Nahyanna

Nahyanna
BAB 75


__ADS_3

Anna menutup pintu kamarnya dengan kuat.


BRAK!


Dilemparnyalah tubuh ke atas tempat tidurnya. Gadis itu mengambil bantal kesayangannya dan menangis sepuasnya di sana.


"Hiks... hiks...."


Hancur sudah.


Bukan hanya hidupnya saat ini. Tapi juga masa depannya. Tanggal pertunangan sudah ditentukan. Dan lagi, pernikahan dilakukan dua minggu setelah pertunangan. Namun berita bagusnya, pertunangan itu masih akan dilakukan dua bulan kemudian, dihitung dari hari ini. Mungkin diundur karena masalah Nahyan.


Anna mengambil ponselnya. Masih dengan tangisnya.



Anna menekan tombol telepon. Kemudian diletakkan ponselnya itu ditelinganya, lalu mulutnya menggigiti kuku jari telunjuknya yang bebas.


"Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silakan coba--"


Tut!


Anna segera menekan tombol merah.


"Aish...!" dia membanting ponselnya di tempat tidur, "kenapa gak diangkat coba?" cicit Anna yang merasa frustrasi.


Setelah berbicara empat mata dengan Ibunya, Nahyan tidak terlihat lagi. Yang kembali ke ruang makan hanyalah Ibu Nahyan. Jelas saja saat itu Anna sangat khawatir dan ingin tau apa yag terjadi saat mereka berbicara berdua.


Meski tau usahanya percuma, Anna tetap menelepon nomor Nahyan. Mendapatkan fakta bahwa nomor cowok itu tidak kunjung mengangkat telepon juga, tangisnya makin pecah. Rasa sakit seperti ditusuk yang berada di hatinya semakin menambah. Ingin berteriak, namun dia sudah tidak sanggup.


Apakah hubungannya dengan Nahyan berakhir hanya seperti ini? Tanpa komunikasi, dan pernyataan yang jelas? Anna jelas tidak mau seperti ini. Dia akui, selama ini dia mencintai Nahyan. Nahyanlah satu-satunya yang mengisi hati seorang Anna Abimanyu hingga merasakan sakit yang luar biasa seperti ini. Sebelumnya, untuk sepenuhnya menaruh hati pada pria lain, Anna mana berani? Dia selalu memasang pembatas.


"Angkat...."


"Angkat!!!"


"TOLONG ANGKAT!!" teriak Anna sambil melempar ponselnya ke dinding saat ponselnya kembali mengeluarkan suara dari operator. Lalu, dia menangis frustasi.


Anna bersandar pada dinding, dan menenggelamkan wajahnya di kedua kakinya yang dia tekuk.


"Lo kemana sih?" lirihnya.


...***...


Anna berjalan menuju kelasnya dengan wajah lesu. Pagi ini, Nahyan tidak menjemputnya. Jelas Anna kecewa berat. Sejak kemarin juga cowok itu tidak mengirim satu pun pesan padanya. Bahkan, tidak bisa dihubungi juga. Saat Anna bertanya pada Suga dan Fabian pun jawabannya tidak tau.


Saat Anna memasuki kelas 12 A-4, suasana kelas itu tiba-tiba saja menjadi hening.


Ada apa dengan mereka semua? Namun, Anna tidak peduli dan berjalan menuju kursinya. Dilihatnya Bella yang tersenyum tipis padanya. Tapi, Anna yang sedang frustrasi dan merasa lelah tidak begitu memperhatikan teman sebangkunya itu.


"Bibir, dan pelipis lo luka. Gak diobatin?" tanya Bella yang pertama kali dalam beberapa hari sejak mulai mengikuti Anna, memulai obrolan duluan.


Anna menoleh pada Bella, lalu dia tersenyum tipis. Dia bersyukur, Bella tidak menanyakan apa yang terjadi padanya. Karena sesungguhnya, hal itu dapat membuat Anna semakin sedih.

__ADS_1


"Enggak," jawab Anna pelan.


"Udah ngerjain tugas?"


Anna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban ya. Walaupun yang sebenarnya dia tidak mengerjakan tugas. Namun, saat ini dia sedang tidak punya niatan untuk mengerjakan apapun. Datang ke sekolah pun niatnya hanya untuk melihat Nahyan. Aslinya, dia tidak mungkin datang dengan keadaan penuh luka seperti ini.


Anna menunduk.


Jujur saja, dia merasakan nyeri di bagian bibir dan pelipisnya, juga bagian-bagian lain seperti perut dan dada.


Sedikit flashback, tadi malam Anna yang sedang bersedih dikejutkan oleh Pamannya datang secara tiba-tiba sambil mendobrak pintu kamarnya dalam keadaan mabuk berat. Bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


'Dasar Jala*g! Karena kamu perusahaan yang susah payah kubesarkan hampir saja bangkrut!! Dasar anak sialan!'


Itulah yang Anna tangkap dari ucapan Yudhis yang dalam keadaan tidak sadar. Tidak hanya mengatakan kata-kata kasar, pria paruh baya itu juga menendang, memukul, dan mendorong Anna. Mungkin saja kejadiannya akan seperti terakhir kali kalau saja Dewi datang terlambat.


