
Anna berjalan menelusuri rumah sakit sendirian. Yang pasti, dia hanya keluar untuk mendinginkan kepalanya tanpa tau arah tujuannya. Jujur saja, dia ingin kabur dari rumah sakit, tapi Anna tidak yakin semua yang dia sembunyikan masih bisa tertutup rapat.
Anna berhenti sejenak untuk melirik para perawat yang sedang menggiring sesosok orang yang seluruh tubuh dan wajahnya ditutupi kain putih menuju kamar mayat.
"Kasian, ya cucunya tinggal sendirian."
"Ya lebih baik begini. Kasihan si nenek kalau harus terus menahan sakit."
Anna diam seribu bahasa dengan tatapan yang kosong. Dia tidak mengerti, apakah kematian lebih baik? Anna tidak yakin. Mereka yang berani berucap begitu adalah mereka yang belum pernah ditinggal orang yang disayangi.
Anna kembali melanjutkan perjalanannya. Beberapa menit kemudian, entah kapan dan bagaimana caranya dia memasuki tempat yang dilarang bagi orang yang tak berkepentingan.
Tanpa tau kemana arah tangga yang dinaikinya, dia hanya terus berjalan naik hingga menemukan sebuah pintu. Mungkinkah ini Rooftop?
Iseng, dia memutar knop pintu. Dan pintu itu terbuka. Anna cukup terkejut pintu ini tidak dikunci. Biasanya kan pintu rooftop selalu terkunci.
Cklek!
Anna membuka pintu sambil menundukkan kepalanya. Dirasanya angin yang bertiup kencang hingga menghembuskan surai-surai rambut Anna. berangin, tapi cukup panas. Wajar bukan? Toh di sini langsung terpapar sinar matahari.
Pegangan Anna pada knop pintu langsung terlepas begitu tatapannya teralih ke depan. Lalu, dengan cepat dia berlari ke arah seorang gadis yang siap melompat dari gedung 9 lantai ini. Dia berlari ke arah samping, lalu melompat ke arah gadis berambut pendek sebahu itu.
Bruk!
Anna bernapas lega saat dia menggagalkan upaya bunuh diri gadis itu.
"Lo gila?!" bentak Anna.
Gadis itu hanya menatap kosong Anna yang berada di atasnya.
"Sedepresi itu sampe mau bunuh diri? Coba lo pikir-pikir lagi apa ini memang yang terbaik!"
"Minggir!" ucap gadis itu sambil melayangkan tatapan tajam.
"Hah?" Anna sedikit terkejut karena ini respon yang diluar perkiraannya.
"Minggir!" Gadis itu mendorong Anna ke belakang hingga jatuh terduduk.
Anna terperangah dengan apa yang dilakukan gadis itu. Dia memperhatikan gerak-gerik gadis itu yang tengah menepuk-nepuk rok bagian belakangnya. Saat gadis itu akan beranjak pergi, Anna mencekal tangannya.
"Lo gak akan nyoba bunuh diri lagi kan?" tanya Anna dengan suara pelan tanpa melihat ke arah gadis itu.
Gadis itu menatap Anna, lalu menatap ke langit. Dia hanya diam tanpa ada niat menjawab. Toh, dia tidak bisa berjanji.
"Inget keluarga lo yang bakal sedih kalau lo tinggalin."
Gadis itu menyeringai, meski begitu raut wajahnya terlihat sedih.
"Gak yakin," gumam gadis itu yang masih bisa terdengar oleh Anna.
Anna menghela napas berat, lalu dia berdiri tanpa melepskan genggaman tangannya. "Gue yakin, lo udah banyak melalui hal-hal berat. Gue mungkin ngerti apa yang lo rasa." Anna menatap wajah gadis itu dengan teduh.
"Gak usah pura-pura!" sinisnya.
"Gue gak pura-pura!" jawab Anna serius.
__ADS_1
Gadis itu hanya menatap Anna dengan tatapan tidak percaya.
Seperti tau apa yang ada dipikiran gadis itu, Anna menggulung lengan bajunya hingga ke siku lengan atas. "Lo liat ini?" Setelah itu Anna menarik dedikit baju bagian bawahnya ke atas. "Liat ini juga?"
Dengan acuh tak acuh gadis itu melihat hal-hal yang ditunjukkan ke Anna. Dia melihat sebuah luka bekas tusukan disana, dan beberapa bekas luka lainnya.
"Gue pernah sekali nyoba bunuh diri karena depresi. Tapi gue terlalu pengecut buat mati. Gue gak berani ngerasain sakitnya daging yang bergesekan sama tanah, meski sakitnya cuma sekejap," Anna mendongak ke langit.
"Terus? Lo mati?" sarkas gadis itu.
Anna menahan tawanya. "Kalau gue mati, lantas yang di depan lo ini siapa?" balas Anna.
Gadis itu melengos.
"Intinya, gue gak bilang sekarang gue udah nemuin tujuan hidup gue. Karena gue gak punya keluarga atau seseorang yang begitu sayang sama gue. Tapi, gue cuma inget sebesar apapun masalah dan sesulit apapun msalah, pasti ada jalan keluar Dan itu cukup buat gue hidup sampe sekarang."
"Basi!" ujar gadis itu dengan tatapan kosong.
Anna menatap wajah gadis itu yang sudah sedikit melunak. Anna mengenal seseorang yang seperti ini, lain di mulut lain di hati.
"Mungkin menurut lo basi. Tapi, gak menurut gue." Anna memiringkan kepalanya untuk melihat jelas wajah gadis itu. "Sekarang percaya kalau gue ngerti apa yang lo rasa?"
