Nahyanna

Nahyanna
BAB 52


__ADS_3

Happy reading!


Sudah hampir tiga hari Anna dirawat di rumah sakit. Sebenarnya, dia merasa kondisi tubuhnya sudah baik. Tapi,memang dasar teman-temannya dan kekasihnya itu yang melarangnya untuk pulang.


'Mau pulang? Jangan betingkah Anna!' -Nahyan


'Apa? Pulang? Boleh, tapi sebelum itu gue mau nampol kepala lo dulu.' -Deana


'Ngapain pulang? Ntar Kalo lo masuk, damai hari-hari gue. Tolonglah, biarkan gue puas dulu nontonin Nahyan ngamuk!' -Suga


'Pulang? Tanya gih sama Pak Boss. Kalau menurut gue sih udah pasti gak dibolehin.' -Fabian


Itulah rekasi teman-teman dan kekasihnya saat dia bilang ingin pulang. Padahal, dia merasa sangat bosan sendirian di sini. Yang bisa dia lakukan hanya rebahan, tidur, makan, main ponsel, ngemil, dan mandi. Mandi juga hanya mandi ecek-ecek alias cuma dilap doang pakai kain basah.


drrrt! drrrt! drrrt!


Anna menggapai ponselnya dia atas nakas dengan susah payah karena ia tidak mau bergeser dari posisi rebahannya yang sudah wenak. Dilihatnya nama Nahyan tertera diponselnya.


Kapten👮💕 is calling...


Langsung saja Anna menggeser tombol hijau.


"Ha---"


"Lo angkat telepon dari RS ke Jonggol apa gimana sih? Lama bener!"


"Terserah," jawab Anna dengan pelan. Dia malas menanggapi Nahyan.


"Lemes amat. Belum mati kan?"


"Astaghfirullah! Ngajak gelud?!"


Terdengar suara Nahyan yang tertawa kecil.


"Gimana keadaan lo? Udah makan belum?"


" Kenapa? Mau nafkahin emang ke sini?"


"Hm. Iya."


Anna memelototkan matanya. "Gak usah ngadi-ngadi! Masih jam sekolah ini!"


"Terus? Gue biarin lo kelaperan? Lagian, jam segini kok lo belum makan? Rumah sakitnya gak ngasih lo makan apa gimana sih? Gak guna banget! Apa duit yang gue kasih masih kurang?! Gue beli juga nanti itu rumah sakit," gerutu Nahyan yang terdengar kesal.


Anna tersenyum tipis.


"Gak gitu. Gue cuma gak suka aja makanan rumah sakit karena encer banget buburnya, udah gitu gak ada rasanya sama sekali. Ogahlah gue makan. Toh, jadinya gak nafsu."


"Oh."


"Iya."


"...."


"...."

__ADS_1


Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena setelah percakapan itu selama hampir tiga menit tak ada di antara mereka berdua yang mengeluarkan suara. Meski begitu, tidak ada pula yang berniat memutuskan sambungan telepon.


"Nahyan."


"Hm?"


"Gue mau pulang. Boleh ya? Gue bosen di sini."


"Gak! Bukannya kita udah ngomongin ini?" Suara Nahyan berubah menjadi dingin.


Kalau sudah begini, lebih baik Anna mengalah dari pada urusannya berbuntut panjang.


"Ya tapi kan... luka gue itu gak parah lho. Lagian, gue kangen sekolah." Anna sengaja mengeluarkan jurus suara manja andalannya.


"Sekolah doang, guenya enggak?"


Anna menahan senyum lebar yang akan terbit di bibirnya. Untung saja Nahyan melunak.


"Ih ngapain? Gue bosen liat lo. Dimana-dimana kayaknya selalu ada lo."


Apa yang dia bilang itu benar. Entah bagaimana, Anna sering bertemu atau sekadar berpapasan dengan Nahyan saat di sekolah mau pun di luar sekolah. Entah Nahyan itu cenayang atau bukan, karena setiap dia berniat cuci mata rencananya selalu gagal berkat kehadiran cowok itu. Dan kalau pun sedang libur sekolah, Nahyan tidak membiarkan ponselnya berhenti mengeluarkan suara.


"Hm. Yaudah. Tunggu gue di sana."


Tut


Anna mnegerjapkan matanya beberapa kali. "Ini maksudnya dia mau nyanperin gue atau gimana sih?"


"Bodo, ah! Mending gue ngemil." Anna mengambil semua camilan dan menaruh semua ke pangkuannya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, lalu dibukanya kembali ponselnya.


"Kenapa?"


"Kalau ke sini bawain minum! Gue hampir mati keselek tau gak?" ujar Anna sambil menyuap keripik kentang.


