
LIKE, dan KOMEN YAA WOY!!!!☺🙂
🌟Enthusiasm chapter 36🌟
"Passwordnya apa?"
"Nana520," jawab Nahyan.
Anna mengerutkan dahinya.
"Nana?" Anna menatap Nahyan penuh dengan tanda tanya.
Nahyan menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Siapa Nana?" tanya Anna.
Apakah itu nama gadis yang bersama Nahyan tadi pagi? Anna tidak tau. Dia malas menebak-nebak. Jadi lebih baik langsung dia tanyakan pada orangnya langsung.
Nahyan menatap wajah Anna dengan ekspresi datar. Dengan sedikit keberanian, Anna balas menatap Nahyan.
Anna lihat bibir cowok itu sedikit terbuka. Seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak jadi karena ada hal yang mengganggunya.
Nahyan melengos. "Asal buat aja," jawabnya sambil menjalankan mobilnya kembali.
Anna memutar bola matanya.
"Ini beneran buat gue, kan?" Anna membolak-balikkan ponsel yang dimasa depan akan menjadi miliknya ini.
"Iya, Bawel."
Anna menyunggingkan senyumnya.
Nahyan hanya menggelengkan samar kepalanya melihat tingkah laku Anna. Tidak mendengar ataupun melihat pergerakan Anna, Nahyan melirik ke arah gadis itu. Lebih tepatnya, ke arah ponsel yang sekarang menjadi milik gadis.
Nahyan memicingkan matanya. "Ngapain lo chat Galen?!" Nahyan bertanya dengan nada suara yang meninggi, lalu mengambil ponsel itu dari tangan Anna.
"Ya terserah gue dong! HP juga udah punya gue kan?!" jawab Anna dengan sengit.
Bibir bagian atas Nahyan berkedut, tanda dia menahan rasa kesal. Cowok itu membuka jendela mobil. "Jawab yang bener atau gue buang HP ini," ucap Nahyan yang tak kalah sengit.
"IH, JANGAN!" teriak Anna. Gadis itu berusaha menyelamatkan ponsel yang mungkin akan berakhir menyedihkan jika saja Nahyan melepaskan pegangannya.
"Jawab!" ucap Nahyan yang sesekali melirik ke arah Anna karena dia sedang mengemudi.
Anna menyerah dan segera menjawab. "Mau minta jemput, biar dikasih makan. Soalnya kan si bule sawah sok-sok gak peka," sindir Anna sambil menatap ke arah jalanan di jendela samping.
"Gak usah kayak orang gak mampu, deh!"
"Bodo amat! Emang gue pikirin? Hidup hidup gue kok lo yang ngatur?"
"Gak inget kalau lo babu gue?"
"Ye... gue emang babu lo. Tapi lo gak ada hak ikut campur dalam urusan pribadi!"
"Tentu aja ada. Di hari dimana gue claim lo sebagai babu gue, lo adalah milik gue! Milik Nahyan Rabusy! Dan gue gak suka ada yang usik itu. Stop! Gue gak terima bantahan." Nahyan tak memberi celah sedikit pun kepada Anna untuk menyela.
Anna cemberut. "Suami juga bukan. Sok-sok bilang milik gue, milik Nahyan Rabusy." Anna menggerutu.
"Gue denger, Anna." Nahyan berkata tanpa melihat Anna.
Anna yang mendengarnya menjadi bungkam.
***
"Lelet amat sih!" Ucap Nahyan yang sedang bersandar di mobil barunya yang super duper kerennya. Nahyan melihat Anna dari atas hingga ke bawah.
Anna melayangkan tatapan sinisnya. Namun, Anna tak mengatakan apa-apa dan memilih mencium aroma bakso yang tercium samar-sama di tangannya.
"Gak bisa lebih lama?" tanya Nahyan saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Cowok itu bermaksud menyindir.
"Oh, boleh? Kebetulan tukang baksonya ganteng," ujar Anna bersiap membuka pintu mobil. Namun, Nahyan segera mengunci otomatis mobilnya.
