Nahyanna

Nahyanna
BAB 23


__ADS_3

⚠Tinggalkan JEJAK yew. Aku takut Hantu soalnya ❤


Hargai aku yang Begadang terus yah :(


LIKE dan KOMEN yang banyak gitu. Mata aku udah berat soalnya. Ini aku maksimalin banget :(


🌟Enthusiasm chapter 23🌟


Happy reading, Guys!


FLASHBACK ON


"Nih, khusus buat lo." Suga sambil memutar laptopnya agar Nahyan bisa melihat hasil kerjanya.


Suga menunjukkan senyum bisnisnya. "Agak susah ngelacak Anna."


"Lo mau apa?" tanya Nahyan.


"Gak banyak, cuma purcash semua akun game gue dan beliin gue komputer gaming termahal."


"Mudah aja," jawab Nahyan. "Kirim langsung alamat dia ke gue."


Nahyan melangkah ingin meninggalkan kelasnya. "Mau kemana?" tanya Fabian.


"Ke rumah Anna. Menurut lo mau apa lagi?" jawab Nahyan sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Inget, toleransi bolos lo udah abis."


Nahyan berdecak kesal lalu menarik kursi yang berjarak dua meja dari Fabian.


Nahyan melipat tangannya di atas meja, dan menjadikan tangannya bantalan untuk kepala.


"Kalau bosen, kenapa lo gak ngerusuhin orang-orang yang bully Anna?" celetuk Suga yang masih fokus dengan laptopnya. Sepertinya, cowok itu sedang membuat program baru. "Hobby lo kan buat rusuh."


Nahyan hanya diam.


Dia kesal dengan kalimat terakhir Suga. Tapi, apa yang dikatakan Suga memanglah benar. Nahyan hampir tidak pernah tidak membuat rusuh selama bersekolah di sini. Seperti, tiada hari tanpa membuat rusuh.


"Gak usah kompor, Be-go!" Fabian menjitak kepala Suga.


"Gak usah jitak juga, Njiir!"


Nahyan beranjak dari kursi yang didudukinya dan berjalan menuju keluar kelas.


"Mau kemana woy?!" kata Fabian. "Lo mau kena amuk emak lo lagi?"


Nahyan berdecak sebal.Terkadang, ucapan Fabian itu mirip emak-emak.


Nahyan melirik Fabian. "Cerewet!" kata Nahyan sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Biasanya, pentolan kelas khusus cewek suka nongkrong di taman belakang!" ujar Suga tanpa beralalih dari laptop.


Nahyan melanjutkan langkahnya tanpa ada niat untuk menoleh sebentar ke arah dua temannya itu. Tentu saja dia menuju ke taman belakang.


Nahyan begitu marah saat tau Anna dibully. Menurutnya, Anna adalah orangnya, miliknya. Jadi, hanya dia yang dapat membully Anna. Tidak akan ada orang yang bisa mengusik itu.


Sumber yang menjadi Anna dibully adalah Galen. Sebab itu kemarin Nahyan sangat marah dan Nahyan akui sikapnya jahat terhadap Anna saat mengetahui dua manusia itu berangkat sekolah bersama. Nahyan tidak rela, hatinya menjadi panas. Ada gejolak rasanya yang tak nyaman di dadanya. Apalagi saat Galen dengan kurang ajarnya menggenggam tangan Anna. Itu benar-benar menyebalkan dan membuatnya tak bisa menahan diri.


Nahyan menghela napas.


Sebenarnya, sehari setelah melihat Anna membeli begitu banyak obat lebam. Nahyan sudah tau siapa yang membully gadisnya. Tapi, Nahyan tidak bisa bersikap sembrono jika menyangkut Anna. Nahyan takut, jika dirina bertindak Anna akan marah padanya. Terlebih lagi, gadis itu keukeuh untuk merahasiakan apa yang terjadi padanya.


"Kalian bully Anna?!"


Langkah Nahyan terhenti saat mendengar suara yang familiar itu. Nahyan menolehkan kepalanya ke samping. Dia mendapatkan orang yang dicarinya. Namun, ada satu orang gadis lainnya. Mungkinkah dia ada sangkut pautnya juga atas pembullyan Anna?


Gadis itu adalah Athaya, mantan pacar dari Galen. Dan gadis di depannya itu adalah Aliya, sepupunya.


"Iya, kenapa? Seneng gak lo?" jawab Aliya yang antusias mewakili kedua temannya Chia dan Mimi.


Athaya memijat pelipisnya.


"Gue gak ngerti untuk apa lo lakuin ini. Tapi bukannya gue udah pernah bilang, lo bisa bully orang lain sepuas lo, but you can't bullying Anna!" kata Athaya yang merasa frustrasi.


"Lo gak tau apa dibelakang Anna itu ada Nahyan? Bisa bahaya tau gak?!" sambung Athaya sambil bertolak pinggang.

