
Anna menuruni tangga rumahnya. Beberapa hari ini dia sangat berhemat. Sanking hematnya, dia hanya memakan satu buah mie dalam sehari. Syukur-syukur kalau Nahyan membelikannya makanan, namun semenjak Nahyan masuk rumah sakit dia tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Mungkin memang terdengar seperti Anna memanfaatkan uang Nahyan untuk kebutuhan perutnya, tapi sebenarnya dia tidak bermaksud begitu. Anna hanya... yah, dia benar-benar tulus berpacaran dengan Nahyan. Tapi, urusan perut beda lagi dengan urusannya ketulusan.
Anna celingak-celinguk.
Dia benar-benar benci jika harus memakan makanan dari rumah ini. Namun, sekarang dia sedang terdesak. Urusan benci jadi urusan paling belakang. Yang terpenting, perutnya harus kenyang.
Setelah keuangan keluarga 'Abimanyu' Dewi yang pegang, Anna tidak mendapatkan kiriman uang lagi. Jelas ini berpengaruh pada biaya dari kebutuhan hidup Anna yang selama ini menggunakan uang kiriman tersebut. Dan saat ini, uang yang dia miliki semakin hari semakin menipis. Mau tak mau, Anna harus bekerja sambilan. Tapi, adakah yang mau menerima pelajar sepertinya?
Ting!
Anna melihat layar ponselnya. Dia melotot begitu melihat sebaris kalimat yang terpampang jelas di ponselnya.
+62 777-xxxx-xxxx : Gue di depan rumah lo nih
siapa nih?
Ting!
Sedetik kemudian, sebuah pesan kembali masuk yang berasal dari nomor yang sama.
+62 777-xxxx-xxxx : Ini Galen kalau lo lupa 😶
Anna menggigit bibir bawahnya. Semenjak mengetahui perasaan Galen kepadanya yang lebih dari sekadar 'teman', dia merasa sedikit tidak nyaman saat berada bersama cowok itu. Terlebih lagi statusnya sebagai jomblo sejak lahir kini sudah berganti menjadi berpacaran.
Anna berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamarnya, Anna menepikan jalannya dan mengintip dari balik gorden. Dan benarnya saja, di luar pagar rumahnya ada Galen yang sedang duduk di atas motornya yang terparkir di pinggir jalan.
📞 Galendra is calling...
Tak!
Ponsel Anna terjatuh begitu muncul sebuah panggilan yang berasal dari Galen. Dengan berat hati, Anna mengangkat telepon tersebut.
"Halo?" sapa Anna.
"Halo, Na. Lagi ngapain? Sibuk gak?" tanyanya dari seberang sana.
"Gak lagi ngapa-ngapain. Kenapa?"
"Gue pernah bilang kan gue punya band?"
"Iya, pernah...."
"Malem ini band gue mau live music di Ex-Caffe. Lo mau ikut? Sekalian malem Sabtuan," ajaknya yang terdengar grogi.
Anna berpikir. Kalau dia di sana, ngapain? Nontonin orang lain makan? Kalau begitu jadinya Anna kasian pada perutnya yang sekarang tengah konser tunggal.
"Ngapain?" tanya Anna yang sebenarnya ingin menolak.
Terdengar Galen yang menghela napas.
"Sebenernya, gue pengen nunjukin sisi keren gue," gumamnya yang terdengar jelas di telinga Anna karena mereka sedang teleponan.
Kalau saja status Anna jomblo, pastinya dia akan langsung klepek-klepek dengan tingkah imut Galen. Tapi berhubung Anna sudah punya pawang alias sudah sold out, dan pawangnya merupakan pawang yang galak dan cemburuan, dia tau diri saja. Toh, dia tidak sebagus itu kalau mau berpaling.
"Gue mau ajak lo keluar. Itu aja sih," katanya.
Anna bimbang. Kalau dia menolak, kasihan Galen yang sudah berada di depan rumahnya. Tapi, kalau dia terima bisa panjang urusannya kalau dia ketahuan oleh Nahyan.
"Eumh... tapi gue gak bisa lama-lama," jawab Anna pelan. Pada akhirnya, dia memilih menerima ajakan Galen.
"Iya, Na. Sebentar aja gak apa." Bisa Anna tangkap dari nada suara Galen kalau cowok itu merasa senang.
"Oke, tunggu gue ganti baju dulu."
"Siapp, Queen."
"Queen?" tanya Anna. Namanya bukan Queen. Apakah Galen salah menyebutkan nama?
"Queen di hati gue," jawabnya kalem dan terdengar serius.
"Ha. Hahahah...." Anna tertawa canggung. "Bisa aja lo. Yaudah gue mau ganti baju dulu. Bye," ucap Anna yang lamgsung memutuskan sambungan telepon.
Sedangkan Galen, cowok itu tersenyum tipis sambil menatap layar ponselnya.
