Nahyanna

Nahyanna
BAB 54


__ADS_3

Terlihat seorang gadis yang tersenyum lebar tengah berdiri di depan cermin seukuran tubuhnya seraya merapikan letak dasi yang dipakainya.


"Anjaay. Gue cantik juga," gumam Anna sambil melihat wajahnya di cermin.


"Pantes aja Nahyan klepek-klepek sama gue," gumamnya lagi sambil cekikikan.


Akhirnya, setelah beberapa hari terjebak di dalam rumah sakit, Anna akhirnya diperbolehkan pulang oleh Nahyan. Dia sungguh rindu mencuci matanya, dia juga rindu guru-guru killer sekolahnya, dan rindu pula banyolan Zidan dkk.


Anna melihat jam dinding, lalu mengambil tas sekolahnya dan bergegas pergi keluar kamarnya. Dengan melihat kanan-kiri, Anna menyusup ke dapur dan mengambil roti tawar isi selai strawberry. Gadis itu membuka pintu kulkas dan mengambil satu botol yogurt kecil. Saat akan menutup pinru kulkas, dilihatnya cokelat batangan yang menganggur, lalu diambilnyalah cokelat itu.


"Mayan buat sarapan," batin Anna sambil tersenyum lebar.


Seperti biasa, sebelum pergi dari dapur gadis itu menengok kanan-kiri. Setelah merasa aman, dia langsung berlari menuju pintu keluar.


"Gue ini emang hebat," katanya memperhatikan cokelat di tangannya sambil menyibakkan rambutnya. Kemudian, Anna beranjak pergi menuju keluar halaman rumahnya dengan setengah berlari.


Langkah Anna terhenti begitu melihat seorang cowok yang sedang bersandar di samping mobil yang familiar baginya. Buru-buru Anna membuka pagar rumahnya.


Cowok itu tersenyum saat melihat sosok Anna yang entah mengapa terlihat sangat cantik pagi ini.


"Ha---"


"Lo ngapain di sini?!" pelotot Anna lalu menarik tangan Nahyan. Gadis itu membukakan pintu mobil penumpang dan memaksa Nahyan masuk. Dia takut, orang-orang rumahnya melihat cowok itu. Kan bisa gawat kalau sampai ketahuan.


"Na, salah--"


Brak!


Anna menutup pintu mobil tanpa memberi cowok itu kesempatan berbicara. Lalu, dia berjalan memutar menuju pintu kemudi mobil.


"Kunci," pinta Anna yang tanpa menatap Nahyan. Gadis itu sedang memakai sabuk pengaman setelah menaruh cokelat miliknya di sembarang tempat.


"Hah?" Nahyan terlihat bingung.


"Gue minta kunci mobil Nahyan!" kata Anna sambil menoleh untuk menatap wajah Nahyan.


Cowok itu mengeluarkan kunci mobilnya dengan ragu-ragu. Hal itu tak luput dari perhatian Anna. Merasa pergerakan cowok itu sangat lambat, Anna berinisiatif dengan merampas kunci mobil di tangan Nahyan.


"Kelamaan!" kata Anna lalu menghidupkan mobil sport milik Nahyan.


"Naa... ini mobil. Lo yakin mau ngendarain?" tanya Nahyan yang cemas. Dia tidak peduli pasal mobilnya yang lecet, rusak, ataupun hancur. Toh, dia bisa beli lagi. Tapi, dia tidak mau Anna sampai kenapa-napa. Apalagi gadis itu baru saja mengalami kecelakaan.


Anna menyeringai lebar.


Entah mengapa, sebuah ide gila melintas dipikirannnya.

__ADS_1


"Kencengin sabuk pengaman!" kata Anna.


Cepat-cepat Nahyan memakai sabuk pengaman saat melihat tampang gadis di sebelahnya yang bersiap-siap menancap gas.


"Na.... Gue aja yang ngemudi."


"Big no! Pokoknya lo tenang aja. Gue ini mantan pembalap mobil meski cuma pembalap liar," kata Anna sambil memegang stir.


"Oh." Anna melirik Nahyan yang rayt wajahnya merileks setelah dia mengatakan itu. Diam-diam Anna menahan tawa.


"Tapi dalam mimpi," sambung Anna sambil menginjak gas.


Nahyan melotot. "Anna! Bahaya!" teriak Nahyan yang panik begitu mobil melaju dengan kecepatan kencang. Untungnya, ini masih pagi dan belum banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Anna tersenyum puas.


