
SUKA dengan novelnya?
Yuk trakteer Byba Cendol 👉 https://trakteer.id/Juecy.bell/tip
Biar semangat upnyaa 😚
cek group BUCIN NAHYAN yuks..
gampang tinggal klik profilku ^^
Bebas promosi kok
Anna memperhatikan wajah Nahyan yang tertidur pulas. Kalau cowok itu memasang tampang biasa saja seperti sekarang, gantengnya berkali-kali lipat dari yang saat Nahyan sedang bangun. Cowok itu lebih sering terlihat dengan raut wajah datar namun sinis, terus aslinya memang galak juga.
Anna bersyukur, luka Nahyan tidak terlalu parah seperti yang dibilang oleh Suga. Meski saat di rumah sakitlah baru ketahuan kalau dua buah tulang rusuk dan tangan Nahyan retak. Entah bagaimana bisa cowok itu menahan sakit yang menurut Anna luar biasa sakitnya, walau hanya retak.
"Udah telat banget jam makan malam," gumam Anna yang melihat jam di ponselnya.
Saat ingin memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, Anna mendapati notifikasi dari nomor tak dikenal.
+62 899-9999-xxxx : Gimana keadaan Nahyan?
Anna mengerutkan dahinya. "Siapa sih? SKSD," batin Anna sambil membuka notifikasi itu.
...Hari ini...
Gimana keadaan Nahyan?
^^^Sp si? SKSD!^^^
Gue Suga!
Wah parah lu gak save nomor gue
^^^Hah?^^^
^^^Lo ganti nomor apa gimana?^^^
Mana pernah gue ganti
Seenggaknya bulan ini belum '-'
^^^😐^^^
^^^Yodah sini pokoknya lu!^^^
^^^Gantian jagain Nahyan^^^
Ogah
Kan lu pawangnya
^^^Terus lo ngechat gue^^^
^^^Fungsinya apa anj^^^
Anna kasar ih ngomongnya
Gak suka gelayy
^^^Bacoottt^^^
^^^Pokoknya cepet ke sini!^^^
^^^Bawain gue susu^^^
^^^yang putih^^^
Ngapain beli susu Na?
Kan lu udah punya 2
^^^Bagus...^^^
^^^Gue aduin Nahyan lu^^^
Tukang ngadu 🙄
^^^Bomat🙄^^^
^^^Eh sekalian beliin nasi goreng^^^
^^^Sedang aja! Pake daging ayam kota^^^
^^^Gak terima ayam kampung^^^
^^^Ntar kampungan kayak lu^^^
Ye... tuman!
Lo yang kampungan 😒
Mana ada ayam kota
^^^Ayam kampung aja ada^^^
^^^Masa ayam kota nggak🙄^^^
Duitnya?
^^^Pake punya lo lah!^^^
^^^Ngaku orang kaya kan^^^
^^^Masa segitu aja ga sanggup bayarin?^^^
Ererere
Terserah
^^^read^^^
Oh ya
Lo harus siap ya
^^^Apaan?^^^
Pokoknya siap-siap aja
Ada suprise
Gue yakin lo bakal terkejut
^^^read^^^
Anna hanya membaca chat terakhir dari Suga. Tiba-tiba saja, Anna merasakan sebuah panggilan. Lebih tepatnya panggilan dari alam. Cepat-cepat Anna bangkit dari kursi yang di dudukinya.
Tap!
"Mau kemana?" Nahyan memegangi tangan Anna. Suara Nahyan benar-benar dingin namun terdengar indah bersamaan. Hati Anna menjadi bergetar hanya mendengar suaranya.
__ADS_1
Anna mengerutkan dahinya saat merasakan hal yang aneh. Kapan nih Bocah ganteng bangun? Perasaaan tadi tidurnya pules banget, batin Anna.
"Jangan pulang. Jangan tinggalin gue," kata Nahyan dengan raut wajah memelas.
"Gue gak pulang. Ini rencananya juga mau nginep. Tuh, baju seragam gue buat besok sekolah." Anna menunjuk ke nakas yang berada tepat disamping ranjang.
"Terus mau kemana?" tanya Nahyan dengan nada suara lemah, Anna lihat cowok itu berkeringat banyak.
Anna memegang dahi Nahyan untuk memeriksa suhu tubuh cowok itu. Dan, ternyata eh ternyata... tubuh Nahyan sedang panas. Mungkin efek samping tulang retak baru muncul sekarang.
"Panas," gumam Anna. "Gue mau ke kamar mandi bentar. Lagi panggilan alam. Sumpah!"
Nahyan cemberut tanda ketidaksetujuannya.
"Kamar mandinya kan di dalem ruangan."
