Nahyanna

Nahyanna
BAB 4


__ADS_3

Saat ini suasana kelas sedang berada di situasi yang menegangkan. Pak Edo, yang katanya notabenenya guru BK galak yang mempunyai hobi merazia anak-anak tidak disiplin, sedang berdiri di dekat meja guru.


Satu persatu penghuni kelas membawa maju tas mereka dengan wajah gelisah. Apalagi yang cowok-cowok. Dari keluhan yang terdengar dari cowok-cowok dikelas Anna, rambut badai mereka terancam menghilang.


Deana menepuk pundak Anna.


"Coba lo lihat rombongannya Zidan," bisik Deana sambil menunjuk rombongan cowok-cowok yang duduk di belakang.


Anna terkekeh geli, lalu duduk di bangkunya setelah mengumpul tas di depan.


"Udah kayak gak ada nyawa!" bisik Anna.


Pak Edo mulai memeriksa isi tas satu persatu. Tas pertama lolos, kedua, dan ketiga juga begitu. Namun saat di tas bergambar Hello Kitty, raut wajah Pak Edo berubah jadi garang.


"Yang merasa punya tas ini, silakan maju ke depan." Pak Edo memerintah dengan tegas.


Anna lihat seseorang dari rombongannya Zidan tertawa geli, lalu cowok-cowok itu mendorong salah satu temannya menuju ke depan.


"Syaithon lo semua!" umpat Fadel sambil menatap nanar teman-temannya karena merasa terkhianati.


Fadel menggaruk tengkuknya sambil berjalan canggung menuju ke depan sambil melirik-lirik teman-temannya yang cekikikan.


Pak Edo menarik sejumput rambut yang berada di dekat telinga Fadel. Sontak cowok itu meringis kesakitan.


"Sakit, Pak!" ringis Fadel.


"Kamu bocah perempuan ya makanya pakai tas Hello Kitty?" tanya Pak Edo yang merasa geram.


"Duh, tas sekolah saya dibuang Emak saya Pak. Terus gak sempet beli. Jadinay saya pake tas yang ada yaitu, tas Hello Kitty punya adik saya," jawab Fadel.


"Berdiri saja kamu di sini!" ucap Pak Edo lalu mulai memeriksa tas yang lain.


"Ini tas siapa? Kenapa gak bawa buku cetak sama sekali?" tanya Pak Edo sambil mengangkat tas berwarna biru bergradasi hitam.


Anna mengangkat tangannya.


"Saya Pak!" jawab Anna.


"Maju!"


Anna maju dan berdiri tepat di samping Fadel.


"Tadi laki-laki yang menyerupai perempuan. Sekarang, perempuan yang menyerupai laki-laki," sarkas Pak Edo dengan tatapan sinisnya.


"Sepertinya dunia mau kiamat," ujarnya lagi.


Anna tersenyum menahan kesal.


Tidakkah Bapak Edo terhormat lihat seragam yang dipakai saya tidaklah sama dengan pakaian SMA Y? Tidakkah bapak bisa menyimpulkan bahwa saya murid baru? batin Anna merasa dongkol.


"Saya murid baru, Pak. Belum dapat buku cetak," jawab Anna dengan senyum paksa yang menghiasi wajahnya.


"Kepada ananda Anna Abimanyu, silakan menuju perpustakaan gedung B sekarang. Sekali lagi, kepada ananda Anna Abimanyu, silakan menuju perpustakaan gedung B sekarang," ucap sebuah suara dari speaker yang dipasang di setiap kelas.


"Saya dipanggil, Pak. Saya permisi izin keluar," ucap Anna yang langsung dihadiahi anggukan oleh Pak Edo.


Anna menghela napas lega setelah keluar dari kelasnya. Menghadapi Pak Edo benar-benar menguras tenaga. Aura yang dikeluarkannya itu lho yang buat gak nyaman.


"Omong-omong, perpustakaan gedung B itu dimana?" gumam Anna sambil melangkahkan kakinya dengan arah tujuan yang tidak tentu.


Sudah 15 menit lebih Anna berjalan menuju perpustakaan gedung B, meski sudah terus mencari Anna tetap tidak menemukan tempat yang ditujunya. Yang ada, dia malah merasa sudah tersesat.


Anna menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, lalu menaruh kedua tangannya di pinggang dan melihat sekitarnya.


"Priiit! Bima, gantikan Nahyan!" ucap Pak Haris yang sedang melatih basket putra untuk Amuse, yang merupakan sebuah pertandingan basket antar sekolah yang diadakan tahunan.


Nahyan berjalan menuju pinggir lapangan, sedangkan Bima memasuki lapangan. Kedua cowok itu terlihat saling menepuk bertepuk tangan.

__ADS_1


Nahyan meminum air mineral yang sebelum latihan dibeli oleh assisten pelatih.


Ditengah kegiatannya, Nahyan menangkap sosok perempuan yang terlihat sedang kebingungan. Merasa familiar dengan sosok itu, Nahyan memicingkan matanya. Berharap sosok itu terlihat jelas.


Nahyan berdecak, saat tau wajah perempuan itu. Sontak cowok itu mendekati perempuan itu dengan setengah lari. Perempuan itu tidak menyadari kehadirannya.


"Ini dimana ya? Tadi gue dari arah sana... terus gue di sini." gumam Anna sambil menunjuk arahnya datang.


"Ketemu!" Kata Nahyan sambil memegang lengan Anna.


Anna menoleh ke belakang. Gadis itu terlihat membulatkan matanya saat mengetahui siapa yang memegang lengannya.