__ADS_1


Aliya yang merasa tidak senang pun menjawab, "Ya terus kenapa?! Lagian, si Jala-ng itu yang kurang ajar berani ngegoda Galen!"


"Coba lo pikir, pacar lo itu digoda orang lain. Gue sebagai sepupu lo jelas gak terima.


"Aliya gak salah, Ath. Dia cuma ngebela lo," celetuk Chia yang dihadiahi banyak anggukan oleh Mimi.


"Astaga... udah berapa kali sih gue bilang? Gak usah ikut campur urusan gue begini! Asal lo tau, gue dan Galen itu udah berakhir. Jadi, stop bully Anna atau siapapun yang dekat dengan Galen!"


Aliya mengerutkan dahinya. "Gue tau lo masih suka sama Galen, Athaya! Jadi, berterima kasihlah sama gue!"


Athaya yang merasa geram, akhirnya memilih mengalah.


"Oke, lakukan apa yang mau lo lakukan. Lanjutin aja aksi bullying lo sama Anna, dan tanggung resikonya sendiri!" ucap Athaya lalu bergegas pergi meninggalkan ketiga gadis itu.


Aliya menggeram. "Cepat atau lambat, lo akan berterima kasih sama gue, Athaya!" ujar Aliya dengan suara rendah yang penuh penekanan.


"Gue lihat tadi pagi Anna berangkat bareng sama Galen," kata Mimi sambil memainkan kuku-kuku cantiknya.


Aliya menggenggam tanganny kuat. "Kayaknya kita harus beri dia pelajaran lebih," geram Aliya. "pulang sekolah, bawa Jala-ng ke gudang--"


Plok! Plok! Plok!


Terdengar suara orang yang sedang bertepuk tangan.


Aliya dkk yang terkejut langsung menengok ke arah sumber suara. Tubuh mereka semua menegang saat tau siapa yang ada di depan mereka saat ini.


Bukankah ini berarti Nahyan mendengar semuanya?


Nahyan menunjukkan senyumnya yang mematikan. Senyum yang berarti banyak hal. Tentunya, bukan hal yang baik untuk ketiga gadis itu.


Sejak tadi, Nahyan menahan diri agar tidak menghajar habis-habisa ketiga gadis itu. Bahkan, amarahnya memuncak saat gadis di depannya ini menyebut Anna sebagai jala-ng. Dirinya jelas tak bisa menerima itu.


"Jadi, lo yang buat bawahan gue terluka?" ucap Nahyan masih dengan senyumnya.


Aliya tergagap, sedangkan Chia dan Mimi saling berpegangan tangan karena terciduk oleh sang pentol sekolah.


"Bu-bukan gue! Mereka berdua yang mukulin Anna!" kata Aliya sambil menunjuk ke arah Chia dan Mimi.


Chia mengerutkan dahinya.


"Jangan lempar kesalahan lo, Bangs-at!" teriak Chia sambil menarik rambut Aliya.


Aliya membalas menarik rambut Chia. "Ya gue benerkan, lo dan Mimi yang mukul Anna? Bahkan, lo berdua nendangin Anna!" jawab Aliya dengan kaki yang tidak hanya diam saja. Kakinya menendangi Chia.


"Lepasin Chia!" Mimi berusaha melepaskan tangan Aliya dari rambut Chia.


"Diem lo anjing!" teriak Aliya sambil mencakar pipi Mimi.


Mimi yang tidak terima dengan perlakuan Aliya, langsung ambil andil dalam pertengkaran yang tidak berarti itu. Karena di mata Nahyan sudah jelas kalau mereka bertigalah yang bersalah.


"Fucek! Muka gue!" teriak Mimi sambil mencakar kembali pipi Aliya.


Nahyan menontoni perkelahian yang menurutnya sangat membosankan itu.


"Udah berantemnya?" tanya Nahyan dengan wajah datar.


Aliya dkk sontak menghentikan pertengkaran mereka. Aliya langsung menangis saat melihat wajah Nahyan yang begitu menyeramkan, sedang Chia dan Mimi lebih kuat dengan menahan tangis mereka.


Nahyan berjalan mendekati Aliya, sebab otak dari semua ini adalah gadis itu.


Aliya melangkah mundur, namun Nahyan berjalan mendekat lagi dan Aliya pun melangkah mundur lagi begitu seterusnya.


Aliya merasakan kakinya lemas hingga tidak dapat menopang tubuhnya dan terduduk di rerumputan.


Nahyan duduk jongkok di depan Aliya, lalu mencengkram pipi gadis itu.


"Jangan sampai gue denger hal kayak gini lagi yang menyangkut Anna, Aliya." Nahyan berkata dengan suara yang datar dan penuh penekanan.