Nahyan masih cemberut.
"Ikut." Nahyan melirik Anna yang terperangah.
"Gak! Pokoknya gak boleh! Belom mukhrim!"
Wajah Nahyan bertambah cemberut, kali ini matanya melirik sinis ke arah Anna.
"Pelit."
Anna menepuk dahinya. Apa hanya Anna yang merasa perubahan drastis dari sikap Nahyan? Sebenarnya ada apa ini? Apakah dia sedang dikerjai? Adakah kamera di sini?
Anna bergerak gelisah. Dia sedang benar-benar kebelet. Karena sudah merasa tidak tahan, Anna pergi ke kamar mandi tanpa mempedulikan reaksi Nahyan.
"Annaaa!" panggil Nahyan yang terkesan manja namun dia merajuk.
Nahyan menatap tajam pintu toilet yang menutup. Kemudian, turunlah dia dari atas ranjang dan mencopot paksa infus dari tangannya.
"Anna! Buka Anna! Jangan pergi! Jangan hilang dari pandangan gue!" katanya sambil menggedor-gedor pintu toilet.
"Anjim! Sabar!! Jangan digedor-gedor! Kalau roboh gimana?!" teriak Anna dari dalam toilet yang malah membuat Nahyan semakin semangat menggedor pintu.
"Cepet buka!"
Setelah selesai dengan panggilan alamnya, Anna cepat-cepat memperbaiki pakaiannya lalu membukakan pintu toilet.
"Gue bilang sa--" Ucapan Anna terhenti karena merasakan wajahnya membentur benda padat namun terasa lembut.
"Dibilang jangan ngilang,"cicit Nahyan yang memeluk erat tubuh Anna.
Anna mengerjapkan matanya.
"Ini kenapa?" gumam Anna yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Inikah suprise yang dibicarakan oleh Suga? Well, kalau begini jadinya, Anna memang terkejut.
"Oke, berhenti peluk gue! Sesak nih!" kata Anna yang berusaha melepaskan pelukan Nahyan.
"Gak!"
Anna menghela napas, lalu menggigit lengan cowok itu. Reflek Nahyan melepaskan pelukannya.
"Kok gigit?" tanya Nahyan terlihat shock sambil memegangi tangannya yang habis digigit.
Mata Anna terfokus benda cair yang mengalir dari tangan Nahyan. Anna melotot begitu sadar itu adalah darah segar.
"Kenapa infusnya dicopot?!" murka Anna sambil mengambil tangan Nahyan.
Nahyan hanya diam dan melihat ke sembarang tempat.
"Gue telpon Mama lo ya?" tanya Anna. Sudah seharusnya Anna memberitahu keadaan Nahyan pada orang tuanya. Dia tidak bisa menyembunyikannya.
"Gak!"
"Nurut kok."
"Nurut dari mana?"
"Dari Ibunya?"
Anna mengerutkan dahinya. Dia gagal paham.
"Hah?"
Nahyan hanya menatap Anna. Sedangkan Anna melirik tangannya.
Anna menghela napas. "Gue panggilin susternya dulu."
"Jangan pergi dibilang."
"Gue sebentar doang!"
"Gak boleh...." jawab Nahyan yang terkesan seperti anak kecil.
"Tuh kan gak nurut! Telpon Mama nih?" ancamnya.
"Ikut."
"Di sini aja!"
"Ikut!"
Anna menatap tajam Nahyan. "Gue marah nih...."
"Yaudah, peluk." Nahyan menarik tangan Anna dan memeluknya. Cowok itu menghirup wangi yang berasal dari rambut Anna. Benar-benar harum. Nahyan suka wanginya.
"Jangan pergi," gumam Nahyan dengan mata yang tidak fokus. Lalu, dia menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Anna.
Nahyan memperhatikan wajah mungil Anna. Benar-benar mirip kucing.
"Gue sayang banget sama lo. Jangan tinggalin gue. Jangan jadian sama Galen. Lo harus sama gue. Ga boleh deket-deket sama cowok lain," lirih Nahyan sambil memeluk leher Anna. Lalu, menduselkan wajahnya di ceruk lekuk leher gadis itu.
"Eumh...," desah Anna yang merasa geli.
Hal itu membangunkan insting lelaki milik Nahyan.
Cowok itu menatap Anna lekat, "Jangan pergi, yah?" 🙁
Anna memperhatikan wajah sendu cowok di depannya ini. Apakah Nahyan tipe cowok yang kalau sakit berubah menjadi manja dan terkesan mengeluarkan semua uneg-unegnya? Bisa jadi!
"Ayo pindah ke ranjang." Nahyan menahan tubuhnya agar tidak terseret.
