Nahyanna

Nahyanna
BAB 49


__ADS_3

" ...?"


"...!"


Anna membuka matanya perlahan karena sebuah percakapan yang terdengar samar-samar di telinganya. Hal pertama dan seterusnya yang gadis itu lihat hanyalan kegelapan.


Anna meraba perutnya, ia tertegun. Aneh. Mengapa dia tidak merasakan sakit sama sekali?


"AKU GAK MAU!" teriak seseorang dengan suara khas anak perempuan.


Anna akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mensongakkan kepalanya ke atas karena menurut pendengarannya suaranya dari arah sana.


"Shhht!" Seorang wanita paruh baya membekap bibir anak itu.


"Sayang, dengerin Mama. Anak kesayangan Mama anak penurut kan? Mama hanya pergi sebentar, Nak."


Anna terpaku melihat pembicaraan seorang wanita paruh baya dan anak perempuannya. Peristiwa itu terlihat seperti layar proyektor. Namun, seberapa keras Anna mencoba agar membuat penglihatannya jelas dan tidak buram, sebanyak itulah dia merasa kalau usahanya sia-sia. Entah mengapa, Anna merasakan suatu hal yang familiar.


"Gak mau! Waktu itu Papa juga ngomongnya begitu. Tapi, sampai sekarang Oapa nggak juga pulang!" rengek anak perempuan itu.


DOR! DOR! DOR!


"BIANCA! KELUAR KAMU!! CEPAT! ATAU SAYA BAKAR GEDUNG INI."


"BIANCA BUKA PINTUNYA!!"


Wanita itu terlihat panik begitu pintu di gedor dengan kuat.


"Sayang, Mama mohon. Diam di dalam sini sampai Om kamu dan teman-temannya pergi, ya? Mama mohon, Sayang."


Anak perempuan itu menatap wajah ibunya yang menangis, karena merasa bersalah dia akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.


Sebelum masuk ke dalam loker sempit yang seukuran anak perempuan itu, ibunya mencium seluruh wajah anak tercintanya itu. Dari kening, kedua pipi, hidung, dan bibir tanpa terlewat seinci pun.


"Anna harus selamat, sayang ..." ujar wanita itu sebelum menutup loker. Seketika, kegelapan dan kesunyian sekali lagi menyertai Anna.


.......


.......


.......


Anna perlahan membuka matanya. Namun, ketika berhadapan langsung dengan cahaya lampu, ia kembali menutup matanya. Sensasi hangat itu masih terasa.


'Anna harus selamat...'


Apakah itu kenangan lamanya bersama ibunda yang terlupakan?


"ALHAMDULILLAH! TAKBIR! ALLAHUAKBAR!" Anna membuka sedikit matanya untuk melihat siapa yang berbicara.


"AKHIRNYA SETELAH SATU ABAD LO SIUMAN JUGA!" heboh Deana.


"Ukh!" Anna meringis pelan saat merasakan kepalanya yang berdenyut sakit.


"Ada yang kurang nyaman? Bagian mana aja yang sakit? Gue panggilin dokter ya?!" tanya Deana. Terlihat wajah menangisnya yang memelas. Menurut Anna itu sangatlah lucu. Kalau saja tidak merasakan sakit yang luar biasa dibagian kepala dan beberapa bagian anggota tubuh lainnya, sudah pasti tak akan Anna lewatkan moment itu untuk memfoto wajah Deana.


"A...ir." Suara Anna terdengar lemah dan sangat pelan hingga hampir terdengar seperti berbisik.


"Iya, Na?"


"Ha...us."


Deana mengangguk dan cepat-cepat menancapkan sedotan ke Aqua gelas yang baru saja diambilnya. Deana membantu Anna menegak air minum dengan sangat hati-hati.


"Gue panggil dokter ya?"


"Gak usah."


"Kenapa? Biar diperiksa."


Anna berdecak. "Gue bilang gak usah," kata Anna yang terdengar ketus di telinga Deana.


"Oke deh. Maaf... gue cuma khawatir."


Anna memejamkan matanya. "Gue baik-baik aja, De. Gak ada yang perlu dikhawatirin. Gue belum mati."


Deana berdecak sebal.

