Nahyanna

Nahyanna
BAB 26


__ADS_3

⚠KOMEN WOY! KOMEN!⚠


🌟Enthusiasm chapter 26🌟


Happy reading!!


Anna's POV


Kalau kalian lupa, aku ingatkan namaku adalah Anna Abimanyu. Si penyuka kedamaian. Namun, itu adalah diriku sebelum bertemu dengan Tuan Muda Nahyan yang terhormat, alias cowok bar bar yang galak plus absurd dan nyebelin sejagat raya yang berhasil memporak-porandakan hidupku.


Jika dibandingkan hidupku yang dulu dan yang sekarang, benar-benar berbeda. Sampai-sampai aku bingung pada diriku sendiri.


Jujur saja, aku yang selalu berusaha menyenangkan hati orang lain dan menyampingkan diriku sendiri ini berbanding terbalik saat aku bersama Nahyan. Cowok itu seakan punya aura sendiri mampu yang membuatku nyaman untum mengeluarkan semua pikiran, emosi dan rasaku. Walau terkadang cowok itu benar-benar menakutkan dan suasana hatinya tak tertebak.


Berbicara tentang Nahyan, aku masih sulit menebak sikap cowok itu. Meski sebagian besar aku sudah mengerti cowok itu. Disisi lain, Nahyan dengan mudahnya tertawa ataupun tersenyum. Ah, dia juga terkadang bersikap sangat lembut. Namun, Nahyan juga tidak jarang bersikap kasar, tapi aku lega dia tidak akan memukul perempuan. 😋


Nahyan itu tipe manusia yang berubah-ubah layaknya bunglon. Bukan kulitnya, namun sikapnya yang berubah-ubah.


Cowok itu bisa sangat jahil seperti saat dia menakutiku dengan kucing. Demi apapun, aku takut dengan harimau. Lho, kok? Heran? Iya aku juga sama.


Wajar saja orang takut dengan harimau. Tapi, aku punya ingatan yang samar tentang masa kecilku yang hampir diterkam harimau saat pergi ke kebun binatang bersama keluarga.


Mungkin sejak itu aku takut dengan harimau dan spesiesnya. Tak terkecuali kucing yang sebelas duabelas dengan harimau. Meski jelas itu berbeda ukuran.


Saat ini aku berada di apartemen Nahyan. Hanya ada aku, Nahyan, dan sejumlah buku-buku yang menumpuk. Aku tidak tau fungsi dari tumpukan buku itu, tapi yang jelas itu bukan untukku baca.


Dekat dengan Nahyan membuatku mempunyai rutinitas baru. Setiap akan menghadapi penilaian harian, Nahyan akan dengan senang hati menyiksaku dengan belajar bersamanya.


"Ck, lo be-go ya?!" kata Nahyan setengah membentak.


Aku mengerucutkan bibirku saat cowok itu dengan seenak jidatnya memakiku.


"Ya ini juga lagi usaha!" Aku menjawab dengan dongkol.


Kuakui, aku kurang dihitung-hitungan. Namun, aku kuat dihafalan. Tapi ajaibnya, aku malah masuk jurusan IPA.


"Udah gue bilang, jangan nulis langsung kayak gitu! Biar gak bingung, tulis rumusnya dulu," ajar Nahyan yang geregetan.


"Iya-iya. Bawel," gerutuku sambil menulis rumus matematika dibuku milikku, lalu mengerjakan soal-soal yang cowok itu berikan.


"Hasilnya sin sama dengan 1/3 akar 3, bukan?" tanyaku setelah menyelesaikan soal yang cukup mudah bagi otakku yang hanya memiliki kapasitas kecil ini.


Nahyan melihat soal yang aku kerjakan sekilas.


"Hm. Lanjut soal berikutnya," jawab Nahyan hanya dalam beberapa detik.


Huh, anak jenius mah beda.


Aku kembali mengerjakan soal-soal matematika, sementara Nahyan berkutat dengan game tetris di ponselnya.


Aku menghela napas berat saat otakku dirasa akan meledak hanya karena membaca soal matematika.


Karena frustrasi, aku memilih menidurkan kepalaku di atas meja dan memperhatikan Nahyan yang ketampanannya bertambah begitu dia memakai kacamata seperti saat ini.


Bukan karena cowok itu rabun, tapi katanya supaya terlihat lebih serius saja. Gila memang.

__ADS_1


"Gak ada soal di muka gue, Na," sindir Nahyan tanpa melihat ke arahku.


Aku berdecak sebal, lalu mengangkat kepalaku.


"Gue paleng. Otak gue udah gak sanggup," ucapku yang merasa sakit kepala.


Nahyan menaruh ponselnya sambil menghela napas. "Yang mana?" tanyanya dengan suara yang lembut.


