Nahyanna

Nahyanna
BAB 67


__ADS_3

☡ No edit. Jadi tolong maklumi kalo banyak typo.


"NAHYAN!!" jerit Miranda saat melihat anak bungsunya yang tidur sambil memeluk seorang gadis.


Miranda melangkah besar-besar dengan diikuti Arga sang suami di belakang.


Nahyan dan Anna reflek bangun. Tampang mereka terlihat pucat. Cepat-cepat Anna turun dari ranjang, saat Nyonya Rabusy melewatinya, Anna sangat terkejut.


"Mama gak ngajarin kamu kayak gini, ya!" omel Miranda sambil menarik telinga Nahyan dengan gemas. Tentu saja dia kesal.


Nahyan meringis.


"Sakit, Ma...."


"Sakit, sakit, sakit, tapi terus diulang--" Miranda menghentikan omelannya saat Arga menyentuh pundaknya, dan mengisyaratkan bahwa ada kehadiran orang lain selain mereka bertiga di sini.


"Sabar, Ma," bisik Arga tepat di telinga istrinya itu.


Miranda menatap Anna lekat. Sedangkan Anna yang ditatap hanya tersenyum kaku sambil meremas-remas tangannya. Panik gak? Paniklah masa enggak! Anna takut dia kena semprot, dia belum menyiapkan kata-kata mutiara untuk sang Nyonya Rabusy.


Miranda memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah karena kelakuan anaknya itu. Dia menghela napas berat lalu berkata, "Maafkan anak saya, ya? Dia udah bersikap lancang sama kamu. Saya tau kamu dipaksa sama anak Tante. Dia emang bandel, dan pemaksa, pokoknta semuaharus berjalan sesuai keinginannya. Sekali lagi Tante minta maaf ya mewakili Nahyan."


Anna mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia salah dengar? Anna pikir dirinyalah yang akan dimarahi dan mendapatkan siraman rohani dengan sedikit kuah yang mengenai wajahnya.


"Sa-saya...," dia kehabisan kata-kata karena situasi yang tidak terduga seperti ini.


"Saya juga, Tante," cicit Anna.


Miranda tersenyum. "Kamu yang pernah mampir ke rumah kan?" tanyanya dengan ramah.


Anna menatap Nahyan untuk meminta pertolongan, namun sayangnya cowok itu hanya tersenyum miring. Aaah, Anna kesal maksimal dengan Nahyan.


"Iya, Tante."


Miranda mengangguk-nganguk.


"Kamu anaknya Dewi bukan sih? Pas kamu main ke rumah itu Tante ngerasa kayak pernah ngeliat kamu. Dan kalau diingat-ingat lagi, kamu memang mirip sama anaknya Dewi."


Mendengar nama 'Dewi' disebutkan Anna terdiam sejenak. Pasalnya, dia bingung harus menjawab apa. Apakah dia harus menjawab 'ya' ataukah 'tidak'? Anna tidak tau.


Akhirnya, Anna hanya menjawabnya dengan senyuman yang terlihat ambigu. Lebih baik begini bukan?


"Gelang yang Tante kasih waktu itu kenapa tidak kamu pakai?" tanya Miranda.


Nahyan yang mendengarkan mengerutkan dahinya.


Gelang? Sejak kapan Mamanya memberikan Anna gelang? Mengapa dia tidak tau? Dan, mengapa Anna tidak cerita padanya? Nahyan memperhatikan kedua perempuan yang dia cintai itu. Harap-harap, dia menemukan jawaban atas semua pertanyaannya.


Anna menjilat bibirnya yang terasa kering. Jujur saja, Anna lupa kalau pernah diberikan sebuah gelang oleh Nyonya Rabusy. Dan gawatnya, dia lupa dengan keberadaan gelang itu di mana. Sehabis pulang dari sini, dia harus mencari gelang itu. Harus! Karena seingat Anna itu adalah gelang yang terlihat mahal, Anna takut di masa depan dia harus memakainya.


Omong-omong tentang gelang yang mahal, mengapa dia tidak menjualna saja? Anna kan saat ini butuh uang. Sementara dia belum mendapatkan kerjaan sampingan, pasti uang hasil jual dari gelang itu mencukupinya bukan? Tinggal Anna yang pintar-pintar mengatur pengeluaran.

__ADS_1


"Anna? Gelangnya tidak hilang kan? Tante ada maksudnya lho ngasih kamu gelang itu."


"Ah, enggak kok Tante. Anna simpan gelangnya. Takut hilang kalau dipakai gitu aja. Soalna Anna kan teledor orangnya," jawab Anna yang merasa panas dingin.


Miranda mengangguk mengerti, "Jangan sampai hilang ya? Gelang itu sangat penting bagi keluarga Rabusy."


Anna tersenyum tipis, "Iya, Tan."


"Gelang apa sih, Ma?" celetuk Nahyan yang rasa penasarannya tidak lagi dapat dibendung.


"Gelang dengan ukiran nama keluarga Rabusy," bukan Miranda yang menjawab melainkan Arga.


Nahyan melotot.


Itu adalah gelang turun-temurun yang hanya diberikan oleh orang tua dari keluarga Rabusy kepada calon menantunya. Sejak kapan Mamanya mencari menantu untuk keluarga Rabusy? Mengapa Mamanya tidak menceritakannya? Banyak sudah pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dalam pikiran Nahyan hingga dirinya sendiri merasa pusing.


