Nahyanna

Nahyanna
BAB 30


__ADS_3

🌟Enthusiasm chapter 30🌟


Happy reading, Guys!!


Suga menepuk pundak Nahyan yang sedari tadi hanya melamun sambil memutar-mutar pensil dengan jari-jari tangannya.


"Ngapa lo?" tanya Suga sambil duduk di samping Nahyan.


Nahyan melirik Suga sekilas.


"Lo mau gue baca pikirannya?" tanya Suga sambil menyeringai licik.


Nahyan menoleh ke Suga yang sedang melayangkan tangannya untuk memegang tangan Nahyan. Dengan cepat, Nahyan menghindari tangan Suga.


Kalian percaya adanya mind reader alias pembaca pikiran? Jika tidak, Suga buktinya. Cowok itu terlahir istimewa. Dia bisa membaca pikiran seseorang hanya dengan menyentuh tangan targetnya. Semakin lama dia menyentuh, semakin banyak yang bisa dia ketahui. Bahkan, memori yang sedang tidak dipikirkan pun bisa Suga ketahui. Inilah sebabnya, di masa lalu Suga dijauhi banyak orang.


"Teruslah kalau lo mau dapet bogem gue," ucap Nahyan dengan wajah datar.


Suga tertawa terbahak-bahak.


"Yaelah. Bercanda doang gue. Lagian, lo juga gak biasanya ngelamun lama-lama kayak gini."


"Berisik!"


Suga menjilat bibirnya. "Tumben, lo gak nelponin Anna buat ke sini?" Suga mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.


"Dia liat." Nahyan bersandar pada kursi yang di dudukinya.


"Apaan? Liat lo gelud? Atau apa?"


"Gue dirotan."


Suga kembali tertawa terbahak-bahak.


"Bwahaha...," Suga menepuk-nepuk punggung Nahyan. "Kok bisa? Lo bawa dia ke rumah lo?"


Nahyan melayangkan tatapan sinis ke arah Suga, namun segera dia menjawab.


"Iya, gue bawa dia ke rumah."


Suga menggelengkan kepalanya tak percaya. "Wow, berarti Anna ini hebat ya. Gue gak boleh remehin dia lagi."


"Maksud lo apa?" tanya Nahyan sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Nahyan, si Kulkas berjalan dan merupakan pentolan SMA Y, yang bahkan sama sekali gak sudi disentuh-sentuh cewek, bisa luluh sampe buat Nahyan bawa dia ke rumahnya. Anna lebih hebat dari yang gue duga."


Suga menyeringai.


"Enisha yang kenal lo tiga tahun aja, gak pernah lo bawa ke apartemen apalagi rumah lo. Tapi Anna? Cuma butuh beberapa bulan, dia udah bisa keluar masuk apartemen lo dan sekarang, dengan mudahnya lo bawa dia ke rumah lo. Ada apa dengan lu, Man?"


Suga menaik-turunkan alisnya.


Nahyan memalingkan wajahnya, dan memandang lurus ke depan. Tatapannya menerawang isi pikirannya. Nahyan juga tidak mengerti mengapa bisa seperti ini.


Suga tidak mensia-siakan kesempatan ini, dan melakukan hal yang sejak tadi ingin dilakukannya. Mumpung, sang empu masih melamun.


"Oke," ucap Suga yang telah melakukan hal yang ingin dilakukannya, membuat Nahyan tersadar.


"Gue mau mabar ke warung Emak."


Suga beranjak dari duduknya, lalu menepuk pundak Nahyan. "Tenang aja. Gue udah tau pikiran lo," bisik Suga lalu pergi meninggalkan Nahyan yabg kebingungan.


Butuh waktu lima detik untuk Nahyan mengerti ucapan terkahir Suga.

__ADS_1


"Fvck, Suga! Lo baca pikiran gue!" teriak Nahyan yang merasa kesal.


•••


Anna memperhatikan Deana yang sedari pagi menidurkan kepalanya di atas meja. Gadis itu terlihat lemas seperti tak ada gairah hidup.


Sebagai teman dekatnya, wajar kalau Anna merasa khawatir. Akhir-akhir ini, mereka berdua memang sulit untuk bersama karena si Bayi besar alias Nahyan selalu menempel dan mencari-cari Anna, layaknya seekor anak **** yang kehilangan induknya.


"Lo kenapa?" tanya Anna.


Deana menatap Anna.


"Apa yang harus gue lakuin?" Deana memasang tampang melas.


"Apa masalahnya?"


"Kayaknya, gue jatuh cinta sama orang yang belum pernah gue temui. Gue bahkan gak tau rupanya gimana," jawab Deana yang terlihat putus asa.


"What? Gimana bisa?" Anna mengerutkan keningnya.


"Ada cowok, namanya Ian. Dia salah satu temen mabar gue di game yang udah beberapa bulan ini gue mainin. Gue sering main berdua doang sama dia, sampe dikira bucin. Setelah beberapa hari, akhirnya dia minta add chat dia. Oke, gue turutin. Dari situ... gue banyak ngobrol sama dia, sebatas chatan doang. But, gue nyaman dan baper sama dia. Dia bijaksana, dan dengerin semua curhatan gue. Pokoknya dia yang selalu ada buat gue." Deana berhenti berkata. Sepertinya, dia sedang merangkai kata-kata yang tepat.


