Nahyanna

Nahyanna
BAB 65


__ADS_3


...▪...


...▪...


...▪...


"Woi ini gak ada yang mau ngasih gue makan apa yak? Gopud gitu...," kata Yovi yang tengah menonton TV di sofa.


"Ha! Lu ke sini mau jenguk Nahyan apa numpang makan?" celetuk Fabian.


"Ke sini jenguk Nahyan, tapi utamanya numpang makan," jawab Yovi yang langsung mendapat sorakan dari teman-temannya yang lain.


Nahyan memutar bola matanya.


"Pesen aja. Nanti gue bayarin," ucap Nahyan sambil membenarkan letak bantalnya.


"Bukannya atm, debit, dan kartu kredit lo disita?" tanya Suga yang heran.


Nahyan menyeringai. "Lo pikir gue gak punya penghasilan sendiri apa?" katanya dengan nada meremehkan.


"Biasa aja nadanya, B4bi!" maki Suga.


"Berisik vangsat! Gue lagi ngegame ini! Gak bisa konsen gue!" teriak Samudra dengan wajah kesal.


"Ye... ngegame apa sih lu? Paling epep," sindir Suga.


"Dari pada lu main cewek mulu!" balas Samudra yang langsung mendapatkan sorakan heboh. Sedangkan Suga menggerutu kesal.


"WOOOO!!! SAVAGE!!" Epen menggoyang-goyangkan tubuh Samudra.


"Gue suka gaya lo!"


"AHAHHAH KENA MENTAL!"


"Diem, Njiing!" ujar Samudra yang merasa risih seraya menepis tangan Epen..


"ANJIM LO SEMUA!" teriak Suga.


"Cewek lo mana? Dari tadi siang gak dateng ke sini?" tanya Fabian sambil memainkan ponselnya.


"Gak tau. Gak ada kabar," jawab Nahyan.


"Aneh."


"Biarinlah. Lagian kalau dia sekarang di sini bakal makan hati gue," gerutu Nahyan.


Tau saja Anna itu tidak bisa melihat cowok tampak sedikit. Bawaannya genit mulu. Malah minta foto bareng dengan Anna yang merangkul tangan cowok itu, Nahyan yang notabene pacarnya saja hanya pernah foto sekali dengannya. Selebihnya, Nahyan hanya memfoto Anna secara diam-diam.


Fabian menyeringai, "Dasar bucin!"


Nahyan mengerutkan dahinya. "Gue gak bucin! Anna yang bucin sama gue!"


"Oh ya?" tanya Fabian yang dengan senyum mengejek. Terlihat jelas yang bucin di sini adalah Nahyan. Tapi, cowok itu tidak mau mengakuinya.


"Gak usah bacot!" Nahyan menekan kata-katanya.


"Siapa yang bacot? Gue cuma nanya."


"Lo sendiri? Bucin kan lo sama Deana?" Suga menyela, "Gue liat chat lo ngasih lope-lope. Terus bilang, gak perlu dandan juga lo udah can--"


"Vangsat! Diem Anj!"


Suga menyeringai. "Lo gak ada niatan bilang ke Deana? Kalau lu suka dia?"


Fabian melamun. Ya, benar. Dia sudah menyukai Deana. Sudah lama. Pertama kali mereka bertemu adalah saat MOS dulu. Deana yang selalu terlihat muram dan sendirian, tak sengaja membuat Fabian memperhatikannya. Awalnya dia hanya penasaran saja, tapi lama-kelamaan tanpa dia sadari, matanya selalu mencari-cari sosok Deana. Namun, Fabian tidak mempunyai keberanian untuk mendekati Deana, dan mengalami cinta bertepuk sebelah tangan hampir tiga tahun ini. Dan baru sekarang saat dia tau Deana menjadi teman dari Anna (gebetan sahabatnya) berani mendekati Deana.


"Percuma ganteng, tapi gak berani ungkapin perasaan!" sindir Suga.


"Berisik!"


