
Sedari tadi Anna duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Gadis itu akhirnya membuat sedikit pergerakan setelah hanya menatap ponselnya. Entah apa yang dilihat Anna hingga fokus seperti itu.
Sebuah pesan muncul. Anna segera membuka applikasi chat. Ada pesan dari Dhyo di sana. Dengan gerakan terpaksa, Anna berdiri dan memakai tas sekolahnya.
Dhyo sudah di bawah. Sesuai kesepakatan, Dhyo akan mengantar dan menjemput Anna sekolah.
Anna perlahan menuruni tangga. Perasaannya sedang campur aduk. Dia juga tidak bias fokus terhadap hal-hal yang dikerjakannya. Contohnya saat dia memakai sepatu, bias-bisanya dia memakai benda itu terbalik, yang kiri dipakai kaki kanan, dan yang kanan dipakai kaki kiri.
“Kamu gak sarapan dulu?” Tanya Dewi dari darah belakang.
Anna yang sebentar lagi akan mencapai pintu keluar menghentikan langkahnya.
“Gak,” jawabnya singkat. Anna kembali melangkah, namun Dewi mencekal lengannya.
“Sarapan dulu sebentar.” Anna mengerutkan dahinya. Tumben-tumbenan Tantenya itu mengajaknya sarapan. Biasanya, Anna ke dapur saja sudah dapat sindiran.
“Ajak Dhyo juga,” sambungnya.
Anna tertawa lewat hidung. Ternyata ini alasannya. Seharusnya Anna tidak perlu berharap lebih kan? Mana mungkin Dewi bersikap baik padanya. Benar-benar omong kosong. Kemudian, dilepasnyalah tangan Dewi yang memegangi lengannya lalu Anna berkata, “Gak perlu. Udah biasa gak sarapan.”
Setelah itu, Anna keluar rumah dengan buru-buru. Takut kalau Dewi akan mengeluarkan macam-macam omongan yang akan membuatnya sakit kepala.
Anna segera memasuki mobil mewah yang terparkir cantik di halaman rumahnya.
“Maaf, Kak. Udah nunggu lama ya?” ujar Anna sekadar berbasa-basi sambil memakai sabuk pengaman.
“Iya, lo lemot banget kayak siput. Ngapain aja sih lo? Gue gak mau sampe telat ya!” sarkas orang yang berada di sampingnya.
Anna mengerutkan dahinya. Sejak kapan Dhyo banyak bicara dan kasar seperti ini? Anna menoleh.
WHAAAT?!!
Kenapa jadi Nahyan?!
Nahyan menyeringai lebar. “Kenapa? Kecewa yang jemput bukan Abang gue?” sungut Nahyan sambil menyalakan mobil, dan memundurkan mobil hingga keluar dari halaman rumah Anna.
Anna mengulum bibirnya. Dari pada kecewa, Anna malah merasa senang. Sangat-sangat senang hingga hamper saja dia berteriak kegirangan.
“Biasa aja, tuh!” jawab Anna. Gadis itu melengos dan menatap ke arah jendela.
Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada satupun diantara Anna dan Nahyan yang ingin memulai percakapan. Mereka berdua hanya menikmati suasana ini.
Anna menarik napas panjang dan menghembuskannya. Jujur saja dia rindu. Rindur dengan interaksinya dulu dengan Nahyan. Anna akui, meski saat dirinya bersama Nahyan lebih banyak berdebat tentang hal-hal sepele dan tidak jelas, malah itu lah yang membuat Anna rindu dan semakin rindu.
Melihat Anna melamun, Nahyan memulai percakapan. “Gak penasaran?” Mata Nahyan tetap focus pada jalanan di depan.
Anna yang mengerti arah pembicaraan langsung menjawab. “Ngapain? Gak guna.”
Nahyan menggeleng pelan. “Ternyata gini ya sifat asli lo.”
