Nahyanna

Nahyanna
BAB 19


__ADS_3

⚠KOMEN WOY!! KOMEN!⚠


🌟Enthusiasm chapter 19🌟


Happy reading, Guys!


Anna terbangun dari tidurnya.


Jika mengingat kejadian semalam, rasanya Anna tidak ingin sekolah saja. Segala hal dihidupnya hampir semuanya berantakan.


Kemarin, Anna pulang dengan baju yang basah kuyup. Untungnya, keluarga Pamannya sedang pergi keluar menemui client yang katanya penting.


Anna kembali ke rumah tanpa membilas tubuhnya, hanya sekadar mengganti baju lalu rebahan di kasur empuknya.


Anna mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


"Udah jam delapan," gumam Anna. "lanjut tiduuuur."


Anna menaruh ponselnya di tempat semula, lalu membenarkan posisi tidurnya dan langsung terbang ke alam mimpi.


****


"Kenapa lo?" tanya Fabian yang sedang bermain game di ponselnya.


Nahyan yang merasa diajak bicara menoleh.


"Kayaknya, dia sakit hati."


Biasanya, Nahyan tidak akan langsung menjawab pertanyaan dari orang lain. Namun, saat ini berbeda, cowok itu malah menjawab dengan raut wajah datar yang bercampur gelisah.


Suga yang sedari tadi menyimak, menyeringai lebar.


"Kemaren lo keterlaluan, Yan," celetuk Suga sambil mengotak-asyik laptop yang berada di atas meja.


Nahyan terlihat merenung.


"Gue saranin sih lo minta maaf," saran Fabian.


"Caranya?" tanya Nahyan.


"Gak tau. Gue gak bakat," jawab Fabian yang langsung mendapat delikkan tajam dari Nahyan. "tanya sama Suga, tuh. Kan, dia yang ahli beginian."


Suga terkekeh pelan.


"Ngapain bingung? Anna itu kan cewek tinggal kasih aja bunga," ujar Suga.


"Anna itu beda," ucap Nahyan. "yakin dia maafin gue kalo dikasih bunga?"


"Coba aja dulu siapa tau luluh," jawab Suga sambil menyeringai.


Nahyan memicingkan matanya. Suga itu merupakan orang yang menyebalkan dan tukang kibul. Sudah banyak yang menjadi korbannya, terlebih lagi cewek-cewek.


Dasar playboy, batin Nahyan sambil beranjak berdiri.


"Mau kemana?" tanya Fabian sambil menaruh ponselnya di atas meja.


"Kelas Anna," jawab Nahyan singkat.


"Kata Deana hari ini dia gak masuk," ucap Fabian.


Nahyan terdiam. "Tinggal ke rumahnya," jawab Nahyan dengan cuek.


"Emang lo tau alamat rumahnya?" ejek Suga, lagi-lagi dengan seringaiannya.


Melihat Nahyan yang diam seribu bahasa, Suga menambahkan, "Lo kan cuma mentingin diri lo sendiri. Bahkan, rumah babu tersayang lo aja gak tau."


"Bacot aja sih kerja lo," hardik Nahyan yang merasa kesal.


Tapi, walaupun begitu, Suga ada benarnya juga. Selama ini, Nahyan tidak pernah tau tempat tinggal gadis itu. Bahkan sekadar mencari tau saja tidak pernah.


"Tinggal nyuruh orang buat lacak Anna, apa susahnya?" elak Nahyan.


Suga tertawa terbahak-bahak, meski sebenarnya tidak ada yang lucu.


"Nih, khusus buat lo," kata Suga sambil memutar laptopnya agar Nahyan bisa melihat hasil kerjanya.


"Agak susah ngelacak Anna," ujar suga dengan senyum bisnisnya.


"Lo mau apa?" tanya Nahyan yang sudah tau isi pikiran Suga.


"Gak banyak," jawab Suga masih dengan senyumnya. "cuma purcash semua akun game gue dan beliin gue komputer gaming termahal."

__ADS_1


"Oke," jawab Nahyan.


***


10.19 AM


"Bangun, Anna Abimanyu!" teriak Dewi pada Anna yang tidurnya seperti badak.


"Heh, bangun!" ujar Dewi sambil mendorong-dorong tubuh Anna.


Dewi memegangi kepalanya, lalu menumpahkan segelas air tepat di wajah gadis yang sedang bobo cantik.


Anna reflek terbangun. "Banjir!" pekik Anna.


Gadis itu menoleh ke samping, lebih tepatnya ke arah seorang wanita paruh baya yang sedang berkacak pinggang.


"Bagus, ya? Kamu udah berapa kali bolos sekolah?" tanya Dewi dengan mata yang memelotot.


Anna mengalihkan tatapannya.


"Kamu dibiayain sekolah malah males-malesan. Kenapa gak berhenti aja sekolahnya, hah?" kata Dewi.


Anna mengerutkan dahinya.


Terkadang, Dewi dan anaknya Ami membuat Anna bingung dengan sikap mereka yang seakan-akan peduli.


Mungkin orang lain yang mendengar kata-kata Dewi ini adalah kata-kata yang menyakitkan.


Tapi, bagi Anna yang beberapa tahun ini sudah tinggal bersama dengan mereka, ini bukanlah kata-kata yang akan di ucapkan pada seseornag yang dibenci. Seharusnya begitu.