"Gak usah kegatelan." Ujar Nahyan dengan nada suara dingin. Lalu, tanpa mempedulikan ekspresi kesal Anna, di menyalakan mesin mobil dan segera melaju menuju apartemennya.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanya Anna.
"Apartemen gue." Jawab Nahyan akhirnya dengan wajah datarnya. Yah seperti biasa, tidak ada senyum sama sekali di wajahnya.
Anna mendecak. "Anterin gue balik!" kata Anna memerintah.
Nahyan menaikkan sebelah alisnya sebagai ungkapan tidak setuju, atau lebih tepatnya tak menggubris perkataan gadis itu.
"Gue mau langsung makan, abis itu rebahan." kata Anna yang berusaha berbicara baik-baik. Kan gawat kalau mereka tanpa sengaja berdebat hingga cowok itu merasa kesal dan akhirnya menurunkan Anna di tengah jalan. Terlebih lagi, dari daerah sini cukup jauh dengan jalan ke rumah Anna. Bisa-bisa malam nanti dia sampai di rumah dengan jalan kaki.
Tapi kan, bisa minta jemput Galen.
Ups!
Anna tersenyum samar membayangkan betapa baiknya kesehatannya kalau berada di dekat Galen.
"Di apartemen gue kan bisa." Nahyan melirik Anna. "Biasanya juga gitu kan?"
Anna menggelengkan kepalanya.
"Gak bisa, Nahyan!" Jawab Anna sambil melotot. "Paman gue bakal ada dirumah. Bisa repot kalau dia tau gue pulang malem."
Nahyan terdiam beberapa saat.
"Urusannya apa sama paman lo? Ayah dan Ibu lo aja gak marah kan?" kata Nahyan.
Ekspresi wajah Anna melunak begitu Nahyan melontarkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sederhana sebenarnya, namun bagi Anna pertanyaan itu tak sesederhana itu.
Menyadari suasana yang canggung karena Anna hanya diam dan menatap kosonh ke arah depan, Nahyan mengusap puncak kepala Anna dengan lembut.
"Gak usah dijawab. Gue asal aja tadi," kata Nahyan yang langsung di hadiahi anggukan oleh Anna.
Setibanya di depan rumah Anna, Nahyan memarkitkan mobilnya di pinggir jalan. Sengaja tidak memasuki halaman rumah agar tidak ribet mengeluarkan mobilnya karena dia hanya akan di sini sebentar.
"Na!" Panggil Nahyan saat Anna akan membuka pintu mobil tanpa mengatakan sepatah katapun.
"HP-nya." Nahyan mengulurkan ponsel yang tadinya akan dia terjun bebaskan saat mobilnya sedang melaju.
Anna menerimanya dengan senyum tipis.
"Oke."
Anna menggelengkan kepalanya.
Menurutnya, itu akan sangat berlebihan jika sampai terjadi. Soalnya, harga ponsel Anna yang dirusak Nahyan tidak seberapa. Bahkan, harganya jauh lebih murah dari ponsel yang Nahyan berikan padanya saat ini. Terlebih lagi, ponsel ini baru dibeli lusa kemarin.
"Yang ini cukup kok."
Nahyan menyisir rambutnya ke belakang.
"Oke."
Anna tersenyum pada Nahyan yang mentapnya dengan canggung.
Ditengah suasana antara Nahyan dan Anna yang tumben-tumbennya tenang, Anna mendapati sebuah benda pipih lain yang diletakkan di atas dashboard.
"ANJIIR!" Pekik Anna membuat Nahyan memicingkan matanya.
"Pantes aja lo langsung ngasih HP lo ke gue. Ternyata HP lo ada 2 yaa. Ckckckck ... Anak sultan mah beda ya." Kata Anna sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Apaan sih?" Ucap Nahyan dengan tanpang datar.
Anna terdiam mendengar nada suara Nahyan yang tak mengenakkan. Terlebih lagi cowok itu tidak menunjukkan ekspresinya.
"HP gue itu ada 3 ya," sambung Nahyan yang langsung mendapat hadiah sebuah pukulan pedas di lengan bagian atasnya.
Nahyan tertawa kecil.
