Nahyanna

Nahyanna
BAB 56


__ADS_3

"Ayo kantin, Na! Gue laper ini!" Deana duduk menyamping sambil memperhatikan Anna yang sedari awal jam istirahat kedua hanya mencoret-coret buku tulis bagian belakangnya.


Anna berdecak sebal.


"Kalau laper itu ya makan!"


"Makanya ayo ke kantin, Bambank!"


"Sendiri aja. Kalau gak sono chat Fabian minta temenin. Lagi deket kan lo berdua?" sindir Anna dengan tampang acuh tak acuh.


Deana sejenak terdiam saat mendengar kalimat terakhir yang teman dekatnya ini katakan. "Oh, ayolah! Yang gue minta itu lu nemenin gue. Bukan Fabian yang nemenin gue. Lagian, lo dari istirahat pertama gak ke kantin. Gue yakin lo laper."


Anna memutar bola matanya.


Sebenarnya, dia keukeuh tidak mau ke kantin bukan tanpa alasan. Dia sama sekali tidak mempunyai uang untuk dibelanjakan. Bukannya tidak punya sama sekali, tapi dia benar-benar harus berhemat sampai dia memiliki pekerjaan.


"Gak. Gue lupa bawa duit," tolak Anna yang terdengar ketus.


"Gampang itu mah! Gue yang traktir!" Anna langsung menoleh saat mendengar kata 'traktir'.


"Bilang dari tadi, dong! Kalau gini kan gue gak perlu nahan laper." Anna menutup buku tulisnya dengan antusias.


"Ayo! Tunggu apa lagi?" tanya Anna pada Deana yang melamun.


"Ternyata dari tadi lo nunggu traktiran," sindir Deana. Anna yang mendengarnya langsung nyengir.


"Siapa sih yang gak suka gratisan?"


...***...


"Ah.... ck!" Anna bergerak gelisah sambil berusaha menelan makan siangnya yang entah mengapa di lidahnya terasa hambar. Padahal, itu adalah makanan favoritnya di kantin sekolahnya. Bukan hanya Anna, tetapi Deana yabg duduk di sampingnya pun merasa gelisah dan tak dapat menikmati makanannya.


Anna yang menundukkan kepalanya berusaha mencuri-curi pandang pada manusia tampan di depannya bersama dengan teman-temannya, yang sedari tadi tak melepaskan perhatian pada dirinya dan Deana.


"Lo kenapa sih liatin gue mulu?" Anna yang sudah merasa tidak tahan, meletakkan sendok dan garpunya dengan sedikit kasar. Sedangkan Nahyan yang diajak bicara malah melengos seolah-olah tak bersalah.


"Ini juga! Kenapa anak buah lo di sini semua? Gue sumpek tau gak liat mereka! Cepet usir!"


Nahyan hanya diam.


Sepertinya cowoknya ini sedang merajuk. Tapi Anna tidak tau dimana letak kesalahannya.


Anna melirik Fabian yang asik menggoda Deana, lalu melirik Suga yang tak henti-hentinya menggoda anak-anak perempuan yang berlalu lalang. Keadaan ini benar-benar kacau. Sangat kacau!

__ADS_1


"Lo punya mulut gak sih?" Anna mulai merasa jengkel pada sikap cowok di depannya ini.


Nahyan melirik Anna sekilas. "G."


Anna menghela napas. "Kalau gak ada yang perlu diomongin. Mending lo pergi deh. Sekalian bawa antek-antek lo itu."


"G."


"Kalau ada masalah itu ngomong. Jangan bersikap gak jelas kayak gini!"


Nahyan melirik Anna dengan tatapan yang tajam sambil menangkup wajahnya ditangan. Sedari tadi dia merasa jengkel. Namun dia tidak bisa melampiaskannya karena dia sudah berada dibatas toleransi bolos versi Nyonya Rabusy. Nahyan tidak ingin menambah jumlah rotan yang akhir-akhir ini membeludak karena seringnya dia bersentuhan dengan lawan jenisnya.


"Dia pikir karena siapa?" pikir Nahyan yang tak lepas menatap Anna.


"Y," jawabnya yang kembali mengalihkan wajahnya.


BRAK!


"Gue bilang ngomong!" pekik Anna hingga membuat keheningan.


Nahyan menghela napas lalu beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Kalau sang 'Boss' pergi, sebagai anak buah yang baik adalah mengikutinya, dan itulah yang dilakukan antek-antek Nahyan.


Anna memijat pelipisnya. "Astaga... cowok emang susah dimengerti. Apa-apa pasti cewek yang selalu salah," gerutu Anna yang kembali melanjutkan makan siangnya.


