
"Beuh... lu enak bener ya. Dari pagi sampe jam 12 di UKS mulu. Keluar UKS pas istirahat kedua. Pinter banget. Gak sekalian sampe pulang sekolah?" cakap Deana yang memulai obrolan.
Anna beralih dari semangkuk bakso di depannya dan menoleh pada Deana yang duduk di depannya. Dia menyeringai. "Iyalah. Mana tadi gue ditemenin sama jajanan yang lo bawa dan yang Zidan kasih kan," tambah Anna.
Deana menarik tisu dari kotak tisu, lalu meremukkannya hingga menjadi bola dan terakhir, dilempar bola tisu itu ke arah Anna sebagai ungkapan kekesalan.
Anna melotot saat bola tisu itu hampir saja terjun bebas ke dalam mangkuk berisi bakso miliknya. "Heh, bakso gue! Hampir aja terkontaminasi!" cibirnya sambil mengangkat mangkuk bakso.
Deana terkikik kemudian kembali memakan mie ayam.
"Malah ketawa dia," Anna menyindir sambil memutar bola matanya. Mata Anna menangkap sosok Suga dan Fabian.
Nahyannya mana? batin Anna yang mencari-cari sosok Nahyan.
Menyadari tatapan Anna, Suga melambaikan tangannya. Segeralah cowok itu menghampiri meja tempat Anna berada diikuti Fabian di belakangnya.
"Woi, Na! Lo ada utang sama gue!" Suga duduk di sebelah Anna. Anna menggeser duduknya hingga mencukupi ruang untuk Suga dan Fabian duduk. Entah ada apa dengan dua cowok itu, padahal di samping Deana tempatnya masih sangat luas.
Dahinya mengerut. Sejak kapan dia memiliki hutang dengan Suga? "Mana ada!" sanggah Anna.
"Ada. PP alias ...," Suga berbisik di telinga Anna. "Pajak Putus."
Anna terpana. Bukan karena sosok Suga yang tampan, melainkan karena pola pikir Suga yang kelewat miring. Mana ada orang yang temannya putus malah dimintai pajak.
"Pajak termasuk hutang. Jadi lo berhutang sama gue!" sambungnya sambil mengambil garpu milik Anna dan langsung menancapkan bakso ke garpu itu.
Anna menahan tangan Suga yang memegang garpu.
"Maksud lo apaan?" protes Anna.
Suga nyengir. "Makan bakso. Apa lagi?" Suga memasang wajah tak berdosa. Benar-benar teman lucknut memang. Anna jadi penasaran bagamaina bisa Fabian dan Nahyan betah berlama-lama bernapas di udara yang sama dengan Suga.
"Gak ada! Gak ada! Kalau mau ya beli sendiri! Orang kaya kok comot sana comot sini," decak Anna yang mejauhkan mangkuk baksonya dari Suga.
"Elah pelit banget." Mata Suga tertuju pada Bella yang berada di samping Anna yang lain. Sedari tadi gadis itu hanya diam saja hingga membuat Suga hampir tidak menyadari kehadiran gadis itu.
"Eh, Bella!" Suga berpindah tempat duduk ke samping Bella. Tentu saja cowok itu langsung mendapatkan tatapan sinis dari Bella.
"Jauh-jauh!" sembur Bella yang merasa sangat terusik.
"Hm. Galak ya. Tapi gak apa gue suka. Gue juga udah mulai bosen sama cewek-cewek yang lemah lembut," ujar Suga bukannya menciut malah menjadi semakin antusias karena merasa tertantang.
"Gak nanya!" judes Bella. Gadis itu fokus ke makan siangnya. Dia sedang sangat lapar. Sedari malam dia belum makan. Iya, malam. Bukan dari pagi lagi. Tadi pagi dia tidak bisa membuat sarapan sebab kehabisan bahan makanan. Dia lupa ke pasar karena kesibukannya beberapa hari ini.
__ADS_1
Anna yang menyaksikan itu hanya terkekeh geli, lalu dia beralih pada Fabian dan Deana yang hanya saling diam. Deana memainkan ponselnya, sedangkan Fabian menundukkan kepala sambil mencuri-curi pandang dengan Deana.
Anna menggelengkan kepalanya pelan. Di sebelah kiri suasananya panas, dan yang di sebelah kanan suasananya dingin. Anna jadi merasa seperti dispenser.
"De.... Bisa bicara empat mata?" tanya Fabian yang akhirnya berani membuka pembicaraan.
Deana melirik Fabian sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya. Gadis itu hanya menganggap ucapan Fabian angin lalu. Sebenarnya dia ingin hubungannya kembali seperti dulu kala. Tapi, kalau Deana akhiri kemarahannya, lantas yang terjadi selanjutnya apa?
"Bicara sana lo berdua. Jauh-jauh ya," sela Anna sambil melirik Deana dan Fabian bergantian.