"Bercanda," ujar Nahyan yang masih menyengir.
"Yang bener HP gue ada 10."
Anna menatap Nahyan dengan sangar.
"Punya 3 HP tadi dibilang bercanda. Sekarang, ngomongnya malah punya 10?" Anna menaikkan sebelah alisnya. "Ngerjain gue lo?"
__ADS_1
Nahyan menghela napasnya. Lalu, membuka dasbor yang berada di depan Anna. Reflek, gadis itu memundurkan tubuhnya.
"Tuh, buktiin. Gue ngerjain lo apa enggak." ucap Nahyan setelah kembali ke posisi semulanya.
Anna menggumam. "Anjim. Beneran 10, dong."
"Lo mau jualan apa gimana sih?" tanya Anna.
Nahyan hanya mengangkat bahunya. "Gue sering kehilangan HP. Kalau mau beli ke store-nya atau beli online, ribet plus kelamaan. Jadi nyetok aja," jawab Nahyan seadanya.
Anna memandang Nahyan takjub. Cowok ini, menyetok ponsel seolah menyetok bahan makanan untuk seminggu. Dianggep enteng gitu lho. Anna yang jiwanya jiwa-jiwa wong missqueen cuma bisa gigit jari.
"Lah, kalo HP lo sering ilang. Seharusnya nomor lo ganti-ganti dong?" tanya Anna.
"Emang. Lo aja yang gak sadar gue ganti-ganti nomor."
Anna cengo. "Gimana gak sadar? Setiap lo hubungin gue, gak pernah tuh lo pake nomor baru."
"Ya iyalah, gue kan sering buka HP lo diem-diem. Gue tambahin aja nomor gue ke HP lo. Gak pernah sadar lo?"
Anna mendecak.
Nahyan ternyata berbahaya, Gais.
"Kok gitu sih? Lo buka apa aja?!" kata Anna sambil menggoyang-goyangkan lengan Nahyan.
Nahyan menyeringai. "Kenapa? Nyimpen hal yang berbau dewasa ya?"
Anna melotot, lalu menyentil bibir Nahyan.
"Akh!" Nahyan meringis meski rasa sakitnya tidak seberapa.
"Sembarangan! Di galeri itu ada foto gue pas kecil lagi mandi tau gak!"
Nahyan terkekeh geli.
"Oh, itu. Gue liat. Rata ya, kan Na?" Goda Nahyan.
Sebenarnya, Nahyan tidak seberani itu membuka galeri di HP Anna. Itu jelas-jelas adalah privasi Anna. Nahyan juga takut kalau membuka galeri Anna akan menemukan foto Anna dengan pakaian tak pantas dilihat laki-laki sepertinya. Nahyan tak selancang itu. Meski terkadang, Nahyan membaca semua chat Anna dengan Galen dari yang paling atas hingga yang terbawah.
Saat Nahyan mengatakan itu, Anna terlihat lega. Pasalnya, foto Anna saat bocah cilik itu, hanya memperlihatkan Anna kecil yang sedang berendam di bathtub dengan banyak gelembung.
"Oh, belum lihat ternyata." Gumam Anna. "Yaudah, gue pulang."
Nahyan mengangguk mengerti.
"Hati-hati." Ucap Anna sebelum menutup pintu mobil.
"Iya."
Anna tetap berdiri ditempatnya hingga mobil Nahyan yang melaju sudah jauh jaraknya. Anna beranjak dari tempat itu saat mobil Nahyan benar-benar menghilang dari kejauhan.
Anna menundukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu membuka gerbang rumahnya.
"Bagus. Gak usah pulang."
Tubuh Anna menegang, dan rasa cemas hingga ketakutan menguasainya.
°°°
Bersambung...
Gak aku edit... wkwkwk nanti aja editnya. Aku lagi mager.
⚠WAJIB⚠
✔ LIKE
✔ KOMEN
Gak lakuin Itu?? FIX HANTU!!
...•CAST ANNA ABIMANYU•...
__ADS_1
...Cocok gak sih? Kalau engga, rekomendasiinya duong...