
Halo Anak-Anakku!
Budayakan LIKE Dan KOMEN ya di akhir chapter 😊
🌟Enthusiasm chapter 24🌟
Happy reading!
Materi Hari ini: Praktek bernyanyi
Itulah yang tertulis saat ini di papan tulis kelas 12 A-4.
"Seperti biasa bagus sekali, Faza." ucap Pak Edo sambil menulis sesuatu di kertas yang dijepit di papan penjepit.
Pak Edo membenarkan letak kacamatanya.
"Selanjutnya, Anna." Yang tadinya ekspresinya bersahabat, saat memanggil nama Anna ekspresi wajahnya terlihat datar tidak bersahabat. Sungguh perubahan ekspresi yang ajaib.
Anna berdiri dari kursinya berjalan ke depan sambil membawa gitar kesayangannya.
"Anna! Semangat!" kata Deana yang menyemangati saat Anna duduk di sebuah kursi di depan sambil mancoba gitarnya.
"Silakan dimulai," ucap Pak Edo tanpa melihat Anna.
"Hmm... Pak, lagunya bebaskan?" tanya Anna hati-hati yang dibalas sebuah anggukan dari Pak Edo, sang guru kesenian.
Anna menghela napas lega.
Untung aja bukan lagu nasional kalo sampe lagu nasional mati kutu dah, batin Anna senang.
Anna mulai memetik gitarnya, dan mulai bernyanyi.
Apa yang kau pikirkan
Saat aku ucapkan
Kubutuh kesunyian?
Mampukah kau akui
Dirimu yang sejati
Yang selalu mengerti?
Bukan sebuah hiburan
Di tengah keramaian yang kubutuhkan
Mampukah kau tenangkan
Diriku yang dilanda kegelisahan?
'Ku ini penyendiri
Yang tak butuh keramaian
Yang kubutuh satu teman
Tempat berbagi cerita
Kau selalu tanyakan
Apa yang bisa membuat aku tenang?
Mungkin hanya senyuman
Mungkin hanya genggaman yang kubutuhkan
'Ku ini penyendiri
Yang tak butuh keramaian
Yang kubutuh satu teman
Tempat berbagi cerita
Nadya Fatira - Penyendiri
Masih dengan wajah datarnya, Pak Edo terlihat sedang menulis sesuatu di kertas penilaian itu.
"Silakan duduk kembali," kata pak Edo yang sama sekali berbeda dengan sikapnya terhadap orang lain selain dirinya.
Sialan! Cuma itu reaksinya?! Huh, bener-bener deh gak abis pikir sama tuh guru. Setiap giliran gue reaksinya kayak gitu terus, batin Anna yang merasa dongkol.
"Pasti Pak Edo punya dendam kesumat sama gue karena selamat dari razia waktu itu," gumam Anna.
Anna berdecak sebal pada guru yang satu ini, lalu kembali menuju kursinya.
"Selanjutnya, Zidan Alasca ."
GEDUBRAK!!
__ADS_1
Terdengar suara yang begitu keras. Semua mata tertuju pada yang menghasilkan sumber suara.
"Uuh...." ringis Zidan sambil memegangi bagian belakang kepalanya.
Pak Edo menghela napasnya, lalu berjalan mendekati Zidan.
"Kamu ini ya... kebiasaan!" Pak Edo menarik kuat telinga Zidan.
"Aduh, Pak! ini kuping, bukan makanan! Main cuil-cuil aja," kata Zidan sambil meringis kesakitan.
Anna menggelengkan kepalanya. "Dasar slengekan!" gumam Anna sambil menepuk jidatnya.
"Keluar kamu!!" usir Pak Edo.
Dengan entengnya, Zidan berjalan keluar kelas.
"Yes, gak perlu praktek!! Wuahahaha!" tawa Zidan seperti pemeran antagonis di film-film.
PLAK!!
Sebuah sepatu melayang mengenai kepala Zidan.
"Kata siapa gak perlu praktek?! Khusus kamu, praktek di tengah plaza sekolah istirahat nanti! Kalau tidak kamu lakukan, Bapak kasih merah di rapot kamu."
"Yah, Pak! Masa gitu...." protes Zidan yang merasa tidak terima. Bisa-bisa dia tidak lulu kalau nilainya ada yang merah.
"Protes kamu? Mau saya lempar sepatu lagi?" tanya pak Edo sambil mencopot sebelah sepatunya dan bersiap-siap melempar sepatunya lagi.
