
NGEYEL YA! DIBILANG LIKE DULU :(
🌟Enthusiasm chapter 43🌟
Keesokan paginya, sinar matahari menembus kamar Anna melalui sela-sela gorden yang tipis. Anna mengedipkan matanya perlahan. Sinar yang menembus begitu menyilaukan mata.
"Ngh..."
Anna mengerang saat merasakan tubuhnya yang kelewat berat hingga ia tak sanggup bergerak meski hanya untuk membuka mata. Pastinya gara-gara semalam ia tidur sangat larut hingga jam tiga pagi. Setelah mengumpulkan semua nyawanya, gadis itu meraba-raba sampingnya untuk menemukan ponselnya.
Anna memencet tombol tengah tempat finger print ponselnya.
"WHAT?!" Anna terpekik sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
Anna meringis. Ini sudah pukul 9 pagi. Jelas sekali kalau Anna sudah terlambat karena SMA Y adalah pertandingan pembuka, yang artinya sekolahnya tampil pertama.
Anna segera meloncat dari tempat tidur dan langsung berlari menuju kamar mandi. Anna terhenti di depan wastafel dan menatap cermin di depannya.
"Aish! Ada iler segala!" Anna menghidupkan keran air lalu membasuh wajahnya secara acak.
Anna memainkan jari-jari tangannya di pinggiran wastafel sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. Anna mengintip ke luar kamar mandi untuk melihat jam dindingnya.
"Aaaaaaah!" Anna mengacak-acak rambutnya.
"Mana sempat, keburu telat." Anna menekuk bibirnya sambil bercermin.
Pagi ini, terpaksa Anna harus puas hanya dengan mencuci wajah dan menggosok giginya. Demi kelangsungan hidupnya, Anna tidak apa-apa.
"Hiks." Anna menutup pintu kamar mandi.
Blam!
Setelah penampilannya rapi dan tidak terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur, ia berangkat dengan tergesa-gesa menuju lokasi DBL.
.......
.......
.......
Sesampainya di lokasi pertandingan, Anna turun dari motor dan segera memberi sejumlah uang pada tukang ojek.
"Makasih ya, Pak!" Anna berlari sekencang-kencangnya.
Brak!
"Ah!" Anna mengangkat kedua tangannya di depan dadadanya.
"Sori Mbak!"Â Setelah mengatakan itu, Anna langsung berlari kembali tanpa menunggu jawaban dari perempuan yang ditabraknya.
Anna bersandar di pintu masuk gedung tempat berlangsungnya pertandingan. Dia terlihat ngos-ngosan. Meskipun ia dulu adalah atlit lari, tetap saja sudah hampir 1 tahun dia tidak berlari seperti ini.
"Ah!" Masih dengan napas yang memburu, Anna mengelap keringat di pelipisnya dan memasuki gedungnya.
Anna melihat sekelilingnya yang ramai dengan sorak-sorai. Seperti yang diduga sekolahnya sedang bertanding. Anna duduk di tribun penonton yang dekat dengan posisinya tadi.
Anna ikut berdiri begitu orang-orang pada berdiri dan berteriak heboh. Anna pun mau tak mau mengikutinya. Sebenarnya, Anna memang mau berteriak dan menyemangati team basket sekolanya.
"SMA Y SEMANGAAAAAT!" teriak Anna yang tentunya tenggelam karena sorak-sorakan yang lainnya.
"Btw, ini udah babak ke berapa ya?" tanya Anna pada cowok di sampingnya yang hanya berdiri bersedekap sambil memperhatikan lapangan.
"Baru masuk babak kedua," jawab cowok itu seadanya.
Anna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Oke, makasih ya."
Anna kembali memperhatikan lapangan, dan kembali bersorak kencang hingga wajahnya memerah.
"AYOOO! SMA Y! PASTI BISAAAAAA!" Anna tersenyum lebar sambil memperhatikan permainan basket oleh SMA Y, lebih tepatnya memperhatikan cowok yang sedang berlari zig-zag dan akhirnya merebut bola dari lawan. Anna berteriak tertahan begitu cowok itu dihadang oleh dua pemain lawan.
Dengan gerakan yang lihai Nahyan berhasil lolos dan langsung mengoper bola pada teman satu teamnya. Lalu, tiba-tiba saja Nahyan sudah berada di bawah ring. Nahyan menerima operan bola, dan dengan satu lompatan ringan ia sudah membawa bola di atas ring dan memasukkannya ke dalam keranjang.
"ANJAAAAAAAY! KEREN BANGEEEET!" teriak Anna.