__ADS_1
"Gue harap ada celah di hati lo," lirihnya pelan sambil menatap wallpaper ponselnya. Itu adalah foto Anna yang sedang tersenyum lebar yang dia ambil secara diam-diam.
...***...
"Lo sebagai apa?" tanya Anna pada Galen yang baru saja duduk di sampingnya.
"Drummer," jawab Galen seadanya.
Anna mengangguk mengerti.
"Oh ya? Gue pernah nyoba main drum tau. Susah banget. Terus otak gue tiba-tiba lockdown pas nyoba double pedal, mana tangan kanan kiri juga perlu gerak kan," cerita Anna samvik mengingat saat dia duduk di bangku SMP.
Saat SMP dia punya dua eskul yaitu, atletik dan musik. Tentunya, saat ada pentas seni eskulnya menampilkan live musik. Anna sempat memepelajari alat musik drum, hanya saja dia berhenti di tengah jalan karena kesulitan. Akhirnya, saat band dibentuk Anna dipilih menjadi vokalis. Padahal, vokalis seharusnya dipilih dari anak eskul vokal.
"Beneran?" Galen terlihat tertarik.
"Hooh. Pas SMP gue kan eskul musik tuh. Gue bisa digitar, tapi kan karena gue mau mencoba hal yang baru, gue cobalah belajar jadi drummer. Cuma ya itu, susah di double pedal sama ngikutin tempo lagunya. Jadi gue nyerah," katanya.
"Emang susah kalau awal-awal. Omong-omong, lo SMP mana emang?"
"SMP Tirtara."
"Oh lo SMP swasta ya.... Gue dulu sering sih ke Tirtara kalau lagi ngadain pensi. Pernah liat lo juga di atas panggung. Jadi vokalis kan?"
Anna melebarkan matanya, "Lo pernah liat gue manggung? Ih malu banget gue. Eh, lo tau gak seharusnya kan yang jadi vokalis itu dari eskul vokal, tapi karena ya... anak-anak vokal masih banyak yang suara sama musiknya kejer-kejeran, guru yang seleksi ngambil jalur aman. Karena gue pernah tuh kan tampil sekali pas lomba nyanyi antar kelas di acara 17an dan menang, jadinya gue yang dipilih. Dan parahnya lagi, gue dijulitin dong sama anak vokalnya."
"Eskul kalian emang dibedain latihannya anak vokal sama musik atau cuma karena lagi mau tampil?"
"Gak, emang dibedain eskulnya. Katanya sih supaya lebih fokus aja belajarnya. Cuma kalau ada acara-acara ya pasti anak vokal sama anak musik selalu gabung."
Galen mengangguk mengerti. "Lo--"
"Len, si Via belum dateng-dateng, nih. Nomornya gak aktif juga. Jam 8 kita harus udah mulai live musik," ujar Kabara si pemegang bass yang menyela ditengah-tengah obrolan.
"Serius? Kok gak ada kabar sih? Gue udah susah payah minta manggung di sini loh?" kata Galen yang merasa kesal.
"Makanya itu... Ini si Devan mau nyusulin Via ke rumahnya," jawab Kabara.
"Devan tau alamat rumahnya?"
"Enggak. Ini gue disuruh nanyain ke lo."
"Terus sekarang kita--"
"Kalau mau gue bisa gantiin sementara," sela Anna sambil tersenyum.
Galen dan Kabara menatap Anna. "Bisa nyanyi?" tanya Kabara.
"Bisa...," jawabnya seraya mengangguk.
"Oke. Ikut gue ke belakang panggung. Kita tes vokal dulu," katanya.
Anna menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dari kursinya. "Ngerepotin ga, Na?" tanya Galen.
"Gak kok. Gue seneng bisa bantu,"
Galen tersenyum tipis, "Makasih ya Na."
"Nanti aja makasihnya. Pas udah selesai manggung," Anna balas tersenyum. Yah, dia sudah ditraktir Galen makan, tak ada salahnya dia sesekali membantu.
...***...
Anna meminum segelas air putih yang disediakan. Sudah lama dia tidak bernyanyi sebanyak ini. Rasanya benar-benar menyenangkan. Dia juga jadi lupa pada masalah-masalah yang dia punya. Apalagi, para pengunjung caffe terlihat menikmati suaranya, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.
"Mbak," bersamaan dengan panggilan itu, Anna menoleh ke belakang.
"Ah iya, Kak?" ramah Anna sambil tersenyum.
"Saya mau request lagu Cinta Pertama bisa?" tanya gadis cantik dengan rambut sebahu. Anna takjub dengan tinggi gadis itu, benar-benar bak model. Berbeda dengan Anna yang cebol. Upss!
Anna memicingkan matanya, "Cinta Pertama dari Bunga Citra Lestari atau dari Gamma?" tanya Anna.
