Nahyanna

Nahyanna
BAB 78


__ADS_3

Deana menatap Fabian yang tiba-tiba saja sudah berada di depan rumahnya.


"Ngapain?" jutek Deana. Kemarin, sudah susah payah dia memutuskan hubungannya dengan Fabian. Bukan berarti mereka berpacaran. Tidak seperti itu. Deana memutuskan kedekatan mereka. Setelah merenungkan kata-kata Anna, dia pikir Anna benar. Tidak sepantasnya dia berhubungan dekat dengan pria lain disaat dirinya sendiri masih terhubung dengan pacarnya.


"Please, De," lirihnya sambil memegang tangan Deana.


Sejujurnya, dia merasa iba dengan Fabian sekarang. Deana akui dirinya jahat, menolak seseorang sebelum orang itu sendiri menyatakan perasaannya. Tapi, apa daya? Dia hanya mengikuti kata hatinya.


"Gak bisa. Kita gak bisa sedeket itu lagi. Gue masih punya hubungan sama orang lain. Dan, ya gue cinta pacar gue yang sekarang. Jadi, lebih baik kita akhiri semua ini," tolak Deana. Setelah itu, Deana melepaskan tangannya dari genggaman Fabian dan memilih masuk kembali ke rumahnya.


"Itu gue," seru Fabian saat Deana berencana menutup pagar rumahnya.


Deana menatap Fabian dengan penuh tanya.


"Pacar lo. Pacar virtual lo. Itu gue. Ian alias Fabian Fausta," ungkapnya.


 Ya, benar. Ian, pacar virtual Deana sebenarnya adalah Fabian sendiri. Dia sudah menyukai Deana sejak awal MOSnya dulu. Deana selalu terlihat muram dan sendirian.


Awalnya dia hanya penasaran saja, tapi lama-kelamaan tanpa dia sadari matanya selalu mencari-cari sosok Deana. Namun, Fabian tidak mempunyai keberanian untuk mendekati Deana.


Baru-baru inilah dia berani mendekati Deana, yaitu saat tau gadis itu memainkan salah satu Game Online. Maka dari itu, Fabian sengaja meminta bantuan Suga untuk mendapatkan nomor ID Mobel Lejen gadis itu. Tujuannya, agar Fabian dapat medekati Deana.


Benar saja, lewat game online tersebut Fabian dapat mendekati Deana, bahkan dia bisa menyandang status baru sebagai pacar Deana. Tapi, dia tidak tau tingkah lakunya ini menjadi boomerang bagi dia yang di dunia nyata. Ian virtual, malah menjadi penghalag hubungan Fabian dengan Deana di dunia nyata.


Deg!


Deana perlahan melangkah mundur. Dia menutup mulut dengan tangannya. Gadis itu menatap Fabian tidak percaya. Melihat keterkejutan Deana, Fabian mendekati Deana.


"Diem di situ!" teriak Deana dengan sorot mata yang terlihat tajam. Deana merasa dipermainkan.


"De, dengerin gue--"


"STOP! GUE BILANG DIEM!" jerit Deana yang langsung menghentikan langkah Fabian.


"Please, De. Dengerin gue. Gue bisa jelasin," mohon Fabian dengan wajah yang memelas.


Deana tersenyum miris, "Lo mending pulang," katanya akhirnya.


"De... gue mau jelasin...."


"Pulang!" jerit Deana sekali lagi.

__ADS_1


Fabian terdiam. Lalu, tanpa berkata-kata lagi dia berbalik dan menaiki motornya. Tanpa berpamitan, Fabian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Kenapa jadi gini sih?" lirihnya sambil memegangi dadanya yang terasa nyut-nyutan.


Bukankah seharusnya dia merasa lega kalau Ian sebenarnya adalah Fabian? Tapi mengapa dia malah merasa terkhianati begini?


...***...


Anna terbangun dari tidurnya, dan langsung menyadari kalau kamar yang dia pakai ini bukanlah kamarnya. Dia termenung, dan mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi.


'Jangan nangis, Na. Bukannya ini pilihan lo?'


Anna tertegun.


Tiba-tiba saja suara Nahyan terdengar jelas dipikirannya.


Dengan perasaaan yang campur aduk, dia segera turun dari tempat tidur yang ukurannnya king size itu. Dia segera keluar dari kamar, dan mencari sosok pria yang belakangan ini mengisi tenpat kosong di hatinya.


Saat Anna menuruni tangga, matanya langsung tertuju pada Nahyan yang sedang berada di mini bar.