"Lepasin gue...," lirih Anna berusaha melepaskan lengannya yang digenggam kiat-kuat oleh Nahyan.


Nahyan menjawab, "Lo masih ada urusan sama gue."


Cowok itu seakan tidak memedulikan raut wajah Anna yang kesakitan.


"Bisa gak sih lo lembut dikit sama cewek? Tangan gue sakit!" kata Anna yang sepertinya memancing amarah cowok itu.


"Untuk cewek kayak lo gak bisa," jawab Nahyan dengan tajam.


"Apa? Emang gue cewek kayak apa?" tantang Anna yang sudah tidak peduli dengan rasa sakit ditangannya.


Nahyan menyeringai.


"Lo mau mati?" ujar Nahyan dengan raut wajah misterius alias tidak terbaca.


"Ya lo yang kenapa? Lagian lo kayak cewek banget sih masalah kecil dibesar-besarin!"


Nahyan menggengam erat lengan gadis itu hingga sang empu meringis kesakitan.


"Lo kenapa sih? Sakit tau gak!" Anna berusaha melepaskan tangan Nahyan dengan bantuan tangannya yang lain. Namun tenaganya jelas kalah jauh dengan cowok itu.


Nahyan menatap lurus ke Anna, menulikan telinganya.


"Huh?" jawab Anna dengan dengan wajah cengo.


Situ sehat?


"Nama lo! Bodoh amat sih gitu aja gak nyambung. Otak lo sebesar apa sih?! Biji kedele?!" jawab Nahyan ngegas.


"Yah kok lo ngegas, sih?!" balas Anna dengan wajah cemberut.


"Lagian gue gak bodoh ya sampe harus ngasih nama gue ke Bule Sawah yang bar-bar seperti lo!" sambung Anna sambil menunjuk dada Nahyan dengan tangan yang bebas.


"Lo pikir lo bisa lolos dari gue?! Iya kan?!" Nahyan membalas berteriak, lalu mengangkat tangan Anna yang di pegangnya.


Rahang cowok itu mengeras.


"Kita lihat apa kali ini lo bisa lolos."


Nahyan menyeret Anna. Ini kedua kalinya cowok itu menyeret Anna di hari yang sama.


"Cepet lepasin gue!" teriak Anna.


"NAHYAN! KEMBALI LATIHAN!" teriak Pak Haris membuat langkah Nahyan terhenti.


Nahyan menoleh ke belakang untuk menatap wajah Anna.


Gadis itu terlihat sedang menghela napas lega. Saat mata mereka saling bertabrakan, Anna memelototkan matanya dengan galak seolah berkata 'apa lihat-lihat?!'


Dengan santai, Nahyan berjalan kembali menuju lapangan basket masih dengan menyeret Anna untuk mengikutinya.


"Kenapa malah pacaran?" sinis Pak Haris.


"Idih, ogah Pak! Saya gak akan pernah pacaran sama cowok bar-bar kayak Nahyan!" tukas Anna dengan cepat.

__ADS_1


Nahyan membalas Anna dengan menatap tajam. Anna memilih tidak peduli.


"Sudah! Kamu kenapa di sini? Tidak belajar?" Pak Haris memicingkan matanya.


"Saya dipanggil ke perpustakaan gedung B, Pak. Terus saya nyasar," jawab Anna.


Pak Haris yang mengerti setelah melihat seragam yang Anna kenakan, menganggukkan kepalanya. "Perpustakaan Gedung B di atas," kata Pak Haris.


Anna menaikkan sebelah alisnya.


"Hah?"


Atas mana? Langit maksudnya? Harus mati dulu dong gue!


"Ah... itu Galendra!" Pak Haris menyebut Galen yang kebetulan lewat dengan membawa setumpuk kertas. Nahyan terlihat sedang dalam mood yang buruk.


"Kamu minta antar saja sama dia."


Anna mengangguk.


"Terima kasih, Pak." ucapnya lalu berjalan mendekati Galen.


Namun tiba-tiba saja kerah baju bagian belakang Anna ditarik hingga gadis itu mundur beberapa langkah.


"Apaan sih?!" teriak Anna merasa kesal setelah Pak Haris ke pinggir lapangan basket untuk memberi instruksi pada cowok-cowok yang sedang bermain basket.


"Lo amnesia apa gimana sih? Lo itu belum jawab pertanyaan gue!"


"Apa?!"


"Nama lo," jawab Nahyan dengan wajah datar.


Anna mengangkat kedua alisnya, lalu tertawa lewat hidungnya.


"Lo kali yang amnesia, nama gue tadi disebutin kali sama Galen," kata Anna dengan nyolot.


"Kapan?"


Anna memutarkan bola matanya.


"Lagian apa peduli lo, sih? Apa bedanya lo tau atau enggak nama gue? Gak ada kan," ucap Anna lalu berjalan menjauhi Nahyan yang kelihatannya dongkol setengah mati.


Saat Nahyan ingin menyusul gadis itu, Pak Haris mengeluarkan suara lagi.


"NAHYAN! LATIHAN!!"


Nahyan berdecak sebal, namun dia tetap menghampiri Pak Haris.


"Kamu masuk lagi!" kata Pak Haris.


Nahyan menganggukkan kepalanya.


°°°


Tbc


NEXT?❤🌟👍💬


Like, Comment, rate 5 nya ya 😢


Biar aku semangat update-nya ❤


Salam hangat,


Juecy.bell


14 Agustus 2020

__ADS_1


__ADS_2