Gadis cantik itu menggeleng. "Bukan, Mba! Itu lho... yang penyanyinya Isyana." Gadis itu terlihat bingung bagaimana caranya menjelaskan.
"Oh, yang iklan korneto?"
Gadis itu mengangguk senang begitu Anna menjawab dengan tepat.
"Sebentar, saya tanya sama yang lain dulu yah? Takutnya mereka gak bisa ngiringin," ujar Anna yang langsung dijawab anggukan antusias. Setelah itu, Anna mendekati anak Band Aileen dan kembali beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Bisa, Mbak."
Gadis itu tersenyum lebar. "Makasih ya, Mbak!"
Gadis itu kembali ke tempat duduknya, lalu memperhatikan Anna dan anggota band Aileen yang sedang bersiap-siap.
"Selamat malam semua."
'Malam'
Semua pengunjung menyempatkan menjawab sapaan Anna ditengah-tengah acara nongkrong mereka.
"Aileen mau bawain lagu Cinta Pertama dari Isyana Sarasvati yang merupakan requestan dari gadis cantik yang duduk di sana. Semoga kalian semua suka."
Sebenarnya Anna menyukai lagu ini karena mendengarnya dari iklan di TV. Iringan musik pun terdengar. Setelah masuk ke lirik, Anna mulai bernyanyi.
"Aku tahu, saat ku menatapmu tapi aku masih ragu," Anna tersenyum saat mengawali nyanyiannya.
Entah mengapa, pertemuan pertamanya dengan Nahyan terlintas di pikirannya begitu saja. Sebenarnya, Anna terpesona saat pertama kali bertemu dengan Nahyan. Hanya saja, karena suasananya yang tidak pas dia malah bersikap judes dan rese. Terlebih lagi, sikap Nahyan yang galak dan menakutkan. Lucu juga kalau diingat-ingat.
"Malu aku, namun hatiku tak mampu menahan rasa itu. Oh, berdebar hatiku...." Anna memegang dadanya yang berdebar seiring dengan nyanyian.
Entah mengapa dia jadi merindukan Nahyan. Menyesal sudah dia hari ini tidak datang menjenguk cowok menyebalkan itu. Tapi, kira-kira Nahyan mencak-mencak tidak ya saat bertemu dnegannya karena hari ini tidak datang menjenguk? Anna benar-benar menunggu saat itu.
"Kini aku tahu rasanya orang jatuh cinta
Seperti terbang ke angkasa
Suasana hatiku pun menjadi berbunga-bunga
Inikah cinta pertama?"
"Rasa itu, rasa itu semakin membuat yakin padamu."
Di sisi lain dari panggung live musik yang meriah, seseorang sedari tadi memperhatikan Anna.
Orang itu tersenyum miring. "Dapet bahan," gumamnya sambil mengambil foto Anna yang tengah bernyanyi dengan senyum lebar.
Dia melihat hasil tangkapan gambarnya. Di sini, dia memfokuskan gambar pada Anna, dan Galen yang sedang memainkan drum.
"Kira-kira apa yang terjadi kalau foto ini gue kirim ke Nahyan?" katanya sambil menyeringai.
...***...
Galen melepas helm teropong yang dipakainya. "Makasih ya, Na," katanya.
"Makasih buat apa? Seharusnya kan gue yang berterima kasih. Di ajak malem Sabtuan, terus ditraktir segala." Anna heran.
"Makasih udah gantiin Via tadi," katanya yang sangat berterima kasih pada Anna. "kalau gak, malu gue sama owner caffenya."
Anna tersenyum samar, "Santuylah. Toh tadi gue menikmati kok!"
Sebenarnya, Anna tidak terlalu lama menggantikan Via. Ketika dia sudah menyanyikan total tiga lagu, Via datang. Alasan keterlambatannya karena sempat menyerempet anak kecil saat di jalan, dan dia tidak bisa dihubungi karena baterai ponselnya habis.
Galen menganggukkan kepalanya. "Yaudah, gue balik ke caffe lagi ya?"
"Lho? Ngapain?"
"Manggung sampe jam 11 gue. Tadi gue minta break bentar buat nganter lo pulang," jawabnya.
"Njiir... tau gitu gue naik taksi aja."
Galen menggelengkan kepalanya. "Gak! Gue yang jemput lo, gue juga yang nganter lo pulang."
Anna mengulum bibirnya. "Okelah. Yaudah sana,"
"Ngusir?"
"Ih enggakk.... Kan tadi katanya mau balik lagi ke caffe."
Galen tertawa kecil. "Yowes. Selamat malam," kata Galen sebelum memakai helm teropongnya kembali.
"Daah!" Anna melambaikan tangannya pada Galen yang melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Anna masuk ke halaman rumahnya sambil bersenandung. "Coba aja ya Nahyan yang ngajak gue. Pastinya gue lebih seneng lagi," gumamnya.
°°°
Bersambung...
__ADS_1