"Udah bangun?" tanya Nahyan yang sekilas melihat Anna, lalu kembali sibuk membuka makanan-makanan yang baru saja dia beli.


Anna menundukkan kepalanya, dia juga mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan perlahan Anna berjalan menuju Nahyan.


Kenapa dia tidak marah-marah seperti biasanya?


Kenapa?


Nahyan tersenyum tipis saat Anna berada tepat di depannya. Cowok itu menyodorkan piring berisi nasi padanya.


Kenapa saat sudah begini Nahyan banyak tersenyum? Itu menyakiti hatinya. Sebelumnya, Nahyan jarang sekali tersneyum seperti ini. Apakah Nahyan lega jauh darinya? Apakah hanya Anna yang sedih di sini?


"Sini duduk. Sekarang udah lewat jam delapan malem. Gue tau lo pasti laper," kata Nahyan dengan kalem.


Anna memejamkan matanya, "Na-Nahyan, ayo kita kabur," ajaknya. Dia memberanikan diri untuk menatap langsung ke mata Nahyan.


Nahyan tertegun. Namun, cowok itu hanya menundukkan kepalanya dan terdiam.


Anna yang melihat itu menjadi tidak sabaran.


Mungkin saja saja dia terkejut. Ya, mungkin Nahyan terkejut. Haruskah dia mengulangi perkataannya?

__ADS_1


"Ayo kita ka ... bur," ulang Anna dengan suara yang memelan begitu matanya dengan mata Nahyan bertemu. Tapi anehnya cowok itu tetap tidak mengatakan apa-apa.


Jantung Anna berdebar disusul dengan rasa sakit yang seakan menusuk jantungnya. Dia tersenyum getir. Kakinya tanpa disadari melangkah mundur. Nahyan yang tidak meresponnya, dan memilih diam benar-benar menyakitinya.


Anna sadar dirinya sudah tidak bisa kabur lagi. Tapi, saat ini dia hanya butuh kata-kata penghibur. Setidaknya, dia mengiyakan ajakannya. Anna tidak apa-apa walaupun itu hanya kebohongan semata. Benar-benar tidak apa-apa.


Tes!


Air mata Anna tiba-tiba saja mengalir deras. Tanpa dia sadari, dan tanpa bisa dia kendalikan.


"Gue pulang," suara Anna yang pelan terdengar bergetar. Dia berjalan cepat menuju pintu keluar.


"Tunggu!" Langkah Anna terhenti


Dengan senang hati Anna berbalik dan memberikan senyuman termanisnya.


Nahyan mendekati Anna yang berdiri dengan canggung, namun wajahnya dihiasi senyuman.


Mungkinkah Nahyan menerima ajakannya? Mungkinkah? Kalau benar begitu, betapa bahagianya dia, pikir Anna dengan hati yang berbunga.


"Gue...," Nahyan menelan salivanya, "Gue anter," sambungnya yang kaku, membuat senyum gadis di depannya menghilang begitu saja.


Anna memasang tampang datar. Meski begitu, terlihat kala gadis itu bingung dan tidak mengerti dengan situasi yang sekarang. Setelah bisa mengendalikan diri, Anna mengambil napas panjang dan berkata, "Gue bisa sendiri."


Anna membuka pintu. "Pilihan gue menerima perjodohan dengan Dhyo. Dan sepertinya lo udah memutuskan pilihan lo sendiri kan?" ucap Anna tanpa berbalik. Dia tidak mau melihat wajah Nahyan, yang ada dia bisa langsung menangis sesegukan di sini. Dia tidak mau menunjukkan titik terlemahnya.


"Melepaskan.... Itu kan pilihan lo?" Suara Anna mulai bergetar, "So, mula sekarang lo bebas." Setelah mengatakan itu, sosok Anna menghilang dari balik pintu.


Cklek!


Dalam kepergiannya yang penuh air mata kesedihan, Anna memutuskan apapun yang terjadi dia hanya akan menerima. Tanpa sedikitpun menolak. Karena kalau dia seperti itu, setidaknya dia tidak akan merasakan sakit saat mencoba memperbaiki keadaan namun gagal.


Sedangkan Nahyan, cowok itu hanya diam termenung meratapi kepergian gadis itu. Gadis yang membawa hatinya.


Nahyan memegangi dadanya.


Dia merasa hampa. Sepertinya, dia benar-benar akan kehilangan, tidak, mungkin dia memang sudah benar-benar kehilangan.


°°°


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2