Entah mengapa, Nahyan merasa punya firasat buruk tentang ini.


"Ma!"


Miranda menoleh, "Kenapa?"


"Mama gak...." Nahyan tidak melanjutkan perkataannya.


"Kamu gak usah lebay. Orang bukan buat kamu," celetuk Miranda cuek, lalu beralih lagi pada Anna.


Nahyan mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan ibundanya itu. Namun, entah mengapa hatinya merasa ada yang mengganjal. Dan pastinya, ini bukanlah pertanda baik.


Anna menatap wajah Arga, Miranda, dan Nahyan secara bergantian. Melihat tidak ada raut wajah penolakan dari ketiga orang bermarga 'Rabusy' itu, akhirnya dia mengiyakan ajakan untuk makan bersama.


Setelah makan bersama keluarga Rabusy, mereka berbincang-bincang sebentar sebelum Anna diantar pulang oleh supir mobil yang dipakai Arga dan Miranda. Hah, ke rumah sakit saja pakainya limosin. Apalagi kalau ke acara-acara formal? Anna tidak dapag membayangkan mobil apa yang lebih mahal dan lebih bagus dari limosin. Ah, mungkinkah memakai helikopter pribadi? Bisa jadi.


Sesampainya di rumah, Anna bertemu dengan Ami. Sepupu tercintanya yang mempunyai mulut super pedas.


"Lo di anter siapa?" tanya Ami memang tampang tidak suka.


"Lo gak beneran ngelonT, kan?" tanyanya memastikan.


Anna melayangkan tatapan sengit. "Sori dori stroberi. Gak level gue gitu. Gue melihara suggar dady," jawabnya dnegan malas lalu menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"LO GILA HAH?! MURAHAN BANGET HIDUP LO! MAU GUE LAPORIN KE PAPA?!"


Anna menengok ke belakang, lalu melayangkan seringaian, "Silakan. Gak ada yang larang lo. Paling lo nanti kena batunya juga sebelum gue yang kena."


"FVCK YOU B1TCH! DENGAN SIKAP LO YANG KAYAK GINI LO NGERUSAK NAMA KELUARGA ABIMANYU TAU GAK?!!" teriak Ami yang setengah berlari untuk mengejar Anna.


"Gak peduli! Emak lo kan yang mutusin duit yang masuk ke rekening gue!"


Ami menatap tajam ke arah Anna. "Ya makanya gak usah bertelor dalem kamar lo mulu! Gak ada yang nyuruh lo beli makanan sendiri!"


Anna tersenyum miring. "Gue eneg liat muka lo, oh, ketinggalan, gue juga eneg liat Emak dan Bapak lo," ujar Anna sambi tersenyum tipis.

__ADS_1


Saat sudah berada di depan kamarnya Anna berbalik menatap Ami lebih tepatnya menatap wajah yang amat sangat membuat Anna kesal kalau melihatnya. Padahal, Anna bukanlah tipe orang dengan tempramen yang buruk.


"Sekarang, urus diri lo sendiri. Gak ikut campur dengan kehidup gue. Dan lagi, ngeliat lo yang sok peduli dengan nama baik keluarga Abimanyu bener-bener buat gue mau muntah," katanya dengan nada suara seperti merendahkan.


Sebelum Ami membuka suara, Anna masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan kasar.


BRAK!


Ami terlonjak kaget.


"Anna! Buka pintunya! Gue belum selesai ngomong!" katanya sambil menggedor-gedor pintu, dan sesekali menggerakkan gagang pintu. Namun, Anna sudah mengunci pintunya dari dalam sehingga Ami tidak dapat masuk.


Anna melemparkan tubuhnya ke tempat tidur.


"Baru balik udah disuguhin hal yang merusak pemandangan," gumamnya sambil memainkan ponselnya.


Oh?


Anna teringat sesuatu.


"Gue belum dapet nomor baru Nahyan!" katana sambil menggigit jari.


"Aih, terserahlah. Biar dia aja yang chat gue. Mager nanya," gumamnya yang turun dari tempat tidur dan menuju meja belajarnya.


Seingat Anna, dia dulu menaruh gelang itu di sekitar sini. Anna membuka laci mejanya dan memeriksa kesetiap inci dari meja belajarnya itu.


"Kok gak ada ya?" tanyanya sambil berkacak pinggang. Anna bingung sendiri. Seingatnya memang benar dia taruh di sekitar mejanya. Tapi mengapa dia tidak dapat menemukannya?


Jangan-jangan...


Ah!


Anna tidak boleh berburuk sangka. Bagaimanapun, meski Dewi dan Ami selama ini memperlakukannya dengan buruk, mereka berdua tidak pernah dengan lancangnya memeriksa ataupun mengambil barang-barang miliknya.


Ya, mungkin saja Anna yang salah ingat meletakkannya dimana.


'Jangan sampai hilang, ya? Gelang itu sangat penting bagi keluarga Rabusy.'


Anna duduk dipinggir tempat tidurnya sambil memikirkan setiap dari ucapan Miranda yang sepertinya mengandung makna tersembunyi.


"Sebenernya, gelang itu sepenting apa sih?"


°°°


Bersambung...


📌Kalau lusa aku gak up. Artinya aku belum beli kuota ✌ tapi kalau up, itu artinya aku dapet tetringan walau cuma sebentar.



tuh dedek bayi mo nangis. Tega masih gak mau komen? :v

__ADS_1


__ADS_2