Nahyanna

Nahyanna
BAB 82


__ADS_3

"Yan, cewek lo tuh!" tunjuk Fabian saat dirinya dan temannya Nahyan sedang berjalan menuju parkiran.


Nahyan melihat ke arah yang ditunjuk. Benar saja dia melihat Anna bersama cowok yang wajahnya tidak terlihat karena posisi cowok itu yanh membelakanginya.


Mata Nahyan memicing.


Siapakah orang itu?


Tanpa ragu Nahyan mendekati Anna dan cowok itu, namun dia masih menjaga jarak. Sepertinya mereka berdua menuju ke arah mobil mewah berwana hitam metalik. Dari jauh saja sudah terlihat kalau itu adalah mobil mahal.


Nahyan melirik plat mobil itu.


Sepertinya dia kenal.


"Gue ngerasa familiar sama tuh cowok," ujar seseorang dari arah samping.


Nahyan menoleh. Dilihatnya Fabian yang ternyata masih mengikutinya. Kemudian, dia kembali menatap ke arah mobil yang sekarang dimasuki Anna, dan tepat saat itu wajah cowok itu terlihat.


"Abang?" gumam Nahyan dengan tatapan menerawang.


Nahyan menyeringai. "Gue gak bawa mobil," ujar Nahyan sambil memberikan kunci mobil pada Fabian.


Fabian menerimanya dengan linglung. Tidak membawa mobil katanya? Lalu, kunci mobil yang Nahyan beri padanya ini kunci mobil milik siapa?


Melihat Fabian yang masih planga-plongo, Nahyan menambahkan. "Lo pulang duluan. Gue mau nebeng sama Abang gue," ujar Nahyan yang langsung membuat Fabian mengerti.


Fabian mengangguk. "Oke."


...***...


"Dalam rangka apa Kakak jemput gu--ehem" Anna berdeham. "Kenapa Kakak jemput saya?" ulang Anna sambil memakai sabuk pengaman.


Dhyo menggaruk kepalanya. "Mama yang nyuruh," jawabnya dengan kalem.


Cukup imut sih ekspresi datar milik Dhyo, hanya saja itu tidak cukup untuk menggeser nama Nahyan di hatinya.


Anna mengangguk mengerti. Syukurlah, cowok di sampingnya ini menanggapi pertanyaannya. Kalau sampai pertanyaannya dianggap angin lalu, alangkah malunya Anna.


Dhyo melirik Anna sebelum menghidupkan mesin mobilnya.


"Mulai saat ini kita ngomongnya aku-kamu," ujar Dhyo.


Anna menaikkan kedua alisnya.


"Hah? Nggak deh. Rasanya an--"


Cklek!


Brak!

__ADS_1


Terdengar suara seseorang membuka pintu mobil dan tak lama suara pintu yang tertutup terdengar. Dhyp dan Anna menoleh ke belakang.


Anna pongo dibuat orang yang saat ini sedang duduk santai di kursi belakang dengan kaki yang dinaikkan di kursi yang Anna duduki.


"Apa lo liat-liat?" sinis Nahyan yang ditujukan pada Anna.


Anna menutup mulutnya yang terbuka, lalu kembali duduk ke posisi normal. Bukannya merasa kesal, Anna malah merasa senang. Sanking senangnya jantungnya sampai menggelar konser tunggal. Jedag-jedug gitu.


"Ngapain?" tanya Dhyo.


"Duduk. Apa lagi?" jawab Nahyan yang seolah merasa paling benar.


Dhyo menghela napas berat. Dia bisa langsung menebak apaisi otak Nahyan sekarang hanya dengan melihat sikapnya yang sekarang.


Terserahlah, Dhyo tidak keberatan juga.


Ting!


Dhyo mendapatkan pesan di ponselnya. Langsung saja cowok itu melihat isi ponselnya.


Mama : Sayang, Mama nitip popcorn ya. Harus yang ada di bioskop!


Dhyo menggaruk kepalanya. Bukankah di rumahnya sudah ada mesin pembuat popcorn? Dan lagi, kalau Mamanya itu ingin bisa langsunh dibuatkan oleh pelayan. Jadi, mengapa dia dimintai sang Mama membeli popcorn? Terlebih lagi harus popcorn bioskop. Apakah Mamanya sedang mengidam? Dhyo menggelengkan kepalanya. Dia sudah bilang tidak mau punya adik lagi. Pastinya bukan itu alasannya.


"Na...," Dhyo menatap Anna, dengan ragu-ragu dia berkata, "kita pergi ke bioskop dulu gak apa kan?"


Anna berpikir sejenak. "Iy--"


Enak saja membawa Anna ke bioskop. Nahyan yang kenal Anna duluan saja belum pernah nonton bioskop bersama gadis itu. Jelas saja dia tidak terima.


"Gak ada yang ngajak lo," tandas Dhyo yang membuat Nahyan kicep.