__ADS_1


"Ya gimana gak kahawatir? Gue tungguin lo di sekolah eh, malah dapet kabar lo masuk rumah sakit dari wali kelas kita."


Anna terpaku. Sudahkah semua masalah keluarga Anna terbongkar? Bagaimana dirinya bersikap sekarang? Anna benar-benar tidak suka dan tidak rela jika masalahnya terbongkar.


"Gue khawatir banget tau gak?! Gue rela-relain bolos sekolah demi liat keadaan lo," ujar Deana sambil mengambil sebungkus roti. "Laper gak? Mau makan roti dulu selagi Nahyan beli makanan?" tanya Deana di sela-sela omelannya.


Anna menyipitkan matanya.


"Nahyan?" Anna bertanya dengan hati-hati.


Tiba-tiba saja ia merasa kepalanya kembali berdenyut sakit. Anna tak habis pikir, bahkan masalahnya sampai ke telinga Nahyan juga? Bagaimana ... ack! Anna benar-benar frustrasi!


"Pas gue kabarin kalau lo kecelakaan, Nahyan langsung cabut dari DBL tau gak? Padahal, satu pertandingan lagi sekolah kita tanding di babak final. Gitu-gitu ternyata Nahyan bucin juga."


Wait.


Anna mengerjapkan matanya beberapa kali.


Kecelakaan? Dia tidak salah dengar kan?


"Memangnya hari apa ini?"


"Hari Senin. Kenapa?"


Anna menggeleng lemah. Dia menyimpulkan sudah sejak kemarin ia tidak sadarkan diri. Anna lega Deana maupun Nahyan mengetahui kondisinya yang seperti ini adalah karena kecelakaan. Tapi, bukankah ini aneh? Bukan berarti dia ingin masalahnya diketahui. Hanya saja, semuanya terasa aneh.


"Gimana ceritanya lo bisa kecelakaan?" tanya Deana sambil menyuapi sepotong kecil roti pada Anna.


Anna sedikit membuka mulutnya dan membiarkan Deana memasukkan roti ke mulutnya. Kebetulan ia merasa sangat lapar.


"Nanti ya? Gue lemes," jawab Anna lemah.


Sebenarnya, dia masih mempunyai cukup tenaga untuk berceloteh panjang. Tapi, dia tidak mempunyai cukup cerita karangan agar tidak ada yang membuat curiga. Jadi, Anna butuh waktu untuk memikirkan beberapa alasan dengan matang dan rapi.


"DBL sekolah kita menang?" tanya Anna. Ia sedikit khwatir dengan peforma tim basket sekolahnya karena kaptennya malah melarikan diri ke rumah sakit untuk menjenguknya. Setahu Anna, dari permainan-permainan sebelumnya Nahyanlah yang menjadi kunci kemenangan. Dia jadi merasa bersalah.


Deana kembali menyuapi Anna.


"Iya, sekolah kita menang! Fabian tadi ngabarin gue," jawab Deana. "Oh iya, nanti anak-anak basket pada mau jenguk lo sepulang dari pertandingan. Mereka lagi nunggu upacara penutupan."


Anna menganggukkan kepalanya sambil mengunyah roti di dalam mulutnya.


"Orang tua lo mana?" tanya Deana seraya memberikan roti.


"...?!"


Bibir Anna terkunci rapat.


Dia tidak menyangka Deana akan menanyakan itu.


"Buka mulutnya, ih!" Anna membuka mulutnya, lalu dikunyahlah roti yang baru masuk ke dalam mulutnya. Dia menatap ke sembarang arah selain ke arah Deana.


"Ya?" tanya Deana.


"Hmm?" jawab Anna yang terdengar seperti gumaman.


"Gue nanya. Orang tua lo mana? Sejak pagi gue di sini gak ada satupun keluarga lo yang dateng," ulang Deana yang gregetan.


Anna menghela napas berat. Lepas dari satu masalah, malah terjerat dengan masalah lainnya. Beginikah hidup?


"Di tempat yang jauh," jawab Anna asal.


"Ya dimana?"


"Gue juga gak tau. Mereka itu kalau kerja pindah-pindah kota. Hampir gak bisa pulang ke rumah," jelas Anna. Tentu saja ia berbohong. Yang Anna tau, dia anak yatim piatu. Yang artinya dia tidak mempunyai orang tua lagi.