"Mending kamu pinter, tapi apa nilai kamu aja anjlok semua."


Anna bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan tertatih menuju pintu kamarnya.


"Silakan keluar," kata Anna dengan raut wajah datar setelah membuka pintu lebar-lebar.


"Tidak tau diuntung!" maki Dewi lalu pergi keluar dari kamar Anna.


Anna menghela napas lega sesaat setelah dia menutup pintu.


Anna duduk di kursi dekat meja belajarnya setelah mengambil ponselnya.


Hari ini tidak ada satupun notifikasi dari Bule Sawah alias Nahyan. Tentu saja itu dikarenakan Anna yang memblokir semua kontak Nahyan.


Terlihat tumpukan surat-surat yang sudah tidak terhitung oleh tangan. Setiap hari, selalu ada yang mengiriminya surat. Bahkan, dihari-hari liburpun dia tetap dapat.


For someone,


Anna tersenyum tipis.


Semua surat yang dikirim selalu dengan kata-kata yang sama.


Anna menaruh kembali surat itu ke dalam laci meja.


"Sekarang, apa yang harus gue lakuin?" tanya Anna pada dirinya sendiri.


Anna berbaring di bagian tempat tidurnya yang tidak basah.


"Mandi? Mager gue." Anna memperhatikan langit-langit kamarnya.


Ting!


Anna membuka ponselnya saat mendapat notifikasi chat.


Galendra : Na?


Galendra : Gue kok jarang liat lo di sklh?


Anna tersenyum.


Galen itu orang yang baik, ramah juga ke semua orang, dan dia juga pintar. Dengar-dengar, dia selalu ranking 2 seangkatan. Tapi, yang paling penting dari semua itu adalah ... dia COGAN!


Anna : Hehehe


Anna : Iya nih


Anna : Salahin penyakit yew


Gelendra : Cepet sembuh ya Na 😘


Retina mata Anna membesar saat melihat Emoticon yang dikirim oleh Galen.

__ADS_1


"Aaaaaaaaah!" teriak Anna yang merasa kegirangan.


Kapan lagi coba dikirim emot cium dari cowok ganteng?


Jari-jari Anna menari-nari di ponselnya, hendak membalas chat dari Galen.


Senyum Anna luntur saat layar ponselnya tiba-tiba saja menggelap.


"Yah, yah ... matiii!" ujar Anna yang membanting ponselnya di atas tempat tidur.


"Elah. Gak tau apa ya gue lagi chatan sama cowok ganteng," gerutu Anna.


"Mending gue sikat gigi."


***


Cling!


Sebuah lonceng berbunyi saat pintu terbuka. Nahyan memutuskan memasuki toko bunga setelah beberapa menit dia hanya bolak-balik di depan toko.


"Selamat datang di toko kami," ucap sang pemilik toko bunga dengan senyum manis. "Ada yang bisa dibantu?"


Nahyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mau beli bunga," jawab Nahyan.


"Iya, Mas-nya cari bunga apa?" tanya perempuan bername tag Auli.


Nahyan mengerjapkan matanya.


Jujur, dia baru pertama kali menginjakkan kaki di toko bunga seperti ini. Biasanya, kalau ingin membeli bunga Nahyan akan menyuruh orang lain.


Seperti mengerti Nahyan yang kebingung, penjaga toko bernama Auli itu membuka suara, "Kalau yang pakai bunga ini dicampur sama yang ini, harganya kisaran Rp100.000,00 keatas."


"Atau kalau Masnya mau yang lebih simpel seperti bunga kering, harganya-"


Nahyan yang kebingungan akhirnya memotong perkataan Mbak Auli.


"Terserah, Mbak!" jawab Nahyan yang sudah tidak sanggup mendengar penjelasan pasal harga bunga. "Saya beli bunga yang paling mahal, dan best seller."


"Oh iya, kasih surat ya Mba. Isinya saya yang tulis sendiri."


Mbak Auli menganggukkan kepalanya, pertanda ia mengerti.


"Ditunggu ya, Mas," ujar Mbak Auli lalu mengerjakan bungan pesanan Nahyan.


Nahyan menatap layar ponselnya sambil menghela napas.


"Masih aja diblokir," gumam Nahyan.


***


Nahyan memandangi bucket bunga yang berada di samping jok pengemudi.


Sudah satu jam lamanya Nahyan hanya berada di dalam mobil. Padahal, dia sudah berada di depan rumah Anna.


"Rumahnya gede, tapi kenapa bayar nasi goreng aja gak sanggup?" gumam Nahyan yang merasa heran.


Nahyan menghela napas berat, lalu menempelkan kepalanya di setir mobil.


"Sekarang, gimana caranya minta maaf?" pikir Nahyan sambil menatap ke depan.


Nahyan berdecak sebal, lalu melepas sealtbelt yang menguncinya. Cowok itu keluar dari mobilnya, tak lupa dengan buket bunga yang dia bawa.


Nahyan menggaruk tengkuknya saat tidak ada satpam yang seharusnya membukakan pintu pagar.


Dua puluh lima menit sudah Nahyan habiskan hanya berjalan bolak-balik di depan pagar sambil merangkai kata-kata.


"Ngapain lo di sini?!"


°°°


Tbc


MAU NEXT?


LIKE DAN KOMENNYA dulu YAAAAA😁❤🌷


Salam hangat,


Juecy.bell

__ADS_1


15 September 2020


__ADS_2