Anna tersenyum simpul.


Sedikit sedih sebenarnya. Anna yang dekat dan terlihat oleh mata, namun tidak mampu membuat Deana bercerita padanya. Pasti kalian familiar dengan kata-kata ini 'salah satu hal yang menyakitkan adalah mengira yang paling dekat, tapi ternyata ada yang lebih dekat'. Anna pikir itu benar.


"Lalu?"


"Intinya, gue nyaman sama Ian. Gue suka juga sama Ian. Tapi, dia jarang chatan sama gue 3 hari belakangan ini. Padahal, gue sama Ian cuma komunikasi lewat chat doang. Tanpa pernah tau wajah masing-masing. Meski begitu, chat dia yang selalu gue tungguin. Aneh ya?"


Anna menghela napas.


"Gak aneh, De. Wajar lo begitu, di lingkungan lo kan cowoknya bobrok semua." Anna menjawab sambil melihat tingkah absurd Zidan CS di belakang kelas.


"Tapi, De, jangan sampe lo terlalu baper sama Ian. Kita gak pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Kita harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, termasuk kemungkinan-kemungkinan negatif. Bukannya berburuk sangka, tapi kan kita gak tau, entah dia penipu, entah dia pak boy, entah playboy. Kita gak pernah tau."


"Yang harus lo lakuin sekarang, bersikap biasa aja. Jangan sampai Ian itu ngerasa kalau lo baper bahkan sampai suka sama dia. Segitu aja omongan dari gue."


Deana berakhir dengan melamun setelah mendengar ucapan Anna.


Anna menepuk pundak Deana. "Sori, De. Gue ngomong gini karena gak mau lo terlalu berharap dan mungkin luka yang menunggu diakhirnya."


Deana menatap Anna lekat, lalu mengangguk.


"Nah sekarang, gue pinjem tugas kimia." Anna berucap sambil menyengir lebar.


Deana memutarkan bola matanya. "Suwek!" maki Deana sambil mengeluarkan tugas kimianya.


Anna menerima buku tugas Deana dengan hati riang.


Baru saja akan menyalin tugas, dari speaker kelasnya terdengar pemberitahuan.


"Ting tong, saatnya istirahat. Ting tong, it's time to begin the second rest."


"Eh, istirahat." Anna menoleh ke arah Deana yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam laci. "Kantin, yuk! Laper gue."


"Gak deh. Lo aja," jawab Deana sambil menidurkan kepalanya.


"Oke, deh!" Anna beranjak dari duduknya.


"Btw, tugas gak lo selesaiin dulu?" tanya Deana sambil menatap Anna tanpa mengangkat kepalanya dari meja.


Anna mengibaskan tangannya di udara. "Halah, itu mah bisa nanti. Kan, mapel terakhir."

__ADS_1


Bibir Deana membentuk bulatan, lalu langsung mengubah posisi kepalanya.


Anna mengangkat bahunya, lalu setengah berlari menuju kantin.


"Laper banget gue ya ampun...." gumam Anna sambil memegangi perutnya.


Saat perjalanan menuju kantin yang jaraknya lumayan jauh, Anna mendapati sosok yang familiar baginya.


Anna menyipitkan matanya. "Galen bukan sih?" gumam Anna.


Tanpa berpikir panjang, Anna berlari menuju cowok itu.


"Galen!" Anna memanggil Galen yang berjarak beberapa meter di depannya.


Galen menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Saat melihat Anna yang kini di depannya, Galen tersenyum lembut.


"Kenapa, Na?" tanya Galen.


Ah, suaranya itu lho yang membuat iman tergoda. Maskulin, namun disertai kelembutan.


Anna terlihat salah tingkah.


"Nggak kenapa-napa, sih. Cuma mau ngobrol aja. Kita kan udah lumayan lama gak ngobrol," jawab Anna sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Boleh kan?" Anna menatap Galen sebentar, lalu menundukkan kepalanya sembari menunggu jawaban dari Galen.


"Boleh. Untuk Anna apa sih yang nggak." Galen tersenyum kecil, lalu mengusap kepala Anna.


Mungkin, Anna akan menunjukkan senyumnya yang merekah kalau saja dirinya tidak menahan diri.


Anna memainkan jarinya. "Masalah yang sama Nahyan waktu itu, gue minta maaf ya?" tanya Anna.


Galen terdiam sejenak. "Lo pacarnya Nahyan?" tanya Galen yang membuat Anna mengerutkan dahinya.


"Eumh... bukan. Memang kenapa?" jawab Anna dengan sedikit memiringkan kepalanya.


Galen tersenyum hingga matanya menyipit.


"Bagus kalau gitu."


"Eh, kantin---"


"Perpus yuk!"


"Hah?" Anna terkejut karena mereka berbicara bersamaan.


"Lo mau ngomong apa tadi?"


Anna menggelengkan kepalanya.


"Nggak! Gue emang mau ngajak lo ke perpus," jawab Anna dengan senyum paksanya.


"Yaudah, ayo!"


Anna memalingkan wajahnya ke samping. "Mamp-us gue," gumam Anna lalu beralih kembali pada Galen dan tersenyum paksa.


°°°


Bersambung...


LIKE, KOMEN, dan RATE 5!! WAJIB HUKUMNYA 😘😭❤️


Love,

__ADS_1


Juecy.bell


18.Okt.2020


__ADS_2