Nahyanna

Nahyanna
BAB 58


__ADS_3

Yuk rekomendasikan cerita 'NAHYANNA' sama temen2 kalian supaya cerita ini banyak dibaca manusia2 lainnya :v


"Dari mana aja lu?" tanya Deana yang sekadar berbasa-basi. Gadis itu tentu saja tau Anna habis dari ruang BK. Toh, gosipnya memang cepat menyebar. Deana yakin perkelahian antara Kinan dan Anna sudah menyebar ke semua murid atau yang lebih parah lagi terdengar hingga guru-guru mata pelajaran lain.


"Habis tempur!" jawab Anna sambil nyengir, "lo tau gak gue sempet nendang perut Kinan sampe itu anak nangis?" sambunya dengan bangga.


Deana melirik Anna seraya mengeluarkan ponsel dari dalam laci.


"Kena skors tau rasa lo nendang-nendang anak orang," kata Deana yang nada suaranya terdengar tak acuh.


"Kan yang mulai bukan gue duluan. Banyak saksinya juga kok di sana. Udah gitu mereka mainnya kroyokan," jelas Anna sambil mengambil menunduk untuk mencari buku mata pelajaran yang sedang berlangsung di laci meja.


"Btw, ini pelajaran siapa?" tanyanya.


"Bu Selly," jawab Deana tanpa melihat lawan bicaranya, dia sibuk berkutik dengan ponselnya.


"Terus Bu Selly mana? Kok gurunya gak ada semua orang pada ngeluarin buku dan ngebersihin laci? Pak Eko mau razia apa gimana?"


"Nope. Pagi ini kita mau ngacak tempat duduk, makanya Bu Selly ngambil box yang isinya nomor undian meja yang ketinggalan di ruang guru."


"Berarti kita pisah dong?" tanya Anna.


"Ya gitu," jawabnya yang masih fokus melihat ponselnya.


"Lo lagi apa?" tanya Anna sambil mencodongkan tubuhnya untuk melihat layar ponsel Deana. Namun, gadis itu menjauhkan ponselnya.


Anna terdiam sejenak. Ada rasa yang aneh di sekitar dadanya. Sedetik kemudian Anna menetralkan mimik wajahnya.


"Kenapa sih pake disembunyiin segala? Cowok lo ya? Udah baikan sama Ian nih ceritanya?" goda Anna yang berusaha tidak memikirkan hal tadi.


Kalau ada yang Deana sembunyikan darinya, dia tidak berhak marah. Itu juga hanya hal kecil yang tidak pantas Anna permasalahkan.


Deana melirik Anna dengan tatapan kesal.


"Mau tau aja sih urusan orang," sewot Deana. Gadis itu menidurkan kepalanya di atas meja dengan posisi membelakangi Anna.


Anna menggaruk kepalanya dan membatin, "Kenapa hari ini orang-orang pada sensi ya? Salah Anna apa ya Allah?"


Seling beberapa menit kemudian, Bu Selly datang sambil membawa box undian nomor meja. Kelas yang tadinya gaduh langsung berubah menjadi sunyi.


"Ambil menurut nomor absennya masing-masing. Jangan langsung dibuka, ya! Bukanya nanti sama-sama," jelas Bu Selly.


"Nomor absen satu silakan ambil, dan yang lainnya mengikuti ya!"


Satu-persatu siswa-siswi di kelas 12 A-4 pun mengambil kertas undian sesuai nomor absennya masing-masing. Anna yang baru saja mendapat kertas undian langsung kembali ke tempat duduknya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, banyak yang penasaran akan kertas yang mereka pegang apa lagi yang anak cowok.


Merasa tidak sendiri, Anna diam-diam mengintip kertas undian yang dipegangnya.


"Ibu bilang jangan dibuka dulu!" Sontak orang-orang yang berusaha membuka kertas undian menghentikan niat mereka.


Setelah absen terakhir mengambil kertas undiannya Bu Selly berkata, "Dalam hitungan ketiga kalian semua boleh buka kertasnya."


"Anjiir, kok gue deg-degan?"


"Gue harap gak bakal deket sama Bella!"


"Semoga gue di belakang!"


"Gue gak mau pisah sama lo!"

__ADS_1


"Semoga gue sebangku sama Yolanda!"


"Jauhkan hamba dari makhluk bernama Zidan ya Allah!"


"Semoga aja saya di depan! Saya harus ranking satu semester ini!"


"Jangan sampe gue sebangku sama Bella!"


"Gak mau deket-deket Bella!"


Anna terkekeh pelan mendengar sayup-sayup keluhan dan harapan teman-temannya di tengah-tengah suasana yang gaduh. Tapi, ada satu hal yang membuat Anna heran. Sebenarnya, ada apa dengan anak yang bernama Bella? Mengapa mereka tidak mau dekat dengan Bella? Dan, apakah di kelas ini ada yang namanya Bella?


"Jangan berisik, Anak-Anakku!" ucap Bu Selly setengah berteriak. "Malu kalau didengar kelas lain kalau kalian ribut kayak di hutan."


Setelah suasana kelas kembali kondusif, Bu Selly mulai berhitung.


"Satu... dua... tiga! Silakan dibuka!" Saat hitungan ketiga, semua orang membuka kertas undian mereka. Dan dimulailah kembali kegaduhan yang lebih gaduh lagi.


"YES GUE DI BELAKANG!! IRI GAK? IRI GAK? IRILAH MASA ENGGAK!"