"Kenapa? Badan lo panas gini, loh," kata Anna yang khawatir setelah menempelkan punggung tangannya pada leher Nahyan.
Nahyan menurut saat dirinya diseret menuju ranjang. Dia duduk dipinggiran ranjang, sedang kan Anna berdiri di samping sambil berusaha menidurkan Nahyan.
"Tiduran aja," katanya.
Nahyan menggeleng. Cowok itu hanya menatap Anna, memperhatikan wajah khawatir gadis itu.
Nahyan menatap alis, mata, lalu hidung dan terakhir ... bibir ranum milik Anna. Nahyan menyukainya, benar-benar menyukainya. Rasa ini benar-benar tidak tertahankan. Dia bisa kesal melihat Anna bersama laki-laki lain, dia cemburu hanya dengan melihatnya berbicara dengan laki-laki lain, Nahyan marah jika Anna disentuh laki-laki lain, dan dia benci kalau pikiran Anna terbagi untuk laki-laki lain.
Bagaimana ini? Hati Nahyan benar-benar tidak tertahankan.
"Gemes...," gumamnya sambil menyentuh bibir Anna dengan wajah yang memerah akibat demam.
Anna terpaku saat menyadari adanya tanda bahaya begitu Nahyan memejamkan matanya dan perlahan-lahan mendekatinya. Anna bergerak gelisah untuk melepaskan diri dari Nahyan. Namun, semua itu jelas percuma. Meski sedang sakit, tenaga Nahyan tetaplah besar.
"Nahy--"
__ADS_1
Cup!
Sekejap, jantung Anna terasa berhenti bersamaan dengan sensasi lembut dan hangat yang tersalurkan dari bibir kissable milik Nahyan. Napas Anna memburu seiring dengan ciuman yang Nahyan berikan.
Cowok tampan itu membungkam bibir Anna dengan ciuman yang dalam. Tak merasa puas karena tak ada balasan, Nahyan melum*at dan mengigit kecil bibir Anna.
"Akh!" pekik Anna tertahan yang langsung dibungkam bibir Nahyan.
Anna bergetar di dalam kungkungan dan ciuman Nahyan. Bagaimana mungkin, Nahyan yang anti dengan perempuan ahli ciuman begini? Anna benar-benar meleleh dibuatnya.
Nahyan melepaskan ciumannya, lalu menatap wajah Anna dengan ekspresi tidak karuan. Nahyan kembali mendekatk, namun Anna menjauh dan menolak.
Karena tidak puas dengan penolakannya, Nahyan menarik pinggang Anna agar gadis itu lebih dekat padanya. Tujuan sebenarnya adalah agar gadis itu tidak bisa melarikan diri.
Nahyan memiringkan kepalanya sambil membuat wajah polos seolah tak pernah terjadi apa-apa saat Anna menundukkan kepalanya.
Anna memukul bahu Nahyan pelan karena malu terus diperhatikan.
"Ngh...!" Nahyan meringis.
Anna tersadar begitu mendengar ringisan yang keluar dari bibir Nahyan, lalu dengan pelan mendorong dada bidang cowok itu. Mengingat dua buah tulang rusuk cowok itu yang retak, Anna hanya melakukan perlawanan yang tidak berarti.
Kedua insan itu saling beradu tatap. Keheningan menyelimuti mereka berdua.
Nahyan memeluk pinggang Anna erat, lalu meletakkan bibirnya di lekukan leher gadisnya itu.
"Nahyan... Ssshh--" Anna dibuat merinding saat merasakan napas hangat Nahyan mengenai kulit telanjangnya.
Nahyan menghentikan aktifitasnya dan menjauhkan bibirnya dari leher jenjang milik Anna untuk melihat ekspresi apa yang dibuat Anna.
Anna bernapas lega saat Nahyan menjauhkan. Dipikirnya hal-hal mendebarkan ini sudah selesai, namun perkiraannya itu ternyata salah, ini masihlah awal.
Nahyan menyentuh pipi Anna dengan tangan yang bebas. Matanya terus terpaku pada bibir yang memerah dan sedikit bengkak akibat ulahnya.
Gue harus gimana? batinnya dengan jantung yang berdetak tidak karuan.
"I love you, Anna," bisik Nahyan sebelum kembali meraup bibir mungil milik Anna dengan rakus.
Tidak seperti tadi, kini ciuman Nahyan penuh dengan tuntutan dan terkesan buru-buru. Seperti tingkah kucing yang malu-malu namun ingin diperhatikan. Begitu juga Nahyan, dia ingin mendapatkan balasan.
Lagi-lagi, Nahyan melepas ciumannya karena tidak mendapat balasan.