Fabian melirik Nahyan yang sangat fokus menatap layar ponsel. Terlihat dari wajah cowok itu, kalau dia sedang menahan amarah.


"Berani-beraninya," desis Nahyan penuh kebencian.


"Kenapa lo?" tanya Suga.


"Maksud lo apa ngirim-ngirim kayak gini?" murka Nahyan pada Suga yang langsung membuat suasana menjadi hening.


"Maksud lo?" tanya Suga yang tidak mengerti.


Memangnya apa yang dia lakukan? Hanya duduk di kursi sambil meledek orang kan?


"Jelasin! Maksud lo apa ngirim foto ini?!" kata Nahyan sambil menunjukkan Anna yang tengah menyanyi, tak lupa Galen yang bermain drum di belakangnya.


Suga mengambil ponsel Nahyan untuk melihat dengan jelas foto apa yang dimaksud oleh Nahyan.

__ADS_1


"Bukan gue, B4bi! Lo gak liat dari tadi gue di sini hah?!" jawab Suga yang tersulut emosi.


"Gak menutup kemungkinan lo ngirim ini, Suga. Lo seneng kan kalau gue berantem sama Anna?!"


Suga berdiri tegap, "Lo kenal gue berapa lama, Vangsat?! Kalau gue bilang bukan gue, ya berarti bukan gue! Bucin aja sana lo Anjink!" maki Suga sambil menendang kursi yang tadinya dipakainya. Kemudian, dia pergi meninggalkan ruang inap dan menyisakan keheningan.


Teman-teman Nahyan menatapnya untuk memeriksa keadaannya. "Apa liat-liat?!" galak Nahyan.


Fabian memperhatikan Nahyan yang raut wajahnya tanpa ekspresi dan terlihat dingin. Fabian cukup paham apa yang dipikirkan temannya itu.


"Kalo ngerasa bersalah, mending nanti lo ngomong sama Suga. Minta maaf kalau perlu," ujar Fabian.


"Hm," jawabnya dingin.


Sedangkan di sisi lain, dengan perasaan jengkel dan rasa marah yang mendominasi, Suga melangkah meninggalkan rumah sakit. Dia menatap ponsel Nahyan yang sengaja tidak dia kembalikan. Tentu saja dia membutuhkannya untuk sesuatu hal yang ada dipikirannya saat ini.


"Orang ini...." Suga menggumam.


"Berani-beraninya dia ngambil peran gue manas-manasin Nahyan," batinnya yang bertekad melacak orang yang mengirimkan foto ini pada Nahyan. Dan kalau orang itu sampai dapat, Suga akan membuatnya menerima kosekuensinya.


...***...


'Ting tong, saatnya istirahat pertama. Ting tong, it's time to begin the first rest.'


"Karena ini sudah istirahat, materi hari ini Bapak akhir," ucap Bapak guru mapel lintas minat Ekonomi.


Deana menghampiri Anna yang duduk di belakang. "Ayo, kantin!" ajak Deana.


Anna mengangguk sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam laci.


Deana langsung merangkul lengan Anna, dan menatap sinis ke arah Bella yang sedang menulis.


"Bell, ayo! Inget kan apa yang gue bilang?" kata Anna yang langsung dibalas delikkan oleh Bella.


Dengan berat hati, Bella meninggalkan rangkuman yang dibuatnya. Kemudian, mengikuti Anna dari belakang.


"Ngapain sih lo ajak dia lagi? Males banget," bisik Deana dengan raut wajah bete.


Bella menaikkan  sebelah alisnya. Bisik-bisik kok masih kedengeran, batinnya yang memilih diam membisu.


"Yaelah, biarin sih. Nambah-nambah temen," jawab Anna santai.


"Gue gak masalah kalo yang lain, tapi Bella? Hellooo... bisa gak, gak usah ngajak dia? Anaknya aneh gitu!" Anna mengusap wajah Deana.


"Hush! Gak baik kayak gitu!" Anna menoleh ke belakang.


Anna menarik lengan Bella agar berjalan di sampingnya. Diam-diam, Deana melayangkan tatapan sinis pada Bella. Dan Bella tau itu.