Deana menatap Anna, lalu menggelengkan kepalanya sebagai ungkapan ketidakmauannya. Anna membalas Deana dengan pelototan. "Udah sana!" katanya tanpa suara.
Deana cemberut, lalu beralih menatap Fabian yang duduk tepat di depannya.
"Ayo!" jawab Deana yang setengah hati. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalanan meninggalkan kantin.
Mata Fabian langsung berbinar, dia langsung mengikuti Deana dari belakang. Terlihat sekali kalau suasana hati cowok itu sedang bagus. Meski Fabian tau Deana terpaksa, setidaknya gadis itu mau berbicara dengannya. Hanya dengan satu fakta itu saja sudah membuat Fabian sangat bahagia.
"Ayolah, dinner sama gue. Gue tau lo sebenernya naksir gue."
TRANG!
Bella melempar sendok dan garpu.
Suga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dia tidak pernah meragukan ketampanannya. Makanya dia selalu percaya diri ketika merayu gadis-gadis. Dan itu memang terbukti dengan adanya fakta hampir satu sekolah gadis dari SMA Y pernah berpacaran ataupun pernah dekat dengannya.
Tapi sekarang?
Hanya karena ucapan seorang Bella mental Suga menjadi down.
"Na," panggilnya pada gadis yang mengunyah bakso dengan santai di sampingnya itu.
"Apwa?" tanya Anna antara acuh tak acuh.
"Muka gue gak ganteng kah?"
Anna memutar bola matanya, lalu meminum air putih yang ada digelas. "Lo ganteng. Cuma sayang, lo akhlakless, mulut ember, tukang gosip, dan lo itu cabe," sarkas Anna lalu pergi meninggalkan Suga sendirian.
"Yang penting gue ganteng," gumam Suga sambil menyeringai lalu terkikik-kikik sendiri.
...***...
__ADS_1
"Gue balik duluan, ya," ujar Deana pada Anna.
"Oke. Bye!" Anna tersenyum dan melihat Deana yang memasuki mobil berwarna silver.
"Kalau gitu gue balik juga," ujar Bella yang akan pergi, namun dia hampir terpelanting saat Anna dengan tiba-tiba menarik tas sekolahnya.
"Tunggu, elah! Gue mau main ke rumah lo," ujar Anna.
Bella menaikkan sebelah alisnya. "Emangnya kita sedeket itu?" cibirnya yang akan pergi, namun lagi-lagi Anna menarik tas sekolahnya.
"Mau lo apa sih?!" kesal Bella dengan wajah yang cemberut.
"Gue kepingin main ke rumah lo!" ujar Anna yang terkesan memaksa. Walaupun sebenarnya memang memaksa.
"Ini udah pulang sekolah. Sesuai kesepakatan, gue gak ada kewajiban untuk nurutin semua keinginan dan kemauan lo atau ngikutin lo. Oke. Sampai jumpa besok!"
"Nanti dulu!" Anna menarik tas sekolah Bella lagi.
"Apa sih?! Lo ini gak ngerti gue gak mau apa?"
"Kita kan udah temenan agak lama. Nah, gue mau mengenal--"
"Anna." Sebuah suara berat khas cowok yang memanggil nama 'Anna' terdengar dari arah samping dan menyela pembicaraan antara Anna dan Bella.
Pupil Anna melebar. Napas Anna terasa berat. Jantungnya juga berdetak kencang. Tangannya pun mengeluarkan keringat dingin. Bagaimana dia tidak bereaksi seperti ini? Kalau orang merupakan kakak dari orang yang dicintainya sekaligus orang yang beberapa bulan lagi akan menyandang status sebagai suaminya, berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
"Kak Dhyo?" bibirnya bergetar. Mata Anna tidak lepas dari sosok Dhyo yang sekarang tengah berjalan canggung mendekatinya.
"Hari ini, lo pulang bareng gue," katanya dengan wajah datar, namun tidak terkesan marah ataupun bad mood. Ingat, Dhyo memang kemana-mana selalu berwajah datar. Dalam pertemuannya dengan Dhyo, Anna tidak pernah melihat cowok itu mengubah ekspresi datarnya.
Bella yang tidak mau terjebak di antara dua orang yang dia tidak tau hubungannya apa, tidak melepaskan kesempatan ini dan langsung pergi.
"Huft, syukurlah gak perlu nampung manusia rese," gumam Bella sambil tersenyum tipis.
"Bella sayang!" Bella menoleh. Saat melihat Suga berlari ke arahnya, gadis itu langsung berlari menjauhi cowok itu.
"Bell! Kenapa lari Bell?! Gue mau kita pulang bareng!! Bell!" teriak Suga yang mengundang perhatian orang yang berlalu-lalang.
"Gak kenal! Gak kenal!" gerutunya yang berlari sambil menutupi wajahnya dengan tangannya.
°°°
Bersambung.
__ADS_1