"Ampun Pak!" mohon Zidan sambil menyatukan kedua tangannya.
"Yasudah, keluar kamu! Eneg saya lihat wajah kamu."
***
09.45
Istirahat pertama...
"Tes, tes, tes. Satu, dua, tiga. Ya! Halo bersama saya Zidan Alasca," ucap Zidan yang berada di tengah plaza dengan microfont di tangannya.
"Cowok terganteng seantero sekolah." sambung Zidan yang disambut sorakan orang-orang yang membentuk suatu kerumunan.
"Hey, hey santai! Gye tau gue ganteng, jadi jangan lebay gitu ah!" kata Zidan begitu pede-nya membuat orang-oranh berdecak sebal.
Sayangnya, ucapan Zidan itu benar. Tampang Zidan memanglah tampan. Tapi, ada minusnya. Zidan itu orang yang sangat tengil, suka jahilin orang, dan pastinya orang yang dijahilin gak bisa marah ketika dia menunjukkan puppy eyes andalan miliknya. Untungnya, itu tidak berpengaruh pada Anna.
"Gue di sini, mau nyanyi buat kalian semua," ucap Zidan lalu mengisyaratkan untuk memberikan gitar listrik yang ia pinjam dari ruang musik.
"Oke. Speaker udah terpasang, dan terakhir kita adain Konser Cogan Dadakan!!" kata Zidan tanpa malu lalu disambut tepuk tangan oleh seantero sekolah.
"Kyaaa!! Zidan kereeen!!" teriak anak-anak cewek yang klepek-klepek terhadap Zidan.
Anna memandanng sekelilingnya.
Entah sejak kapan penontonnya jadi sebanyak ini. Tapi yang pasti, suara Zidan memang memikat orang-orang yang mendengarnya.
Zidan tersenyum manis kepada cewek-cewek itu sambil mengedipkan sebelah matanya yang langsung disambut teriakan histeris oleh mereka.
Astaga! Pamer banget dah ini anak, batin Anna sambil menarik pergelangan tangan Deana mengajaknya pergi dari sana.
Lebih baik pergi ke kantin. Anna yakin kantin sekarang sedang sepi jadi dia tidak perlu masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang kelaparan.
***
"Wuaah! Udah lama gue gak liat kantin sesepi ini," kata Deana sambil memilih tempat duduk yang menghadap langsung ke lapangan basket.
"He-eh. Syukur deh itu anak somplak konser colek dadakan."
"Colek? Apaan tuh? Btw, bukannya cogan?" tanya Deana.
"Cowok jelek. Ya kali Zidan ganteng, iyuhh banget cowok jelek pede selangit aja bangga," cibir Anna sambil membayangkan Zidan yang pede-nya aduhai. Sebelas, duabelas dengan Suga nyebelinnya.
"Tapi ya Na, Zidan itu ganteng. Denger-denger, valentine tahun kemaren loker dia penuh dengan cokelat."
"Bodo. Yang penting gue mau makan, lapeeeer," jawab Anna mengelus-elus perutnya lalu pergi ke tempat Mpok Diah untuk membayar hutang-nya beberapa hari yang lalu.
"Heloh mpok! Ini cewek paling cantekz dan imoetz seduniah mau bayar utang," kata Anna sambil menghampiri Mpok Diah yang sedang memasak nasi goreng.
"Ooh, si Eneng Kartu Pelajar?" tanya Mpok Diah sambil tersenyum penuh misteri.
Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal Sejak kapan namanya berubah menjadi 'Eneng Kartu Pelajar'?
"Udah di bayarin sama cogan," sambuny Mpok Diah.
Anna memasang tampang oon. "Hah? dibayarin cogan? Maksudnya?" tanya Anna seperti orang oon.
"Ish... si Eneng mah gak nyambung!" jawab Mpok Diah. "Itu loh, cogan yang hobinya suka marah-marah."
"Yang mana dah?" tanya Anna yang merasa heran.
"Yang punya kelainan jiwa, yang tempramentnya terganggu itu lho, Neng," jawab Mpok Diah.
__ADS_1
Anna mengerutkan dahinya. Dirinya malah tambah bingung.
Mpok Dia mendecak. "Yang itu orangnya," tambah Mpok Diah sambil menunjuk seorang cowok yang tengah bermain basket bersama dua temannya.