"Kan disediain dispenser?"


Anna mengangkat kedua alisnya. Lalu, dicarinya letak dispenser di dalam ruangan itu. Anjiir! Selama ini gue nahan minum percuma berarti, batin Anna saat dia benar-benar menemukan dispenser.


"Gak mau! Kejauhan. Mager!"


Nahyan terdengar sedang menghela napas.


"Hah... iya, iya."


tut!


Anna mengerutkan dahinya. "Ih gak sopan banget langsung di matiin!" gerutu Anna.


Cklek!


Anna mengarahkan tatapannya ke pintu saat terdengar suara pintu yang terbuka.


Prok! Prok! Prok!


"Hebat ya?" Ami memasuki ruang inap Anna sambil melihat-lihat. "Dapet duit dari mana lo bisa nyewa ruang president suite?"

__ADS_1


Anna hanya memasang tampang datar. Medusa di depannya ini benar-benar membuatnya kehilangan mood. Pastinya, si Medusa mau sewot lagi, mau nuduh-nuduh tidak jelas lagi.


"Ngaku aja lo maen cowok. HP lo itu pasti dapet dari ngelon*te kan?" ujar Ami dengan seringaian liciknya.


Anna mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Enak saja dia dibilanh ngelon*te. "Lo sewot amat sih ngurusin hidup orang! Ngaca dulu hidup lo udah bener atau belom!"


"Hidup gue mah udah bener. Gak susah seperti seseorang yang mau beli HP bermerk aja mesti jual diri." Ami tersenyum mengejek sambil menatap kelima kuku jarinya.


"Fvck!" gerutu Anna.


"Mending lo pergi! Gak guna tau gak di sini?!"


"Wo... wo... wo... dia marah," ejek Ami yang membuat Anna naik pitam.


"Gue bilang pergi!" teriak Anna sambil melempar buah apel yang berada dekat jangkauannya ke arah Ami.


Plak!


"Aw!" ringis Ami sambil memegangi jidatnya yang terasa nyeri. "Lo gila ya?!" Ami melayangkan tangannya untuk melempar tasnya untuk membalas Anna. Namun, tangannya tertahan oleh seseorang dari arah balakang.


Ami yang terkejut refleks menoleh ke belakang.


"Berhenti Ami! Jangan buat masalah dulu," ujar Dewi lalu setelah itu dia melepaskan tangan Ami.


Dewi mangambil apel yang tergeletak di lantai, lalu berjalan mendekati ranjang Anna diikuti Ami dari belakang.


"Saya gak tau kamu dapet uang dari mana hingga bisa menyewa ruang president suite. Toh, saya tidak peduli. Tapi, saya harap jangan sampai masalah itu terdengar oleh orang luar." Dewi menatap Anna mengintimidasi, seolah memandang rendah dirinya. "Otak udangmu itu bisa mengerti kan?"


Anna mengepalkan tangannya, lalu dia menjawab. "Saya mengerti. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silakan keluar. Pintu keluarnya di sana kalau Anda lupa," ujar Anna tanpa nada sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


Dewi melirik sinis ke arah Anna, lalu dia pergi tanpa berkata apa-apa. Sebelum pergi, Ami memeletkan lidahnya dengan senyuman penuh kemenangan.


'Anak yatim!' Anna memperhatikan gerak bibir Ami.


Anna cukup tau apa yang Ami katakan padanya meski gadis itu hanya menggunakan gerak bibir. Kalau bisa, dia ingin memberi cabai ke mulut lucknut itu. Dia mera kesal, marah, dan entah mengapa terselip juga rasa kecewa.


"Oh, satu lagi. Jangan berharap lebih untuk dapat kiriman uang kedepannya. Karena mulai bulan kemarin hingga seterusnya, keuangan keluarga Abimanyu saya yang pegang."


Anna melengos saat Dewi mengatakan hal itu padanya.


Pantas saja dia tidak dapat kiriman uang. Ternyata, ulah Nenek Sihir itu.Anna menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. Tentu saja dia kesal dan marah. Tapi, dia tidak bisa protes, bukan?


Dengan sembrono, Anna melepas paksa infus yang menempel di tangan kirinya.


tes!


Darah mengalir keluar dari tangannya akibat jarum infus yang ditarik paksa, meski darah yang keluar tidak terlalu banyak.


"Gue bisa gila," batin Anna sambil memperhatikan darah yang mengalir.


°°°


Bersambung...


...CUMA MAU BILANG, GUE TAKUT SAMA HANTU!...

__ADS_1


...🌷Tinggalin KOMEN dan LIKE bisa kan 😥...


__ADS_2