh baya dari arah belakangnya.


Anna menolehkan kepalanya.


"Iya, Pak?" jawab Anna dengan lemah. Anna tau siapa pria ini. Dia adalah salah satu satpam di sekolah ini, namanya Rudi.


"Lho? Mbak Anna kenapa masih di sekolah?" tanya Pak Rudi sambil berjalan mendekati Anna.


Anna tersenyum canggung.


"Habis eskul saya ketiduran, Pak. Gak ada yang bangunin," jawab Anna yang jelas saja tidak mengatakan kebenarannya, "untung saya gak dikunci di dalem kelas."


Anna takut masalah ini diperpanjang. Dia tidak ingin menampah masalah. Hidupnya sekarang saja sudah banyak masalah semenjak bertemu dengan Nahyan. Jangan sampai masalahnya juga bertambah.


"Mau Bapak antar ke rumahnya, Mbak? Udah gelep gini soalnya. Bahaya," tawar Pak Rudi.


Sebenarnya Anna ingin menolak, tapi merasa bagaimana tulangnya yang terasa seperti patah semua, Anna menerima tawaran itu.


"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Anna dengan tulus.


...***...

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih ya, Pak," ucap Anna saat dirinya sudah berada di depan gerbang rumahnya.


Pak Rudi tersenyum ramah. "Sama-sama, Mbak Anna. Kalau gitu saya kembali ke sekolah dulu, ya," jawab Pak Rudi sambil menyalakan motor shogun-nya.


"Duluan, Mbak!" kata Pak Rudi sebelum dia menjalankan motornya.


Anna memasuki halaman rumahnya. Gadis itu merasa aneh karena rumahnya tidak seperti biasa.


"Orang rumah kemana, Mbok?" tanya Anna pada Mbok Indun yang merupakan tukang masak di rumah.


"Ada acara katanya, Nduk," jawab Mbok Indun.


Anna membentuk mulutnya bulat.


"Mumpung mereka sedang keluar, kamu mau makan? Kalau mau Mbok siapin nasi sama angetin lauknya," tawar Mbok Indun.


"Boleh, Mbok."


Mbok Indun menuntun Anna yang seperti kesusah berjalan menuju ruang makan.


"Mbok angetin dulu lauknya," ucap Mbok Indun yang langsung mendapat anggukan dari Anna sebagai jawaban.


Tidak sampai lima menit, Mbok Indun muncul sambil membawa semangkuk udang saus pedas manis dan sebuah piring berisi nasi.


"Ini, Nduk. Makan yang banyak. Kamu kurus kering karena makannya mie instan terus."


Anna tersenyum kecil lalu menjawab, "Iya, Mbok."


"Kamu mirip sekali sama Nyonya," ucap Mbok Indun tiba-tiba pada saat Anna menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Dari sifat, tingkah, dan wajah. Kamu itu kayak kloningnya Almarhum Nyonya. Hampir gak ada bedanya."


Anna menghentikan kegiatan mengunyahnya lalu menatap Mbok Indun seolah meminta wanita tua itu meneruskan bicaranya.


"Pokoknya kamu mirip banget sama Almarhum yonya, dan mungkin itu ya sebabnya tuan Yudhis--" bicara Mbok Indun terhenti. Sepertinya Mbok Indun tau sesuatu tentang keluarga Anna.


"Paman kenapa, Mbok?" tanya Anna yang penasaran.


Mbok Indun menggelengkan kepalanya. "Nggak, Nduk. Bibi mau ke kamar dulu," kata Mbok Indun yang mengalihkan pembicaraan.


Anna mengangguk lemah.


Ada hubungan apa Anna yang sangat mirip ibunya dengan Yudhis alias suami Dewi?


Anna menghela napas kasar saat tidak bisa menemukan jawabannya. Masalah keluarganya terlalu rumit. Terlebih lagi, Anna yang tidak begitu ingat dengan masa kecilnya. Masalah tentang keluarganya benar-benar masih misteri.


"Cepat atau lambat, semuanya akan terkuak," batin Anna sambil melanjutkan acara makannya.


°°°


Tbc


NEXT? ❤🌟👍💬


Like, Comment, rate 5 nya ya 😢


Biar aku semangat update-nya ❤


Salam hangat,


Juecy.bell

__ADS_1


28 Agustus 2020


__ADS_2