Nahyanna

Nahyanna
BAB 77


__ADS_3

Nahyan memakaikan selimut pada Anna yang tertidur nyenyak. Bisa-bisanya gadis cerewet itu menangis dan tertidur begitu saja dipangkuannya.


Dia mengusap rambut Anna pelan, lalu diciumnyalah kening Anna. Setelah itu, dengan perlahan dan tanpa menimbulkan suara, Nahyan keluar dari kamar miliknya.


"Oi," ujar suara yang terdengar datar dari arah belakang Nahyan yang sedang menutup pintu.


Nahyan menoleh. Wajah Nahyan berubah drastis menjadi datar, tak kalah dari wajah Abangnya yang kemana-mana selalu datar.


"Tau password dari mana?" tanya Nahyan sambil berjalan melewati Dhyo.


Dhyo mengekori Nahyan.


"Pulang," katanya yang tidak mengacuhkan pertanyaan Nahyan.


Nahyan melirik Abangnya sekilas.


"Gue bakal pulang," Dhyo menganggukkan kepalanya sebagai bentuk kelegaannya bahwa adik satu-satunya sekaligus adik kesayangannya itu akan pulang.


"tapi gak sekarang," sambung Nahyan yang membuat Dhyo menatapnya lekat-lekat. Mereka berdua menuruni tangga.


"Mama khawatir," ujar Dhyo yang masih berada di belakang Nahyan.


"Sebelumnya Mama gak khawatir jodohin lo sama Anna," sarkas Nahyan sambil melemparkan tubuhnya ke sofa, lalu menyalakan TV dengan volume sedang. Dia sadar Anna masih tertidur di kamar atas.


Dhyo terdiam dan menatap Adiknya dengan tatapan bersalah. Sebenarnya, Dhyo juga tidak mau. Hanya saja, dia sudah terlanjur bilang pada Mamanya bahwa dia akan menyetujui perjodohan apa bila pihak Anna menerima.


Dari apa yang pernah Dhyo dengar, Anna mempunyai hubungan yang spesial dengan Nahyan. Jadi, dia menduga bahwa gadis itu akan menolak perjodohan ini, makanya dia bisa santai-santai saja. Tapi, tidak disangka-sangka Anna malah menerima perjodohan ini.


"Tenang aja. Gue cuma butuh ketenangan, Bang. Bukan kabur dari rumah," ujar Nahyan.


"Tetep aja Mama khawatir."


"Emangnya gue pergi ke mana? Masih di apartemen kan? Mama juga tau jalan ke sini," jawab Nahyan.


"Belom ada sehari juga gue pergi," gerutunya pelan.


Dhyo menghela napas. Memang tabiatnya Nahyan yang keras kepala. Jika dia sudah memutuskan sesuatu, sangat susah membujuknya untuk mengubah keputusannya.


"Terserah. Tapi, lo yang paling tau gue gak berniat ngehancurin hubungan lo sama Anna." Dhyo melangkah pergi meninggalkan Nahyan.


"Pilihan lo, Bang. Gak memperjuangkan Evelyn," celetuk Nahyan membuat langkah Dhyo terhenti.


"Lo bener. Inilah pilihan gue. Nah, lo sendiri? Apa pilihan lo?" ujar Dhyo yang lalu sosoknya hilang dari balik pintu apartemen. Cowok itu pergi dan hanya meninggalkan Nahyan dan suara TV yang menemaninya.


Rahang Nahyan mengeras, dan menatap ke depan dengan tatapan kosong.


Pilihan?


Apa pilihannya?


...***...

__ADS_1


"Ma, gimana ini rencana kita?" kata Ami yang duduk di pinggir tempat tidur sambil memegangi tangan Dewi yang sedang berbaring.


"Di luar dugaan Anna pacaran sama Tuan Muda Kedua dari keluarga Rabusy," sambungnya.


"Hah, tetap jalani seperti rencana awal," jawab Dewi yang lemah dengan pikiran yang entah kemana. Seluruh tubuhnya terasa sangat nyeri. Dia tengah memikirkan suami kejamnya itu. Pagi-pagi sekali dia pergi dari rumah tanpa berpamitan. Dewi khawatir kalau pria itu pergi mencari para latjur.


"Tapi, Ma..."


"Selalu ada pengorbanan dalam proses mencapai suatu tujuan, Ami," potong Dewi sambil menatap langit-langit.


"Mama, kenapa kita gak kabur aja? Buat Papa mabuk, terus suruh dia tanda tangani pemindahan hak kuasa atas segala kekayaan dan properti."


Dewi melirik sinis anaknya itu. Entah mengapa, anaknya ini sangat bodoh. "Kamu pikir kita bakal tenang setelah melakukan itu? Kamu pikir kita gak bisa dituntut? Kalau kamu mau jadi buronan jangan ajak-ajak Mama," jawab Dewi.


Ami mengerucutkan bibirnya, "Ami cuma gak tega Mama harus terus pasang badan setiap si Anna buat Papa marah," katanya.


"Seperti yang Mama bilang tadi. Selalu ada pengorbanan dalam proses mencapai suatu tujuan."