Deana benar-benar tidak suka dengan Bella. Selain aneh, Bella juga kasar. Eits, tunggu dulu. Deana tidak asal menilai. Dia begini karena dulu saat di kelas 11, Bella pernah mendorong salah satu teman sekelasnya hingga kepalanya berdarah karena membentur ujung meja, hanya karena bukunya tidak sengaja ketumpahan jus buah.


Bella tak mengacuhkan Deana. Toh, dia tidak peduli, dia terpaksa mengikuti. Jadi, anggap saja seperti angin lewat.


.......


.......


.......


"Ngapain sih, De?" tanya Anna sambil mencondongkan tubuhnya ke Deana yang duduk di sampingnya. Sedari tadi, gadis itu hanya memainkan ponselnya.


Deana menyembunyikan ponselnya dari Anna, "Gak boleh...," ujar Deana. Kemudian, dia memakan baksonya.


Anna terdiam dan memperhatikan Deana.


Terserahlah...


"Eh, Bell. Lu diem-diem bae. Kenapa gak mesen makanan?" tanya Anna pada Bella yang hanya duduk diam dengan tatapan kosong.


Bella memutar bola matanya tanpa ada niat menjawab.


"Ih, gak dijawab. Lo mau gue--"


"Gak laper!" jawab Bella memotong ancaman yang akan Anna layangkan.


"Eits, anda berbohong. Gue denger kok perut lu keroncongan pas belajar tadi."


"Diem--"


"Eh, Anna!" sapa Suga yang baru datang dan langsung mengambil tempat di samping Bella. "Lo semalem kemana sama Galen?" tanyanya yang sedang mengetes Anna.


Anna mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Suga mengetahui Anna pergi dengan Galen? Perasaan, Anna tidak bilang ke siapa-siapa. Cenayang kali yak nih bocah, perasaan tau terus kalau Anna sama Galen.


"Biasalah. Gue ini banyak mata-mata," kata Suga yang seolah membaca pikiran Anna. Sebenarnya, Suga memang bisa. Hanya dengan menyentuh kulit telanjang dari targetnya, Suga dengan mudahnya mengetahui pikiran dari targetnya. Hanya saja, dia tidak ingin melanggar privasi orang lain. Karena terkadang, saat dia sedang membaca pikiran, hal-hal yang bersifat rahasia seperti masalah keluarga misalnya, dapat tersalurkan juga padanya. Jadi, untuk menghindari hal-hal itu, Suga banyak menghindari kontak fisik dengan orang lain.


Anna mengerutkan dahinya. "Kok--"


"Kebaca dari muka lo," celetuknya sambil memangku kepala dengan tangannya dan tubuhnya menghadap ke samping.

__ADS_1


"Eh, siapa nih? Personil baru?" Suga memperhatikan Bella intens. "Seneng ya, udah bukan Duo Macan lagi. Trio Macan sekarang."


Bella menatap sinis Suga.


"Cantik, lo makin jelek lho kalau matanya sinis gitu," kata Suga sambil memegang sejumput rambut panjang bela yang tergerai lalu menciumnya.


Bella menatap Suga dengan tatapan benci. Selain Anna, Suga menempati urutan pertama dalam list orang yang harus dijauhi ya. Cowok itu bukan hanya muka dua, tapi playboy juga. Hampir satu sekolah pernah jadi korban keplayboyan dari seorang Suga.


Plak!


Bella mendorong dada Suga, "Gak usah sok ganteng!" katanya.


Suga menyipitkan matanya. "Memang gue ganteng gimana dong?" tanya Suga dengan senyum tengil.


"Najis!" Bella memutar bola matanya, lalu beranjak pergi.


"Eh, mau kemana Bell?!" teriak Anna.


Deana berdecak sebal, "Udah sih! Biarin aja!" katanya sambil menekuk wajahnya. "Gak penting juga."


Anna melirik Deana.


