
Nahyan sedari tadi menatap layar ponselnya. Gadis itu benar-benar membuatnya gila. Tidak hanya tiba-tiba menghilang, tapi saat di sekolah juga ada orang-orang berjas hitam yang terlihat mencurigakan juga datang mencarinya.
Kemana sih lo?
Nahyan yang merasa cemas tak henti-hentinya menelepon dan mengirim pesan pada Anna.
"Woi, ngapain sih lo diem-diem doang?" tanya Fabian yang tengah memainkan PS 5 di apartemen Nahyan. "Sini temenin gue ngegame."
Nahyan tidak mengacuhkan Fabian.
"Kalau lo khawatir, samperin aja langsung ke rumahnya," ujar Fabian sambil mematikan PS 5 lalu meregangkan otot-ototnya.
Brak!
Seseorang masuk ke dalam apartemen Nahyan dan menutup pintunya dengan kasar. Suga yang baru saja datang, segera menghampiri kedua temannya itu.
"Kenapa muka lo kusut gitu?" tanya Fabian pada Suga yang tengah memposisikan duduknya di sofa.
"Gue baru tau perbuatan nakal gue dulu yang tujuannya narik perhatian orang tua gue, malah ngerugiin orang lain," ujarnya sambil menatap langit-langit apartemen.
"Mohon bersabar, ini ujian," celetuk Fabian sambil menyeringai.
Suga melayangkan tatapan sinis, "Serius dikitlah. Gue lagi curhat ini."
"Ya, ya, ya. Gue sebagai temen lo emang mengakui tingkah laku lo itu merugikan orang lain," jawab Fabian yang langsung membuat Suga tambah down.
"Udah gitu lo childish."
Jleb!
"Gak mau ngalah."
Jleb!
"Keras kepala."
Jleb!
"Dan lo adalah orang yang gak tau diri. Banyak buat kesalahan, tapi semuanya lo lupakan. Enjoy aja kayak gak punya dosa."
JLEB!!
Semua yang Fabian bilang hampir sama persis seperti yang Bella bilang, malah semakin banya sifat buruknya yang terkuak. Suga makin putus asa.
"Bangs*t! Bukannya ngasih kata-kata yang menghibur, malah buat nambah ngedown! Nyesel gue curhat sama lo!" ujar Suga yang kelewat bad mood.
"Gue ngomong ini kenyataan, Sugantoro!" jawab Fabian.
"Amnjinc! Gue kan udah pernah bilang jangan manggil gue dengan nama itu!"
"Kalau bukan manggil itu, terus mau manggil lo apa? Nama lo kan emang Sugantoro! Sugantoro Vijaya! Lo nya aja yang sok-sokan dipanggil Suga."
"Diem lo, Sat!"
"Ke skak lo kan."
"Apaan? Mana ada!"
"Ga," panggil Nahyan yang menyela di tengah-tengah perdebatan seru mereka.
Suga dan Fabian segera menghentikan perdebatan dengan topik tak penting itu.
"Lo nyari tau juga kan tentang Anna?" tanyanya.
Suga menyeringai, "Perusahaan orang itu gue buat hampir take down malah," jawabnya dengan bangga.
__ADS_1
Nahyan mengangguk lemah, "Gue juga sama. Tapi bisa bantu lacak Anna sekarang? Hpnya aktif tapi gue chat dan telepon gak ada respon sama sekali."
Suga menganggukkan kepalanya.
"Gampang," jawabnya. Setelah itu. Suga mengeluarkan laptopnya dari dalam tas sekolahnya. Saat laptopnya aktif, dia mulai mengotak-atik laptopnya itu.
...***...
"Pasang senyum! Jangan cemberut gitu! Keluarga Rabusy itu keluarga konglomerat tau tidak?!" kata Dewi sebelum melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai.
Apa hubungannya senyum dengan keluarga Rabusy yang sebagai keluarga konglomerat coba?
