
“Anna sini sayang!” sambut Miranda yang sedang sibuk sambil menaruh buku design.
Anna tersenyum tipis namun matanya sedang mencari sesosok cowok yang selama ini menjadi teman debatnya.
“Tante lagi milih baju seragam kita.” Miranda merangkul Anna. “Menurut kamu yang paling bagus yang mana?”
Seperti yang dijanjikan, hari ini adalah hari dimana Anna harus memilih gaun pengantinnya.
Anna melihat-lihat sekilas buku design yang deberikan Miranda.
“Uhm, semuanya bagus Anna jadi bingung,” Anna menjawab dengan lemah. Dia tidak menginginkan pernikahan itu. Makanya, dia tidak berada dalam mood untuk memilih baju seragam apa yang akan dipakai keluarga Anna dan keluarga Rabusy nanti.
“Kalau yang ini bagaimana?” tanya Miranda lagi.
Anna melihat design yang ditunjuk Miranda. “Bagus, Tan,” jawab Anna.
"Untuk warna kalau nude gimana?”
Anna berpikir sebentar. “Sebenernya Anna lebih suka warna putih, Tan. Gaun pengantin Anna juga warna putih kan?”
Miranda berpikir sekejap. “Berarti fix warna putih ya?”
Anna mengangguk. Ah, dia rasanya malas sekali. Dan Nahyan mengapa batang hidungnya tidak terlihat juga?
Miranda memanggil pelayan toko dan menunjukkan design-design yang sudah dipilih. Segera pelayan toko itu menyiapkan baju-baju yang sesuai dengan design yang terpilih.
“Papa sama Dhyo coba tuxedonya,” ujar Miranda.
Arga dan Dhyo hanya mengangguk dan segera ke ruang ganti.
Anna menatap Miranda. Bagaimana dengan Nahyan? Apakah cowok itu tidak akan hadir dipernikahannya nanti? Anna menghela napas pelan. Sepertinya wajar kalau Nahyan tidak mau hadir. Toh, siapa yang mau hadir dipernikahan mantan pacar yang masih dicintai? Terlebih lagi, calom suami mantannya adalah Kakaknya sendiri.
“Nahyan di mana ya, Tan?” tanya Anna.
Miranda diam dan menganggap pertanyaan Anna sebagai angin lalu. Hal itu benar-benar membuat Anna sedih. Mengapa Mama Nahyan seolah-olah bersikap tidak tau apa yang terjadi pada anaknya?
Anna menghela napas pelan. Kalau Anna punya anak di masa depan nanti, Anna tidak akan mau menjodohkan anaknya tanpa persetujuan seperti ini. Apa lagi kalau itu adalah pernikahan politik.
“Lihat, bagaimana penampilan Dhyo? Ganteng kan?” tanya Miranda saat ruang ganti yang dipakai tirainya sudah terbuka dan menampilkan wajah ayah dan anak yang terlihat sangat tampan.
“Memang ganteng, tapi tetep aja itu bukan Nahyan,” desah Anna dalam hati.
“Bagus, Tan,” Anna tersenyum tipis.
“Anna kenapa jawabnya dari tadi lemes gitu? Kamu sakit?” Miranda yang khawatir memegang kedua pundak gadis itu.
Anna menggeleng dan memberikan senyumnya, menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Anna benar-benar ingin ini cepat berakhir.
“Yaudah, kamu cepat ganti juga. Ada sekitar 5 gaun yang perlu kamu coba.”
__ADS_1
“Tante?”
“Tante mah udah dari tadi sebelum kamu sampai,” ujar Miranda sambil mengambil ponsel yang tiba-tiba saja berbunyi di dalam clutch.
Anna mengusap tengkuknya. Lalu, untuk apa Miranda bertanya padanya kalau wanita itu sudah menentukan pilihannya?
Anna bergegas ke ruang ganti. Saat dia berpapasan dengan Dhyo, gadis itu memberikan senyum tipisnya. Kalau dirasa-rasa semuanya seperti mimpi. Yah, Anna juga berharap bahwa semua ini memang hanya mimpi.
Anna memakai gaun pertama dengan bantuan dua orang pelayan toko. Gaun pertama ini berkonsep putri duyung dengan panjang gaun yang menjuntai di bagian bawah dan menampakkan lekuk tubuh. Selain itu, di bagian atasnya mengekspos bahu dan hamper menampakkan belahan dadanya.
“Gaunnya cantik,” gumamnya saat dihadapkan dengan ceriman di depannya.
“Siap-siap ya, Kak. Tirainya mau dibuka.” Anna mengangguk.
Dalam hitungan ketiga, tirai mulai terbuka. Dan hal pertama yang Anna lihat saat berbalik adalah sosok Nahyan yang baru saja datang.
“Syukurlah dia keliatan baik-baik aja,” hati Anna membantin.
Mata Anna dan Nahyan bertemu. Menciptakan getaran asing di antara mereka. Anna yang pertama kali mengalihkan tatapannya. Alasannya? Tentu saja dia merasa tidak akan sanggup kalau harus menatap mata itu lebih lama lagi.
“Gimana? Suka gak gaunnya?” tanya Miranda pada Dhyo yang hanya menatap datar pada Anna.
