
⚠KOMEN WOY!! KOMEN!⚠
🌟Enthusiasm chapter 25🌟
Happy reading!
Mata Anna berkaca-kaca, dan perlahan-lahan butiran-butiran bening jatuh ke pipi-nya.
Semua orang yang berada satu meja dengannya menatap bingung gadis itu
"Lo kenapa, Na?" Deana bertanya karena merasa heran.
Anna hanya diam dengan air mata yang terus mengalir.
"Na? Kenapa?" Yang bersuara adalah Nahyan.
Anna menatap Nahyan dengan tampang memelas.
"Help me..." lirih Anna.
Tubuh Anna menegang saat sebuah benda berbulu meliuk-liuk di bawah kakinya.
"Mama!" teriak Anna tiba-tiba sambil menaikkan kedua kakinya di atas kursi.
"Kenapa lo?" tanya Nahyan sambil menaikkan sebelah alisnya seolah-olah beranggapan bahwa Anna sudah gila.
"Aaaah... Mama!! Tolongin Anna!" teriak Anna lagi sambil berdiri di atas kursi saat seekor kucing mengambil ancang-ancang untuk melompat ke arahnya.
Benar saja kucing itu naik ke kursi panjang tepat di kaki Anna.
"Mamaaaaaa!!" pekik Anna dengan air mata yang mengalir dengan deras.
Cepat-cepat Anna pindah ke samping Nahyan masih di atas kursi.
"Huaaa... singkirin kucingnya!" pinta Anna yang menangis tersedu-sedu.
Nahyan tertawa kecil.
"Sama kucing aja takut," ejek Nahya sambil menggendong kucing itu.
Anna bergerak menjauhi Nahyan.
Nahyan menatap Anna jahil. Cowok itu mendekatkan kucing dipelukannya ke arah Anna. Reflek gadis itu langsung naik ke atas meja dan berpindah ke samping Deana.
"Jangan usil! Gue takut, Bang-ke!" maki Anna kesal.
Nahyah berjalan mendekati Anna.
"Hayoh lho!" Cowok itu berpose seperti mau melemparkan kucing ditangannya ke arah Anna.
Anna duduk berjongkok di lantai dengan menutup ke dua kupingnya dengan mata terpejam.
"Ih, jangan!!"
"Nahyan, sejak kapan lo jahil gini?" tanya Fabian menangkap sikap teman karibnya yang tak biasa.
Nahyan tak menggubris perkataan Fabian. Cowok itu sibuk menjahili Anna.
Nahyan tertawa kecil.
Entah mengapa, wajah Anna yang terlihat ketakutan menjadi hiburan tersendiri baginya.
Nahyan tersenyum miring dan menempelkan kucing itu ke lengan Anna.
"Meoow..."
"Aaah!!! Nahyan nyebelin!" teriak Anna histeris sambol mendorong tubuh Nahyan lalu berlari keluar dari kantin.
Kini mereka berdua menjadi tontonan gratis yang cukup menghibur di kantin yang mulai ramai.
Nahyan mengejarnya, masih dengan membawa kucing itu.
"Anna! Ini kucingnya minta diapelin!" teriak Nahyan.
"Nahyan gak punya otak! Buang kucingnya, Bang-ke!" teriakan Anna yang malah menambah semangat Nahyan untuk menjahilinya.
"Hahaha... baru liat gue Nahyan yang kayak gini!" ujar Suga tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Hahaha... bisa jahil juga dia ternyata. Iya gak, De?" tanya Fabian sambil menatap Deana yang dari tadi hanya diam saja.
"Deana?" panggil Fabian.
Deana hanya diam, masih menundukkan kepalanya. Sekarang ini pikirannya sedang kemana-mana.
"Lo gak pa-pa?" tanya Fabian memastikan Deana baik-baik saja.
"Deana!"
"Ah, Iya? Kenapa Bi?" jawab Deana gelagapan sambil mendongak menatap Fabian.
Fabian terdiam sejenak saat Deana memanggilnya sebagai Bi. Benar-benar membuat Fabian hampir tenggelam dipikirannya hanya karena seseorang yang sering memanggilnya begitu.
Fabian melihat ke arah Deana yang sedari tadi meremas-remas rok-nya.
"Kenapa?" tanya Fabian sambil mengerutkan dahinya.
"Ah enggak kenapa-napa," jawab Deana dengan senyum tipisnya.
"Gue balik duluan." Deana membawa cemilan-cemilan yang dia beli tadi.
Tuk!
Sebuah camilannya jatuh, karena tangannya sudah kepenuhan.
"Mau gue bantuin?" tanya Fabian pada Deana yang sedang berusaha mengambil cemilannya di lantai.
Deana menggelengkan kepalanya. "Gak. Gue bisa sendiri," jawab Deana singkat.
"Eh ambilin itu cemilan gue sih," pinta Deana pada Fabian.
Deana tersenyum tipis lalu mengambilkan cemilannya.
"Nih. Katanya bisa sendiri."
Fabian hanya tersenyum tipis.
"Yaudah, gue balik ke kelas duluan," pamit Deana ingin pergi dari kantin tapi lengannya di cekal Fabian dan otomatis semua cemilannya jatuh ke lantai.
"Tuhkan. Lo mah gini. Jadi jatoh semua," omel Deana sambil memunguti cemilannya dengan wajah yang masih cemberut dibantu oleh Fabian.
"Gue bantuin bawa," kata Fabian sambil tersenyum tipis.
Deana menganggukkan kepalanya.