Anna langsung tersulut emosi mendengar ucapan Nahyan. “Apa?! Lo ngatain gue murahan lagi? Terus gue murahan, lo apa? Terong-terongan?! Iya?!” marahnya. Karena pertengkaran mereka semalam, Anna menjadi sangat sensitif kalau membahas tentang dirinya.
“Kenapa jadi lo yang marah?!” balas Nahyan dengan raut wajah tak senang.
“Lo yang mulai duluan!” bentak Anna sambil melipat tangannya di dada.
__ADS_1
Nahyan terdiam. Kalau dipikir-pikir lagi, memang dirinyalah yang salah dengan meluncurkan kata-kata yang ambigu seperti itu. Walau sebenarnya bukan itu maksudnya.
“Ngapain lo jemput gue?” Anna bertanya tanpa menatap Nahyan.
“Terlalu sulit ya move on dari gue?”
Nahyan hanya diam. Dia memaklumi kalau Anna sedang kesal padanya. Lagi pula, yang gadis itu bilang adalah kebenarannya. Nahyan terlalu jatuh cinta pada gadis itu hingga saat dia melakukan aktifitas sehari-harinya wajah Anna sebelalu muncul dalam pikirannya.
“Gue tau pesona gue begitu kuat. Tapi, inget. Gak baik suka sama Calon Kakak Ipar lo." Anna melirik tangan Nahyan yang diam-diam mengepal dan tersenyum samar. Sangat menyenangkan mengetahui Nahyan masih menyimpan rasa padanya.
“Jangan terlalu percaya diri! Gue jemput lo karena terpaksa.”
“Oh ya? Gitu?” Anna tidak percaya.
“Tapi kenapa Kak Dhyo bisa ngirim pesan kalau dia udah sampe rumah gue ya?” tanya Anna sambil manggut-manggut.
Nahyan menjadi tidak focus dalam menyetir mobil. Dia merasa terganggu.
“Lo bajak HP Kak Dhyo kan?!” tuduh Anna. Gadis itu mengeluarkan ponselnya.
“Apaan? Gak guna!” bantah Nahyan sambil tertawa miring.
Anna menyeringai, lalu Anna menyentuh layar ponselnya dan mencari kontak Dhyo. Setelah mendapatkannya, Anna segera menelepon nomor itu. Dan benar saja, setelah Anna menelepon Dhyo terdengar suara ponsel yang berbunyi.
Anna terkekeh geli, lalu menekan tombol merah dan suara ponsel itu berhenti. Anna kembali menelepon, lalu suara ponsel kembali terdengar.
“Ckckck, ketahuan deh ….” Anna tersenyum penuh kemenangan.
“Berisik! Mending tutup mulut lo itu!"
...***...
Anna segera melepas sabuk pengaman setelah sampai di parkiran sekolah. Sesaat setelah Anna membuka knop pintu, dia menyadari kalau mobil mewah yang ditumpanginya ini masih terkunci.
“Tunggu apa lagi? Buka kuncinya!” ujar Anna yang tidak sabaran.
“….”
Tak mendapat respon dari Nahyan, Anna langsung menyodorkan tubuhnya ke arah kursi pengemudi dan berinisiatif membuka sendiri kunci mobil. Namun Nahyan mencegahnya.
“Mau apa?” Nahyan membalas menatap Anna sambil memegangi kedua pundak gadis itu. Posisi mereka berdua terlihat ambigu.
“Mau apa lo bilang? Buka kuncinya, Bambank!”
Nahyan mengembalikan posisi Anna di kursinya. Lalu mengambil ponsel yang digenggam gadis itu.
“Eeeh?! Mau ngapain?!” Anna berusaha mengambil kembali ponselnya, namun tidak berhasil.
“Password?” tanya Nahyan ketika password yang dia ketik salah.
“Gak usah kepo.”
“Password!” geram Nahyan.
“Gak usah kepo dibilang!”
__ADS_1
Nahyan melayangkan tatapan tajam pada Anna. “Kasih tau passwordnya sebelum gue buang HP lo!” ancam Nahyan.
