
"Kamu ini ya! Kalau udah berantem gak tau kapan harus berhenti! Kebiasaan!" omel Miranda atau Nyonya Rabusy atau ibu dari Nahyan Rabusy. Wanita cantik itu menyuapi sesendok nasi ke mulut putra bungsunya itu.
Nahyan hanya diam dan menerima apa yang dijejalkan sang Ibunda tercinta.
"Mama ngomong tuh direspon!" Miranda yang merasa gemas mejewer telinga anaknya itu hingga memerah. Ajaib, Nahyan bisa mempertahankan wajah datarnya.
"Sakit!" Mulutnya meringis, namun wajahnya tidak.
Nyonya Rabusy tak habis pikir dengan tingkah anaknya itu. Dia memang memberikan kebebasan Nahyan ingin bertingkah laku bagaimana dan berteman dengan siapa, tapi semua ada batasnya. Sudah dia peringati, jangan berkelahi hingga seperti mencari mati seperti ini. Tapi, tetap saja anak bungsunya ini berkelahi dan tak tau batasnya. Sudah sering kali dia dibuat spot jantung oleh Nahyan.
"Kamu demamkan? Kali ini siapa yang kamu cium?" tanya Miranda sambil membersihkan sebuah nasi yang berada disudut bibir Nahyan. Tatapannya mengintimidasi.
"Suga," jawabnya yang berbohong.
Suga yang merasa namanya dipanggil, mendongak.
"Gak, Tante. Hoax itu," celetuknya. Dia tersenyum penuh kemenangan. Melihat Nahyan membatu di hadapan ibunya adalah kesenangan tersendiri baginya.
Nahyan menatap tajam ke arah Suga.
"Gak guna," katanya tanpa suara.
Miranda yang tau apa yang dikatakan Nahyan lewat gerak bibir, menyentil mulut anaknya yang habis berkata kasar itu.
"Ah!" Nahyan meringis.
Miranda melotot, "Bagus mulutnya, ya. Siapa yang ngajarin begitu?!" omel Miranda sambil menyentil bibir Nahyan lagi.
Nahyan dibuat terdiam tak berkutik. Siapapun, tolong selamatkan Nahyan dari penderitaan ini.
Suga cekikikan sambil memukul-mukul pelan orang disampingnya yang tak lain adalah Fabian. Merasa terganggu karena perilaku Suga, Fabian membalas memukul bahu Suga hingga terdengar bunyi 'plak' yang kuat.
PLAK!
"Mampuus!" hardik Fabian. Dia melayangkan tatapan sinis pada Suga.
"Kalian berdua ngapain masih di sini? Sebentar lagi jam 7 lho. Gak sekolah?" tanya Miranda.
Fabian dan Suga saling menatap.
"Ah, itu Tante... sekolah lagi ngadain free class," jawab Fabian membuat alasan.
"Iya, Tan. Jadi, dari pada diem-diem bae di sekolah, mending kita berdua di sini. Jagain Nahyan," timpal Suga.
Padahal aslinya mah, mereka berdua ini malas ke sekolah. Kalau tidak bertiga, rasanya seperti ada yang kurang.
"Begitu?" Miranda mengangguk mengerti masih dengan menyuapi Nahyan.
"Nahyan punya pacar gak di sekolah?" tanya Miranda.
Nahyan melotot pada Suga dan Fabian secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Lalu, mengirimkan kode agar mereka berdua menutup mulut.
"Oh! Punya, Tan. Hasil maksa anak orang," jawab Suga seraya tersenyum. Entah mengapa, Nahyan bisa melihat dua buah tanduk iblis di kepala Suga.
Cowok satu itu memang tidak bisa dipercaya. Selain menyebalkan dan suka melebih-lebihkan, mulutnya ember juga.
Miranda melayangkan tatapan tajam pada Nahyan, "Kamu tau, kan? Berani berbuat, berani bertanggung jawab?" Miranda menaruh nampan berisi bubur ke atas nakas.
Nahyan menunduk. "Iya, Ma."
"Bagus. Anak pintar. Pulang dari rumah sakit uang jajan selama satu minggu gak mama kasih ya? Semua akses pembayaran elektronik seperti ATM, debit, dan kredit juga Mama sita. Terus satu motor kesayanganmu Mama jual, oke?"
Nahyan ingin memprotes, namun dia menjadi enggan begitu melihat mata ibunya yang melotot. Habis sudah koleksi motor miliknya. Semoga saja, bukan si Joni yang dijual.
"Iya, Ma." Nahyan menjawab dengan setengah hati. Nasib, nasib.
...***...