Anna yang menyaksikan adegan itu hanya terkikik geli. Sungguh menyenangkan melihat interaksi antara kedua kakak-beradik itu.


"Ngapain lo ketawa?!" galak Nahyan.


Anna menutup mulutnya rapat-rapat. Entag ada apa dengan mood cowok itu. Sehabis putus, Nahyan semakin sensi. Padahal, cowok itulah yang memutuskan untuk melepasnya.


"Bisa jalan gak, Bang? Lupa cara ngendarain mobil? Perlu kursus dulu gak?" cemoohnya.


Anna yang sedari tadi sudah mendengar ejekan Nahyan ataupun kata-kata pedasnya, menjadi tidak sabaran.


"Heh, lu berisik banget sih dari tadi! Lagian, ngapain lo di sini? Bukannya lo bawa mobil sendiri?" sembur Anna yang merasa geregetan.


"Gue gak bawa mobil! Makanya gue nebeng! Mobil-mobil Abang gue kok lo yang sewot?!" balas Nahyan dengan rahang yang mengeras.


Anna mengangkat alisnya. "Hello! Gak usah bohong! Gue tau ya lo itu bawa mobil! Gue liat mobil lo kok tadi!"


"Dih! Sok tau lo!"

__ADS_1


"Iyalah gue tau! Makanya gue bisa bilang kalau lo bawa mobil!"


"Gue bilang gue gak bawa! Liat langsung gue bawa mobil aja enggak udah berani sok-sokan."


"Gue liat dan gue merhatiin!" Mata Anna melotot. "Siang lo disuruh mindahin mobil kan karena ada mobil yang gak bisa keluar karena jalannya ditutupin sama mobil lo?!"


Nahyan terpojok. Memang benar saat siang hari dia disuruh guru memindahkan letak mobilnya. Salahkan Nahyan yang bangun terlambat sehingga tidak mendapatkan tempat parkir. Nahyan yang tidak kau ambil pusinh, langsung memarkirkan mobil di sembarang tempat.


Nahyan menyeringai. "Oh, lo merhatiin gue?" Cowok itu memasang senyum penuh kemenangan, yang pasti terlihat sangat menyebalkan dimata Anna.


Anna meringis pelan. Sejak awal dia berdebat dnegan Nahyan memang salah. Ujung-ujungnya, dia yang dibuat tutup mulut ataupun malu. Cowok itu sangat pintar memancing emosi orang lain sehingga lawan bicaranya bisa saja keceplosan.


"Anjim," gerutu Anna.


"Udah kan debatnya? Kalau gitu, mobil ini boleh jalan kan?" tanya Dhyo yang tadi hanya menyimak perdebatan panas itu.


Anna tersenyum canggung, "Boleh kok, Kak."


"Sok manis lo!" sarkas Nahyan dari belakang.


"Apa sih lo?! Sewot aja!"


...***...


Nahyan memasang tampang bete melihat kedekan Dhyo dan Anna di depan sana. Benar-benar menyesal dia mengikuti kedua orang itu. Bawaannya selalu panas. Apa lagi saat Anna tersenyum dan tertawa karena Dhyo. Nahyan yang paling tau kalau lawakan Dhyo itu garing. Tidak sesuai dengan ekspresi wajah yang datar. Tapi mengapa Anna selalu tersenyum dan tertawa?


Nahyan memasukkan tangan ke saku celana. Lalu, dengan setengah berlari menyusul Dhyo dan Anna. Kemudian, dia menyalip dengan paksa di antara Anna dan Dhyo.


"Gak usah deket-deket! Belum sah!" ujar Nahyan dengan tampang songong dan sok tau.


Anna sedikit menoleh ke samping, dan tersenyum diam-diam sambil meminum Chat*me miliknya. Sedangkan Dhyo hanya diam seolah tak peduli.


"Gue mau main Timez*ne!" ujar Nahyan yang melihat Timez*ne dan langsung menarik tangan Anna ke tempat yang dia mau.


"Ehh?!"


Dhyo menggaruk kepalanya. Kenapa jadi begini? pikirnya. Padahal, dia ke Ciwalk tujuannya hanya ke bioskop untuk membeli popcorn. Tapi mengapa sedari tadi, mereka malah berkeliling-liling toko pakaian, dan wisata kulineran? Dan sekarang, mereka akan bermain Timez*ne? Dhyo ingin vepat-cepat pulang, karena di sini dia hanya menjadi nyamuk.


"Lepasin!" Anna menyentak tangan Nahyan saat sudah berada di dalam Timezone. Tapi sayangnya, usahanya sia-sia karena tampaknya cowok itu tak berniat sedikitpun untuk melepasnya.


Beruntung, Dhyo langsung datang dan melepaskan tangan Anna dari genggaman Nahyan.


"Gak boleh. Belum sah!" tandas Dhyo.


Nahyan berdecak sebal.


Sejak kapan Abangnya menjadi orang yang pendendam begini?


°°°

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2