"Diem! Berisik lu!"


"Yah, saya di tengah-tengah. Yaudahlah, gak apa-apa lebih mending dari pada di belakang."


"Sial! Malah duduk di depan!"


"Lo duduk dimana?"


"Lo nomor berapa?"


"Jadi gue sebangku sama siapa?"


"Kayaknya Abang Zidan memang ditakdirkan dengan Eneng Yolanda. Abang nomor 27 lho! Sebangku kita."


"Ish! Ada yang mau tukeran gak woi! Gue gak mau di depan!"


"Sini tukeran! Saya mau duduk di depan!"


Anna celingak-celinguk. Dia sebenarnya tidak masalah duduk dimana saja, hanya saja Anna berharap orang yang menjadi teman sebangkunya adalah orang normal yang tidak sengklek macam Zidan, Anna juga berharap dapat berteman baik dengan teman sebangkunya nanti.


"Nomor berapa, De?" tanya Anna pada Deana.


"Lima," jawab Deana yang sepertinya masih tidak berada dalam mood yang baik.


"Depan-depanan sama meja guru dong?"


Deana hanya mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban 'ya'.


"Kita jauhan, berarti ya? Gue nomor 29."


"Oh."


Anna mengerutkan dahinya.


"Lo kenapa sih? Kalau gak mood jangan lampiasin ke orang lain, dong!" ketus Anna yang mulai merasa kesal dan memilih memperhatikan foto presiden dan wakil presiden yang digantung di depan kelas.


"Semua sudah tau nomor mejanya masing-masing, kan? Silakan pindah saat istirahat pertama. Nanti Ibu pantau. Sekarang, kita lanjutkan materi Bahasa Indonesia. Buka buku cetak halaman 42!"


...***...

__ADS_1


"Nunggu lama?" tanya Anna pada Nahyan yang sedari awal bel berbunyi sudah berdiri di depan kelasnya, Anna melihat ke arah kelas 12 A-7 yang berada di satu koridor dengan kelasnya.


Tumben antek-anteknya gak dibawa sekalian? Terus Fabian sama si Tengil Suga juga gak keliatan, batinnya.


Anna melirik para siswi perempuan yang sedari tadi kebanyakan kerjanya bolak-balik hanya untuk melihat wajah tampan Nahyan. "Ini kelakuannya kenapa pada aneh-aneh?" gumam Anna.


"Ayo!" Nahyan berjalan mendahului Anna.


"Eh tungguin!" Anna menjajarkan langkahnya dengan langkah lebar milik Nahyan. Merasa gadis di sampingnya kesulitan, tanpa sepengetahuannya Nahyan memperkecil langkahnya.


Nahyan melirik Anna yang sedang memberikan tangan ke arahnya.


"Apa?" tanyanya.


"Gak mau pegangan?" tanya Anna yang tersenyum manis sambil menggerak-gerakkan jari-jari kecil miliknya.


Nahyan menatap gadis itu yang masih betah tersenyum dan menawarkan tangannya. Agak pegal sebenarnya harus menunduk seperti ini untuk menata Anna.


"Dasar cebol!" ujar Nahyan sambil menyentil dahi gadis itu. Cukup membuatnya gregetan, wajah Anna saat tersenyum benar-benar mirip kucing. Jiwa-jiwa pecinta kucingnya jadi meronta.


"Akh! Sakit!" Mata Anna berkaca-kaca.


Tapi sepertinya, Nahyan lupa kalau yang dia sentil adalah seorang perempuan. Terbukti dari dahi Anna yang terasa kebas dan nyeri akibat sentilan Nahyan dengan tenaganya yang tidak diperkirakan.


"Eh?" Nahyan menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang begitu menyadari Anna yang tidak lagi berjalan di sampingnya.


Nahyan menemukan Anna berjarak beberapa meter darinya. Gadis itu terlihat kesakitan sambil memegangi dahinya. Dengan langkah gontai, Nahyan mendekati gadis itu.


Rasa bersalah muncul ketika tau Anna menitikkan air mata. Nahyan tidak tau harus bersikap bagaimana, dia tidak ahli dalam bidang menenangkan perempuan yang menangis.


"Maaf," lirihnya.


Bisa Anna rasakan ketulusan dalam satu kata itu, dan itu cukup mengalihkan Anna dari rasa nyeri di bagian dahinya.


"Yaudah ayo ke kantin! Nanti keburu bel masuk!" ujar Anna sambil menarik baju Nahyan dan menyeret cowok itu untuk bergerak. Namun, tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya.


"Tapi gue gak bawa duit lho!" kata Anna sambil menaik-turunkan alisnya. "Sanggup gak dompet lo gue kuras?"


Nahyan menjulurkan tangannya untuk menyentil dahi Anna lagi, tapi diurungkan niatnya itu ketika teringat Anna kesakitan. Jadi, dia hanya mencubit pelan pipi Anna yang tembam.


"Bawel!" ujar Nahyan yang disertai senyum kecil.


Anna membuka sebelah matanya begitu merasakan cubitan pelan di pipinya. "Untung gak jadi disentil lagi!" pikir Anna sambil menahan senyumnya.


°°°


Bersambung...


-panas


-sakit kepala


-mual


-lemes


-telinga bagian dalem nyeri


-Nyeri Haid

__ADS_1


DUAAR! Komplit gak tuh '-'


__ADS_2