Nahyanna

Nahyanna
BAB 40


__ADS_3

Ya DI LIKE dulu gitu lho!


🌟Enthusiasm chapter 40🌟


"One, two, three ..."


"...."


"Six, seven, eight."


"Geisha fokus!"


Anna dan Deana sedang memakan camilan yang mereka beli dari kanti sekolah sambil menonton anak-anak eskul Cheers berlatih tak jauh dari anak-anak cowok yang sedang bermain basket.


"Kalo gue yang dilempar-lempar gitu gimana ya?" Ujar Anna sambil menggigit sosis.


"Gue jamin pada ambruk. Lo kan berat," jawab Deana tak acuh.


Anna mendecak sebal.


"Lusa lo nonton Nahyan tanding?" tanya Deana.


"Kok lo bahas dia?"


Deana menaikkan kedua alisnya.


"Lo kenapa dah?"


"Gue itu lagi sebel sama dia."


"Kenapa?"


"Kepo amat lu kayak dora."


Deana mendelik sebal, namun pada akhirnya dia hanya diam dan kembali memperhatikan anak-anak cheers yang sedang berlatih.


Anna memperhatikan Kinan yang bergerak lincah. Sepertinya, gadis itu pemeran utama di cheers. Tak heran sih, Kinan memang cantik dan tubuhnya bagus.


Anna menatap diri sendiri.


Anjim, rata.


Anna meniup rambutnya.


Mungkin, tidak sih kalau Kinan bukan pacar Nahyan? Tapi, mengingat Ibunda Nahyan yang ketat terhadap anaknya, mungkin saja tidak.


Anna menusuk sedotan ke arah botol yakult di tangannya.


Pertanyaan terakhir di pikiran Anna adalah siapa gadis yang mencium pipi Nahyan tempo hari? Bukankah Nahyan anti dengan yang namanya cewek?


"Siapa ya?"gumam Anna.


"AWAS!!"


Tak!


"Ack!" Anna meringis kesakitan begitu sebuah bola basket mendarat mulus tepat di wajahnya.


Anna merasa nyeri di bagian batang hidungnya.


"Na! Lo mimisan!"


"Hah?" Setelah mengatakan itu, banyak darah yang menetes dari hidung Anna.


Anak-anak cowok yang bermain basket mengerumuni Anna.


"Maaf, gak sengaja."


"Mau gue anterin ke UKS?"


"TISU WOY! TISUUU!"


Anna berjalan mundur. Dia merasa gupek kalau dikerumuni begini. Apalagi, sebagian dari mereka adalah cowok ganteng. Yang ada, Anna bisa pingsan di tempat.

__ADS_1


"Gue fine. Kalian lanjut main aja," ujar Anna sambil berjalan menjauh dari sana di temani Deana.


"Jangan ngedongak, bodoh!" Ujar Deana yang menggeplak kepala Anna.


"Eh, buriq. Kawannya lagi susah malah lo geplak," ketus Anna yang sibuk mengelap darah yang terasa tak berhenti mengalir. Seragamnya yang berwarna putih, kini terdapat bercak-bercak merah.


"Ayo cepet ke UKS!" Deana menarik tangan Anna yang  sibuk mengelap darah di sekitar hidungnya.


"Eh, eh, eh!"


.......


.......


"Lu lemah amat sih, dicium bola basket aja langsung mimisan." Deana mengejek sambil memasukkan popcorn rasa caramel ke dalam mulutnya.


"Itu gue yang beli, buriq!" kata Anna sambil merebut bungkus popcorn dari Deana.


"Pelit amat jadi manusia."


Anna tak mengacuhka  Deana. "Maen game sama bucin lo sana!"


"Ide bagus!" Deana mengeluarkan ponsel dari saku roknya.


Anna memutarkan bola matanya, lalu memakan popcorn yang dibelinya di Indomei pagi tadi. Acara makan Anna agak terganggung sebab tisu yang disumpal dihidungnya. Benar-benar tak membuatnya nyaman.


Anna membuang sebuah tisu itu ke sembarang tempat.


Tisu itu terjatuh tepat di depan sepatu seseorang. Anna menatap siapa yang datang ke UKS.


"Hai, Na." Galen menyapa dengan senyum manisnya.


Anna menelan ludahnya, dengan mata yang melotot. Bagaimana bisa, cowok itu bisa setampan ini? Anna kan kadi kepental. Mana penampilannya sedang acak-acakkan.


Anna dengan cepat memalingkan wajahnya.


Kan malu kalau Galen melihatnya dengan keadaannya yang memalukan begini. Apalagi, lubang hidungnya masih disumpal oleh tisu.


Anna menyingkirkan tisu yang tersisa.