Deana mengerutkan dahinya.


"Masa sih? Kerja apaan sih emangnya?"


"Gak tau gue bilang. Gue itu gak deket sama orang tua gue. Gak peduli juga."


"Ya tapikan walau lo gak deket masa gak tau orang tua kerja apa?"


"Dibilang gue gak itu peduli lho. Itu urusan mereka. Bukan urusan gue."


"Gue jadi penasaran, emangnya mereka gak pernah ngehubungin lo apa? Telepon atau SMS gitu?"

__ADS_1


"Gak pernah."


Deana merasa kasihan pada Anna meski temannya sekarnag memasang tampang tidak peduli. "Terus? Mereka bisa pulang gak sekarang?"


"Enggak Deanaaaaa...! Mereka kan gak bisa ninggalin pekerjaannya!" kesal Anna yang merasa pusing dengan pertanyaan Deana yang berputar-putar.


Anna merasa bersalah berbohong sejauh ini tentang orang tuanya.


Mama, Papa, maafin Anna ya?


"Lo kan abis kecelakaan, sekedar balik buat meriksa anaknya masih hidup atau udah mati pun gak bisa?"


"Iya, gak bisa."


"Orang tua macem apa sih yang nelantarin anaknya gini? Ya kerja penting, tapi hidupkan gak cuma tentang uang. Lo juga pasti butuh kasih sayang!"


"Udah, diem! Protes juga orangnya gak denger," kata Anna sambil memejamkan matanya.


Deana berdecak sebal.


"Ini rotinya gak mau lagi?"


"Gak. Gue ngantuk. Mau tidur."


Deana seperti teringat sesuatu.


"Na!" panggilnya.


"Hm?" jawab Anna seperti khas orang yang mengantuk.


"Gue nemuin amplop di dalem keranjang buah," ujar Deana sambil mengambil sebuah amplop yang ia simpan di dalam tas sekolahnya agar tidak hilang.


Mata Anna langsung terbuka lebar.


"Mana?!" Anna langsung merebut amplop yang Deana pegang.


Deana hanya memperhatikan Anna dengan ekspresi bingung antara mau bertanya dan tidak.


Segera amplop ditangannya Anna buka, kemudian ia mengambil surat di dalamnya dan membacanya.


'Bertahanlah. Hanya sebentar lagi...'


Anna menutup mulutnya. Orang yang menulis surat ini sama dengan orang yang selalu menulis surat dengan isi surat yang sama. Tapi sekarang, isi suratnya berbeda. Sebenarnya siapa orang yang mengirim surat ini? Orang itu seakan selalu tau keberadaannya.


"Siapa yang kirim?" tanya Anna dengan mimik wajah serius.


"Gak tau. Gue nemuin di keranjang buah ini," jawab Deana sambil menunjuk keranjang buah yang berada di atas nakas di sampingnya.


Bisa periksa CCTV gak sih? pikir Anna dalam hati. Tapi, dia takut Deana akan curiga. Namun, dia tidak bisa melepaskan kesempatan ini.


"Memangnya kenapa sih?"


"Gue cuma penasaran siapa penggemar rahasia gue," jawab Anna sambil menyengir.


"Dih!" Deana memasang tampang ingin muntah.


"Emang isi suratnya apa?" tanya Deana yang ingin mengintip isi surat Anna.


Anna dengan sigap menjauhkan surat itu dari Deana, dan langsung melipat surat itu agar Deana tidak dapat melihatnya.


"Intinya, dia pengen gue cepet sembuh."


"Oh...." setelah mengatakan itu Deana langsung melihat layar ponselnya karena ada sebuah notifikasi yang masuk.


Anna lega, gadis itu tidak bertanya lebih lanjut.


Dia hari ini bisa lolos dari pertanyaan-pertanyaan yang ia dapat hari ini. Tapi, Dia tidak yakin keesokan harinya akan seperti itu juga. Maka, dia harus segera mencari alasan yang tepat.


"Harus!"


°°°


Bersambung...


😈 KOMEN (yang banyak!!)


🌷 LIKE

__ADS_1


Masih aku pantau kalean yang ghosting. dateng baca, gak meninggalkan apa-apa dan pergi begitu saja 🙃


__ADS_2