Para pendukung SMA Y bersorak heboh saat Nahyan mencetak poin dengan kerennya. Gadis itu terus tersenyum lebar sambil menepuk kedua tanganya. Namun, senyum itu luntur ketika Nahyan berlari-lari kecil sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.
Deg!
__ADS_1
Jantung Anna terasa copot. Bukan karena senyum Nahyan yang memikat gadis manapun, tapi karena senyuman itu bukan untuknya melainkan untuk gadis yang berada di sisi lain tribun penonton yang tak jauh dari tempat ia berada. Benar, gadis itu adalah Vinie.
Anna menatap kosong ke arah Vinnie yang sedang berteriak heboh dan melayangkan jempolnya pada Nahyan. Tiba-tiba saja ia merasakan tenggorokannya kering dan tak sanggup untuk berteriak lagi.
Anna mengeraskan rahangnya dan memilih duduk. Dia sadar akan perubahan moodnya yang tiba-tiba. Karena itu ia sama sekali tidak menikmati pertandingan yang sedang berlangsung.
Anna memejamkan matanya.
Sepertinya kekhawatirannya itu adalah semu alias tak perlu. Nyatanya, cowok itu tetap dapat bermain dengan profesional. Bahkan, cowok itu tidak terlihat sedih dengan pertengkaran mereka. Bukan berarti Anna berharap Nahyan tidak profesional, tapi ... yah, Anna hanya sedih kalau di sini hanya dia yang merasa gelisah dan khawatir.
Sepanjang pedtandingan berjalan, Anna benar-benar tak menikmatinya. Yang tadinya untuk menyemangati, kini berubah menjadi formalitas saja.
Untuk apa juga apa gue di sini? batin Anna.
"Katanya gak dateng?" Anna menoleh ke arah sumber suara.
Begitu melihat siapa yang berbicara, Anna tersenyum lebar. Moodnya berubah menjadi baik saat melihat Galen dengan senyum kalemnya. Anna memperhatikan cowok itu dari atas sampai bawah. Pertama kalinya Anna melihat Galen tanpa seragam sekolahnya.
Ganteng banget, sih!
"Ah? Gue gabut sih...." jawab Anna.
Galen menganggukkan kepalanya.
"Go, tolong lo ambilin minum untuk anak basket sama Jovan di mobil gue," ujar Galen sambil memberikan kunci mobilnya pada cowok di sebelah Anna.
"Oke." Cowok itu menerima kunci mobil Galen. Bertepatan setelah kepergian cowok itu, Galen duduk di samping Anna.
"Udah lama di sini?" tanya Anna sambil menoleh pada Galen.
"Iya. Dari pagi," jawab Galen.
"Owalah...."
Suasana diantara mereka berdua menjadi canggung, meski mereka berdua berada di antara sorak-sorak orang ramai.
Kruukk~ kruuk~
Pipi Anna memerah begitu perutnya berbunyi. "Untung aja lagi berisik," gumam Anna sambil memegangi perutnya.
Galen memperhatikan tingkah Anna yang aneh.
Anna mengulum bibirnya.
Ambil apa enggak, nih? Gue laper, tapi gue gengsi.
Anna meraih roti dengan canggung. "Makasih." Anna langsing memakan roti itu dengan semburat merah di kedua pipinya.
"Enak banget ya, Allah...." batin Anna. Beruntung ada Galen, kalau tidak terpaksa ia harus menahan lapar lebih lama lagi.
Galen menyunggingkan senyum lalu mengelus pelan rambut Anna.
Galen memeriksa jam di tangan kirinya. "Pertandingan sekolah kita bentar lagi selesai. Ada rencana setelah ini?" tanya Galen dengan senyum lembutnya.
...***...
"Anjaay! Peforma kita keren tadi!" ucap Suga yang girang sambil melakukan tos pada teman-teman satu timnya sekaligus adik tingkatnya.
"Nahyan lo maruk banget. Lo terus yang nyetak poin! Gagal tepe-tepe* gue," ujar cowok yang mempunyai tahi lalat kecil di atas bibirnya.
*p.s : tebar pesona.
Nahyan memutar bola matanya dan memilih tak menanggapi.
Saat yang lain sibuk membicarakan saat mereka bertanding,
Nahyan mengarahkan tatapannya ke tribun penonton untuk mencari sosok orang yang ia tunggu sedari pagi. Namun, orang itu tak kunjung terlihat hingga akhir pertandingan. Kalau benar begitu, Nahyan akan ngambek pada Anna.
"Ngapain lo di sini? Ayo keluar lapangan!" ujar Suga sambil menyeret Nahyan keluar dari lapangan.