“Salah gue apa?! Gue kan udah bilang gak usah kepo! Kok lo malah ngancem-ngancem gini!”
Nahyan menunrunkan jendela lalu mengambil ancang-ancang untuk membuang ponsel Anna. Mata Anna melotot. Anna segera menahan tangan Nahyan agar tidak membuang ponselnya.
“Jangan dibuang!” teriak Anna.
“Makanya gak usah ngeyel! Cuma ngasih tau password apa susahnya? Sok rahasia-rahasiaan. Emangnya lo siapa? Presiden?!” Nahyan ngedumel.
Anna yang merasa kesal langsung menarik rambut Nahyan tanpa ampun. Mulut cowok ini benar-benar minta dicabein. Greget sendiri kalau Nahyan sudah dalam mode menyebalkan. Yah, meski tiap-tiap hari Nahyan memang menyebalkan.
“Kasar banget sih!” ejek Nahyan setelah menyelamatkan rambutnya dari serangan Anna.
“Salah lo yang gak konsisten sama omongan sendiri! Gue kan udah ngasih tau passwordnya. Tapi lo masih aja mau buang HP gue!” jawab Anna dengan raut wajah cemberut.
“Kapan lo ngasih tau?!”
“Astagaaa! Lo ngerti gak sih omongan gue? Udah tiga kali lho gue ngasih tau lo! Otak jenius lo itu dikemanain sih?" Anna merebut ponselnya kembali, lalu dia mendekatkan dirinya pada Nahyan.
“Ini mudah tau gak?! Tinggal ketik gak usah kepo!” jelas Anna, dan tararara! Ponsel Anna langsung terbuka.
“Nah, kebuka kan! Gitu aja gak ngerti!”
Nahyan menatap Anna lelah. Tingkah laku gadis ini bernar-benar absurd. Wajar saja kalau Nahyan tidak mengerti, passwordnya saja ambigu seperti itu.
Anna memberikan ponselnya pada Nahyan, dan cowok itu langsung menerimanya. Nahyan mengotak-atik ponselnya.
Nahyan tersenyum miris, sehabis putus darinya, Anna seperti hewan buas yang lepas dari kandangnya. Dalam galeri gadis itu sudah dipenuhi wajah-wajah cowok yang tidak diketahauinya, segeralah Nahyan menghapus foto-foto itu. Nahyan beralih ke aplikasi chat, dan dia menenmukan isi chat Anna yang sudah seperti asrama cowok. Dengan santai, Nahyan memblokir dan menghapus hampir semua nomor kontak cowok di ponsel Anna.
Nahyan menyipitkan matanya. “Oh, ****! Lo blokir gue?!” Nahyan marah.
Anna mengerjapkan matanya. Dia tertangkap basah. Anna segera memikirkan alasan bagus untuk menjawab Nahyan.
“Itu …." Anna mendesah pelan. Bagaimana bisa dia tidak membuka blokirannya saat tau Nahyan yang menjemputnya?
Anna mengubah raut wajahnya menjadi tegas, dan merebut ponselnya dari tangan Nahyan. “Nomor lo gak ada guna lagi. Gue chat gak bisa, gue telepon juga gak bisa. Mending gue blokir kan?” jawabnya dengan percaya diri lalu membuka knop pintu.
Anna mengerjapkan matanya, lalu kembali membuka knop pintu.
Ups!
Anna melupakan hal terpenting. Habislah Anna kali ini! Dia melupakan kalau mobil ini masih dalam keadaan terkunci! Betapa malunya dia sudah bertingkah sok pada Nahyan.
Dengan keberanian yang hanya terkumpul sedikit, Anna menoleh ke belakang dan mendapatkan Nahyan yang tersenyum miring.
Anna benar-benar habis kali ini.
°°°
Bersambung.
Wahai para pembaca yang berbudi luhur, mohon tinggalkan jejak berupa LIKE DAN KOMEN!
Kan enak kalau Liat yang KOMEN banyak. jadi semangat gitu :v
__ADS_1