Anna berdeham, "Ehem! Inget! Itu pacar lo mau dikemanain?" sindirnya.


Deana mengerucutkan bibirnya. "Gue gak peduli lagi sama dia. Terserah hubungan gue mau gimana," ujar Deana.


Anna dapat merasakan perubahan drastis dari mood Deana. Dia menaikkan sebelah alisnya. Dia cukup heran dengan Deana yang plin-plan. Padahal, tadinya gadia itu benar-benar bucin pada pacar yang didapatnya dari game online itu. Tapi sekarang? Dia seperti kehilangan minatnya.


"Gue gak percaya kalimat itu keluar dari orang yang kemarin-marin bucin banget sampe keasikan bucin di game dari pada dengerin curhatan gue."


"Ye! Curhatan lu mah gak ada yang penting!" kata Deana sambil menyuap sesendok nasi ke mulutnya.


Anna mengangkat kedua alisnya sambil melirik Deana, kemudian dia menghela napas dan tersenyum miring. "Oh yaudah. Besok-besok gue ogah mau cerita-cerita sama lo!"


"Dih! Baperan!" kata Deana yang tertawa kecil sambil menyenggol lengan Anna dengan bahunya.


"Berisik lo kayak dora!" jawab Anna.


.......


.......

__ADS_1


"Gimana?" tanya Nahyan tanpa melihat lawan bicaranya.


"Anna gak ngejer," jawab Suga sambil berbisik.


"Coba liat lagi!" Sesuai perintah, Suga menoleh ke belakang untuk memeriksa Anna mengejar atau tidak.


"Iya, bener. Gak ngejer."


"Oh." Nahyan menatap lurus ke depan tanpa peduli orang-orang yang memekik saat melihatnya beserta teman-temannya.


Wajah Nahyan yang sudah datar, menjadi lebih datar dan garang saat melihat sumber kejengkelannya yang berjalan menuju arah yang berlawanan dengannya. Saat mereka berpapasan, Nahyan menatap tajam Galen. Seperti tak mau kalah, Galen balas menatap Nahyan.


"Ternyata ada orang yang gak tau dimana tempatnya," ujar Nahyan.


Rahang Galen mengeras. Dia cukup tau apa yang dimaksud oleh Nahyan.


"Gak usah kayak cewek yang bisanya main sindir. Langsung aja ke orangnya. Deket kan?" kata Galen sambil berbalik untuk menantang Nahyan.


"Brengs*ek!" Nahyan mencengkeram kerah baju Galen dan melayangkan tinjunya. Namun, Suga dan Fabian menahan cowok itu agar tidak berkelahi. Menurut mereka, cowok secupu Galen tidak akan bisa melawan Nahyan yang seolah-olah 'gila' apa bila berkelahi, dan terkadang cowok itu akan kehilangan kendali.


Galen tersenyum miring, lalu melayangkan tinju ke perut Nahyan.


"Yang tadinya gue mau nyerah dan milih nungguin lo putus, jadi berubah pikiran pengen ngerebut Anna dari lo dan buat dia jadi milik gue," kata Galen dengan senyum penuh misteri sambil menatap tajam Nahyan. Kemudian, dia kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti.


"FVCK! SINI LO BANGSHAT! AYO LAWAN GUE! JANGAN KAYAK BANCI YANG SEMBUNYI DI KETEK EMAK LO!" teriak Nahyan yang berusaha melepaskan diri dari tahanan teman-temannya.


"Mending lo berhenti sekarang! Lo gak mau kan hal ini sampai terdengar ke telinga Anna?" kata Fabian tepat disamping telinga Nahyan.


Fabian merasa lega, ucapannya itu efektif. Terbukti dari pemberontakan Nahyan yang berangsur-angsur menghilang.


"Lepas!" Nahyan melepaskan pegangan-pegangan teman-temannya dan pergi sendirian tanpa tau arah yang dia tuju.


"Jangan diikutin. Biarin dia sendiri!" ujar Fabian saat teman-temannya yang lain akan menyusul Nahyan.


"AHAHAHA! ASIK!" Suga tersenyum lebar. Terlihat sekali kalau cowok itu kegirangan.


"Lo semua siapin badan. Setelah sekian lama kayaknya kita bakal baku hantam lagi," ucap Suga dengan perasaan yang berbunga-bunga.


Ini yang gue tunggu, batin Suga yang tak henti-hentinya tersenyum


°°°


Sekian terima Hadiah dan Vote... ^^

__ADS_1


__ADS_2