"Pagi!" sapa Anna pada teman sebangkunya. Bella. Anna menaruh tas sekolahnya di atas meja, lalu menidurkan kepalanya di sana.
__ADS_1
"Bella, kok gak bales sapaan gue sih?" tanya Anna. Dia memperhatikan Bella yang sibuk menulis. Gadis itu benar-benar tidak mempedulikan sekitarnya.
Bella diam dan terus melanjutkan membuat rangkuman.
"Bell, kok lo gak banyak ngomong ya?" tanya Anna lagi seraya menyandarkan kepalanya di pundak Bella.
"Sariawan ya, Bell?" tanyanya kelewat iseng.
Bella bergerak gelisah.
Anna tersenyum samar saat tau Bella terganggu dengan tindakannya. Ini artinya, Bella merespon dirinya.
"Bell," Anna memeluk pinggang Bella, "liat tugas Biologi dong!"
Bella melepaskan pelukan Anna, lalu mengambilkan buku tugasnya di dalam laci. Kemudian, tanpa berkata dia memberikan buku itu pada Anna.
"Makasih banyak, Bella! Baik bener sih! Jadi makin sayang," ujar Anna sambil memegang pipi Bella dengan kedua tangannya seraya memajukan bibir untuk mencium pipi gadis itu.
Bella melotot, dan menjauhkan pipinya dari ciuman Anna. Namun, itu semua percuma karena bibir Anna sudah mendarat mulus di pipinya.
"Ck!" Bella mendecak seraya mengelap pipinya dengan baju seragamnya.
Sial, pikirnya.
"Gak usah cium-cium!" ketusnya dengan raut wajah kesal. Kemudian, dia melanjutkan aktifitasnya.
"Menjijikkan!" gerutunya yang masih bisa ditangkap oleh telinga panjang milik Anna.
"Gak menjijikkan lho.... Itu tuh tanda kasih sayang dari gue," cengir Anna.
Bella tak mengacuhkan Anna, "Bacot," katanya tanpa penuh dengan penekanan.
Anna mengerucutkan bibirnya. "Seharusnya lo merasa seneng gitu. Bibir gue kan abis dicium sama anak sultan. Siapa gitu tau kan, lo ketularan jadi anak sultan," gumam Anna sambik menulis judul 'Tugas Biologi' pada buku tulis bagian atas.
"Apa?!" Bella menatap Anna.
"Hah? Gue gak ngomong apa-apa kok! Lanjutin aja rangkuman lo. Ehhehehe...." Anna mengusap tengkuknya. Dia keceplosan.
Bella mengerutkan dahinya. Dia mendnegar apa yang Anna katakan. Namun, dia memilih mengabaikannya dan tidak mau ambil pusing. Toh, bukan urusannya.
"Ashyaaap...!" Anna memberikan fly kiss pada Bella. Sedangkan Bella memutarkan bola matanya.
Jujur saja, Bella lebih suka duduk sendirian dari pada mempunyai teman sebangku yang berisik dan suka merusuh seperti Anna. Menurutnya, tipe orang seperti Anna adalah tipe orang yang menyebalkan, dan tidak ada manfaat bergaul dengan orang seperti itu.
Anna menyengir, "Eh, kita pernah ketemu kan sebelumnya?" celetuk Anna yang masih sibuk menyalin tugas.
Bella berhenti menulis.
"Lo cewek yang di rumah sakit kan?" katanya lagi.
Bella menatap Anna yang sekarang tengah sibuk menyalin tugasnya. "Mau lo apa, hah?" jawab Bella dengan dingin dan penuh penekanan.
"Ngerjain semua tugas-tugas lo? Contekan ujian? Uang? Atau lo mau semua? Hm? Apa? Bilang aja! Langsung pada intinya!" Bella melayangkan pertanyaan yang beruntun.
Anna tersenyum miring. "Weitss santai.... Jangan ngegas gitu."
Bella menatap garang ke arah Anna.
"Gue cuma mau temenan kok!" ucapnya sambil tersenyum manis.
"Gue benci tipe orang kayak lo! Munafik!"
Senyum Anna perlahan menghilang begit mendengar kata 'munafik'. Dadanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
"Oh okelah kalau gitu...," bibirnya tersenyum, namun matanya tidaj menyiratkan itu. "Sebenernya tadi gue belum yakin. Tapi, ngedenger lo ngomong gini gue jadi yakin lo emang bener-bener cewek yang di RS waktu itu."
Bella hanya diam dan memperhatikan apa yang akan dilakukan teman sebangkunya ini.
"Karena lo tau diri. Gue bakal tutup mulut tentang apa yang terjadi di RS," Anna menatap lurus ke mata Bella.