“Terlalu terbuka,” ujar Dhyo yang langsung mengalihkan tatapannya sesaat setelah tirai terbuka. Gaun itu terlalu memperlihatkan lekuk tubuh.
Anna menunduk. Anna suka dengan gaunnya, namun kalau untuk dipakai untuk berjam-jam akan terasa tidak nyaman. Dengan senang hati Anna mengganti dengan gaun yang lain.
“Cantik sekali Calon Menantu Mama,” ujar Miranda sambil bersandar pada bahu suaminya.
Mendengar pujian Miranda, Anna melihat ke arah Nahyan. Berharap cowok itu mengatakan hal yang sama padanya. Namun, kenyataan tidak seperti yang dia harapkan, Nahyan malah membuang muka padanya.
Harusnya Anna tidak berharap lebih kan? Gadis itu menggelengkan kepalanya. Sadar Anna! Sadar! Dia calon adik iparmu.
Nahyan mengepalkan tangannya.
Anna terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih itu, tapi mengapa gaun yang Anna pakai terlalu seksi seperti ini? Nahyan memprotes dalam hati. Dia benar-benar tidak suka dengan model gaun yang terlalu mengekspos tubuh seperti ini.
“Ganti. Evelyn gak cocok pakai gaun kayak gini,” ujar Dhyo tanpa sadar.
Suasana menjadi hening. “Evelyn?” tanya Miranda.
Dhyo yang tersadar kalau dia salah bicara, menggelengkan kepalanya.
“Ganti,” kata Dhyo.
Untuk ketiga kalinya tirai ruang ganti ditutup dna untuk ketiga kalinya pula Anna mengganti gaunnya.
Ah, hanya mengganti gaun saja rasanya sudah seletih ini. Apa lagi saat hari-h nya? Anna tidak bisa membayangkan dirinya harus memakai gaun yang berat untuk seharian seperti ini.
Anna menghela napas.
__ADS_1
Setelah melepas gaunnya, Anna kembali mengganti gaun dibantu pelayan toko. Saat selesai, Anna melihat dirinya di cermin terlebih dahulu.
A-Line Drees, itulah nama gaunnya. Bentuk gaun yang memanjang dan seperti garis A dari pinggang lalu melebar ke bawah.
Anna tersenyum tipis, sangat tipis. Dia pikir, dia suka dengan gaun yang ini. Meski bagian dada hampir terlihat, dibandingkan gaun-gaun sebelumnya, Anna lebih menyukai ini.
Ketika tirai kembali terbuka, suasana menjadi hening.
Dhyo menatap Anna, lalu dia memegangi kepalanya.
"Gaunnya cantik, pas dengan tubuh kamu. Tapi, coba ganti dengan gaun terakhir yang Tante pilih," ujar Miranda sambil menatap Anna dari atas sampai bawah.
Anna menghela napas secara terang-terangan.
"Iya, Tan." Anna menjawab dengan setengah hati. Dia tidak menyembunyikan kalau dia lelah.
Gaun keempat namanya adalah Ball Grown. Bentuk gaun yang ngepas pada korset dengan rok yang megar cocok untuk perempuan yang ingin gaun pengantinnya bertema queen atau princess.
Anna pikir, gaun ini sangat-sangat cantik dan megah. Namun sayangnya, bukan yang Anna inginkan. Gaun ini selain memakan waktu banyak hanya untuk memakainya, gaunnya juga sangat-sangat berat sanking tebalnya bahan yang digunakan. Untuk dipakai selama berjam-jam benar-benar tidam nyaman.
"Luar biasa!" Miranda bertepuk tangan.
"Bagaimana beli gaunnya yang ini saja?" tanya Mirada pada Dhyo.
Dhyo hanya menganggukkan kepalanya menurut.
Anna sedikit kecewa, namun dia segera menutupinya dengan senyum tipis.
Pengen cepet-cepet peluk guling hiks.
Nahyan memperhatikan Anna. Cowok itu menghela napas, lalu berkata.
"Gaun yang ketiga lebih bagus," ujar Nahyan.
Dia tau kalau Anna menyukai gaun ketiga yang dia pakai. Bagaimana Nahyan tau? Tentu saja sedari awal Nahyan memperhatikan ekspresi Anna saat sedang memakai gaun. Meski tidam begitu terlihat, gaun yang Anna suka adalah gaun yang ketiga. Terbukti sesaat tirai terbuka, Nahyan melihat senyum senang gadis itu. Sedangkan untuk gaun yang keempat? Anna sangat terlihat tidak bersemangat. Dan lagi, Anna bukan tipe perempuan yang ribet dalam hal pakaian.
"Kasian Anna pakai gaun seberat itu. Mending gaun ketiga," Nahyan melihat jam di ponselnya, "Kalau masih ragu milih gaun yang mana, tinggal beli empat-empatnya. Uang bukan masalah untuk keluarga Rabusy."
"Nahyan pamit. Mau kumpul sama temen," Nahyan berpamitan sambil mencium tangan Ibu dan Ayahnya. Lalu pergi meninggalka butik.
Anna menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Perasaannya berkecamuk.
"Gimana caranya supaya gue bisa cepet move on?" batinnya.
°°°
Bersambung.
__ADS_1