
"Kita mau kemana?" tanya Anna saat Nahyan memberikan helm pada Anna.
Anna memakai helm yang Nahyan beri. "Nganter lo pulang," jawab Nahyan sambil menghidupkan motornya.
"Pegangan!"
Anna mengerutkan dahinya. "Gue bilang gue mau nunggu lo tanding!"
"Pegangan!"
Anna yang gregetan mencubit pinggang cowok itu.
"Beraninya lo nyubit gue!" Nahyan menekuk wajahnya sambil membalikan badannya ke arah Anna. Tampaklah wajah masam milik gadis itu. Entah mengapa Nahyan menciut melihat tatapan Anna yang sekarang. Seperti lebih bossy, mungkin?
"Apa?!" semprot Anna. "Mau balas dendam? Nih, pukul!" kata Anna sambil mendekatkan pipinya ke arah cowok di depannya ini.
Nahyan langsung berbalik kembali ke posisi semula.
"Ta-tapi, kalau lo nonton lagi nanti lo ngeliatin cowok lain lagi," cicit Nahyan pelan.
Memang Nahyan tidak salah sih. Toh Anna memang pecinta sesuatu yang indah dan selalu mengangumi keindahan yang merupakan pemberian dari Tuhan. Tapi, tetap saja hatinya hanya untuk pacarnya seorang.
"Lo nyium cewek lain aja gue gak masalah, tapi hal kecil kayak gini aja lo permasalahin. Padahal, fungsi mata adalah melihat. Wajar dong kalau gue mengagumi makhluk ciptaan Tuhan?"
"Kapan gue pernah nyium cewek?" tanya Nahyan sambil mematikan motornya.
"Yang waktu itu!!"
Nahyan melepaskan helm teropong miliknya, dan mengubah posisinya menjadi menghadap Anna.
"Kapan? Dimana?"
"Beberapa hari yang lalu di sekolah! Inget gak?! Inget pasti! Lo jenius kan?!"
"Itu gue gak nyium!!"
"Iya, tapi lo dicium!"
"Terus masalahnya apa?!"
"Masalahnya? Lo tanya masalahnya apa? Coba lo tanya ke cewek manapun. Lo tanya, gimana perasaan mereka kalau tau pacarnya dicium cewek lain?"
Nahyan menyipitkan matanya.
"Terus?"
"Kok terus? Intinya, gue gak mau pulang. Gue masih mau di sini."
Jujur saja, dalam lubuk hatinya Anna merasa was-was kalau Nahyan digondol makhluk yang sebelas-duabelas dengan medusa. Pacarnya ini memang memiliki sejuta pesona. Anna akui, parasnya sangat tampan. Setiap cowok itu lewat pasti ada saja para medusa yang tak bisa melepaskan tatapan dari sosok yang bak patung Yunani itu.
Nahyan menyeringai, "Lo cemburu?"
"IDIH OGAH!" sanggah Anna.
"Bilang aja cemburu," goda cowok itu.
__ADS_1
"GAK CEMBURU LHO!" keukeuh Anna.
"Oh, cemburu," ujar Nahyan seraya manggut-manggut.
Anna menatap datar Nahyan. Bagaimanapun Anna menjawab, sepertinya tetap tidak akan ada yang berubah. "Gue bilang enggak!"
Nahyan mengelus kepala Anna. "Gak usah khawatir, Vinnie itu sepupu gue."
Anna menatap Nahyan tidak percaya. "Sepupu-sepupuan mah iya," sindirnya.
"Beneran. Lagi pula, dia udah nikah."
"Ah masa? Gak percaya ah! Masih muda gitu."
"Terserah." Nahyan kembali ke posisi semula, lalu memakai helmnya dan menyalakan motornya kembali.
"Beneran?"
"Hm."
Anna memikirkan hal itu lagi. Masa iya sih menikah di umur semuda ini? Wait, maksud Anna di zaman sekarang hal seperti itu sangat jarang, kecuali ada problem seperti hamil di luar nikah contohnya?
Anna menggelengkan kepalanya.
Keluarga Rabusy begitu terhormat, terpandang dan baik. Jadi, tidak mungkin hal seperti itu terjadi. Toh, pada anak laki-laki saja ketat apalagi pada anak perempuan, bukan? Atau itu adalah pernikahaan politik? Ya, mungkin saja itu adalah pernikahan politik.
"Pegangan," ucap Nahyan yang dibarengi dengan ia yang menancap gas.
Anna refleks memeluk pinggang Nahyan saat dirinya hampir saja jatuh ke belakang.
Tunggu.
Ada yang aneh.