"Tapi, tentu aja gak gratis," sambungnya.
__ADS_1
...***...
Bella yang baru saja tiba di dalam rumahnya langsung membanting tas sekolahnya ke lantai.
"Sial banget gue! Tau gitu gue gak usah masuk sekolah aja kan?" gerutunya sambil berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air.
Flashback on
"Kita pernah ketemu kan sebelumnya?"
Bella terkejut. Dia mneghentikan kegiatan menulis rangkumannya.
Apakah Anna tau? Tapi bagaimana mungkin? Penampilannya saat di sekolah dan di luar sekolah sangat berbeda. Hampir semua orang di sekolahnya selama hampir 3 tahun tidak mengenalinya jika bertemu di luar sekolah.
"Mau lo apa, hah?" tanyanya yang kalut.
"Ngerjain semua tugas-tugas lo? Contekan ujian? Uang? Atau lo mau semua? Hm? Apa? Bilang aja! Langsung pada intinya!" tebaknya yang tidak sabaran.
Anna tersenyum. Bella merasa kesal dnegan senyum itu. Benar-benar kesal!
"Weitss santai.... Jangan ngegas gitu! Gue cuma mau temenan kok!"
Bella tidak percaya. Dia yakin, Anna pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu. Saat ini senyum gadis itu benar-benar terlihat palsu dimatanay dan biasanya memang begitu juga. Anna selalu memasang senyum palsu.
"Gue benci tipe orang kayak lo! Munafik!"
Bella bisa melihat senyum Anna perlahan menghilang. Sempat dilihatnya raut wajah Anna yang sedih, namun Bella tidak peduli. Pikirannya sudah cukup dikuasai oleh amarah, dan rasa kesal.
"Oh okelah kalau gitu...." Bibir Anna menyungingkan senyum.
Lagi-lagi senyum itu palsu, batinnya. Bella tidak akan tertipu. Bella tau dari mata Anna, matanya tidak menyiratkan kalau dia tersenyum.
"Sebenernya tadi gue belum yakin. Tapi, ngedenger lo ngomong gini gue jadi yakin lo emang bener-bener cewek yang di RS waktu itu."
Dia terkejut. Dia merasa melakukan kesalahan besar. Tapi walau begitu, Dia tetap berusaha mempertahankan ekspresinya agar tidak menyiratkan kerterkejutan.
"Karena lo tau diri. Gue bakal tutup mulut tentang apa yang terjadi di RS." Anna menatap lurus ke mata Bella. Tentu saja Bella juga menatap lurus ke mata Anna.
"Tapi, tentu aja gak gratis," sambungnya.
Bella tertawa lewat hidungnya. Benar dugaannya. Gadis ini mempunyai motifnya sendiri. Dasar munafik!
"Sebut apa yang lo mau. Gak usah basa-basi!"
Anna mengambil sejumput rambut Bella, "Selama di sekolah ini, lo harus ikutin gue kemana-mana, dan lo harus dengerin apa yang gue omongin," bisiknya di telinga Bella. Setelah itu, Anna melepaskan rambut Bella dan kembali menulis seperti tak pernah terjadi apapun.
Bella terkekeh pelan, lalu melirik sinis ke arah Anna.
"Udah bosen jadi kacung, sekarang buat orang lain jadi kacung lo?" sindir Bella sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seolah-olah mengerti apa yang dipikirkan Anna. "Bagus, bagus!"
"Hee? Gue udah bukan kacung asal lo tau," celetuk Anna dengan senyum tengil.
Bella memutarkan bola matanya dan memilih tak mengacuhkan Anna lagi.
Flashback Off
TAK!
"Padahal tinggal sebentar lagi, tapi cewek itu malah ngehancurin semuanya!" desis Bella yang menuaruh gelas plastik di meja dengan kasar.
Seharian ini Bella benar-benar dibuat mengikuti Anna kemana-mana, tak terkecuali toilet. Dia harus menahan kesal dengan segala tingkah absurd Anna, terlebih lagi tingkah Deana, teman dekat Anna, yang selalu menatap tidak suka padanya. Kalau dipikir-pikir lagi, ingin rasanya Bella mencungkil kedua bola mata Deana yang menatapnya sinis itu.
"Aaaakh!" teriaknya yang frustrasi. Gadis bernama Anna Abimanyu itu memang menyebalkan seperti apa yang dia pikirkan selama ini.
Gadis sok tau itu...
Bella benar-benar membencinya.
°°°
Bersambung...
__ADS_1
Aku sedang UAS dan ini hari pertama. doakan aku ya semoga nilainya memuaskan dan gak ada yang remed. aamiin.