"Kok di sini?" Anna menunjukkan senyum paksanya.


Image gue tercoreng ya ampun...


"Mau obatin ini." Galen menjawab dengan tenang sambil menunjuk sebuah luka gores yang ada di atas alisnya. Lalu, mengambil alkohol dan sebuah kapas.


"Mau gue bantuin?" tanya Anna saat Galen sedang berkaca di depan cermin yang memang sengaja disediakan di UKS.


Galen menatap Anna lewat cermin, lalu tersenyum tipis.


"Tenang. Gue bisa sendiri."


Anna memganggukkan kepalanya dengan canggung.


"Kenapa bisa luka?" Anna memperhatikan Galen yang sedang menempelkan alkohol ke lukanya. Anna meringis begitu kapas itu menyentuh luka di pelipis Galen, meski itu bukan lukanya. Anna hanya teringat rasa sakit dari alkohol tadi malam.


"Kejatuhan buku-buku di perpus tadi." Anna membentuk bibirnya seperti huruf 'o'.


"Lo sendiri kenapa?"


"Eumh... gue mimisan."


Galen membuka sebuah plester luka. Saat cowok itu akan menempelkannya di luka miliknya, Anna mencegahnya.


"Jangan diplester," kata Anna.


"...?" Galen menoleh dan menatap Anna bingung.


"Ka-katanya, kalau luka yang begitu diplester sembuhnya lama." Anna menjawab dengan gugup.


"Oh ya?" Galen terlihat tertarik. "Kata siapa?"


"Nahyan." Sepersekian detik setelah Anna menjawab, Galen membungkam mulutnya.

__ADS_1


"Oh." Galen menaruh kembali obat merah dan alkohol di tempat semula.


Anna mengusap leher bagian belakangnya saat suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung. Kalau dipikir-pikir, ada apa ya antara Nahyan dan Galen?


"Gue duluan ya, Na."


...***...


Pulang Sekolah


"Lo gimana? Sabtu nonton DBL gak? Kalau mau gue temenin." Deana berkata sambil mrmasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas lalu menutup tasnya.


Anna memakai tas punggungnya, lalu mengikuti Deana yang berjalan menuju keluar kelas yang hanya tinggal mereka berdua di dalamnya.


Anna sebenarnya malas untuk hadir ke acara-acara seperti itu. Apalagi, mungkin kerjaannya hanya teriak-teriak. Itu benar-benar akan menguras tenaga. Dengan kata lain, acara seperti itu tidak cocok untuk Anna yang kaum rebahan.


"Woy, gue nanya."


Anna menoleh ke arah Deana.


"Apaan?"


"Nonton gak?"


Anna terlihat berpikir.


"Dari watak Nahyan, cowok itu bakal nga ...." Anna terdiam saat mendengar perbincangan beberapa gadis yang berjalan tak jauh dari dirinya dan Deana.


"Eh, itu Nahyan sama siapa anjim!"


"Itu cewek yang nyium Nahyan bukan, sih? Eh, bener gak sih?"


"Iya bener itu cewek yang nyium Nahyan."


"Iih... mereka serasi banget!"


"Si Anna dikemanain yak?"


"Paling dibuang karena udah bosen."


"HAHAHAHA!"


Deana yang juga mendengar perbincangan mereka merasa tak terima, dia bergegas menghampiri gadis-gadis itu, namun Anna mencegahnya.


"Tapi---" Deana membungkam mulutnya saat Anna memberi kode agar diam.


Anna menatap Nahyan dan gadis di dean cowok itu secara bergantian. Mereka terlihat asik berbincang. Anna tebak perbincangannya sangat menyenangkan karena senyum gadis yang menghadap Anna secara tak langsung itu tak luntur sama sekali. Apalagi, Nahyan terlihat mengacak-acak rambut gadis itu.


Anna mengepalkan tangannya.


Ada sesuatu yang menusuk dadanya. Dan Anna tidak mengetahui apa itu.


"Gue baru tau kalau Nahyan bisa buat ekspresi selembut itu." Anna membatin.


Anna mengambil napas panjang-panjang, lalu membuangnya secara perlahan.


"Kayaknya, ada yang ketinggalan. Gue balik ke kelas dulu." Anna memutar balik arah tujuannya tanpa mendengarkan jawaban dari Deana.


"Eh---Na!"


Deana menggelengkan kepalanya. "Bilang aja lo gak mau ketemu Nahyan, Na." Deana menggumam.


°°°


Tbc


Komen dong. Aku suka lho bacain komenan kalian 👉👈


...⚠HAL-HAL YG DIWAJIBKAN⚠...


...❤💕 KOMEN!!! ⚠...


...💕❤ LIKE!...

__ADS_1


__ADS_2