"Ini. Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan titik M adalah titik tengah rusuk CG. Irisan bidang yang melalu titik M, D dan F adalah...." Aku membacakan tulisan yang tertera di nomor 27.


Nahyan menjitak kepalaku. "Ini mudah, Anna. Pelajaran anak SD ini," ucapnya sambil melirik sinis diriku.


"Otak gue down karena dari tadi dibilang be-go mulu," jawabku.


"Salah lo soal gini aja gak bisa."


"Hellooooo... jangan samakan gue dengan lo yang otaknya otak komputer.."


"Salah lo gak mau belajar!"


"Terus, yang gue lakuin saat ini namanya pa kalau bukan belajar? Ngebolang?"


Nahyan menatap datar ke arahku.


"Kerjain lagi!"


"Nahyan yang ganteng, yang cool, yang terbaek... lo belum jawab pertanyaan gue tadi!"


"Segiempat," ucap Nahyan dengan cepat sambil mengambil alih pensil ditanganku dan menggambar sebuah kubus di kertas.


Nahyan terlihat menahan diri agar tidak menelanku hidup-hidup. Sebenarnya lucu juga melihat Nahyan yang seperti ini.


"Dari soalnya Anna, dari soal. Makanya, dibaca yang bener! Hadeh, otak lo itu kayaknya memang cuma sebesar biji kedelai."


Aku mencibir Nahyan. "Nah, terus ini kenapa jadi segitiga? Bukannya kata lo segiempat?"


"Gue jelasin dulu!" kata Nahyan yang merasa kesal.


Aku menahan agar tidak tertawa dengan reaksi Nahyan yang lucu. Selain aku yang tidak mengerti, banyak bertanya begini adalah salah satu cara membuat Nahyan kesal. Sekali-kali bolehlah Nahyan yang aku buat kesal.


"Karena titik D ada di rusuk yang bersebrangan dengan titik F, maka titik M berseberangan dengan titik lain di rusuk AE. Misal nih, titik N adalah titik tengah rusuk AE," jelas Nahyan sambil menggambar kubus baru.


"Hooh, terus?" jawabku sambil memperhatikan tangan Nahyan yang menggambar.


"Makanya, bidang yang terbentuk itu adalah segiempat NDFM seperti gambar yang kedua ini. Dan bukannya segitiga seperti digambar yang pertama," sambung Nahyan.


Aku berdecak sebal. "Apaan, anak SD mana bisa ngerjain beginian!"


"Waktu SD gue bisa ngerjain ini."


Rasanya aku ingin menangis berdebat dengan Nahyan. Ujung-ujungnya pasti selalu aku yang kalah.


"Dahlah, lanjut besok aja!" kataku yang putus asa sambil menidurkan kepalaku di meja.


Nahyan tertawa kecil lewat hidungnya. "Yaudah, lanjut besok aja. Hari ini selesai sampai di sini," kata Nahyan sambil mengelus puncak kepalaku.

__ADS_1


"Yan," panggilku saat Nahyan membuka tetris di ponselnya.


"Apa?" tanya Nahyan.


"Lapeer...." rengekku dengan wajah yang memelas.


"Mau gopuud apa?" tanya Nahyan.


Aku menggelengkan kepalaku. "Gak mau! Gue lagi mau masak mie!"


Dengan satu gerakan, Nahyan menyentil dahiku.


"Aw!" ringisku sambil memegangi dahi yang baru saja cowok itu sentil.


"Sakiit...." kataku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kita ke rumah gue aja."


"Hah?"


"Nyokap gue pasti udah nyiapin makan siang."


"Hah?"


Nahyan tersenyum tipis, lalu mengelus puncak kepala Anna lagi. "Lo beresin semua ini. Gue tunggu di bawah."


"Haaaah?" Aku memandangi punggung Nahyan yang berjalan menjauh.


Ke rumah Nahyan? Yang benar saja! Aku tidak pernah membayangkan benar-benar akan ke rumah Nahyan yang sebenarnya, tempat kediaman keluarga Rabusy. Apalagi sampai makan siang bersama keluarganya.


Oh My... mimpi apa gue semalem?!


Ditengah lamunanku, tiba-tiba saja ponselku berdering. Ternyata adalah telepon dari Nahyan.


"Cepetan!" ucap Nahyan dari setelah aku mengangkat telepon darinya.


"Se--" Cowok itu memutuskan sambungan telepon dan tidak membiarkanku menjawab.


Segera aku merapikan semua kertas-kertas dan buku-buku yang terserak di atas meja, lalu menyusul Nahyan ke bawah.


"Mati gue!"


°°°


Tbc


⚠Budayakan LIKE dan KOMEN sehabis baca ya ⚠


Meninggalkan JEJAK itu penting, menandakan kamu bukan HANTU ❤


BTW, aku takut sama HANTU :v


Salam hangat,


Juecy.bell

__ADS_1


01 Okt 2020


__ADS_2