Anna melirik sekilas ke arah dewi, lalu tanpa mengucapkan apa-apa dia langsung membuka knop pintu dan keluar dari mobil. Berada satu mobil dengan Dewi dan Ami benar-benar membuat udara sekitarnya terkontaminasi yang bisa menyebabkan sesak nafas.
Anna menatap rumah, ups, mansion besar tempat keluarga Rabusy tinggal. Ini kali keduanya datang ke tempat ini, namun kali ini tujuannya ke sini adalah perjodohan.
"Kamu ngapain bengong di situ?!" Dewi menatap Anna.
Ami melirik Anna sekilas, lalu mengedarkan pandangannya ke mansion mewah itu. "Anna kan kampungan, Mam. Mana pernah dia liat rumah sebesar ini," katanya sambil cekikikan.
"Sudah! Diam kamu!" bisik Dewi sambil memukul pelan lengan Ami.
"Ih, kenapa mukul Ami? Yang Ami omongin itu kenyataan tau, Mam!" sambil memegangi bagian lengan yang habis dipukul.
"Ayo masuk! Pasang senyum semanis dan seramah mungkin!" ujar Dewi yang memimpin jalan dan memasuki mansion itu.
Sesampainya di dalam mansion, mereka bertiga langsung disambut oleh pelayan yang bejibun jumlahnya. Dengan tampilan percaya diri, Dewi melangkah tanpa menundukkan kepalanya sendikitpun diikuti Ami dan Anna di belakang.
"Anjim, sayang banget bukan gue yang dijodohin!" gerutu Ami yang terperangah dengan interior mansion yang mewah.
Anna melirik Ami sinis, "Dasar matre!" gumam Anna.
Ami yang bertelinga panjang dan memang hobi menguping, tidak terima dengan gumaman Anna, "Lo ngajak gelud hah?! Ayo sini! Gue ladenin!" kata Ami menatap Anna dengan tatapan permusuhan.
"Ayo! Siapa takut!" Anna menyisingkan lengan bajunya hingga ke siku.
"Kalian berdua bisa diam?!" ujar Dewi, "jangan malu-maluin begini dong! Ini bukan rumah kalian!"
Ami diam cemberut, sedangkan Anna memasang tampang mencibir.
"Jangan kurang ajar kamu, Anna!" suara Dewi penuh dengan penakanan.
Anna bersiul seolah tidak tau apa-apa.
"Selamat datang ya, Dewi!" ujar sebuah suara dari arah belakang.
Dewi, Ami, dan Anna reflek menatap ke arah sumber suara. Terlihatlah tampang-tampang yang menyilaukan mata.
Miranda tampil cantik nan anggun dengan balutan gaun berwarna maroon, tampilan Arga yang menggunakan jas berwarna hitam tak kalah dengan istrinya, dan Dhyo tampil menggunakan kemeja hitam simpe namun dapat mengeluarkan aura-aura cowok tampan.
Anna mendesah pelan.
Meski Dhyo tak kalah tampan dengan Nahyan, tetap saja yang dia suka adalah Nahyan. Jantungnya juga hanya berdebat kala dekat dengan Nahyan. Jujur saja, semua ini membuat Anna semakin menyadari kalau dia benar-benar jatuh cinta pada kekasihnya yang menyebalkan itu.
Gue kangen Nahyan, lirihnya dalam hati.
"Iya, terima kasih sambutannya," ujar Dewi yang langsung cipika-cipiki dengan Miranda, dilanjuti dengan Ami dan terakhir adalah Anna.
Miranda tersenyum lembut saat menatap gelang yang dipakai Anna. "Kamu cantik sekali...," puji Miranda pada Anna yang wajahnya seperti menahan pup.
Anna tersenyum tipis, "Terima kasih, Tante. Tante juga cantik sekali," jawab Anna yang di dalam pikirannya ketar-ketir.
"Nah, mari kita makan siang," ajak Miranda yang merangkul pundak Anna menuju ke ruang makan diikuti yang lainnya.
.......
__ADS_1
.......
.......