"Ooh... si Nahyan bangsul!" kata Anna.
"Yaudah kalo gitu saya beli nasgornya satu yang pedes, sama es teh manis dingin. Dianter ya," kata Anna sambil mengeluarkan uang sepuluh ribuan dan lima ribuan.
"Siap, Neng."
Anna langsung kembali menuju tempat Deana.
"Beli apa lo? Lama amat," tanya Deana sambil mengupas kacang kulit lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Nasgor. Eh, bekal yang gue titipin ke lo mana?" tanya Anna melihat ke atas meja
"Ini," tunjuk Deana sambil menunjukkan kotak bekal yang ternyata ada di pangkuannya, lalu menaruhnya di atas meja.
"Huft... gue kira hilang. Kalo enggak bisa ngomel tuh Gorilla," gerutu Anna.
Nahyan itu gila, spam telepon Anna tidak kira-kira. Dari jam 3 pagi cowok itu tak henti-hentinya meneleponnya hanya karena meminta dibuatkan bekal. Anna yang merasa kesal sungguh tidak dapat menolak karena takut cowok itu ngamuk-ngamuk dan memerintahnya ini-itu.
"Gorilla? Siapa?" tanya Deana sambil membuka roti isi keju susu.
"Ya siapa lagi kalo bukan si Nahyan?!" kata Anna sewot.
"Gue tuh kesel banget sama si Nahyan. Apa sih yang bagus dari dia? Cuma menang tampang doang aja bangga," cibir Anna mengeluarkan unek-uneknya.
"Anu... Na.. di—"
"Ntar dulu, gue belum selesai! Masa ya De, kemaren lusa gue udah ngutang untuk beliin dia nasgor. Eh, gak taunya...."
"Na, di belakang lo..." potong Deana dengan suara lirih.
"Dengerin dulu! Si gorilla itu gak mau makan itu nasgor, dengan alasan gue telat 5 menit! Gila kan?"
"Pengen gue bunuh rasanya." gumam Anna.
Seseorang menepuk pundak Anna.
"Udah ghibahnya?" tanya suara bariton yang terdengar familiar di telinga Anna.
"Eh, Nahyan. Aduh, baru aja lo gue omongin. Panjang umur lo. Beruntung gue punya atasan kayak lo. Udah ganteng, baik, gak nyebelin pengen gue cium rasanya." Anna sambil mengerlip-kerlipkan matanya genit pada Nahyan.
Deana menepuk jidatnya.
Nahyan duduk di samping Anna. Diikuti kedua anteknya Fabian yang di samping Shila, dan Suga di samping Fabian.
Mpok Diah datang dengan piring berisi nasi goreng dan segelas es teh manis.
"Bekal gue mana?" tanya Nahyan dengan wajah datar.
"Ini, ambil aja." jawab Anna sambil menggeser kotak bekal ke depan Nahyan.
"Kenapa kalian pada duduk di sini? Pindah sana!" usir Anna sambil mengibaskan tangannya di udara.
"Lo siapa? Bukan lo yang punya kursi kan. Jadi, kita-kita boleh-boleh aja duduk di sini." jawab Suga memojokkan Anna.
Skakmat!!
"Yaa... maksud gue, tempat kan masih banyak. Harus ya duduk di—"
Seseorang memasukkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Anna.
Anna menatap horror Nahyab yang sekarang berpura-pura sedang sibuk dengan ponselnya, masih dengan sendok yang di mulutnya.
"Nyebelin!" Maki Anna yang merasa sebal.
"Meoow..." Suara itu berasal dari bawah meja
Tubuh Anna langsung menegang saat sesuatu yang lembut bergeliut di kakinya.
Tanpa sadar mata Anna mulai berkaca-kaca, dan perlahan-lahan butiran-butiran bening jatuh ke pipi-nya. Semua orang menatapnya bingung.
"Lo kenapa, Na?" tanya Deana yang merasa bingung.
Anna hanya diam dengan air mata yang terus mengalir.
"Na? Kenapa?" Kali ini yang bersuara adalah orang yang berada di samping Anna, yang tak lain adalah Nahyan.
Anna menatap Nahyan dengan tampang memelas.
"Help me..." lirih Anna.
°°°
Tbc
LIKE, DAN KOMENNYA ya! Karena itu semua GRATIS, TIS, TIS. ❤
Salam hangat,
__ADS_1
Juecy.bell
26 Sept 2020