Ami terdiam.


Sebenarnya, dia juga tidak tau tujuan bertahan di rumah ini apa. Selama ini Mamanya tidak pernah benar-benar memberitahunya.


...***...


"UNO GAME!" ucap Suga sambil menyerahkan kartu UNO terakhirnya yang berwarna merah.


"Anjim!" umpat Vano.


"Lo semua gak usah ngotak gambarnya!" kata Vano saat anak-anak yang ikut bermain kartu dengan antusias membuka spidol di tanagn mereka masing-masing.


"Gue mau gambar biji di muka lo, lo bisa apa?" ujar Epen sambil menyeringai lebar.


"Anjim lo! Liat aja nanti gue bales lo!"


Suga menggambar kumis yang panjang melinting di bawah hidung Vano. Setelah itu, dia menghampiri Fabian yang sedari yadi duduk di pojokan sambil memainkan gane di ponsel.


"Woi! Gak main lagi?" tanya Epen.


"Gak lo orang aja." Suga duduk di samping Fabian.


"Mabar sama siapa lo?" tanya Suga.


"Resta," jawabnya.


Suga menganggukkan kepalanya. "Gue denger, Anna dalam 2 bulan bakal nikah," ujar Suga sambil memainkan ponselnya.


"Hah? Serius lo? Yang bener aja?" tanya Fabian yang tidak percaya.


"Bener. Dapet dari sumber terpercaya. Nahyan sendiri yang bilang."


Fabian memicingkan matanya. "Kok gue gak tau? Tapi, syukurlah kalau mereka berdua nikah. Gak baik juga pacaran lama-lama ya kan," ucap Fabian yang kembali fokus pada gamenya.

__ADS_1


"Yang nikah bukan Nahyan dan Anna. Tapi, Dhyo dan Anna."


Fabian menatap tajam ke arah Suga.


"Ha.Ha.Ha. Candaan lu gak lucu bangs*t!" katanya yang tak acuh.


"Gue serius, B*bi!"


Fabian mengerutkan dahinya. "Lah. Anjim! Kok jadi kayak gitu?"


Suga mengangkat bahunya. "Gue juga gak ngerti sama jalan pikirannya nyokap Nahyan. Yang pasti bocah itu hatinya lagi patah pasti."


"Pastinya. Kalau gue bayangin Deana nikah sama cowok lain, apalagi itu kakak gue ... gak bisa gue. Pilihannya antara bunuh diri, atau gak gue culik si Deana," Fabian mematikan ponselnya. "Tapi sayangnya, gue gak punya Kakak."


Suga menatap Fabian sinis.


"Sama gue juga," seringainya yang langsung mendapat tepukan kepala dari Fabian.


Plak!


"Gak usah mukul kepala, Anying!" balas Suga yang memukul kepala Fabian.


Fabian bersandar pada tiang kayu di belakangnya. "Kita sebagai temen deket Nahyan tugasnya cuma support. Termasuk support Nahyan buat nyulik Anna saat pernikahannya nanti," ujarnya dengan senyum jahat.


Suga yang mengulurkan tangannya. Fabian menerima uluran tangan suga. "Sepakat!" kata mereka berdua bersamaan. Lalu, bersama-sama tertawa jahat.


"Oke, stop dramanya. Lo kalah main smackdown sama gue. Jadi, gue mau ngasih tantangan buat lo sekarang," ujar Fabian.


Suga menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak takut terhadap tantangan yang akan Fabian berikan. Paling hanya hal-hal kecil yang pastinya akan bisa dia atasi dengan mudahnya.


"Apa?" tanya Suga dnegan tampang tak berminat.


"Gue sebagai temen yang baik, dan gak mau liat lo terus-terusan gangguin hubungan asmara orang, gue tantang lo dapetin Bella anak kelas A-7. Sekalian, tebus kesalahan-kesalahan lo di masa lalu sama dia," kata Fabian dengan seringaian khasnya.


"Lo gila?!" teriak Suga yang tertahan. "Lo yang paling tau gue udah punya seseorang yang berharga!"


"Bro, udah berapa tahun sih lo cari dia? Lo memang yang terbaik dalam hal mencari seseorang, tapi liat sampe sekarang orang yang lo cari ga kunjung ketemu kan? Menyerahlah, dan terima tantangan gue!" bisik Fabian sambil menepuk pundak Suga.


"Gue cabut duluan. Mau ngebucin," kata Fabian. Setelah itu, dia berpamitan pada teman-temannya yang lain.


"Oh iya, kalau lo ngerasa ga sanggup gue kasih tantangan lain. Tantangannya adalah ... berhenti nyariin dia. Pilih aja tantangannya yang mana. Jangan jadi pengecut karena kabur, oke?" setelah mengatakan itu Fabian benar-benar pergi dari tempat tongkrongan mereka.


"Si B*bi...," kata Suga sambil mengacak-acak rambutnya.


Tiba-tiba saja sesuatu terlintas diotak cemerlangnya itu. Suga tersenyum samar.


Yah, sepertinya tidak salah bermain-main dengan Bella sebentar.


°°°


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2