"Iya, Anna satu sekolah sama Nahyan anak bungsuku. Pernah main ke sini juga," kata Miranda sambil memotong steak menggunakan pisau dan garpu.
Dewi melirik ke arah Anna yang sedari tadi hanya diam menyimak saja. "Anna beneran pernah ke sini?" tanya Dewi yang memastikan kalau dia tadi tidak salah dengar.
"Iya, pernah. Aku tadinya gak ciren kalau Anna itu anakmu," jawab Miranda lalu memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya menggunakan garpu.
Miranda menoleh pada suaminya Arga. Terdapat bekas bumbu disudut bibirnya.
"Bee, ini kamu belepotan," ujar Mirands pelan sambil mengusap bibir Arga yang belepotan.
"Hmm," jawab Arga yang membiarkan istrinya membersikan sudut bibirnya menggunakan tangannya. Lalu, Arga mengambil sarung tangan di dalam sakunya untuk mengelap bagian tangan Miranda yang kotor.
Anna yang menonton adegan romantis itu dnegan perasaan iri. Selama ini, Anna dan Nahyan belum pernah bermesraan seperti itu.
"Anna gak pernah cerita soalnya kalau pernah main ke sini. Anna juga kalau di rumah tertutup orangnya. Apa-apa gak pernah mau cerita. Aku aja gak tau siapa-siapa saja yang dekat dengannya," ujar Dewi sambil tersenyum tipis.
Anna merinding melihat senyum Dewi. Wanita itu benar-benar jago berakting. Mungkin saja dia bisa menang penghargaan karena aktingnya sebagai seorang Ibu penyayang yang begitu sempurna.
Tatapan Anna beralih pada Ami yang sedari tadi tidak henti-hentinya mencuri-curi pandang dnegan Dhyo yang sibuk dnegan makan siangnya.
"Begitu ya...," Miranda mengangguk mengerti, lalu dia menatap Anna.
"Anna kan temenan sama Nahyan," kata Miranda.
Anna mengangguk ragu.
Pacaran itu bisa dianggap temenan tidak sih?
"I...ya.... Memangnya ada apa, Tante?" jawab Anna yang ragu-ragu.
"Begini, Tante beberapa waktu lalu dapat kabar kalau Nahyan punya pacar di sekolah. Kabar itu benar atau tidak? Kalau benar, Anna tau siapa pacar Nahyan?" tanya Miranda dengan senyum manisnya.
"Anna... glek!" Anna menelan salivanya. Dia tidak tau harus menjawab apa dan bagaimana.
"Anna gak ta--"
"Anna!" ucap seseorang dari arah belakang Anna.
Anna yang mengenali suara itu langsung berdiri dan menghadapkan tubuhnya ke belakang untuk memastikan apakah itu benar-benae suara orang yang dia kenal.
Nahyan berjalan mendekat. Cowok itu sempat menatap tajam Anna yang wajahnya terlihat pucat, lalu dia beralih pada sang Ibunda yang menatapnya bingung.
"Itu Anna," kata Nahyan yang semakin membuat Miranda, Arga, serta Dewi, dan Ami bingung.
Anna menatap Nahyan dengan tatapan memohon agar cowok itu tidak memperjelas ucapannya. Dia tidak ingin semuanya menjadi lebih rumit.
Nahyan tidak mempedulikan tatapan Anna. Yang jelas saat ini, dia sedang kalap. Kekasih pertama yang juga merupakan cinta pertamanya akan dijodohkan dengan kakaknya sendiri.
"Pacar Nahyan ...." Nahyan memasang raut wajah dingin dan tegas, "adalah Anna."
Anna mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah.
Trang!
Dewi yang mendengar ucapan Nahyan tidak sengaja menjatuhkan garpunya. Dia menutup mulutnya. Jadi, selama ini yang memberi Anna ponsel mahal, makanan-makanan enak, dan membayar tagihan rumah sakit Anna adalah Nahyan. Pantas saja.
"Nahyan ulangi, pacar Nahyan adalah Anna. Anna Abimanyu."
°°°
Bersambung...
__ADS_1