Nahyan mengambil sebuah handuk dari dalam tas lalu melangkah pergi mengikuti teman-temannya yang menuju ke luar lapangan.
"Oke. Saya bangga dengan permainan kalian tadi," ucap Pak Haris. "Besok, kalian harus sudah ada di sini pukul 7 pagi. Ingat, istirahat yang cukup."
"Siap, Pak!"
"Oke. Bubar!"
__ADS_1
"Kakakk... kamu keren banget tadi!" Ujar Vinnie yang heboh.
Nahyan membungkuk untuk mengambil air putih dari dus. "Hm," jawab Nahyan yang masih mencari-cari sosok Anna.
Nahyan menyipitkan matanya.
Ketemu!
Nahyan meminum air putih lalu menyerahkan botolnya pada Vinnie.
"Kita harus---" ucapan Vinnie terpotong karena harus menangkap botol air bekas Nahyan. "Kak! Mau kemana?!"
.......
.......
.......
"Udah selesai, nih. Mau makan bareng anak-anak gak? Mobil gue masih luang," ujar Galen sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Sebenarnya, mobil miliknya sudah penuh. Tapi, mudah saja. Galen tinggal menyuruh Johan naik taxi, dan masalah pun terselesaikan.
"Emang boleh?" tanya Anna yang ragu.
Sebenarnya, Anna ingin pulang saja karena ia terburu-buru tadi datang ke sini dan hanya membawa uang pas-pasan.
"Boleh. Gak ada yang---"
BRUK!
Anna memekik sambil menutup mulut dengan tangan saat Nahyan yang datang dari arah belakang Galen tiba-tiba saja melayangkan tinjunya. Hal ini membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian.
"Galen!" Anna reflek mendekat ke arah Galen yang terluka di selaput bibirnya karena tinju dari Nahyan.
Nahyan menatap tajam ke arah Galen, lalu beralih ke arah Anna. "Ikut gue!" Nahyan menggenggam tangan Ayo keluar lapangan. dan menyeret gadis itu keluar dari gedung.
Nahyan melepaskan genggaman tangannya saat sudah berada di luar.
"Pulang sana! Gak usah di sini!" usir Nahyan dengan dingin dan tanpa ekspresi.
Melihat Anna dan Galen berbincang-bincang seru, membuat hati Nahyan panas dan tanpa pikir panjang melayangkan tinjunya.
"Lo yang nyuruh gue dateng, tapi lo juga yang ngusir gue. Mau lo apa sih?!" kata Anna yang tersulut emosi.
"Lo ngerusak pemandangan!" jawab Nahyan yang sedikitpun tak menunjukkan ekspresi.
Anna terperangah.
Sudah dibela-belai untuk datang ke sini tanpa mandi, sarapan, dan minum. Tapi ini balasannya? Anna menyesal telah memilih datang ke DBL dan meninggalkan tempat tidurnya yang nyaman.
Anna menghela napasnya.
"Gue bertanya-tanya sebenernya untuk apa gue di sini. Kenapa gue harus dateng, sedangkan gue punya hak buat gak dateng? Meski gitu, gue mutusin buat dateng. Buat semangatin team basket sekolah kita. Terutama lo."
"Tapi karena ucapan lo barusan, gue jadi sadar kalau udah ada orang lain yang semangatin lo kehadiran gue udah gak dibutuhin kan? Iya kan?"
Nahyan hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya.
Melihat itu Anna menambahkan, "Lo tau? Gue juga baru sadar ternyata lo cowok ternajis yang pernah gue liat." Setelah mengatakan itu, Anna segera pergi dari hadapan Nahyan.
Anna menekuk bibirnya sedih dan menghapus air mata dari sudut matanya. Lalu, ia setengah berlari menuju jalanan
"Kalau tau ujung-ujungnya begini. Gue gak bakal pernah dateng," batin Anna yang berusaha menghapus air matanya yang mengalir dengan deras.
Sruk!
Tiba-tia saja Anna merasakan tubuhnya tertarik ke belakang oleh tangan yang merangkul lehernya.
"Karena lo terdengar cemburu, mulai sekarang lo jadi pacar gue. Dan ini belum berakhir Anna," bisik Nahyan tepat di telinga Anna.
...°°°...
^^^-END-^^^
^^^tapi boong^^^
LIKE AND KOMENNYA JANGAN LUPA!!!!!😑
__ADS_1
SUKA dengan novelnya?
Yuk trakteer Byba Cendol 👉 https://trakteer.id/Juecy.bell/tip