Walaupun jahat, wanita yang dengan berat hati dia sebut sebagai Tantenya itu cukup berguna juga disaat-saat seperti ini. Setidaknya, saat Yudhis melakukan kekerasan padanya Dewi akan berusaha menghentikan suaminya itu.


"Tenang, Mas! Aku punya sudah solusinya!" teriak Dewi sambil mendorong Yudhis menjauh dari Anna yang sedang terkapar di lantai.


"Solusi? Solusi apa?! Memangnya wanita macam kamu bisa memberi solusi macam apa, hah?!"


"Pernikahan." Dewi lega saat Yudhis menghentikan aksinya.


"Beberapa waktu lalu keluarga Rabusy mengajukan lamaran pernikahan. Kalau saja Anna menikah dengan anak tertua keluarga Rabusy, perusahaan bisa tertolong," jelasnya. "Dan kemarin, tanggal pertunangan juga pernikahan baru saja ditentukan."


Namun sayangnya, bukannya semakin tenang Yudhis malah semakin marah.


PLAK!


"I-ini... demi kebaikan perusahaan, Mas," lirih Dewi yang meneteskan air mata.


"DIA," Yudhis menunjuk Anna, "MILIKKU! DIA TIDAK BISA LEPAS DARIKU! KAMU MENGERTI ITU?!!"


"Tapi,Pa... Membatalkan pernikahan itu adalah hal yang mustahil. Takutnya kalau dibatalkan, keluarga Rabusy tidak akan diam saja," kata Dewi yang berusaha memberikan argumen-argumen yang masuk diakal.


Yudhis mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Kalau begitu kamu yang harus dihukum," ujarnya yang kemudian menjambak rambut Dewi dan menyeret wanita itu menuju keluar kamar.


"Sa-Sakit Mas!" teriak Dewi.


Anna berusaha bangkit, dann menyusul Paman kejamnya itu. Bagaimanapun, Dewi sudah membantunya bukan? Meski Anna tau bantuan itu tidak tulus, tapi tetap saja dia telah dibantu olehnya.


"Om! Berhenti, Om!" teriak Anna.


Yudhis yang menyeret Dewi hingga lantai satu mengutak-atik laci meja dan mengambil sebuah tongkat besi kecil yang saat disibakkan akan bertambah panjang. Dipukukulnyalah tubuh Dewi menggunakan besi itu.


"Mamaaa!" teriak Ami yang baru saja datang dari arah dapur. Gadis itu dengan beraninya berlari dan mendorong Yudhis menjauh, lalu berdiri melindungi sang Ibunda.


Anna yang baru saja turun dari tangga, terdiam sejenak. Tidak disangka, gadis manja seperti Ami dapat melakukan hal ini.


"Jangan pukul Mama lagi!" teriaknya.


"Anak kecil seperti kamu tidak usah ikut campur!!" kata Yudhis sambil mencengkeram leher Ami dan menyingkirkan anaknya itu ke samping.

__ADS_1


Anna membantu Ami yang terbatuk-batuk. "Carii... cari suntikan di sana," ucap Ami sambil menunjuk ke arah meja kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.


"Cepat!" titahnya.


Anna dengan sigap mencari benda yang dimaksud, saat mendapatkan suntikan itu, Anna menyerahkan benda itu pada Ami.


Ami menerima suntikan. Dia menatap punggung Yudhis penuh amarah dan dendam. Gadis itu bangkit dan dengan cepat menusuk punggung Yudhis.


Hal itu membuat Yudhis menghentikan tangannya yang sedari tadi memukul Dewi menggunakan tongkat ditangannya.


"Lancangnya kamu!" Desis Yudhis yang kini melayangkan tongkat ditangannya.


Ami memejamkan matanya.


Tak!


Tongkat yang Yudhis pegang terjatuh, dan detik berikutnya Yudhis tidak sadarkan diri.


Ami menutup mulutnya. Untung saja obat bius itu bekrrja dengan sangat cepat.


"Mama!" Ami memeluk Dewi yang menangis sesegukan. Keadaan wanita itu lebih parah dari Anna.


Anna mengusap lengannya sendiri dengan canggung. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sebenarnya, apa yang disuntikkan Ami pada Yudhis hingga Pamannya itu pingsan tak berdaya begitu.


"Tante...,"


Ami melayangkan tangannya untuk menyuruh Anna agar tidak mendekat. "Kembali ke kamar lo. Gue bisa atasi ini sendiri," ujarnya dengan dingin. Lalu, membawa Dewi menuju kamarnya.


"Na!"


Anna tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Deana. "Lo kenapa luka-luka gini, sih?! Ayo ke UKS!" ucapnya sambil menarik tangan Anna, namun Anna menahannya.


"Gue baik-baik aja."


"Tapi lo luka gitu! Gak dirawatkan sama lo?" tanyanya. Deana sekilas menatap Bella. Tidak akan dia biarkan Bella mengambil posisinya sebagai teman dekat Anna. Tidak akan!


"Ayo ke UKS plis, ya?"


Anna tersenyum tulus.


"Gue baik. Lo gak usah khawatir."


"Tapi, Na...."


"Udah. Gue gak apa lho."


Deana menatap Anna. "Okelah. Kalau ada yang sakit, bilang gue ya?"


Anna menganggukkan kepalanya.


°°°


Bersambung.

__ADS_1


Aku MINTA VOTE atau GIFT boleh? 😊


__ADS_2