Sekali-kali dia yang menjahili Nahyan boleh dong?


...***...


Anna mengarahkan spion belakang ke arah wajahnya. Tentu saja untuk dirinya berkaca. Setelah merasa tidak ada yang salah, iseng dia melihat keadaan Nahyan yang sedari tadi hanya diam.


Dilihatnyalah Nahyan yang terdiam dengan ekspresi bingung dengan apa yang terjadi. Cowok itu memang sering membawa kendaraan dengan kebut-kebutan. Tapi dia tidak pernah dibawa kebut-kebutan.


Nahyan memperhatikan Anna. "Lain kali gue gak akan bawa mobil lagi kalau sama lo," gerutu Nahyan sambil melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobilnya.


Begitu Nahyan keluar, cowok itu menyita semua perhatian siswa-siswi yang berada di parkiran mobil. Wajar sih, selain kaya cowok itu kan sangat tampan. Cowok saja dapat dibuat menoleh dua kali olehnya. Anna jadi takut kalau-kalau ... ah! tidak! Dia tidak boleh berpikiran seperti itu.


Nahyan mendekati Anna, lalu mengulurkan tangannya pada gadis itu.


Anna mengerutkan dahinya. "Apa?" tanya Anna yang bingung.


Nahyan menggerakkan tangannya sebagai jawaban.


Oh!


Anna menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian dengan senang hati dilepaskan tas sekolahnya dan memberikannya ada Nahyan. Lalu, gadis itu berjalan riang di depan Nahyan.


Nahyan menganga saat gadis itu tidak mengerti maksudnya. Namun, tetap diambilnya juga tas itu.


Anna terkejut saat sebuah tangan kekar menggenggam tangannya. "Yang gue minta itu tangan. Bukan tas," ujar Nahyan tanpa melihat ke arah Anna.


Anna tersenyum miring. "Ei? Gak takut di rotan Mama?" goda Anna sambil menaik-turunkan alisnya.


Ekspresi Nahyan langsung datar. "Berisik!" Nahyan buru-buru menyeret Anna pergi dari tempat itu karena malu banyak mata yang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Anna tertawa cekikikan.


Nahyan meringis pelan saat mengetahui dirinya ditertawai.


"Pelan-pelan jalannya, Ogeb! Kaki gue gak bisa nyamain langkah lo," kata Anna.


Nahyan tidak menjawab ataupun menolehkan sedikit kepala padanya dan tetap saja berjalan lurus ke depan, meski begitu cowok itu diam-diam memperlambat langkahnya sehingga Anna mudah menyamai langkahnya.


Anna tertawa pelan. Dia merasa tingkah Nahyan yang seperti ini benar-benar imut.


...***...


Deana sedari tadi memperhatikan Anna yang sedari tadi juga memperhatikan seorang gadis yang duduk di bagian pojok paling belakang dan sendirian.


"Lo ngapain ngeliatin dia?" tanya Deana.


Anna terlihat sedang berfikir. "Sekeras apapun gue mencoba mengingat, gue tetep gak bisa inget dia itu siapa. Anak baru atau gimana?" tanya Anna.


"Elah, kira gue apaan," Deana memutarkan matanya. "Dia bukan anak baru. Cuma kalau lo gak sadar sekelas sama dia, wajar. Anaknya emang jarang banget mau sosialisasi sama orang lain. Bahkan, sekedar ngomong kalau dia butuh pinjeman pena aja gak mau," jelas Deana sambil menarik sebuah tisu dari kemasan yang ditaruh di atas meja, kemudian dia mengelap pelan tisu itu ke wajahnya.


"Beneran?" tanya Anna yang tidak percaya.


"Iya, bener. Pokoknya beda sama elu yang kalau minjem pena gak tau malu. Udah betingkah, gak dibalik-balikin pula," sindir Deana.


"Ih, apaan? Gue balikin pena lu ya!" ujar Anna sambil mengunci leher Deana di ketiaknya.


"Iya, balikinnya pas tintanya udah abis!"


"Yang penting balikin!"


"Gak tau malu! Lepasin gue! Ketek lo bau bang*ke!"


Anna melepaskan Deana setelah menjitak pelan kepala gadis itu.


"Sembarangan! Gue ini wangi!"


Deana hanya memeletkan lidahnya. "PR dari Bu Haryati udah belom lo?" tanya Deana.


Anna nyengir. "Mana saya tau, saya kan tidak masuk sekolah."


"Makanya, nanya!"


°°°


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2