Cowok itu menatap melas dan memohon pada Anna layaknya anak kecil yang meminta dibelikan permen pada ibunya.
Anna menggigit kecil bibir bawahnya. Jauh dalam hatinya, dia juga menginginkan ciuman ini. Namun dia masih bimbang. Ini kali pertamanya alias merupakan hal baru baginya. Dia ... tidak ahli.
Kedua insan itu saling bertatapan dalam jarak yang dekat. Semakin lama tatapan itu semakin dalam. Debaran dalam dada mereka tak kunjung mereda juga. Tak ada yang bergerak karena keduanya masih sibuk menatap dan mendengarkan debaran jantung masing-masing.
Perlahan mata Anna tertuju pada jakun Nahyan yang naik-turun. Merasa perhatian Anna teralihkan, Nahyan mengelus pipi Anna yang merona, satu tangannya lagi merengkuh pinggang Anna mendekat dan mengarahkan tatapannya pada kedua bola mata hitam milik Anna. Siapapun bisa merasakan jika di posisi Anna kalau cowok itu menatapnya dengan tatapan memuja.
Perlahan tapi pasti, Nahyan mendekat dan mengecup bibir Anna dengan lembut. Mengetahui Anna yang memejamkan mata dan menikmai kecupannya, Nahyan mulai ******* bibir gadis itu.
Merasa yakin Anna tidak lagi menolak, dan malah membalas ciumannya, Nahyan mulai menggigit kecil bibir gadisnya agar membuka dan memberikan akses lidahnya untuk mengeksplor dalam bibir manis itu.
Tanpa sadar, Anna mengalungkan kedua tangannya pada leher Nahyan dan membuka bibirnya agar lidah Nahyan dengan leluasa memasuki mulutnya. Ciumannya benar-benar terasa nikmat.
"Ngh!" Anna mencoba mengikuti permainan lidah dari cowok tampan yang tak lain adalah Nahyan, kekasihnya.
Semakin dalam ciuman mereka, Anna semakin merasa udara disekitarnya memanas dan membuatnya meleleh, kakina pun terasa lemas. Kalau saja Nahyan tidak merengkuhnya erat, mungkin saja Anna sudah jatuh terduduk sekarang sanking lemasnya.
"Eumh...!" desahnya saat lidahnya dan lidah Nahyan bertautan.
BRAK!!
"Assalamualaikum, ya ahli kubur!" Suga yang saja baru datang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Anna melepaskan pagutannya dan mendorong Nahyan menjauh darinya, hingga cowok itu hampir saja jatuh menjengkang ke belakang.
"Astaga!" pekik Suga dengan raut wajah menyebalkan.
"Kenapa?" tanya Fabian yang muncul dari belakang Suga.
"Ini lho, Pa. Anak kita sudah main cium-ciuman... terus nanti peluk-pelukan, terus mereka tak sadar akhirnya dirayu setan, terus tak sadar mereka keb--"
plak!
Fabian menampar pelar bibir Suga. Dia tau itu adalah lagu jadul yang sempat ngetren di tahun 20xx yang diplesetkan.
"Berisik!" Fabian beralih menatap Anna yang wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus, lalu beralih pada Nahyan tidur tengkurang dengab kepala yang ditutupi bantal.
"Janjinya waktu itu apa?" kata Fabian sambil mendekati Nahyan.
Nahyan mengintip dari balik bantal.
"Gak tau."
Fabian menghela napas berat, lalu menatap Anna yang sedang menundukkan kepalanya.
"Maaf, Na. Mungkin lo kaget. Nahyan kalo demam ngalah-ngalahin orang mabok," Fabian melirik bibir Anna yang membengkak, "maafin dia juga ya, kalau dia nyium-nyium lo. Heran sih, biasanya paling mentok dia nyium pipi. Tapi, kayaknya sekarang bahaya kalo saat sakit Nahyan ditinggal berdua sama lo."
Wajah Anna makin memerah mendengar permintaan maaf Fabian yang lebih mirip kesindiran.
"Lo si B*ego. Kenapa malah nelepon Anna? Kan anak-anak yang lain ada."
"Biar cepet lebih baik pawangnya yang ngurus," jawab Suga sambil menyengir. "Oh, ya, Na. Nih, susu sama nasi gorengnya. Ayam kotanya gak ada. Adanya ayam jantan bertelor."
Anna menerimanya dengan menahan malu.
"Makasih," cicitnya.
°°°
Bersambung...
...👉Behind the scene buat chap 6.1 👈...
__ADS_1
Oke itu aja DRAMA pembuatan chapter kali ini NYAHAHHAHA