"Lo gak mau dapet konsekuensinya, bukan?" ancam Nahyan membuat tangis Aliya semakin menjadi, hingga mengundang seorang guru yang sedang berpatroli.


"NAHYAN! APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN?!" teriak seseorang wanita paruh baya.


Nahyan menatap ke arah guru perempuan yang sedang berjalan ke arahnya.


"Yah ketahuan," gumam Nahyan lalu berlari melarikan diri.

__ADS_1


FLASBACK OFF


"Kenapa kalau bukan lo yang mukul, malah lo yang di skorsing? Apa alasan Aliya dkk saling tuduh-menuduh? Dan kenapa lo marah kalau Aliya ngusik gue?" tany Anna.


"Gue...." Nahyan menelan salivanya.


"U-udahlah. Ini urusan orang dewasa. Lo sebagai anak kecil gak perlu tau," jawab Nahyan sambil melirik Anna sekilas dan tidak berani menatap gadis kecil itu.


Anna menggembungkan pipinya. "Kita seumuran, ******!" teriak Anna sambil memukul punggung cowok itu.


Nahyan meringis. Pukulan Anna cukup terasa pedas.


"Jawab pertanyaan gue Nahyan!" ujar Anna dengan nada suara memerintah.


Nahyan menghela napas. "Yang pasti gak seperti yang lo pikirkan," jawab Nahyan.


"Emang apa yang gue pikirin?" tanya Anna yang mulai merasa kesal.


Sebelum Anna akan kembali membuka suara dan mengeluarkan unek-uneknya, Nahyan menjawab dengan nada suara yang datar. "Udahlah lupain aja. Lagi pula sekarang semua baik-baik aja."


Anna membalas tatapan Nahyan.


Sebenarnya, Anna ingin bertanya dan menggali lebih dalam. Hanya saja, terkadang Nahyan itu tidak terbantahkan. Jadi, Anna hanya diam saja.


Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Nahyan melangkah pergi dengan diekori Anna. Seperti biasa, Nahyan yang memimpin jalan dan Anna yang di belakang.


Anna menggigit bibir bawahnya sebelum dia menyiapkan nyali untuk menarik baju bagian bawah Nahyan.


"Nahyan," panggil Anna sambil menarik baju seragam cowok itu.


Tanpa berhenti melangkah Nahyan menjawab, "Hmm?"


"Berhenti dulu," jawab Anna sambil menahan baju Nahyan agar cowok itu berhenti melangkah.


Nahyan menghentikan langkahnya dan menatap gadis berperawakan mungil di depannya. "Apa?" tanya Nahyan.


Anna menatap Nahyan lamat-lamat.


“Gue gak tau secara detail tentang urusan lo di BK tadi," kata Anna dengan nada suara yang dibuat lembut.


"Tapi Nahyan, tentang Aliya yang bully gue adalah urusan gue. Gue juga pengen menyelesaikan masalah ini dengan cara gue. Gue pengen selesain ini secara baik baik. Gua yakin gua bisa, makanya gue gak butuh bantuan lo.” jelas Anna masih dengan nada suara yang lembut.


Nahyan mengerutkan dahinya. Entah mengapa dia merasa kesal saat Anna mengatakan itu.


“Lo itu cuma anak baru yang belum tau apa-apa. Gak ada orang yang boleh lukain lo, atau ngebully lo selain gue!" jawab Nahyan dengan nada suara yang meninggi.


"Lo itu babu gue! Kalau lo luka siapa yang bakal ngurusin gue? Intinya, gue menyelesaikan masalah ini secara baik-baik melihat gue yang gak bisa mukul perempuan."


"Tapi gue tetep kasih mereka pelajaran supaya mereka paham kalau lo," Nahyan menekan kata kata terakhirnya. "adalah milik gue."


Anna cemberut. "Apa sih? Gue nanya lo baik-baik, kok lo malah ngegas?!" kata Anna yang merasa kesal.


"Dah, mending lo balik ke asal lo sana!" usir Anna sambil meninggalkan Nahyan.


"Buat gue gak mood aja!" gerutu Anna.


Nahyan tertawa miris karena kebodohan gadis yang mengusirnya itu.


"Woy!" teriak Nahyan.


Anna berhenti melangkah, lalu menolehkan kepalanya untuk melayangkan tatapan sinisnya pada cowok itu.


"Apa?!" jawab Anna sambil berteriak.


"Dasar cewek be-go! Upgrade otak sana, cuma sebesar biji kedelai soalnya!" teriak Nahyan lalu melangkah pergi ke arah yang berlawanan dengan Anna. Nahyan berjalan menuju kantin.


"Apaan sih?! Gila kali ya?" gumam Anna sambil berjalan cepat menuju kelasnya.


°°°


Tbc


⚠NEXT?! DIBILANG, LIKE KOMEN DULU❤⚠


Salam hangat,

__ADS_1


Juecy.bell


22 September 2020


__ADS_2