Gadis itu menatap Anna dengan sebelah alis yang naik.
"Terseraa!"
Diam-diam Anna tersenyum karena respon gadis itu yang menggemaskan.
Anna melepaskan genggaman tangannya. "Sekarang, gue mau nanya. Kalau lo mati sekarang yakin gak masuk surga?"
"Asal lo tau orang, yang bunuh diri itu arwahnya gak diterima sama Yang Maha Kuasa. Jadi, urungkan niat lo itu."
Gadis itu tertawa lewat hidung. "Gak peduli...." Setelah mengatakan itu, gadis itu meninggalkan Anna yang terdiam terpaku.
Anna lega, setidaknya dia tidak akan melihat seseorang mati di depannya. Anna menatap langit lalu berkata, "Hari ini terik ya mataharinya."
Sedangkan di sisi lain, gadis berambut pendek itu menuruni tangga dengan segala rasa yang bercampur aduk tidak karuan. Baru kali ini dia ragu dengan apa yang akan dilakukannya.
'Percaya kalau gue ngerti apa yang lo rasa?'
Kata-kata Anna memenuhi isi kepalanya hingga membuat sakit kepala. Gadis itu mengepalkan tangannya hingga buku buku tangannya memutih. "Gak. Lo gak ngerti gue. Karena lo masih punya seseorang seperti Nahyan yang diam-diam peduli sama lo, Anna Rabusy," batin gadis itu.
...***...
Anna memasuki ruang rawat inapnya, dan terkejut ketika mendapati Nahyan yang berdiri tepat dibalik pintu.
"Astaghfirullah!" Anna mengelus-elus dadanya.
"Dari mana?" tanya Nahyan.
"Jalan-jalan," jawab Anna sambil berjalan menuju ranjangnya diikuti Nahyan dari belakang.
"Jangan bohong!"
"Ih ngeyel. Dibilang jalan-jalan juga."
__ADS_1
"Terus kenapa infus dicopot?"
"Gak sengaja."
Nahyan menatap Anna yang sedari awal masuk tidak mau menatap wajahnya. Cowok itu memperhatikan setiap gerak-gerik Anna tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ish! Gak usah ngeliatin gue!" kata Anna yang merasa salah tingkah terus diperhatikan seperti itu. "Eh ini makanan gue kan?" tanya Anna sambil menggapai bungkusan plastik di atas nakas.
Nahyan mencegat tangan Anna. "Lo bohong kan? Jelas itu infus lo copot paksa."
"Enggak! Itu gak sengaja."
"Kalau gitu, bisa lo jelasin kenapa tangan ini berdarah?" ujar Nahyan sambil memperlihatkan tangan Anna yang ada bekas darahnya.
Oh my...!! Anna lupa mencuci tangannya.
Mulut Anna terkunci rapat tanpa berani menatap cowok di sampingnya ini.
"Gak sengaja lho...." cicit Anna yang terdengar seperti mau menangis.
"Gue bisa cari tau sendiri," kata Nahyan sambil beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Namun, seragam bagian belakangnya ditarik Anna.
"Apa? Lo gak mau kasih tau kan? Gak apa. Gue bisa sendiri," sindir Nahyan.
"Maaf, lho. Beneran gak sengaja tadi itu... gue keluar juga buat nyari suster... tapi malah kelabasan buat jalan-jalan," ujar Anna yang meneteskan air matanya.
Melihat Anna yang menangis, langsung melunakkan hati Nahyan. Dia tidak tega melihat gadis itu menangis. Dibawanyalah Anna ke dalam dekapannya.
"Udah gak usah nangis!" kata Nahyan yang bingung mau berkata seperti apa yang malah berujung memerintah.
"Hua....." tangis Anna makin pecah.
"Duh, cup cup cup... jangan nangis...! Duh! Yaudah makan dulu lo laper kan?" ujar Nahyan yang panik.
Anna menggelengkan kepalanya sambil memeluk pinggang cowok itu. Tidak buruk juga berada di dekapan dada bidang itu, pikir Anna.
"Makan, Na. Nanti lo sakit. Katanya kangen sekolah?"
Langsung saja Anna melepas pelukannya saat mendnegar kalimat terakhir cowok itu. "Yaudah mana?" tanya Anna yang antusias sambil mengusap air mata yang tersisa di pipinya.
"Mau gue suapin atau...."
"Suapin!" potong Anna sambil tersenyum manis.
Nahyan tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tidak layak disebut-sebut sebagai senyuman, saat melihat tingkah menggemaskan Anna.
"Dasar bocil," kata Nahyan sambil mengusap kepala Anna.
°°°
Bersambung...
maaf selama ini kayak maksa (emng maksa yah '-') buat komen dan like. skrg terserah mau kalian. toh, aku skrg ga bisa kalau mau up teratur. udah mulai sibuk di real life.
oh ya aku mo jujur, nulis itu bentar doang. paling cepet 2 jam kurang (kalo lancar imajinasi) selesai, paling lambat sehari (kalau ngadat imajinasinya). tapi yang buat lama itu ngumpulin niat. kl ga semangat mah mana bisa nulis :v sebenernya bisa ngeluangin waktu buat nulis dan update cepet. cuma masalah utamanya kembali lagi ke aku yang gak semangat atau mager. chapter ini juga baru tadi sore aku bikin dan itu ga sampe 2 jam sih + - 1 jm 30 mnt. intinya di aku si :v
__ADS_1