"Tapi jangan lo cokek, ya! Awas kalau gue itung cemilan gue kurang dari 10. Gue gibeng lo," ancam Deana sambil jalan di depan Fabian.
Fabian tertawa kecil. "Gue duluan ya, Ga?" tanya Fabian pada Suga lalu pergi menyusul Deana.
"Lah, ditinggal nih?" gerutu Suga sambil menatap makanan yang berada di atas meja.
Suga tersenyum miring.
"Rejeki anak Solimi."
***
"Nahyan! Ish! Yan!" Anna berusaha menghindari Nahyan. Lebih tepatnya, menghindari kucing yang berada di pelukan cowok itu.
"Kenapa takut? Ini kan mirip lo," kata Nahyan dengan enteng sambil mengelus bagian leher kucing itu.
Anna berdecak kesal. "Enak aja gue disamain sama hewan," gerutu Anna.
"Lo liat nih baik-baik. Cewek secantik dan seimut gue masa dibilang mirip kucing kampung!" bantah Anna sambil berpose. "Rabun apa gimana sih?!"
"Eaa!"
"Ahh!" Anna menghindar saat Nahyan seolah akan melempar kucing itu ke arahnya.
Anna berdecak kesal. "Udah dong!" melas Anna sambil menekuk bibirnya. "Sumpah gue takut banget, Yan. Tolong buang kucingnya!"
Nahyan terkekeh lalu melepaskan kucing yang sedari tadi meminta dilepaskan.
Anna merasa lega saat kucing itu sudah pergi menjauh. "Nyebelin lo. Mana gue laper," gerutu Anna sambil berjalan kembali menuju kantin diekori Nahyan.
"Oh my God! Sugaaaaa!" Anna berlari menghampiri Suga yang tengah asik menyantap makanan.
__ADS_1
"Si Anjim, nasi goreng gueee!" rengek Anna sambil menghentak-hentakkan kakinya pada Suga yang tengah memasukkan sendok terakhir nasi goreng ke mulutnya.
"Gue belom makan, Gila!"
Nahyan menahan tawa saat melihat reaksi Anna. Sedangkan Suga hanya nyengir.
"Lo tega banget...."
Anna menatap melas piring yang sekarang sudah kosong melompong, lalu menatap Suga dengan sengit.
"Sorry, gue laper."
"Ya kalo laper jangan garap punya gue dong!"
Nahyan mengacak-acak rambut gadis yang sekarang tengah cemberut.
"Jangan pegang-pegang gue! Lo abis pegang kucing," Anna menepis tangan Nahyan.
"Huhuhu... duit gue," gumam Anna.
Nahyan yang mendengarkan gumaman Anna hanya tersenyum tipis.
"Pesen lagi sana. Gue yang bayar."
Anna menekuk bibi bawahnya. "Gak usah. Gue mau balik aja," tolak Anna sambil meninggalkan kedua cowok absurd itu.
"Tunggu, Na!" Nahyan mengejar Anna.
"Anjim, ditinggal gue." Suga menyusul kedua insan itu sambil membawa kotak bekal yang tadinya tertinggal di atas meja. "Tungguin gue, woy!"
"Yakin, Na? Lo belom makan," tanya Nahyan.
"Hooh," jawab Anna singkat.
Sebenarnya, laper sih. Tapi sudah keburu dongkol duluan. Dia juga jadi tidak mood untuk makan, meski perutnya sudah menggelar konser keroncong. Untungnya, suara perutnya tidak sampai terdengar karena ini di tempat terbuka.
"NAHYAN! SUGA!" Yang dipanggil pun menoleh ke arah sumber suara. Meski bukan nama Anna yang dipanggil, gadis itu tetap ikut menoleh.
"Kemari! Saya mau bahas event lomba!" teriak Antonio, mahasiswa yang bekerja paruh waktu menjadi asisten pelatih eskul basket.
Nahyan beralih ke Anna, dan Anna membalas tatapan Nahyan.
"Balik ke kelas duluan. Gue ada urusan," ucap Nahyan.
Anna menaikkan kedua alisnya, sedangkan Suga hanya menyimak.
"Jangan ge-er. Yang mau dianter ke kelas sama lo itu siapa? Tanpa lo suruh juga gue bakal balik ke kelas sendiri," jawab Anna lalu meninggalkan kedua cowok itu.
Nahyan menarik lengan Anna hingga Anna mundur beberapa langkah.
"Apa lagi?" tanya Anna yang kesal. "Minta gue balik ke kelas dengan keadaan yang sehat walafiat? Itu mah gak usah diminta juga bakal gue lakuin."
"DBL nanti lo harus dateng," ujar Nahyan yang tak menghiraukan ucapan Anna.
Anna memicingkan matanya. "Enak ya jadi anak jenius. Udah kelas 12, masih boleh ikut eskul, eh ikut lomba juga."
Anna melirik Nahyan, dan yang dilirik pun membalas melirik dengan sinis.
"Gak ada yang nyuruh lo jadi anak be-go," kata Nahyan lalu pergi menuju Antonio diikuti Suga di sampingnya.
"Dih. Apaan," kata Anna yang merasa sebal lalu menuju kelasnya.
°°°
Tbc
⚠Budayakan LIKE dan KOMEN sehabis baca ya ⚠
Meninggalkan JEJAK itu penting, menandakan kamu bukan HANTU ❤
BTW, aku takut sama HANTU :v
Salam hangat,
Juecy.bell
29 Sept 202
__ADS_1