"GUE BILANG GUE GAK MAU PULANG!"
"BERHENTI!!"
"NAHYAAAAAAN!!"
***
Anna masuk ke dalam rumah dengan raut wajah cemberut sambil menenteng sebuah palis berisi makanan lengkap dengan camilan, yang merupakan sogokan dari pacar pemaksanya agar tidak menonton cowok itu tanding.
Meski Anna menyukai sogokannya, tapi tetap saja Anna kesal karena tidak jadi menikmati, menganggumi keindahan ciptaan Tuhan. Anna juga sebenarnya ingin kembali mengoleksi foto-foto cogan yang raib saat Nahyan menghapusnya. Namun, semua itu sirna ketika Nahyan melarangnya untuk menonton!
"Saya perhatikan kamu jadi sering main-main ya setelah pindah sekolah," Suara rendah khas pria dewasa yang terdengan dari arah samping mengagetkan Anna. Gadis itu reflek menghentikan langakahnya dan menoleh ke arah samping.
Deg!
Anna mundur dua langkah kecil begitu mendapati sosok pamannya yang sedang bersedekap. Raut wajahnya benar-benar tidak mengenakkan hati.
"Gak, Om. Anna...." Anna melangkah mundur saat pamannya melangkah mendekat ke arahnya.
Plak!!
__ADS_1
Seketika bulir-bulir hangat mengalir begitu saja saat tangan lebar itu menyentuh pipinya. Anna menundukkan kepalanya. Dia mati-matian menahan tangis dan rasa sesak di dadanya.
"Kamu pikir saya gak tau kamu main laki-laki?" Yudhis mencengkeram rahang Anna dengan tangannya. "Iya kan?!"
Anna menggelengkan kepalanya. "Enggak---"
Plak!
Tamparan kedua mendarat di tempat yang sama.
"Siapa yang mengizinkan kamu bicara?!"
Tes.
Air mata gadis itu mengalir deras tanpa permisi. Pipinya terasa kebas dan tentunya sakit. Tapi yang lebih sakit adalah hatinya. Ia benar-benar tidak mempunyai posisi apapun di sini bahkan sekadar menjelaskan ia tidak pantas.
Anna berlutut dan memeluk kaki pamannya. "Om, Anna gak main laki-laki. Mereka cuma temen Anna om," jelasnya sambil mendongakkan kepalanya.
"Pembohong! Kamu itu sama saja dengan Ibumu! Pelac*ur sialan!" maki Yudhis seraya menedang perut Anna untuk melepaskan kakinya.
Anna menggelengkan kepalanya. "Om jangan hina Mama saya!" katanya dengan raut wajah tegas dan berani.
Yudhis melayangkan tendangannya pada bagian perut dan kaki Anna.
"Om sakit!"
Anna menangis tersedu-sedu dengan tubuhnya yang tergeletak lemah di lantai. Keadaan tubuhnya sudah lelah hingga tak berdaya meski hanya mengucap sepatah kata.
Anna menatap kosong ke depan.
Mengapa setiap ia merasakan sedikit kebahagiaan, pasti kebahagiaan itu kandas dengan masalah yang muncul setelahnya. Anna lelah, sangat lelah. Mengapa hanya ia yang tersisa? Tak bisakah ia juga ikut pergi?
Pria paruh baya itu menarik kuat rambut Anna hingga mendongak dnegan paksa. "Berani bantah kamu, hah? Ayo bantah lagi! Ayo cepat!" ujar Yudhis sambil menampar bibir Anna dua kali.
"Pa!" Di tengah kondisinya yang mengenaskan, Anna samar-sama mendengar suara Dewi (bibinya) yang berteriak histeris.
'Pah, udah Pa. Kasian Anna!'
'Berani ikut campur kamu?! Mau saya pukul juga?'
'Tenang, Pa. Anna juga ....'
Hanya itu yang bisa tertangkap oleh telinga Anna. Terakhir, sebelum semuanya berubah menjadi gelap dan sunyi dia melihat sebuah sepatu yang melayang padanya, dan menginjak-injaknya layaknya seekor binatang yang menjijikkan. Beruntung, ia sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dia bersyukur, kali ini tidak merasakan sakit. Dan dia harap akan terus begitu.
"Mama. Anna ngantuk," batin Anna saat matanya tertutup rapat.
°°°
Bersambung...
Yeah! udah bisa. Maaf untuk keterlambatannya. Ini juga bukan mauku.... im sorry for this.
Peka dong peka!!
Aku mau KOMEN dan LIKEnya. YANG BEJIBUN lho yah!
__ADS_1