Kenapa gadis ini jadi seperti ini? Bukan hanya menyembunyikan hubungannya dengan Fabian dari Anna, tapi juga menjudge orang lain tanpa mengenalnya secara langsung.


Anna menghela napas, dan memilih tak mempedulikan ucapan Deana.


"Suga Baangke! Gara-gara lu Bella pergi. Kasian dia belum makan apa-apa. Padahal, dari mapel tadi beberapa kali gue denger perut dia keroncongan. Tanggung jawab lu!" ujar Anna sambil menodongkan garpu di depan Suga.


Suga memundurkan kepalanya untuk menghindari garpu, "Buset! Gue masa? Kenal aja enggak."


Anna melotot. "Makanya kenalan! Udah sana lu beliin roti atau makanan apa kek dibungkusin. Kasian anak orang lu buat nahan laper!"


"Lho? Kok gue?"


"Kan lo yang buat dia pergi."


Suga manggut-manggut, "Bener juga," gumamnya. "Yaudah, lo yang ngantri. Nih gue kasih duitnya."


"Enak aja! Sono ngan--"


"Cepek buat lu," sela Suga sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribu.


Anna tersenyum manis. Kemudian, dia mengambil uang dari tangan Suga, "Duh, repot-repot. Ini seratus lagi kalo sisa--"


"Ambil!" Suga beranjak berdiri. "Gue balik dulu."


"Hush! Hush!" usir Anna sambil menatap dua uang berwarna merah di tangannya, lalu memasukkannya ke saku bajunya.


"De," panggil Anna. Setelah kepergian Suga, gadis itu beralih pada Deana.


Anna ingin mengeluh karena sejak kemarin, Nahyan tidak memberinya kabar. Padahal, biasanya jika Anna tidak berada di dekatnya, cowok itu akan terus menghubungi Anna lewat ponsel. Entah itu tiga puluh menit sekali ataupun satu jam sekali, kecuali saat waktu tidur ya. Kalau Anna tidak kunjung membalas, cowok itu akan melayangkan spam chat dan telepon padanya. Tapi kemarin itu tumben-tumbenan tidak ada notifikasi dari Nahyan. Satu chat pun tidak ada.


"Hm?" jawab Gadis itu asyik memainkan ponselnya.


"Dengerin gue dulu... gue mau cerita," kata sambil menggoyang-goyangkan tangan Deana.


"Apaan?" tanya Deana sambil menatap Anna, namun tidak sampai satu detik mata gadis itu kembali lagi pada layar ponselnya. "Cerita aja gue dengerin."


Anna menekuk bibirnya.


"Itu loh ... Nahyan kok dari kemarin gak ada kabar ya? Gue chat tadi pagi juga sampe sekarang belum dibales. Apa dia mulai bosen sama gue?" ceritanya sambil memangku wajahnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya melilit-lilitkan garpu pada mie dipiringnya.


"Gak tau lah gue," Deana memasukkan bakso ke dalam mulutnya tanpa beralih dari ponselnya, "kali aja dia sibuk gitu ye kan, atau ada masalah sama kesehatannya. Abis baku hantam kan dia."


"Tapi, De--"


'Ting tong, istirahat pertama akan berakhir dalam 5 menit.'


"Kelas, yuk! 5 menit lagi masuk."


Anna tersenyum tipis. "Duluan aja, dah. Gue mau beli roti sama minum dulu untuk Bella," jawab Anna yang beranjak berdiri lalu pergi menuju salah satu kantin yang menjual jajanan-jajanan ringan.


Deana menaikkan kedua pundaknya, lalu pergi menuju kelas.


Anna menatap punggung Deana yang semakin menjauh. Dulu, awal-awal berteman dengan Deana dia diduai oleh novel. Sekarang, dia malah diduai oleh ponsel.


"Mungkin memang belum saatnya ya, gue cerita tentang gue sama orang lain?" batin Anna yang melamun.


"Ini, Mbak kembaliannya," ucap si Penjual.


Anna menerima uang kembalian dengan senyum. "Oh iya, makasih ya Bu."


°°°


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2